
Pagi hari sekitar pukul enam, Irene yang baru bangun tidur dan hendak mengambil cucian yang kemarin ia jemur di lantai atap memekik kaget melihat seorang lelaki keluar dari sebelah kamarnya hanya dengan berbalut handuk putih. Dan kini lelaki itu sedang berdiri di depan pintu berhadapan dengan Irene.
"Hai, pagi. Namaku Oh Sehun."
Gadis itu terkejut dan hampir saja mengeluarkan seluruh bola matanya melihat tubuh topless Sehun yang baru saja melempar senyum terbaiknya.
"Ooh..ah ya..,aku Bae Irene. Apa kau penghuni sebelah kamarku yang baru?"
Sehun mengangguk ringan.
"Kau benar, yah...meskipun tempat kost ini sedikit jelek dan kotor, tapi lumayanlah."
Irene mengangkat sudut bibirnya ke atas mendengar kalimat yang baru saja Sehun ucapkan.
Jelek? Kotor? Apa apaan dia? batin Irene dengan mimik wajah tidak suka.
"Semoga kau betah tinggal disini. Salam kenal."
Irene lantas berlalu melewati Sehun untuk menuju ke lantai atap. Disana, ia mengambil beberapa helai jemurannya yang sudah kering dan turun kembali.
Namun Sehun masih ada di sana, di depan pintu kamar kostnya dan tengah berbicara melalui telepon dengan seseorang yang kemungkin itu adalah pacarnya.
"Semalam aku tidur sangat nyenyak dan maaf aku sama sekali tidak mendengar telepon darimu sayang. Bagaimana kalau nanti malam kita keluar? Baiklah, baiklah...oke," Sehun mengakhiri obrolannya dengan senyuman tipis.
Irene yang sedang melintas pura pura tidak mendengar. Ia hanya sepersekian detik menatap Sehun yang juga sedang menatapnya tanpa ekspresi.
Gadis itu kemudian masuk ke dalam kamar kostnya dengan bergidik jijik.
Bagi Irene, Oh Sehun itu memang 100% tampan. Irene baru menyadari bahwa lelaki itulah yang sering muncul di beberapa iklan televisi. Tapi Irene tidak habis pikir kenapa Oh Sehun bahkan bersedia tinggal di rumah kost biasa seperti ini? Dia orang kaya dan sepertinya dia sangat mampu kalaupun harus tinggal di sebuah apartemen yang mewah, bukan?
Irene menggeleng-gelengkan kepala setelah ia meletakan tumpukan bajunya ke dalam sebuah keranjang. Tidak seharusnya ia pusing memikirkan kehidupan orang lain. Lagipula, masa bodoh dengan siapa itu Oh Sehun. Mau tampan, terkenal, kaya raya atau apalah, Irene sama sekali tidak peduli. Dia hanya merasa lega karena kamar kosong itu kini sudah berpenghuni. Setidaknya setiap malam dia tidak harus dihantui oleh rasa takut atau berhalusinasi mengenai hantu-hantu mengerikan yang bergentayangan. Irene gadis yang lurus dan tidak macam-macam, dia berharap kehidupan kuliahnya berjalan dengan baik seperti apa yang dia inginkan.
Gadis itu lantas bergegas mandi karena pagi ini ia akan mengikuti praktek kuliah menjahit baju di kampus. Itu merupakan salah satu kegiatan yang sangat ia sukai. Ia juga sudah memiliki sebuah konsep matang tentang baju apa yang akan dibuatnya kali ini.
Sekarang Irene berputar menari-nari masuk ke dalam kamar mandi dengan ceria. Dan sepanjang kegiatannya mandi, ia terus bersenandung menyanyikan berbagai lagu yang ia suka dengan suara keras seperti yang biasa gadis itu lakukan setiap harinya.
Setengah jam kemudian, Irene sudah memakai pakaian rapi dan rambut yang dibiarkan tergerai sebatas bahu. Ia memakai kembali kacamatanya, meraih tasnya, dan juga menyambar gulungan kain yang akan ia gunakan dalam praktek perkuliahannya nanti.
Tepat pada saat itu Sehun juga sudah bersiap siap berangkat ke kampus dengan penampilannya yang menurutnya sangat keren. Ia berjalan keluar dari kamar kost dan sempat mendahului langkah Irene tepat di anakan tangga.
"Oh ya, hampir lupa," kalimat Sehun menghentikan langkah Irene seketika. "Bisakah kau sedikit memelankan suaramu saat bernyanyi? Sedikit agak mengganggu telingaku kurasa, suaramu mencicit seperti seekor tikus, tahu tidak?"
Mulut Irene mendesis lirih dengan mata berkedip tidak percaya. Apa dirinya tidak salah dengar bahwa baru saja tetangga itu berkata hal yang sangat tidak sopan pada dirinya? Sialan!
"Hay, kau-,"
"Oke bye, semoga harimu menyenangkan," Sehun sudah melangkah jauh menuruni anak tangga dan melambai dengan satu kunci mobil di tangannya sebelum Irene berhasil menyeleseikan kalimatnya.
Yang dapat gadis itu lakukan adalah mengkibas-kibaskan telapak tangannnya di depan wajah karena kini ia merasa sangat kepanasan setelah melewati pagi hari yang mendadak menjadi menyebalkan dengan kehadiran tetangga barunya itu. Daripada mengatakan ia tampan, sepertinya Sehun lebih cocok dibilang lelaki super menjijikan. Caranya mengajak orang biacara sama seperti ia sedang berbicara pada udara kosong, benar-benar tipe orang yang sombong.
Masih menahan rasa kesal, Irene kembali melangkah keluar dari gerbang rumah kostnya. Ia hanya berjalan dengan mata menerawang jauh melihat lalu-lalang para mahasiswa yang sebagian terlihat sangat terburu-buru dan sisanya berjalan santai sembari menenteng buku-buku tebal.
Selain berkuliah, untuk menunjang kehidupan di Seoul yang serba mahal, Irene memutuskan untuk bekerja part time di sebuah cafe yang tidak jauh dari kampusnya berada. Ia akan bekerja sekitar pukul empat sore hingga jam cafe itu tutup. Melelahkan memang, tapi Irene melakukan itu supaya ia tidak lagi merepotkan orang tuanya di Busan. Biaya kuliahnya saja sudah sangat mahal ditambah dengan kebutuhan Irene sebagai remaja yang banyak memiliki keinginan ini dan itu.
"Irene!"
Suara seseorang memanggilnya dengan keras. Irene menoleh dan mendapati Yeri baru saja turun dari mobil kakaknya. Jadi Irene melambaikan tangannya dengan senyum manis setelah ia melihat Park Chanyeol disaana. Dokter muda itu juga balas melambaikan tangan sebelum akhirnya mobilnya berlalu pergi begitu saja
"Selamat pagi Bae Irene yang cantik. Bagaimana, apa hari ini kau siap untuk kelas praktek menjahit?" Yeri langsung merengkuh pundaknya dan mereka berdua berjalan beriringan menuju halaman kampus.
"I'm so excited for our class today, Miss Yeri."
*
"Semalam apa kau menghabiskan waktu dengan Yura?" tanya Kai yang agak kesal karena saat menghubungi Sehun, ponsel sahabatnya itu sengaja tidak diaktifkan.
"She's so hot, " Sehun menjawab dengan cengiran nakal.
"Kalian sudah melakukannya di dalam kamar kost barumu itu. Kau serius?" mata Kai membelalak lebar tidak percaya.
"Just foreplay, dude..." kali ini Sehun tertawa." Tapi itu tidak berlangsung lama karena orang tuanya menelepon dan menyuruhnya untuk segera pulang. Sayang sekali."
Kai bertepuk tangan kecil dengan tawa yang menunjukan kekaguman. Menurutnya, sahabatnya itu memang benar-benar lihai untuk urusan wanita. Dan setahu Kai, baik Sehun maupun Yura bahkan baru berkenalan tidak lebih dari dua hari. Entah sihir apa yang melekat pada tubuh Sehun hingga sanggup membuat semua wanita jadi meleleh oleh rayuan gombalnya.
"Ah tapi ngomong-ngomong soal kamar kost baruku, penghuni sebelah ternyata seorang gadis culun berkacamata tebal. Tidak masalah tentang bagaimana penampilannya memang, tapi suaranya sangat menggangguku sepanjang pagi ini."
"Dia tidak masuk ke dalam kriteriamu kan? Kalau begitu, abaikan saja dia. Bukankah yang terpenting adalah kau bisa bebas melakukan apapun disana?"
Sehun mengangguk membenarkan ucapan Kai. Kedua mahasiswa populer itu langsung melambai kecil pada segerombolan mahasiswi yang menatap mereka dengan sorot mata ingin digoda. Sebagian dari mereka memakai rok mini dan bermake up tebal, lalu salah satu yang paling cantik diantara gadis-gadis itu melangkah mendekat ke arah Kai. Dialah adalah Kristal, gadis berparas cantik yang sudah empat bulan ini berstatus sebagai pacarnya.
"Apa nanti malam kita jadi berkencan, sayang?" Kristal dengan manja mengapit lengan Kai lalu memisahkannya dari Sehun yang sepertinya baru saja mendapatkan seorang mangsa.
"Memangnya kau mau kita pergi kemana? Pergi ke klub malam atau ke hotel, hmm?" bisik Kai sengaja menggoda.
"Pergi ke neraka, mendorongmu ke dalam jurang yang terdalam," Kristal mencubit lengan Kai, mengajak kekasihnya masuk ke dalam kelas dan memilih tempat duduk saling bersebelahan.
Sementara itu, Sehun rupanya sudah mengambil duduk di deretan bangku paling belakang dengan seorang gadis baru di sampingnya.
"Apakah nanti malam kau mau keluar denganku, Seul?" jari Sehun menyentil dagu gadis berambut ikal yang kini menatapnya dalam.
"Seul? Namaku Seohyun," jawab gadis itu dengan sedikit cemberut. Detik selanjutnya dia mengangguk setuju ketika Sehun menawarkannya tumpangan untuk pulang. Tidak hanya itu, Sehun pun mengajak Seohyun berkencan dan dia berjanji akan menjemput gadis itu tepat pukul tujuh malam. Rencananya mereka akan pergi ke cafe dan selanjutnya melakukan sesuatu yang biasa Sehun sebut sebagai kencan manis.
*
Irene menyelesaikan makan siangnya dengan satu cup ramen sebelum ia akan berangkat ke cafe untuk bekerja part time disana. Ia membuka pintu kamar kostnya berniat untuk membuang cup tersebut ke dalam tempat sampah yang letaknya berada tepat di samping pintu kamar Sehun.
Dan saat ia melempar cup itu, saat itu pula Sehun membuka pintu untuk keluar dari kamarnya. Alhasil sisa kuah ramen di dalam cup mengenai tubuh Sehun dengan sempurna, menodai atasan knit putihnya yang tampak mahal.
Sedetik lelaki itu hanya mengkerjap-kerjapkan mata menatap baju atasannya yang basah sampai ia mendapati beberapa helai sisa ramen rupanya ikut menempel disana. Baru setelah menyadari apa yang terjadi, Sehun menoleh sambil melotot ke arah Irene.
"Ma-maaf..aku tidak sengaja, maaf," Irene tergagap karena merasa bersalah. Ia lalu mendekat dan dengan telapak tangan kosongnya, ia menepuk-nepuk baju Sehun untuk mencoba membersihkan sisa-sisa ramen itu. Sayangnya Sehun justru menepis tangan gadis Irene secara kasar.
"Singkirkan tanganmu dari tubuhku!," cetusnya dengan nada kesal.
"Maaf...."
"Apa kau tahu berapa harga bajuku ini, eoh?"
Irene dengan polosnya hanya menggeleng lemah karena memang dia tidak tahu berapa harga baju tersebut. Bagus sih tampilannya dan sepertinya memang mahal.
"Bahkan harga baju ini setara dengan semua harga baju di dalam lemari pakaianmu, kau tahu?"
Sombong sekali dia, batin Irene dalam hati.
"Tunggu sebentar disini," perintah Sehun yang langsung masuk ke dalam dan tidak berapa lama ia sudah berganti dengan baju yang lain. Atasan knit putih mahalnya itu lantas ia lempar dengan kasar tepat mengenai wajah Irene." Kau cuci yang bersih dan kembalikan padaku besok pagi."
Irene meraih atasan baju Sehun dengan gigi bergemeletuk menahan amarahnya.
"Apalagi? Sudah sana pergi dan cuci baju itu. Oh ya satu lagi, jangan lupa taruh saja tempat sampah sialan itu di dalam kamarmu!" selesai berucap Sehun memalingkan wajahnya kemudian berlari kecil menuruni anak tangga.
"KYAAAAA!!!!!!" Irene menjerit meluapkan emosinya dengan keras hingga membuat salah satu penghuni kamar di seberang bergegas keluar dengan tatapan ingin tahu. "Ah maaf, " setelah itu Irene membungkuk dengan hormat meminta maaf karena teriakannya keluar secara spontan.
"Lelaki menyebalkan! Awas kau Oh Sehun, akan kubuat kau tidak bertahan lama tinggal di sini," janji Irene sembari menginjak-injak baju Sehun yang sedetik lalu ia banting ke lantai.