Hey, Playboy

Hey, Playboy
Bagian 3.



"Kau sudah merusak suasana hatiku malam ini Bae Irene, bagaimana kalau kau saja yang menggantikan posisi Seohyun, hmm?"


Apa aku tidak salah dengar? tanya Irene dalam hati.


"Malam ini cuaca sangat dingin dan sepertinya akan sangat enak kalau kita bisa bercinta sekarang."


"Apa kau gila?!" Irene ingin berteriak tapi cengkeraman kuat tangan Sehun di rahang wajahnya tidak mampu membuat Irene bisa berkata dengan suara keras.


"Berani berteriak, akan kubunuh kau sekarang juga," Sehun mengancam selagi pandangan matanya semakin menggelap.


Laki-laki itu kini menyeret tubuh Irene dan membantingnya keras di atas tempat tidur. Irene yang kesulitan melihat dalam suasana lampu kamar yang temaram membuatnya hanya bisa meraba-raba mencari sesuatu untuk bisa melindungi dirinya. Tapi sayang, tidak ada sesuatu di sekitarnya selain hanya selimut tebal, dua bantal dan kasur busa empuk yang kini ia tiduri.


Samar-samar Irene mendengar Sehun mengunci pintu dan berjalan mendekat ke arahnya. Jantung gadis itu semakin bergedup kencang dan ingin rasanya ia berteriak sekeras mungkin. Tapi sebelum Irene sempat melakukannya, secepat kilat bibirnya telah berhasik dilumat oleh Sehun. Bau nafas Sehun yang beraroma alkohol membuat Irene seketika itu mual. Irene tentu saja memberontakzm, memukul-mukul lengan Sehun sekuat tenaga. Bahkan ketika ia mulai kehabisan nafas, Sehun sama sekali tidak sedikitpun menghentikan ciumannya yang terkesan kasar dan serakah.


Irene semakin tak kuasa menahan tubuh Sehun yang berada diatasnya. Laki-laki itu kini berusaha melepas baju Irene hingga suara robekan kain terdengar sangat jelas. Atasan blus katun tipis yang Irene kenakan rupanya sukses terbelah. Kemudian dengan sekuat tenaga Sehun menariknya sampai terlepas selagi bibirnya masih terus membungkam bibir Irene


Bulir-bulir air mata Irene jatuh sudah. Tenaganya mulai habis setelah beberapa menit ia mencoba melawan namun tetap gagal. Untuk berteriak meminta tolong pun sepertinya sudah sangat terlambat. Sehun telah melucuti semua pakaian Irene dengan singkat dan nafsu liar yang menguasai dirinya membawa laki-laki itu untuk berbuat lebih.


Sehun tidak peduli dengan isakan tangis yang keluar dari bibir Irene. Akal sehatnya hilang, ia masih meneruskan aksinya menciumi leher jenjang Irene yang putih bersih hingga ciuman itu menjalar ke bagian dada hingga ke bagian perut gadis itu. Kedua tangannya yang menahan pergerakan Irene pun perlahan terlepas setelah merasa bahwa dirinya sudah tidak lagi mendapat perlawanan. Irene terdiam pasrah dengan derai tangisnya yang tertahan. Sekalipin ia berontak, ia merasa sudah tidak memiliki kesempatan untuk lari dari kungkungan lelaki bejat itu.


Pada akhiernya Irene hanya dapat merelakan Sehun yang terus menciumi seluruh tubuhnya. Rasa geli dan nikmat yang seharusnya Irene rasakan hanya terasa seperti sayatan-sayatan tajam di kulitnya. Ia sama sekali tidak mencintai Sehun, bagaimana ia bisa menikmati semua itu?


Irene tidak lagi memiliki tenaga ketika Sehun mulai membuka kedua kakinya lebar-lebar. Mengusapnya dengan lembut bagian sensitif itu kemudian Irene hanya memejamkan matanya dalam-dalam sesaat setelah ia merasa ada sesuatu yang dipaksa masuk ke dalam miliknya.


Gadis itu semakin terisak karena rasa sakit yang ia rasakan benar-benar tidak pernah ia duga sebelumnya. Begitu sakit dan perih setiap kali senjata milik Sehun bergesekan dengan miliknya yang kini tidak lagi berharga.


Kedua tangan Irene meremas kuat sprei yang ia tiduri. Sementara Sehun dengan segala nafsu bejat yang merasuk di sekujur tubuhnya tampak sangat menikmati pergerakan maju mundur yang ia ciptakan dengan cepat. Mata laki-laki itu mulai terpejam dan mendesah sembari sesekali tangannya meremas kedua payudara milik Irene.


Rasa sakit dan perih yang semula Irene rasakan, perlahan menghilang. Ada rasa lain yang menggelitik aneh di area sensitifnya setelah sekian lama Sehun terus melakukan aksi maju mundurnya. Pergerakan itu semula dilakukannya secara cepat dan kasar, kemudian lambat laun berubah lebih pelan dan seirama. Tanpa sadar Irene pun mengikuti pergerakan yang Sehun lakukan itu. Desahan-desahan kecil mulai keluar dari bibirnya yang merekah merah. Tangan yang tadinya hanya meremas sprei, sekarang bergerak naik mengelus lengan Sehun dan berpegangan disana.


Berkali-kali keduanya mendesah menikmati permainan mereka di malam hari yang dingin ini. Tubuh mereka mulai bercucuran keringat, dan ciuman Sehun kini mulai berbalas. Irene bahkan menikmati lidah Sehun yang menari-nari di langit langit mulutnya.


Beginikah rasanya bercinta? dalam kondisinya yang menggila, Irene sempat bertanya pada dirinya sendiri. Ia tak lagi peduli pada jemari Sehun yang memainkan ** payudaranya atau lidahnya yang menjilat-jilat belakang telinganya. Seperti ketika ia tengah mendapatkan sebuah mimpi buruk disaat ia sedang tertidur lelap. Antara merasa marah, kesal, takut namun sekaligus menikmatinya.


Entah sudah keberapa kali Irene dan Sehun mendesah hingga air mata Irene kini mengering sudah. Mereka masih terus saja melakukan pergerakan maju mundur dengan gaya yang berbeda dan irama yang berbeda pula. Kadang cepat, lalu melambat dan cepat lagi.


Menit berikutnya Irene mengerang diiringi dengan seluruh tubuhnya yang menegang ketika puncak kenikmatan itu akhirnya tiba. Irene tidak tahu kenapa dirinya bisa seperti itu, hanya saja dia tidak dapat menyangkal bahwa apa yang baru saja terjadi membuatnya seperti melambung tinggi di udara.


Inikah yang disebut surga dunia??


Irene merasa sangat lelah dan seluruh tubuhnya remuk redam setelah hubungan intim itu berakhir dengan Sehun yang menyusul mendesah begitu mendapatkan ***. Kemudian ia dan Sehun terbaring bersebelahan di balik selimut tebal hingga keduanya terlelap. Tidak ada pembicaraan apa-apa dan semuanya seakan menggelap.


*


Udara semakin dingin, salju turun dengan lebatnya semalam. Irene menggeliat dalam selimut tebalnya tapi ia sama sekali tidak ingin membuka matanya barang sebentar saja. Hingga suara dentingan sendok dan gelas yang beradu samar samar terdengar di telinganya, barulah ia terlonjak duduk. Butuh waktu bagia gadis itu untuk memahami situasi dimana dirinya berada. Dan begitu menyadari apa yang semalam telah terjadi pada dirinya, matanya mulai memanas. Rongga dadanya sekaan menyempit dan Irene ingin sekali berteriak sekeras mungkin.


"Selamat pagi."


Sehun yang kini hanya mengenakan piyama tidur menyapa dengan santai sambil menyesap secangkir kopi hangat. Tidak ada ekspresi penyesalan atau pun merasa bersalah selain hanya tersenyum tipis. Laki-laki itu memutuskan untuk duduk di sebuah kursi tepat di sisi tempat tidur.


Irene sendiemri masih berkedip-kedip memfokuskan pandangan matanya yang masih memburam.


"Kacamatamu pecah, akan aku belikan yang baru. Jadi kau tidak perlu merasa khawatir."


Irene kemudian mengucek matanya dengan kasar, kemudian berjengit mundur setelah melihat Sehun kini duduk di hadapannya.


"Apa kau benar-benar sulit untuk melihat tanpa kacamata tebalmu itu?"


"Apa itu disebut seperti memperkosa? Bahkan kau sangat menikmatinya semalam."


Bibir Irene bergerak-gerka ingin menyimpah setapah, tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar. Ia masih teringat kenikmatan yang ia rasakan semalam bersama Oh Sehun memang nyata. Awalnya ia menolak, tapi toh selanjutnya ia begitu menikmatinya.


"Sepertinya ini pertama kalinya untukmu, " Sehun tersenyum menggoda. "Apa boleh ada lain kali lagi, sayang?"


PLAK!!


Menampar wajah Oh Sehun dengan sangat keras ternyata tidak membuat semuanya berubah. Ia memang menyadari kekeliruannya, tapi kehilangan kesucian oleh laki-laki sebrengsek itu tentu sangat membuat harga dirinya menghilang.


"Kau harus bertanggungjawab kepadaku!" Irene menutup matanya dalam untuk menghindari air matanya yang akan terjatuh. Bibirnya bergemetar hebat.


"Kita melakukannya atas dasar suka sama suka bukan?"


"Tapi kau harus bertanggungjawab padaku!," Irene berteriak keras.


"Stt...Apa kau ingin seluruh penghuni kost ini tahu bahwa kita sedang ada di dalam kamar setelah semalam bercinta hebat? Pelankan suaramu."


"Kau memperkosaku dan aku kehilangan kesucian yang aku jaga selama ini. Tidak, kau harus bertanggung jawab, aku tak mau tahu!"


Irene mencari-cari dimana bajunya tergeletak, lemudian memakainya dengan asal.


"Pakailah bajuku, atasanmu kan sudah tidak layak untuk dipakai," Sehun melempar satu kaosnya dan Irene mau tidak mau akhirnya bersedia juga untuk memakainya. Akan terkesan sangat lucu jika dia keluatme dari kamar Sehun dengan mempertontonkan bagian dadanya yang kini banyak terdapat bercak merah.


Irene bergegas turun dari tempat tidur. Sialnya ia terjatuh ke lantai begitu selimut yang semalam ia pakai masih melingkar di salah satu kakinya.


"Ya ampun...kau benar-benar tidak bisa melihat ya?" Sehun membantu Irene untuk berdiri lalu mendudukannya di sebuah kursi secara paksa. "Minum ini," saat Sehun menawarkan kopinya, Irene langsung menampiknya kasar.


"Aku hanya ingin kau bertanggung jawab!" tandas Irene dengan keadaan putus asa.


"Iya aku tahu, aku akan bertanggung jawab jika kau sampai hamil. Aku juga akan mengganti kacamata dan bajumu yang semalam sudah kurobek itu. Jadi kau tenanglah, santai sedikit bisa kan? Lagipula aku sama sekali tidak lari dari hadapanmu."


Yang dapat Irene lakukan hanya menangis tersedu meratapi nasibnya yang malang. Ia sudah bukan lagi menjadi gadis yang suci dan ia sudah kehilangan mahkota yang ia jaga baik-baik selama hampir dua puluh satu tahun ini.


"Sudahlah jangan menangis, nanti kuantar kau membeli kacamata dan baju-baju baru ya," Sehun mengelus puncak kepala Irene dengan santai.


Bukan kacamata yang Irene mau meski benda itu memang sangat ia butuhkan. Bukan pula baju-baju baru seperti apa yang telah Sehun janjikan. Irene merasa dirinya hanya harus menikah dengan seseorang yang telah merenggut kesuciannya meski ia sendiri sama sekali tidak mencintainya.


"Nikahi aku!"


"Hah?" mulut Sehun seketika menganga tidak percaya.


* Hey, Playboy*


*


*


*


*


*