Hey, Playboy

Hey, Playboy
Bagian 29.



Seharusnya Irene sudah tiba di Busan sejak tadi pagi, tapi sampai sesiang ini pun ia masih meringkuk di atas tempat tidur kamar kostnya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Matanya sembab, rambutnya berantakan dan ia hampir belum mandi sejak kemarin sore.


Baju-baju yang sudah dia packing kemarin bersama Park Chanyeol menjadi saksi biksu mengenai kesedihannya hingga detik ini.


Berawal dari sepulang Irene mengikuti ujian di hari terakhir, Chanyeol menjemputnya dan mengajaknya makan. Mereka menghabiskan sisa waktu siang itu dengan hal-hal manis. Seperti berbicara secara intens meksipun Irene sempat berpikir keras bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan cincin pernikahan itu kembali. Chanyeol sepertinya memang tidak memiliki niatan untuk mengembalikannya pada Irene. Sementara gadis itu bingung bagaimana dirinya nanti harus menjelaskan pada Sehun jika saja lelaki itu menanyakannya.


Beralih soal cincin, Chanyeol mengajak Irene berputar-putar sepanjang jalan hingga mereka berakhir di sebuah hotel.


Jantung Irene berdetak kencang mengikuti langkah Chanyeol masuk ke dalam sebuah kamar. Apa yang akan mereka lakukan disana? Kepala Irene sudah dipenuhi dengan berbagai pikiran kotor.


Keduanya lalu masuk dan yang lebih mengejutkan lagi adalah setelah menutup pintu kamar, Chanyeol pun menguncinya.


"Chan... haruskah kita berada di tempat seperti ini?" Irene memasang wajah tegang dan ia hanya berdiri di depan pintu karena ia tidak tahu harus berbuat apa bersama Chanyeol.


Lelaki itu berbalik ke arah Irene sambil tersenyum tipis. Tanpa banyak bicara, ia lantas melepas beberapa kancing atasan kemeja dan melepas sabuk celananya. Kemudian dengan tatapan mata yang dalam, Chanyeol mulai berjalan mendekat ke arah Irene.


"A-apa yang akan kau lakukan, eoh," Irene mundur dengan ketakutan. Namun langkahnya terhenti saat Chanyeol meraih paksa tubuh Irene lalu mendekapnya kuat dan menciumi bibirnya.


Awalnya ciuman itu berjalan dengan lembut, namun sedetik kemudian ciuman itu berubah menjadi ciuman penuh nafsu hingga Chanyeol memasukan lidahnya dan menyesap bibir Irene dengan pergerakan sangat kasar dan serakah.


Irene berusaha untuk memberontak. Ia nyaris tidak tidak menyangka bahwa Chanyeol akan memikirkan perbuatan buruk seperti apa yang Oh Sehun lakukan padanya.


Dua tangan Irene memukul-mukul tubuh Chanyeol sekuat mungkin, tapi sikap tennag lelaki itu seolah tidak menghiraukannya. Dan alih-alih melepas tautan bibirnya, Chanyeol kali ini mendorong tubuh Irene ke atas tempat tidur. Ia pun membuka paksa baju atasan Irene, menarik tali bra-nya dan *** kuat buah dada gadis itu.


"Chan, hentikan!!" Irene menjerit keras begitu ia memiliki kesempatan saat Chanyeol melepas ciuman mereka.


Secepat kilat Irene mendorong tubuh Chanyeol ke belakang dan membuat lelaki itu hampir terjungkal dari tempat tidur. Irene bergegas menutup tubuhnya yang terbuka dengan kedua tangan yang bergemetar dan air mata yang sudah meleleh di pipi. Lalu sebelum Chanyeol dapat melakukan tindakan yang lebih buruk lagi, Irene dengan keras menampar wajah lelaki itu berulang kali.


Chanyeol terdiam cukup lama dengan memegangi pipinya yang merah, kemudian ia tertawa kecil. Tawa yang seakan terdengar frustasi dengan keadaannya, dengan posisinya yang sulit. Yang selanjutnya Chanyeol lakukan hanyak duduk menunduk dalam diam.


"Kau gila ya!!" pekik Irene keras. Nafasnya pun tersengal, ia emosional dan tentu saja ia merasa sangat marah. Chanyeol yang ia pikir seorang lelaki terhormat, bahkan ingin melakukan hal yang sama seperti apa yang pernah Sehun lakukan. "Bagaimana bisa kau melakukan itu padaku, eoh?! Bicaralah dan lihat aku!"


Chanyeol mendongak dengan mata memerah.


"Kau membiarkan Sehun melakukan itu padamu, tapi kau tidak membiarkanku melakukannya, kenapa?"


Irene masih belum dapat memahami kemana jalan pemikiran Chanyeol. Gadis itu hanya mencoba untuk bersahabat dengan keadaan dan duduk di tepian tempat tidur berhadapan dengan lelaki yang hampir saja menodainya.


"Chan..."


"Kenapa?!" nada suara Chanyeol meninggi, ia mengacak-acak rambutnya sendiri. "Beritahu aku kenapa ini semua harus terjadi. Aku mengenalmu lebih dulu, aku mencoba menyembunyikan rasa ini selama bertahun-tahun. Dan ketika aku mendapatkanmu..," Chanyeol tidak meneruskan kalimatnya, tenggorokannya kini seakan tercekat hebat. Kemudian disusul dengan bulir bulir air mata yabg mulai mengalir seiring dengan suara isakan tangisnya.


"Maaf...maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa melakukannya denganmu," Irene membenarkan letak kancing kemeja Chanyeol kemudian memeluknya dengan erat. Sekarang ia memahami alasan apa yang membuat lelaki itu berbuat sampai di luar kendali. Chanyeol jelas menyimpan rasa cemburu pada Sehun. Ia sangat marah hingga pikirannya berubah gila.


"Aku begitu sedih mendengar Sehun melakukan itu padamu, Ren. Tapi kau masih bisa tertawa di depanku, kau masih bisa bersikap seolah kau baik-baik saja. Kau seakan menganggap semua itu tidak pernah terjadi dan itu justru sangat menyakiti perasaanku," isakan Chanyeol semakin menjadi. "Aku tidak bisa terus memendam perasaanku semacam ini. Aku baru saja mendapatkan hatimu, aku begitu menyayangimu, dan kau seharusnya hanya menjadi milikku. Tapi kenapa harus ada Sehun di antara kita, kenapa harus dia?!!"


Irene berusaha memegangi kedua tangan Chanyeol agar berhenti menyakiti dirinya sendiri, tapi gagal. Tenaganya tidak cukup kuat untuk menahan Chanyeol yang terus memukuli kepalanya sendiri.


"Komohon hentikan ! Aku juga tidak pernah menginginkan hal buruk itu terjadi padaku. Ini sama sekali bukan salahmu, Chan... jadi tolong, aku mohon, jika kau menyayangiku, hentikan menyakiti dirimu sendiri! Meskipun kau terluka, aku pun terluka, kita tetap tidak akan bisa memutar waktu. Dan lihatlah aku sekarang, aku baik baik saja kan? Lihat aku, aku tidak apa-apa bukan? Tolong hentikan!"


Chanyeol menepis tangan Irene, ia bergerak menjauh. Lalu bersikap seperti orang kesetanan, Chanyeol menyumpah serapah dengan kata-kata kotor bahwa tidak seharusnya ia berada diantara hubungan Sehun dan Irene. Ia membenci dirinya yang selalu berpura-pura bodoh dan menganggap Irene tetaplah seorang gadis single. Chanyeol yang sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi, berakhir dengan menggelosor duduk di lantai. Ia terus memukul-mukul dadanya yang terasa begitu sesak.


Aku yang bersalah, aku yang tak tahu diri, aku yang bersuami telah berani mencintai dan menerima cinta orang lain hingga membuatnya begitu terluka. Salahkan aku saja Tuhan, dia..lelaki yang ada depanku ini hanyalah lelaki teramat baik yang ingin mencintaiku, yang ingin bahagia bersamaku. Tapi kebahagiaan itu hancur berkeping keping hingga hatinya berubah beku, otaknya rusak dan jiwanya menjadi kotor. Maafkan aku, maafkan kami berdua, aku tidak sanggup lagi melihatnya semenderita itu karena diriku.


Serentetan kalimat panjang itu keluar dari sisi jiwa Irene saat ia hanya dapat melempar pandangan matanya pada langit-langit kamar. Gadis itu kemudian menangis terisak tanpa henti dan hanya sanggup berbicara pada dirinya sendiri.


Berpisah, ya..mungkin itu jalan yang terbaik yang harus kami lewati. Menjadi sahabat seperti dulu, hanya cukup menyapa, tersenyum dan memandanginya dari jauh. Cukup seperti itu. Begitulah jika cinta memang tidak harus memiliki, seperti aku dan Chanyeol yang harus berhenti sampai disini. Dia dengan dunianya yang penuh warna-warni, meraih kesuksesannya dan aku yang mungkin akan mundur satu langkah untuk maju seribu langkah lagi demi meraih masa depanku.


Pada akhirnya semua tersakiti. Chanyeol dan Irene pun kemudian memilih jalan terbaik dengan berpisah selamanya...


-


Segera setelah emosinya mereda, Chanyeol berulang kali mengucapkan kata maaf pada Irene. Ia mencium kening Irene cukup lama dan mengajak Irene keluar dari hotel itu secepatnya.


Mereka berdua berkendara di dalam mobil tanpa saling bicara dan kembali ke rumah kost milik Irene. Chanyeol bahkan sempat membantu gadis itu mengepak beberapa pakaian yang akan ia bawa pulang ke Busan keesokan harinya.


"Apa kau besok akan berangkat pagi-pagi sekali?" tanyanya dengan nada rendah.


"Ehm...aku sudah membeli tiketnya."


Hening...keduanya lalu terdiam hingga beberapa menit ke depan.


"Kau sendiri akan berangkat ke Suwon lusa depan?" tanya Irene balik.


"Ehm."


Irene hanya menanggapinya dengan mengangguk-angguk kecil.


"Kau juga harus bahagia, Chan. Jadilah dokter yang yang berprestasi dan mendapatkan pasangan hidup yang lebih baik nantinya. Kau harus berjanji padaku untuk selalu tersenyum dan bersikap hangat pada siapapun."


Mereka lantas saling menautkan jari kelingking masing-masing seperti janji seorang anak kecil kepada sahabatnya.


"Aku janji, kau juga harus hidup dengan baik dan jangan lupa kabari aku jika kau sudah sampai di Busan."


Permasalahan mereka berdua telah selesai. Meskipun cara ini bukan cara yang baik untuk bisa dikenang, tapi inilah keputusan terbaik untuk masa depan keduanya. Perpisahan ini pun telah mengukir luka terdalam di hati Irene. Dan tidak mungkin lagi baginya untuk kembali bersama Sehun. Lagipula cepat atau lambat, Sehun pasti akan kembali pada Ha Young, cinta pertamanya yang muncul setelah sekian lama mereka berpisah. Irene benar-benar sudah tidak lagi mengharapkan pernikahannya akan tetap utuh seperti sedia kala.


*


Yoona sedang memasangkan satu gaun pada manequin di butiknya ketika mendapati Sehun datang.


"Kau darimana?"


"Memesan tiket," jawab Sehun datar.


"Kau benar-benar akan pergi?l Yoona bertanya sekedar untuk meyakinkan.


"Hmm," Sehun mengangguk. "Tolong jika ada yang mencariku, siapapun itu, tolong katakan aku tidak ada, aku pergi. Aku sedang tidak ingin bertemu siapa siapa hari ini."


"Kenapa? Perasaanmu masih belum membaik?"


Tanpa sudi untuk menjawab, Sehun langsung saja berjalan masuk ke dalam dan duduk di ruangan kerja kakaknya. Sekarang ia menjadi lelaki super sibuk yang pekerjaannya hanya melamun dan merenung.


Dan benar saja, tidak berapa lama Yoona dikejutkan dengan kedatangan Irene. Gadis itu terlihat buru-buru membuka pintu kemudian melambikan tangannya sambil tersenyum.


"Lama tidak bertemu, apa kabau baik-baik saja Ren?" Yoona menyambut adik iparnya dengan pelukan hangat.


"Ya, aku baik. Oh ya kak, apa Sehun ada disini?"


Yoona terdiam sesaat, dia bingung antara harus menjawab jujur atau berbohong menuruti perintah adiknya.


"Aku mencoba menghubunginya tapi dia tidak pernah mau mengangkat teleponku," beritahu Irene khawatir.


"Oh...dia pasti sedang sibuk. Ada urusan pekerjaan mungkin," Yoona akhirnya berbohong demi adik satu-satunya yang beberapa hari terakhir selalu bertingkah seperti mayat hidup.


"Ah, begitu ya...," Irene tampak kecewa. "Aku hanya ingin berpamitan karena hari ini aku akan kembali ke Busan selama liburan semester. Sampaikan saja hal ini pada Sehun, mungkin aku akan menghubunginya kembali jika sudah sampai disana."


"Aku pasti akan sangat merindukanmu, Ren. Kutunggu kau kembali dan kita bisa bekerja sama lagi merancang gaun-gaun untuk mengisi butikku ini."


Irene mengangguk, kemudian mereka saling berpelukan sebelum akhirnya Irene berpamitan dan segera melangkah keluar dari butik.


Baru setelah itu Yoona melangkah masuk ke dalam ruangan kerjanya sambil menatap bosan pada Sehun yang hanya duduk terdiam tanpa melakukan apapun.


"Irene baru saja datang."


"Aku tahu, aku mendengar kalian berbicara."


"Kalau begitu, kejar dia!"


Sehun masih saja bergeming, tidak ada pergerakan apapun yang menandakan bahwa ia akan menuruti perintah kakaknya kali ini.


"Biarkan, biarkan saja dia pergi."


Sehun mengamati cincin kecil yang ia pasang di jari kelingking kanannya. Benda mungil itu seharusnya masih berada di jari manis Irene, tapi kini benda tersebut justru kembali kepadanya. Lalu ketika mata Sehun mulai berkaca-kaca, sebuah pesan pendek di ponselnya masuk dan rupanya pesan itu berasal dari nomor Irene.


[Nikmati liburan semestermu, aku pamit. Siang ini aku akan kembali ke Busan]


Sehun sengaja tidak membalasnya, namun kembali satu-persatu pesan dari Irene ia terima dalam waktu berdekatan.


[Aku kehilangkan lagi cincin pernikahan kita, bagaimana ini? Kau pasti marah padaku kan?]


[Aku janji akan mencarinya, aku janji. Jangan marah ya?]


[Sampai jumpa semester depan, jaga dirimu baik-baik disana. Jangan telat makan, pastikan kau mengunci kembali kamar kostmu dan jangan menghambur-hamburkan uangmu untuk pergi minum-minum. Kau harus menjaga kesehatanmu, pokoknya kau tidak boleh sakit]


[Baiklah aku tahu kau sangat marah padaku, aku minta maaf]


[Balaslah setidaknya satu pesanku. Apa kau benar-benar marah padaku?]


Sehun segera mematikan ponselnya dan ia kembali dalam lamunan hingga tanpa terasa sebutir kristal bening pun meluncur lambat membasahi pipinya.


*Hey, Playboy*