
Sudah lebih dari sepuluh menit ketiganya saling duduk berhadapan tanpa suara. Yoona, Sehun dan Irene sibuk dengan pikiran masing-masing dalam suasana yang masih canggung di dalam kamar kost yang berukuran tidak begitu luas.
"Jujur, aku sangat terkejut dengan berita pernikahan kalian berdua," Yoona sudah tidak tahan untuk tidak berkomentar setelah mendengar penjelasan Sehun perihal kenapa dirinya dan Irene akhirnya melakukan pernikahan secara diam-diam." Jangan anggap sebuah pernikahan itu hal sepele yang bisa kalian permainkan kapan saja. Aku sendiri memang belum memiliki pengalaman itu, tapi banyak dari teman-temanku yang pada akhirnya merasak terluka dan memilih untuk berpisah, "Yoona menggelengkan kepalanya pelan." Apa kalian melakukannya atas dasar cinta?"
Sehun dan Irene sekilas saling menatap, tapi kemudian keduanya diam tidak ada yang menjawab.
"Oh ayolah, kalian sudah dewasa, jujurlah padaku. Aku ini bagian dari keluarga kalian dan aku ada di pihak kalian," Yoona menatap Sehun dan Irene secara bergantian karena ia benar-benar butuh sebuah penjelasan yang masuk akal.
"Aku tidak mencintainya," jawab Sehun dan Irene hampir bersamaan.
Yoona menutup mata dalam kemudian mengatur kembali ekspresi wajahnya seperti biasa.
"Jadi soal bercinta itu....."
"Aku khilaf," Sehun memotong kalimat kakaknya dengan cepat.
Cihhh, Irene melirik sebal ke arah lelaki yang duduk tepat di sampingnya. Mengatakan khilaf setelah berbuat keji adalah hal yang sangat mudah dilakukan oleh siapa saja. Anak kecil pun sanggup melakukan itu.
"Tapi lama-lama dia juga kan menikmatinya," lanjut Sehun yang merasa dirinya terpojok dan tidak mau menjadi pihak paling disalahkan.
"Kejadian itu bahkan pertama kalinya untukku," Irene menimpali dengan nada ketus.
Kini justru Yoona yang terlihat frustasi menghadapi dua orang yang terus beradu argumen merasa diri mereka yang paling benar.
"Terserah kalian mau menyebut kejadian itu bagaimana. Tapi mendengar kata 'menikmati' itu, entah kenapa aku jadi merinding ya," Yoona lantas mengusap-usap kedua lengannya sambil meringis. "Intinya sekarang, kalian berdua itu sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Dan yang harus kalian pikirkan adalah bagaimana cara yang tepat untuk menghadapi sikap orang tua kalian masing-masing. Cepat atau lambat, orang tua kalian harus mengetahui tentang hubungan ini kan?"
"Ayah dan ibu sudah tahu, kak. Mereka marah dan memblokir semua kartu kreditku," ujar Sehun kecewa. " Itulah kenapa aku menyuruhmu untuk pulang dan meminta bantuan padamu."
"Mereka pantas melakukan itu karena tentu saja mereka sangat terkejut mendengarnya," Yoona melotot ke arah adiknya. "Kau selalu saja mengabaikan perintah mereka dan ini merupakan perbuatan paling gila yang harus kau pertanggubgjwabkan!"
"Kalau kau jadi aku, apa kau mau jika kau dijodohkan dengan orang yang tidak kau kenal, kak? Ayah dan ibu melakukan itu demi kemajuan bisnis mereka. Tidakkah itu sangat keterlaluan?"
Yoona tidak bisa menjawab. Alasan utama ia memilih melanjutkan studinya ke Amerika juga bertujuan untuk menghindari perjodohan yang mungkin akan orang tuanya lakukan suatu saat nanti pada dirinya.
"Tapi kau berani menikahi Irene tanpa memiliki perasaan apapun padanya, jadi apa bedanya dengan perjodohan itu?"
Bibir Sehun bergerak-gerak, butuh waktu untuk merangkai kata yang tepat supaya bisa dicerna dengan baik oleh kakaknya
"Sudah kukatakan aku menikahinya karena bentuk rasa tanggungjawabku yang sudah merenggut....," Sehun melirik ke arah Irene dengan sebal."... yang dia bilang itu kesuciannya. Dan aku bahkan tidak tahu kenapa saat itu aku sangat bernafsu dengan gadis semacam ini. Aku mabuk, jadi aku tidak ingat apapun."
Irene menoleh ke arah Sehun dengan ekspresi tidak terima.
"Bahkan tidak ada yang menyuruhmu untuk bercinta denganku. Kau yang memaksaku. Kau tiba-tiba mendorong tubuhku ke tempat tidur dan arght...!!!" gadis itu menggeram dengan menjambak-jambak rambutnya karena merasa sangat jengkel setiap kali mengingat kejadian keji itu."Dasar lelaki playboy tidak tahu diri. Aku bisa saja membuatmu dipenjara jika aku melaporkan hal ini pada pihak berwajib. Melihat wajahmu saja aku muak. Bahkan seharusnya kubiarkan saja kau mati tanpa perlu repot-repot membawamu ke Rumah Sakit," Irene memukul lengan Sehun dengan keras, ia begitu menyesalinya.
"Kupikir kau melakukan itu karena kau mulai menyukaiku, Ren," Sehun memegang erat tangan Irene supaya berhenti memukulnya.
"Alasan masuk akal apa yang membuatku harus menyukaimu, hah? Mim,0i saja sana!"
"Kau menikmati ciumanku semalam. Ingat lidah kita saling bertautan dengan mesra saat itu kan? Kau membalas ciumanku, kita bertukar ludah, kau terlihat lebih agresif malah."
"Itu karena kau menggodaku."
"Tugas laki-laki memang menggoda wanita dan itu sangat wajar."
"Wajar nenekmu!"
Irene tidak tahan lagi mendengar ucapan Sehun. Ia menjambak rambut b'lelaki itu secara kasar lalu menggigit pergelangan tangannya dengan kuat, membuat Sehun langsung memekik kesakitan. Sementara itu Yoona hanya melipat kedua tangannya di dada. Ia benar-benar bosan menyaksikan kedua orang itu terus bertengkar.
"Guys...can you stop it? You really driving me nuts!"
*
Setelah Sehun meminta waktu untuk beristirahat karena demam dan pusingnya masih juga belum mereda, Irene terpaksa membawa Yoona keluar untuk mencari makan lalu mengajaknya kembali ke kamar kost.
Yoona berjalan mengitari ruangan kamar Irene dengan wajah ingin tahu. Matanya lalu menelisik pada gaun panjang yang ada pada manequin di sudut ruangan.
"Wah...gaun ini bagus sekali," Yoona mengamati dengan seksama setiap jahitannya yang sangat rapi disetiap ujungnya.
"Apa kau membuatnya sendiri?"
"Ehm. Aku mengambil kuliah jurusan fashion design, jadi hari-hariku memang harus berkutat dengan hal-hal semacam itu."
Yoona mendekati Irene kemudian mengambil duduk di sofa, "Kedengarannya keren," serunya pelan. "Tapi ngomong-ngomong, apa setelah menikah kau dan adikku tinggal di kamar yang terpisah seperti ini?"
Irene mengangguk. "Pernikahan kami hanya sebatas formalitas saja. Lagipula Sehun kan memiliki banyak pacar, jadi akan sulit untuknya jika harus tinggal dalam satu ruangan bersamaku. Aku tahu diri kalau aku ini bukanlah tipenya, dia tidak akan betah terus berada di sisiku."
Yoona memasang wajah bersalah karena ia sempat mengatai Irene dengan sebutan jelek. Tapi sebenarnya tidak begitu. Bahkan ketika diamati dengan seksama, Yoona merasa Irene sangatlah cantik dan menarik. Kulitnya seputih susu dan bibirnya merah merona.
"Apa kau sama sekali tidak memiliki sedikit saja perasaan suka pada adikku? Well...adikku memang seperti itu, dia sering bertindak lancang dan berbicara seenaknya. Tapi sebenarnya dia memiliki hati yang lembut dan terkadang begitu baik pada seseorang yang disukainya," mata Yoona menerawang jauh ke depan, mengingat jika ia sangat menyayangi adik satu-satunya itu. "Aku tidak tahu sejak kapan dia suka mempermainkan banyak wanita. Dulu dia berpacaran dengan seorang saat masih berada di bangku sekolah menengah, tapi kudengar gadis itu mengkhianatinya. Mungkin karena alasan itu sekarang dia jadi bersikap seenaknya. Maafkan adikku, Ren..."
Irene mendongak untuk menatap ekspresi sedih sekaligus kecewa yang tergmabar jelas di wajah Yoona.
"Kak..terima kasih karena kau telah memberitahuku sesuatu tentangnya. Tapi maaf,ul untuk saat ini aku sama sekali tidak tertarik dengan adikmu. Dia sudah terlalu menyakitiku dan kau tak perlu meminta maaf karena kesalahannya," Irene mencoba mengulas senyum, namun yang terlihat adalah senyuman pahit yang sulit untuk dijelaskan.
"Irene...mungkin cinta itu bisa dipelajari."
Irene langsung menautkan kedua alisnya mendengar penuturan Yoona.
"Maksudku, tidak bisakah kau dan Sehun belajar untuk saling mencintai? "
Irene menanggapinya dengan tawa kecil.
"Jangan bercanda kak. Dia begitu, aku begini, kami pasangan yang sama sekali tidak cocok."
"I'm not kidding Ren...." Yoona meyakinkan bahwa dirinya serius kali ini." Mau dibawa kemana hubungan kalian kalau terus berjalan seperti ini?
"Entahlah kak..." ada segaris ketakutan yang keluar dari sorot mata Irene ketika menjawabnya.
"Aku juga akan mengatakan pada Sehun hal yang sama seperti yang kukatakan padamu sekarang. Sebelum hubungan kalian berakhir dengan rasa sakit, sebaiknya belajarlah dulu untuk saling mencintai. Bukankah tujuan utama dari menikah itu adalah hidup bersama untuk mengasihi dan saling mencintai?"
Irene mengusap belakang tengkuknya yang mendadak merinding mendengar kata-kata 'mengasihi lalu mencintai' dan apalah itu selanjutnya yang disebutkan Yoona. Membayangkan Sehun tiba-tiba mencintai dan menyayanginya, itu omong kosong. Tidak pernah sedikitpun terlintas di pikiran Irene untuk bisa menyerahkan segala perasaannya terhadap lelaki itu. Sehun tidak memiliki hati, jadi dia tidak akan mungkin tahu bagaimana rasanya seseorang berkorban untuk orang yang dicintainya. Ia juga tidak mungkin mengerti atau memahami apa arti penting dari hidup bersama. Di otaknya hanya berisi tentang gadis mana lagi yang harus ia rayu wanita lalu diajaknya untuk bercinta. Kerjaannya kan memang seperti itu, sesat.
Irene dan Yoora mengakhiri pembicaraan mereka sampai disitu saja. Semakin diteruskan, Yoona merasa hal tersebut akan lebih jauh menyakiti perasaan Irene. Kedua gadis itu kemudian saling melempar pandangan saat mendengar beberapa suara di luar sana memanggil-manggil nama Oh Sehun.
Irene sudah menduga itu pasti suara para pecinta Oh Sehun yang mencarinya atau pun yang mengetahui kabar bahwa lelaki itu tidak masuk kuliah karena sakit. Namun Yoora yang tidak tahu langsung saja berdiri di balik jendela dan membuka tirainya untuk melihat keadaan. Ia tampak seperti sedang menghitung sesuatu lalu menoleh ke arah Irene dengan mata terbelalak.
"Ada lima gadis yang bediri di luar kamar adikku," beritahu Yoona cepat.
"Mereka semua pacar adikmu," sahut Irene yang menyusul berdiri di belakang Yoona untuk melihat wajah-wajah seperti apa yang muncul disana." Itu, yang memakai jaket bulu hitam, aku pernah memergokinya dengan Sehun sedang berciuman di kamar. Aku masih ingat sekali dengan wajahnya."
"Yang benar saja, masa sih?" Yoona menatap Irene dengan pandangan tidak mengerti. "Bagaimana kau bisa berbicara dengan ekspresi bodoh seperti itu, bukankah seharusnya kau marah jika suamimu bermain dengan banyak wanita?"
"Itu memang kelakuan busuk adikmu, mau bagaimana lagi? Untuk apa juga aku harus marah padanya? Menyerang para gadis itu apakah akan membuat adikmu berubah menjadi seperti malaikat?"
"Ini tidak baik untuk masa depan kalian, sepertinya aku harus melakukan sesuatu," Yoona yang kesal segera melangkah keluar dan berdiri melipat kedua tangannya di dada begitu menghadapi kelima gadis yang masih menunggu kemunculan Sehun dari dalam kamar. Sementara Irene hanya bisa mematung di depan pintu kamarnya sendiri dengan perasaan khawatir.
"Hey, apa kalian ini sedang mencari Oh Sehun?" suara Yoona yang dbuat-buat centil membuat mereka segera menatap Yoona dengan sengit. Sebagian wajah mereka menunjukan ekspresi seolah sedang bertanya" siapa kau?"
"Kau siapa?" tanya salah satu dari mereka.
"Kalian tidak perlu tahu siapa aku," tangan Yoona mengkibas-kibas santai di udara." Kurasa aku harus memberitahu kalian kabar bahagia ini. Bahwa Oh Sehun, lelaki yang saat ini kalian cari sudah menikah. Disana," jari telunjuk Yoona mengarah langsung pada sosok Irene yang masih berdiri di depan pintu kamar."...adalah istri sah dari Oh Sehun."
Bukan hanya kelima gadis itu yang terkejut bukan main, Irene juga melakukan hal yang sama seperti mereka.
Apa dia sudah gila? Irene merasa sesak nafas dan ingin memaki kakak iparnya habis-habisan.
Apa yang akan terjadi jika semua teman-temannya tahu bahwa ia telah menikah dengan lelaki populer dari kampus seberang yang sangat dielu-elukan itu.
Irene bergegas masuk dan menutup pintu kamar kostnya, ia berteriak-teriak di dalam kamar dengan kesal saat pintunya diketuk oleh banyak tangan yang ingin menemuinya.
"Berhenti menggangguku!Pergi kaliannnn!!"
* Hey, Playboy*