
"Boleh saja," kata Irene dengan nada santai. "Tapi kurasa kau tidak perlu banyak berharap padaku. Karena aku...," Irene menjeda kalimatnya sebentar, lalu menunduk dalam, "...tidak bisa mencintaimu."
Sehun hanya mengacak-acak sarapannya di piring tanpa berniat ingin melahapnya. Sesekali ia melirik ke arah Irene yang acuh menikmati jatah sarapannya sendiri.
"Pembicaraan tentang semalam, apa kau serius?" tanya Sehun di sela-sela waktu mereka duduk bersama dalam suasana yang cukup hening.
"Jangan hiraukan, orang sepertimu memang tidak akan pernah bisa mencintai. Lagipula aku tidak terlalu berharap banyak padamu. Aku juga tidak akan melarangmu dekat dengan siapapun."
"Kenapa kau berbicara seperti itu?"
"Berbicara seperti apa yang kau inginkan." Kemudian Irene balik bertanya, "Apa aku harus memaksamu untuk mencintaiku? Apa jika aku seperti itu maka kau mau melakukannya?"
Sehun memalingkan wajah ke arah lain saat Irene menatapnya dalam. Ia sendiri juga tidak tahu apa ia bisa mencintai Irene. Perasaannya saat ini masih labil dan ia masih belum yakin bisa mencintai seseorang dengan tulus.
"Baiklah, kau memang sudah bercinta beberapa kali denganku, tapi aku masih menganggapnya sebagai nafsu saja," Irene mengelap mulutnya dengan tissue. "Sudahlah, aku tidak mau membahasnya lagi."
Sehun terus mengamati pergerakan Irene sekecil apapun, ia baru tersadar jika kali ini Irene memakai softlens pemberiannya. Pantas saja mata gadis itu berkilau indah setiap kali Sehun menatapnya.
"Matamu sangat cantik," puji Sehun spontan.
Irene tersenyum tipis, ia meraih tas kecilnya saat berdiri.
"Biar kuantar," Sehun ikut berdiri lalu bergegas mengambil kunci mobil. Ia keluar dari apartemen dan berjalan lambat di belakang Irene menuju area parkir.
Kembali Sehun mengamati sosok Irene dari belakang. Rambutnya yang panjang tergerai sebahu, bentuk tubuhnya yang mungil dengan postur yang tidak terlalu tinggi itu menurutnya sangat biasa. Sehun sendiri bingung bagian mana dari diri Irene yang membuatnya bernafsu dan ingin selalu bercinta dengannya.
"Sehun..,"
"Eh??" Sehun tiba-tiba menghentikan langkahnya dan terkesiap saat tangan Irene mengkibas-kibas tepat di depan wajahnya. Rupanya sudah beberapa detik yang lalu mereka tiba di depan sebuah mobil sport putih diantara deretan mobil lainnya.
"Kau melamun jorok tentangku?"
"Ti-tidak, jangan sembarangan bicara. Enak saja!" jawab Sehun tergagap. Ia langsung saja membuka pintu mobilnya untuk Irene lalu menutupnya kembali. Kemudian dengan setengah berlari, Sehun memutari mobilnya sendiej dan masuk melalui pintu kemudi.
"Apa kau akan ikut bersama kami di sana?"
Sehun menggeleng lemah.
"Hanya mengantar saja. Pulang kuliah nanti aku ada jadwal pemotretan di studio. Kau pulanglah naik taxi atau suruh Yoona untuk mengantarmu."
"Baiklah..."
"Dan jangan kemana-mana setelah itu."
Irene merasa aneh, ia menoleh dengan satu alis terangkat tinggi-tinggi, "Kenapa?"
"Maksudku, beritahu aku jika kau ingin pergi ke suatu tempat. Mungkin aku bisa mengantarmu dan jangan pergi dengan orang yang tidak kau kenal. Aku takut kejadian itu terulang lagi."
"Apa kau sedang mengkhawatirkanku?" Irene tertawa kecil. "Terima kasih."
"Sepertinya kau senang jika aku mengkhawatirkanmu?" Sehun mulai menyalakan mobilnya dengan tersenyum tipis.
"Kan memang begitu caramu merayu wanita. Kau sangat pro."
"Wah...diam-diam kau memperhatikanku juga rupanya."
"Bagaimana aku tidak memperhatikan. Kelakuanmu itu sangat mencolok, kau tahu?"
"Wah,wah, wah...istriku mulai cemburu."
"Apa sih kau ini?!"
Keduanya tertawa kecil dalam percakapan yang terjadi sepanjang perjalanan. Baik Sehun maupun Irene, tidak ada dari keduanya yang merasa canggung ataupun malu untuk saling mencaci. Paling tidak meskipun belum terlihat seperti pasangan suami istri sungguhan, tapi mereka bisa bersikap layaknya sahabat dekat.
Tiga puluh menit kemudian mobil Sehun sudah sampai di sebuah deretan pertokoan besar. Ia menghentikan mobilnya tepat di sebuah Butik Ohyoona dimana di depan pintu masuk itu terdapat banyak rangkain bunga dari berbagai instansi maupun personal yang mengucapkan selamat atas dibukanya butik baru itu. Yoona keluar saat melihat mobil Sehun, ia lalu mengajak Irene masuk dan melambai pada mobil Sehun yang mulai menjauh.
Irene tertegun melihat banyaknya pengunjung yang datang. Mereka disuguhi dengan alunan musik band yang panggungnya terletak di dekat pintu masuk. Pengunjung pun akan mendapat diskon besar serta minuman gratis disana.
Butik Ohyoona terdiri dari dua lantai. Lantai untuk memejang koleksi fashion laki-laki, kemudian lantai atas untuk memajang kolesi bmfashion wanita dan juga anak anak. Dekorasinya yang modern dengan kayu-kayu lapis dan ornamen lucu membuat siapa saja yang datang kesana akan merasa sangat betah.
"Kau akan kurekrut menjadi salah satu designer baju-bajuku."
Kalimat Yoona membuat Irene terkejut, gadis itu hampir sesak nafas dibuatnya.
"Bekerjasama lah denganku, Ren," lanjut Yoona lagi.
"Kak..."
"Aku tidak mau mendengar adanya penolakan apapun," Yoona menggeleng dengan senyuman manis. "Dan aku akan menyiapkan bahan-bahan yang nantinya akan kau butuhkan. Kau bisa mengerjakannya di tempat kostmu atau di apartemen tanpa harus selalu datang kemari. Kuberi kau bonus dua puluh persen untuk setiap karyamu yang terjual, bagaimana?"
Irene sedikit berjinjit untuk memeluk Yoona dengan erat. Ia suka, sangat suka dengan kerjasama dadakan itu.
*
Selesai menghadiri acara di Butik Ohyona, Irene memilih pulang sendiri menggunakan taxi. Ia tidak berniat langsung kembali ke tempat kost, taxi yang ia tumpangi justru kini berhenti di sebuah klinik.
Irene masih resah memikirkan tentang jatah haidnya yang tidak kunjung tiba. Sejak semalam pikiran buruk itu terus menghantui Irene hingga ia tidak bisa tidur nyenyak. Ditambah lagi, semalam ia dan Sehun baru saja bercinta. Apa jadinya jika ia sampai benar-benar hamil?
Dokter menyarankan Irene untuk memakai testpack dan beruntung hasil tespack tersebut dipastikan negatif. Dokter mengatakan jika Irene hanya mengalami stress yang pada akhirnya mempengaruhi sirkulasi lancarnya datang bulan. Kemudian dokter tersebut memberikan Irene beberapa macam obat beserta vitamin.
Setelah itu Irene mampir lagi di sebuah cafe.
Ia duduk sendiri disana hanya sekedar untuk melepas penat. Irene sempat menelepon Yeri untuk datang, tapi sayangnya Yeri sedang mengantar ibunya berbelanja dan meminta maaf karena ia tidak bisa menyusul kesana.
Irene sebenarnya merasa sedikit kecewa. Ada banyak hal yang ingin dia ceritakan pada sahabatnya itu. Tapi ya sudahlah kalau Yeri memang sedang sibuk, toh ia tidak bisa memaksa. Kadang mendengar Yeri memanggil ibunya sajaa, Irene jadi merindukan ibunya sendiri di Busan.
BRAK!
Seorang pengunjung yang sedang melewati Irene terjatuh akibat tersandung kaki kursi. Minuman dingin yang ada di depan Irene mendadak tumpah mengenai bajunya.
"Oh maaf, aku tidak sengaja," ucap gadis itu ketika Irene secara reflek membantunya bendiri, "Bajumu jadi basah begini, aku benar benar minta maaf," ia membungkuk sopan masih dengan ekspresi cemas.
"Tidak apa-apa, sebentar lagi juga kering" kata Irene santai.
Irene ingin menolak, tapi gadis itu sudah pergi ke arah meja kasir dan memesan minuman untuknya.
Menit selanjutnya, gadis itu kembali ke meja Irene dengan membawa satu cup ice mochachino.
"Semoga kau suka, " katanya lalu duduk di hadapan Irene. "Kenalkan, namaku Ha young, senang bertemu denganmu."
"Panggil saja aku Irene," balas Irene senang." Kau sepertinya bukan asli orang sini?"
"Rumahku ada di dekat sini koq. Seminggu yang lalu aku memang baru kembali dari London, aku dipaksa orang tuaku untuk berkuliah disana," Ha Young menunjukan mimik sedihnya. "Ngomong-ngomong, cafe ini dulu adalah cafe favoritku waktu masih duudk di bangku sekolah, bagus tidak menurutmu?"
Irene mengikuti kemana mata Ha Young menatap. Benar, nuansa cafe ini memang bagus, nyaman dan lokasinya sangat strategis.
"Kau sendiri, apa kau memang asli dari Seoul?" Ha Young menatap Irene penuh keingintahuan. "Ah maaf aku memang sok kenal dan banyak bicara. Aku benar-benar tidak memiliki teman disini."
"Tidak apa-apa, aku suka caramu bicara," Irene memberi seulas senyuman tipis. "Aku juga masih berkuliah, tapi untuk sementara aku tinggal di apartemen yang ada di ujung jalan sana. Asalku dari Busan," Irene menjelaskan setelah menyeruput sedikit minumannya.
"Apa kau sendirian saja datang ke cafe ini?"
"Aku sendiri," jawab Irene singkat.
"Wah...nasib kita sepertinya sama. Bagaimana jika nanti kuantar kau pulang sebagai permintaan maaf? Apa boleh aku meminta nomor ponselmu? Sepertinya kau ini orang yang enak diajak bicara. Kau mau kan jadi temanku?"
"Haha, terserah kau sajalah," Irene mengangguk- angguk setuju. "Aku bisa berteman dengan siapapun koq."
Meskipun baru saling mengenal, tapi kedua gadis itu sudah terlihat begitu akrab dan dekat. Irene menyukai cara Ha Young bicara dan tertawa. Dan menurut Irene, Ha young merupakan tipe orang yang cukup humble. Bahkan keduanya sama-sama terkejut begitu tahu jika mereka seumuran hingga memiliki banyak kesamaan.
[Ren, kau dimana? Sudah sampai?]
Irene meminta waktu pada Hayoung sebentar karena ia baru saja mendapat pesan singkat dari Sehun.
"Makan di cafe bersama teman."
[Siapa, Yeri? Di cafe mana? Kenapa tidak langsung pulang?]
"Sebentar lagi aku akan pulang."
[Aku sedang bertanya kau di cafe apa? dimana?]
Irene mendongak menatap Ha Young dan bertanya apa nama cafe yang sedang mereka datangi sekarang.
"Masami," jawab Ha Young cepat.
Irene kemudian membalas pesan Sehun dengan menyebut nama cafe itu.
[Aku akan kesana menjemputmu]
"Tidak perlu, aku bisa jalan kaki dari sini. Kau bilang hari ini kau ada pemotretan kan? Sudah, jangan ikut campur urusanku."
[Pemotertan ditunda besok. Aku akan menjemputmu kesana]
Irene berdecak sebal, tumben sekali Sehun usil sekali dengan aktifitasnya kali ini. Lagipula, Irene merasa dirinya tidak melakukan sesuatu yang aneh ataupun mencurigakan.
"Hey, kau kenapa, apa itu pesan dari pacarmu?" Ha Young yang menyadari ekspresi Irene berubah kesal, jadi bertanya.
"Dia akan menjemputku kemari. Tahu begitu, tadi aku tidak usah memberitahunya saja, dia aneh sekali sih!" baru saja Irene selesai berkata, mobil sport putih milik Oh Sehun sudah muncul dan pemiliknya segera keluar.
Sehun melepas kacamata hitamnya, ia lalu mendorong pintu masuk cafe dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Lelaki itu menemukan Irene sedang duduk memegangi ponselnya dengan wajah tidak bersahabat. Di hadapannya, duduk seorang gadis berambut pirang sebahu yang tidak begitu Sehun perhatikan.
"Ayo kita pulang," kata Sehun menatap lurus ke Irene sementara satu telapak tangannya menjulur ke depan.
Irene seperti tidak memiliki hak untuk menolak. Jadi terpaksa ia bangkit dari duduknya dan menerima uluran tangan Sehun.
"Baiklah Ha Young, sampai bertemu kembali," Irene melempar senyum tidak enak ke arah teman barunya itu.
Sehun kini menoleh untuk melihat siapa orang yang tengah Irene ajak bicara.
"K-kau Oh Sehun kan?" Ha Young yabg terkejut langsung berdiri dan menatap Sehun dengan pandangan mata tidak percaya. "Benar kan kau Oh Sehun?"
Sehun diam saja, tidaak ada ekspresi apapun yang tersirat di wajahnya. Ia dan Ha Young hanya saling melempar pandangan cukup lama.
"Kalian berdua saling kenal?" Irene menatap Sehun dan Ha young secara bergantian.
Sedetik Ha Young tampak bingung dengan situasi di depannya. Matanya mengarah pada tautan jemari Irene dan Sehun kemudian ia kepalanya menggeleng dengan lemah.
"Ah tidak, aku hanya tahu Oh Sehun dari iklan di tv dan majalah saja. Senang sekali bisa melihatmu secara langsung," Ha Young membungkuk memberi salam hormat.
Sehun cukup membalasnya dengan sedikit anggukan kepala. Fansnya kan memang banyak, jadi ia tidak terlalu mau menanggapi hal itu.
"Ayo," tanpa banyak basa-basi, Sehun menarik Irene untuk keluar dari cafe itu dan masuk ke dalam mobil.
"Kubilang jangan bertemu dengan orang asing, apa kau tidak mendengarkanku?''
"Siapa bilang dia orang asing, dia teman baruku," kilah Irene membela diri.
"Sejak kapan kau dan dia berteman?"
"Baru saja, kenapa? Dia kan wanita, bukan semacam lelaki playboy sepertimu."
Sehun tertawa kecil seakan jawaban Irene terdengar sangat lucu.
"Pokoknya kau tidak usah lagi berteman dengannya atau siapapun tanpa sepengetahuanku. Aku hanya tidak mau kejadian penyekapan yang seperti kemarin terjadi lagi. Aku benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu Ren."
Irene mengerutkan keningnya, kemudian menatap Sehun yang sedang fokus menyetir di sampingnya dengan perasaan curiga.
"Kanapa kau jadi ikut campur dengan urusanku? Tidak ada perjanjian semacam itu dalam pernikahan kita!"
"Mulai sekarang, urusanmu adalah urusan kita berdua," tandas Sehun tegas. "I'm gonna think 'bout you, one and only."
* Hey, Playboy*