
Irene menengadah menatap pada langit biru dari kaca jendela kamarnya yang setengah terbuka. Pagi ini adalah hari pertama ia akan menjalani ujian semester. Semalam suntuk ia belajar dan berharap ia bisa melewati ujian itu dengan mudah.
Irene kemudian keluar dari kamar kostnya dan tertegun mendapati Sehun juga baru keluar dari kamar sebelah.
"Kau..kapan datang kemari?" tanya Irene dengan mimik wajah tidak mengerti. "Kau ingin tinggal disini lagi?"
"Tengah malam aku kemari, aku hanya akan tinggal selama ujian saja. Kau benar jika jarak dari sini tidak begitu jauh menuju kampus, jadi aku tidak perlu bangun terlalu pagi dan bisa sedikit bersantai. Mau ikut denganku?"
"Tidak, tidak, " tolak Irene dengan cepat. "Berbahaya sekali turun dari mobilmu di depan anak-anak kampus. Bisa jadi siang nanti aku mati dipenggal kepalanya oleh mereka."
Sehun tertawa mendengarnya, lalu dengan lambaian tangan kecil ia berlari menuruni tangga sembari berteriak," Semangat Ren, semoga ujianmu berhasil ya!"
Irene hanya geleng-geleng melihatnya. Ia lantas turun menyusul langkah Sehun dengan satu tangan memegang ponsel yang kini menempel di telinga kirinya.
[Maaf aku tidak bisa mengantarmu, bagaimana kalau sepulang ujian saja kita bertemu? Serius aku janji akan menjemputmu di kampus]
"Ya sudah kalau begitu."
[ Ngomong-ngomong, apa semalam kau sudah belajar? Semoga ujianmu hari ini berjalan lancar dan jangan lupa untuk berdoa sebelum mengerjakannya]
"Iya, iya Chan, tumben kau jadi cerewet begini. Aku akan segera berangkat, aku tutup dulu ya."
Irene tersenyum memandangi ponselnya sebelum ia memasukannya ke dalam tas. Gadis itu lebih sering berjalan sendirian setelah hubungan persahabatannya dengan Yeri sedikit memburuk. Lagipula Yeri berhak marah padanya karena Irene sendiri mengakui bahwa dirinya memang bersalah.
Berbicara mengenai ujian, nyaris seluruh mahasiswa menganggapnya sebagai momok yang menakutkan. Tapi Irene tidak mau terbebani dengan pemikiran semacam itu. Ia ingin ujian segera berakhir dan kembali pulang untuk berlibur di kampung halamannya, di Busan.
Sesampainya di kampus, Irene menyapa Yeri namun gadis itu hanya memasang wajah datar dan berlalu. Semenjak kejadian Chanyeol masuk Rumah Sakit, Yeri memang banyak berubah, ia tidak lagi sehangat yang dulu dan sikapnya pada Irene sangat acuh.
Irene sebenarnya bisa memahami sikap seperti apa yang kini Yeri tunjukkan. Tapi ya sudahlah, toh tidak akan selamanya Yeri mampu menjauh dari Irene selama mereka masih berada dalam satu kelas.
*
Mobil Sehun baru akan keluar dari pintu gerbang kampusnya, namun mendadak ia terhenti ketika ia melihat mobil Park Chanyeol juga berhenti di seberang jalan. Dari arah berlawanan tampak Irene berlari kecil menenteng buku-buku tebal miliknya lalu kemudian masuk.
Baiklah, mereka pasti akan pergi berkencan, pikir Sehun yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Irene lebih memilih Park Chanyeol daripada dirinya.
Sehun kemudian menjalankan mobilnya untuk mundur dan memarkirkannya di tempat semula. Lelaki itu hanya duduk menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata. Berdiam diri disana sampai pemandangan yang menyakitkan itu benar-benar hilang dari ingatannya.
Sementara itu Chanyeol mengendarai mobilnya dalam diam. Ia tidak menunjukkan ekspresi kesedihan apapun dan matanya selalu berbinar dengan senyum yang ceria ketika Irene sesekali memandanginya.
Chanyeol hanya kembali teringat mengenai pembicaraannya dengan Yeri semalam.
Chanyeol mulai mengepak beberapa baju-bajunya ke dalam sebuah koper besar ketika Yeri mendekat dan ikut terlibat di sampingnya. Tampak kedua kakak beradik itu memang tidak banyak bicara maupun berinteraksi dalam waktu dekat ini.
"Kau sudah makan, Yer?" Tanya Chanyeol memecah keheningan.
"Ehm, sudah," jawab Yeri tanpa melihat ke arah kakaknya.
" Jangan terus memasang wajah cemberut begitu, nanti kau cepat tua."
"Semua orang juga akan menjadia tua, itu tidak masalah untukku," Yeri mengedikan bahunya kecil, nada bicaranya sinis.
"Aku sangat peduli padamu, Yer."
"Aku tahu kak."
"Apa kau juga menyayangiku?"
"Tentu saja."
"Nah kalau begitu, lihat aku!" perintah Chanyeol yang akhirnya menghentikan aktifitas Yeri melipat beberapa helai baju di atas pangkuan. Gadis itu pun menoleh.
Chanyeol kemudian memutuskan untuk duduk bergeser agar lebuh dekat dengan Yeri sambil merengkuh bahunya.
"Sebentar lagi aku akan pergi jauh. Aku tidak bisa setiap hari mengawasimu, mengingatkanmu untuk terus belajar, mengantarmu pergi ke kampus dan banyak kewajiban lain yang seharusnya kulakukan untukmu sebagai seorang kakak. Bagiku kau sudah tumbuh menjadi gadis dewasa, jadi jagalah kesehatan dan jaga dirimu baik-baik, kau mengerti?"
Yeri mengangguk-angguk pelan mengiyakan.
"Dan kalau kau memang menyayangiku, berbaikanlah dengan Irene. Dia itu sahabatmu, kemana-mana kalian selalu berdua, berbagi cerita bersama, tertawa bersama, menangis bersama, tidakkah kau merindukan hal itu, eoh?"
Yeri mengusap kedua matanya yang sudah berkaca-kaca. Sebenarnya ia tidak ingin bersedih dan menangis, tapi ketika kakaknya berkata dengan suaranya yang rendah dan penuh kehangatan, ada sebersit rasa nyeri yang Yeri rasakan di ulu hatinya.
"Aku tidak membencinya, tapi dia sudah membuatmu terluka dan aku tidak bisa menerima itu dengan mudah, kak."
Chanyeol membantu menghapus air mata Yeri dengan jari-jari tangannya sebelum ahirnya lelaki itu tersenyum tipis.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan, jadi kau tidak perlu memikirkannya. Lihat, kakakmu ini sekarang baik-baik saja bukan?" disentilnya ujung hidung Yeri yang mungil.
"Kalau begitu, berjanjilah padaku bahwa kau juga tidak akan melakukan hal bodoh seperti beberapa waktu yang lalu sampai kau nyaris kehilangan nyawamu."
"Ehm, aku janji."
Keduanya kemudian terdiam cukup lama, kembali pada aktifitasnya melipat sisa baju dan menata beberapa barang pribadi Chanyeol ke dalam koper. Tapi kemudian lelaki itu berkata kembali.
"Kumohon jangan membenci Irene, karena tidak ada satupun orang yang berhak menyalahkan keadaan ini. Kita tidak pernah tahu perasaan apa yang akan datang pada diri kita nantinya. Begitu juga dengan perasaanku pada Irene. Dan entah kenapa setiap kali aku mencoba untuk menepisnya, rasa itu justru tumbuh semakin besar. Lalu kupikir ketika aku menyatakan rasa sukaku padanya, itu akan membuat jalan hidup kami menjadi bahagia. Sayangnya semua itu salah besar dan kami ternyata jatuh cinta di waktu yang salah."
Yeri lantas menggenggam telapak tangan kakaknya erat-erat, memandangi wajah Chanyeol dengan tatapan kecewa sekaligus iba.
"Aku percaya padamu kak, aku percaya..."
Chanyeol menghentikan mobilnya di depan halaman rumah kost Irene. Dan karena Irene masih harus menjalani ujian semester beberapa hari ke depan, Chanyeol tidak memiliki keinginan untuk mengajaknya jalan-jalan seperti biasa. Melainkan hanya berniat akan menemani Irene di kamar kostnya untuk sekedar mengobrol atau menemaninya belajar.
"Ini minumanmu Chan."
Chanyeol yang merasa terkejut langsung mengalihkan tatapannya pada Irene disaat gadis itu sedang meletakan segelas minuman dingin di atas meja. Lelaki itu kemudian mendekatinya dan bersikap seolah tidak melihat apapun.
"Terima kasih," katanya lembut.
"Kapan kira-kira kau akan berangkat ke Suwon?"
"Minggu depan sepertinya. Aku harus mencari tempat tinggal yang nyaman dan tidak terlalu jauh dari Rumah Sakit. Kenapa memangnya?"
Irene menatap Chanyeol dengan sendu, dua bahunya pun langsung menurun lemas.
"Ketika kau pergi, aku mungkin juga akan kembali ke Busan," beritahu Irene lirih.
Chanyeol yang selalu bersikap bijaksana dan dewasa hanya tersenyum.
"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu mengantarku kesana. Pulanglah ke Busan, kau pasti sangat merindukan orang tua dan adikmu di sana kan? Untuk saat ini kau hanya harus fokus menghadapi ujian akhir semester supaya mendapatkan nilai-nilai yang bagus."
Irene tidak merespon, ia lantas duduk di samping Chanyeol sambil berpikir keras.
"Ada hal yang sebenarnya ingin kuberitahu padamu Chan. Aku...sebenarnya sudah menikah."
Mata Chanyeol dan Irene seketika itu beradu.
"Mungkin kau sudah mendengar berita itu dari Yeri, tapi lebih baik aku mengatakannya sendiri padamu."
"Aku tahu....., terima kasih sudah berkata jujur padaku."
Kecanggungan mulai tercipta diantara keduanya seperti saat mereka baru bertemu dan bertegur sapa sekitar dua tahun yang lalu.
"Aku mungkin bukan lagi gadis polos seperti yang kau pikirkan, aku sudah--,"
"Jangan katakan lagi, tolong jangan teruskan...," Chanyeol langsung menarik tubuh Irene ke dalam dekapannya karena ia sendiri juga tidak mau mendengar hal buruk itu sampai terucap. "Pasti menyakitkan sekali Ren, aku tahu. Tapi aku pun merasa sedikit lega karena kau masih bisa bertahan sampai sejauh ini, kau masih bisa tersenyum, kau masih bisa menjalani hari-harimu dengan baik. Setiap orang pasti mengalami hal-hal buruk dalam hidupnya kan? Jadi tetaplah menjadi dirimu yang seperti ini, seperti sekarang. Ok?"
Diam-diam Irene mulai terisak, teringat betapa kejamnya perlakuan Sehun padanya saat itu. Ia yang tidak tahu apa-apa justru menjadi budak seks dari seorang playboy yang baru saja dikenalnya.
"Tidak akan ada yang menyalahkanmu, dan aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk meninggalkanmu hanya karena masalah itu."
Menit berikutnya setelah tangisan Irene mulai mereda, Chanyeol menghiburnya. Mereka terbaring di atas tempat tidur dengan saling berpegangan tangan. Lelaki dengan suara bariton itu lantas memasang earphone di salah satu telinga Irene, sementara yang satu lagi ia pasang di telinganya sendiri.
"Apa Yeri pernah memberitahumu bahwa aku suka menyanyi? Aku bahkan merekam suaraku sendiri dan menyimpannya di dalam daftar lagu di menu musik ponselku. Kurasa lagu ini sangat cocok untuk gadis yang sangat cengeng dan emosional sepertimu," Chanyeol kemudian memutar sebuah lagu yang pernah ia nyanyikan sendiri meski suaranya memang tidak begitu bagus.

Irene mendengarkan lantunan lagu tersebut dengan mata terpejam, namun setetes kristal bening mulai meleleh lambat keluar dari sudut- sudut mata. Seharusnya Irene bahagia karena lelaki yang sejak lama ia inginkan kini hadir untuk menjadi kekasih terbaiknya, berada di sisinya. Tapi bagaimana dengan bayangan sosok Sehun yang terus berkelibatan memenuhi isi kepalanya? Irene kesal kenapa ia harus ditakdirkan untuk memikirkan dua lelaki sekaligus dalam satu waktu?
Chanyeol sendiri terus menatap kosong entah kemana. Dadanya mulai bergetar hebat dan tanpa sepengetahuan Irene, diam-diam lelaki itu pun mulai menangis. Suara isakannya hanya ia tahan meski air matanya semakin banyak meleleh di pipi.
Sekitar setengah jam kemudian begitu ia tahu bahwa Irene sudah terlelap, Chanyeol memutuskan untuk turun dari tempat tidur tanpa menimbukan suara apapun.
"Tidur yang nyenyak ya, aku pulang," setengah berbisik, ia mencium kening Irene sesaat sebelum akhirnya ia benar-benar meninggalkan kamar itu.
Chanyeol baru saja menutup pintu ketika melihat Sehun keluar dari kamar sebelah. Kedua lelaki yang sama-sama terkejut itu pun saling beradu pandang.
"Wah... kau juga tinggal di tempat kost ini rupanya, " seru Chanyeol sekedar untuk berbasa-basi.
Sehun langsung saja mengangguk mengiyakan.
"Hemm, hanya selama ujian berlangsung saja koq," jawabnya kemudian. "Apa kau baru saja mengantar Irene pulang?"
"Ah ya, kami berbicara sebentar di dalam," Chanyeol merasa aneh berhadapan langsung dengan Sehun meski ini bukanlah pertemuan pertama mereka.
"Jagalah dia baik baik, penglihatannya agak sedikit terganggu, jadi--"
"Aku pasti akan menjaganya dengan baik," sahut Chanyeol cepat sebelum Sehun sempat menyeleseikan kalimatnya. "Aku pergi dulu."
"Aku juga akan pergi," Sehun menutup pintu kamar dan tidak lupa untuk menguncinya.
Keduanya lalu berjalan beriringan menuruni anak tangga seperti orang asing yang baru saja saling mengenal.
"Ah ya," Chanyeol berhenti di depan mobilnya lalu menoleh ke arah Sehun yang juga akan masuk ke dalam mobilnya sendiri. "Selesai ujian nanti, aku ingin kita bisa bertemu lagi dan berbicara empat mata jika kau tidak keberatan."
Sehun terdiam sebentar, tapi kemudian ia mengangguk.
"Aku juga ingin berbicara sesuatu denganmu."
* Hey, Playboy*
*
*
*
*
*
komen dan like ya