Hey, Playboy

Hey, Playboy
Bagian 21.



Irene membiarkan minumannya tidak tersentuh sedikitpun. Sementara di depannya, Ha Young terus menatap wajah Irene dengan tidak mengerti. Saat ini mereka memang sedang duduk berdua di cafe Masami setelah Irene menelepon Ha Young untuk sekedar menemaninya bicara. Karena memang gadis itu tidak memiliki lagi sahabat selain Yeri dan Yeri sepertinya sedang sibuk. Di kampus pun Irene juga tidak begitu dekat dengan teman-teman yang lain. Irene termasuk golongan anak pintar yang kutu-buku dan tidak menonjol sebelum berita pernikahannya dengan Sehun terbongkar.


"Diantara Sehun dan Chanyeol, mana dulu yang kau kenal dan kau sukai?" Ha Young memberi pertanyaan setelah ia mendengar banyak curhatan Irene tentang masalah dua lelaki yang sama-sama menyatakan cinta padanya.


"Park Chanyeol, dan aku sudah menyukainya sejak beberapa tahun lalu."


"Well...kalau begitu sudah jelas kau lebih memilihnya bukan? Sehun juga kau bilang punya masa lalu yang menyebalkan, dia itu seorang playboy. Apa kau benar-benar percaya dia bisa mencintaimu dengan tulus?"


Irene mendesah berat, dia hanya mengaduk-aduk gelas minumannya dalam kehampaan.


"Sehun bilang dia bersikap begitu juga karena dia pernah dikhianati oleh seorang gadis. Kakaknya yang memberitahuku jika Sehun berubah total semenjak ditinggalkan kekasihnya saat masih berada di bangku sekolah menengah," Irene menjelaskan. "Mungkin saja dia bisa berubah, tapi aku selalu merasa tidak yakin."


"Dikhianati oleh seorang gadis?" Ha Young sedikit terkejut. "Apa sampai secinta itu dia pada kekasihnya yang dulu?Ah Sehun benar-benar...ck," Ha Young menggeleng-geleng kan kepalanya pelan.


"Aku dan Sehun sudah menikah."


Ha Young menyemburkan minumannya karena terlalu terkejut mendengar pengakuan dari Irene secara tiba-tiba.


"Reaksimu saja begitu, apalagi jika aku mengatakannya pada Chan, kurasa dia bisa mendadak terkena serangan jantung," Irene berekspresi putus ada, sejak tadi jarinya terus memutar-mutar sedotan kecil minumannya.


"Me-menikah? Apa maksudmu?" Ha Young mengambil tisudari dalam tasnya lalu mengelap mulutnya yang basah.


"Aku dan Sehun sudah lebih dari sebulan ini menikah diam-diam karena orang tuanya tidak merestui hubungan kami. Sedangkan orang tuaku bahkan tidak tahu jika putrinya telah bersuami. Arghhht...kenapa hidupku jadi begini, semua ini karena lelaki sialan itu!" sekarang Irene mengetuk-ketuk kepalanya pada sisi meja sementara Ha Young masih tampak shock dan membeku.


"Kupikir hubunganmuu dan Sehun hanya sebatas pacaran saja. Jadi kau dan Chanyeol...," Ha Young mengatupkan dua telapak tangannya di mulut." Kau berselingkuh Ren?"


Irene tidak menampik tuduhan itu. Tapi perasaannya pada Chanyeol sama sekali tidak bisa berubah, dia menyukai lelaki yang selama ini sangat diidolakannya. Menjijikan memang, perbuatan dosa, Irene bahkan mengakuinya sendiri.


"Itulah kenapa sekarang aku memiliki dua tempat tinggal, kamar kostku dan apartemen milik Sehun pribadi di ujung jalan sana."


Topik yang tengah mereka bahas memang bukan masalah Ha Young,  tapi ekspresi gadis itu terlihat lebih frustasi dari Irene. Sesekali ia menatap Irene dengan pandangan aneh lalu menunduk dan menyeruput minumannya dalam diam.


*


Sehun membuka kamar Kai dan mendapati Kai beserta Kristal sedang bercumbu berdua saling melumat. Lalu keduanya terkejut begitu melihat Sehun datang dengan senyuman nakal.


"Ya ampun...sepertinya aku menganggu acara kalian  berdua siang ini ya?" dengan sikap acuh Sehun memutuskan untum masuk dan langsung membanting tubuhnya di atas tempat tidur dimana Kai dan Kristal masih tidak tahu harus bagaimana menutupi rasa malu mereka.


"Ck...kau ini benar-benar," Kai bangkit dari tempat tidur bersama Kristal dan duduk memandangi wajah Sehun dengan tajam. "Darimana saja kau, kenapa beberapa hari ini tidak muncul di kampus dan tidak memberi kabar?"


"Syuting. Dan aku baru saja kembali, aku lelah sekali. Boleh kan aku tidur sebentar disini? Boleh saja Oh Sehun selama kau suka, aku sih tidak masalah," kata Sehun dengan memberikan pertanyaan dan menjawabnya sendiri, mewakili suara Kai.


"Dasar pengganggu!" Kristal melotot. "Kau kan punya apartemen dan kamar kost, pulanglah kesana. Kenapa malah datang kemari sih


"Aku sebenarnya malu," jawab Sehun pendek sambil berusaha memejamkan kedua matanya.


"Bukannya kau ini orang yang tidak tahu malu? Urat saraf malumu bahkan sepertinya sudah putus."


"Kali ini aku benar-benar malu untuk sekedar pulang dan bertemu dengan Irene."


"Memangnya apalagi yang kau lakukan padanya" tanya Kai ingin tahu.


Sehun menggeleng-gelengkan kepala tidak mau menjawab. Ia tidak ingin memberitahu siapapun perihal pernyataan cintanya pada Irene semalam. Bibirnya hanya mengulas senyum tipis sambil menjejak-jejakan kakinya asal hingga bantal-bantal milik Kai berjatuhan ke lantai.


"Kurasa kau memang sudah gila," Kai malas meladeni tingkah aneh sahabatnya, jadi ia segera menarik lengan Kristal untuk keluar dari kamarnya. "Aku dan Kristal akan pergi. Kau tidurlah dan jangan lupa rapikan kembali tempat tidurku sebelum kau pulang nanti."


Sehun bergerak memiringkan tubuhnya menghadap dinding lalu meletakan satu telapak tangannya disana. Ia tidak henti-hentinya tersenyum ketika mengingat aktifitas bercintanya dengan Irene saat Yoona datang mengganggu. Entah kenapa Sehun tiba tiba ingin sekali bercinta lagi dengan Irene, membahagiakan batin istrinya di atas ranjang dengan suasana dan perasaan yang berbeda.


*


Irene tidak menolak ketika Ha young menawarkannya tumpangan menuju apartemen karena kabarnya hari ini Sehun akan pulang. Lelaki itu pasti akan marah jika Irene tetap tinggal di tempat kost meninggalkannya sendirian disana.


Ha Young bergumam takjub melihat ruang apartemen mewah yang sedang ia kunjungi sekarang. Ia lantas berjalan perlahan menelusuri setiap sudut ruangan dan berhenti pada sebuah foto dalam bingkai kecil di samping rak tv. Itu foto Sehun yang memakai seragam sekolah dengan blazer berwarna kuning dan tengah membawa sebuket bunga kelulusan. Ha Young menatap foto itu lama sekali hingga ia dikagetkan oleh suara Irene yang menanyakan apakah ia ingin minum atau tidak.


"Boleh, air putih saja," jawab Ha Young lalu duduk di sofa dan terdiam.


Semenit kemudian Irene muncul dari dapur dengan membawa segelas air putih dan setoples cookies coklat kesukaannya. Irene lantas mengambil duduk persis di sebelah Ha Young.


"Apartemen kalian ini mewah sekali," kata Ha Young memuji.


"Entah berapa harganya, aku sendiri juga tidak tahu," Irene memutar dua bola matanya jengah. Lagipula dirinya tidak pernah memikirkan hal-hal semacam itu atau menanyakan secara langsung pada Sehun.


[ Apa kau sudah makan siang Ren? Kenapa tidak memberi kabar hari ini] kebiasaan Chanyeol.yang tidak pernah memulai obrolan dengan sapaan 'hallo'


"Maaf...," Irene menjawab samb menepuk keningnya. "Apa kau sedang bekerja?"


[Hari ini tidak begitu banyak pasien, jadi aku bisa sedikit lebih santai sambil memikirkanmu.]


"Apa semua lelaki memang dilahirkan untuk bisa merayu?" Irene menyindir kemudian disusul dengan tawanya yang lirih.


[Wah..apa ada lelaki lain yang berani merayumu juga? Kalau memang ada, beritahu aku siapa dia dan dimana aku bisa bertemu]


"Tidak, tidak...tidak ada, aku hanya bercanda," Irene buru-buru menepis meski di,mdalam hatinya ia sangat khawatir bagaimana jika Chanyeol dan Sehun akhirnya bertemu? Dunia Irene dan segala isinya mungkin akan hancur lebur menjadi abu dan teebang terhempas angin. "Hey, pa kau juga sudah makan siang? Beritahu aku kau makan siang dengan siapa?"


[Kebetulan aku baru saja selesai makan siang. Coba kau tebak dengan siapa aku makan siang di cafe Rumah Sakit?]


Irene diam tidak menjawab. Sekilas ia melirik ke arah Ha Young yang terlihat sedang berkutat dengan ponselnya.


[Tentu saja dengan beberapa perawat cantik, mereka benar-benar cantik Ren]


Ketika Irene mengatakan bahwa ia akan segera menyusul kesana dengan membawa sebilah pedang, terdengar suara Chanyeol yang tertawa keras karena candaanya itu rupanya berhasil membuat Irene jadi kesal.


[Bae Irene yang pencemburu, aku rindu...kapan kita bisa bertemu? Bagiamana dengan nanti malam, apa kau ada waktu?]


Tanpa perlu berpikir panjang lagi, Irene langsung saja menjawab, "Kabari aku dimana kita harus bertemu."


"Biar aku yang menjemputmu annti malam."


Baru saja Irene akan mengakhiri obrolannya dengan Chanyeol, Sehun muncul di ambang pintu. Spontan Irene langsung mematikan ponselnya. Ia dan Ha Young sama-sama terkejut dan secepat kilat mereka berdua berdiri dari sofa.


"Ku-kupikir kau akan tiba di Seoul nanti malam, aku dan Ha Young bahkan baru beberapa menit sampai disini," Irene berjalan mendekat ke arah Sehun dan melempar senyum terbaiknya.


Sehun membalas tersenyum itu tapi matanya terus menatap Ha Young seakan-akan ia tidak menyukai keberdaan gadis itu di dalam apartemennya. Ha Young yang merasa ditatap tajam oleh Sehun kemudian membungkuk memberi salam hormat.


"Hai, apa kabar, kita akhirnya bertemu lagi. Masih ingat padaku kan?"


Sehun acuh, dia melempar tasnya ke arah sofa disusul dengan melepas jaket kulitnya.


"Ren, sepertinya aku pulang dulu ya. Lain kali kita bisa jalan-jalan berdua lagi," Ha Young yang merasa tidak enak, segera meraih tas selempangnya dan berjalan keluar menuju pintu tanpa berani menoleh sedikitpun ke arah Sehun.


"Apa kau sudah makan siang?" tanya Irene yang kini berdiri menghadap Sehun dengan gugup.


Sehun menatap Irene beberapa detik, lalu mengecup bibir gadis itu dengan penuh perasaan. Tapi tidak ada niatan darinya untuk melanjutkan kecupan itu menjadi ciuman yang liar serta dalam. Sehun hanya menempelkan bibirnya di bibir Irene, lalu menahan nafas untuk beberapa saat saja disana. Ia pun memeluk tubuh Irene sebentar sebelum akhirnya melepaskannya.


"Aku meninggalkan sesuatu di dalam mobil, sebentar aku keluar dulu."


Sehun berbalik dan berlalu dari hadapan Irene yang kini mengusap bibirnya perlahan dengan perasaan bercampur aduk tidak karuan.


Sehun setengah berlari menuju ke dalam lift.


"Tunggu!" lelakinitu menggunakan satu tangannya untuk menahan pintu lift yang nyaris saja akan tertutup. Ia pun masuk dan berdiri berhadapan langsung dengan Ha Young.


"Oh...kau mau turun juga rupanya?" Ha Young tampak canggung saat mengucapkannya. TapiSehun terus saja menatap gadis di depannya dengan sorot mata yang tajam.


"Berhenti berpura-pura seakan kita tidak saling mengenal Oh Ha Young, gadis yang merasa dirinya paling cantik dan diinginkan oleh semua laki-laki yang adi di dunia ini."


Ha Young berkecap bosan kemudian melipat kedua tangannya di dada.


"Apa kabar Oh Sehun? Sudah menikah kau rupanya."


"Menjauhlah dari Irene dan jangan ganggu dia!"


"Ouuh...lucu sekali. Jadi benar kau sekarang bisa mencintai seseorang?" mata Ha Young menyipit dengan ekpresi seolah meremehkan. "Perasaan ssmacam itu kurasa hanyalah emosi sesaat saja, Oh Sehun. Katakan dengan jujur jika kau belum bisa melupakanku, kan?" Ha Young maju satu langkah, bola matanya yang terang menatap dalam ke arah mata Sehun. Lalu seulas senyum manis mengembang dari sudut bibirnya disusul dengan keberaniannya untuk memeluk tubuh lelaki itu dengan erat. "Jujurlah sayang, tidakah selama ini kau sangat merindukanku?"


Sehun mendongak dan menatap langit-langit ruang lift dengan perasaan kacau. Ia membiarkan Ha Young membenamkan kepala di dadanya yang bidang.


"Aku masih mencintaimu..."


* Hey,Playboy*