Hey, Playboy

Hey, Playboy
Blurb



Sehun membanting tubuhnya di sofa empuk di apartemennya, wajahnya tampak kesal lengkap dengan kedua alisnya yang menyatu. Rupanya dia baru saja pulang dari perkuliahan dan mendapati ibunya sudah berada di dalam apartemen. Wanita itu langsung memberinya serentetan jadwal acara yang harus di hadiri Sehun dengan beberapa relasi bisnis ayahnya.


Tuan Oh sendiri orang yang teramat sibuk. Beliau hampir tidak pernah ada di rumah dan sialnya, Sehun sebagai satu-satunya anak laki laki di keluarga itu seringkali menggantikan posisi ayahnya untuk datang ke berbagai acara perusahaan.


Sehun tidak bisa menolak selagi itu adalah perintah dari ibunya. Sekali saja Sehun membantah, dia hanya akan merana karena kartu kredit dan segala macam ATMnya akan di blokir  secara tiba-tiba. Bahkan dia juga benci dengan kakak perempuannya—Oh Yonna—yang saat ini sedang berkuliah di Amerika. Gadis itu benar-benar seperti tidak mau tahu masalah apa saja yang harus Sehun hadapi di kota kelahirannya, Seoul.


"Tinggalkan apartemenmu dan cobalah hidup di sebuah rumah kost," seru Kai, teman kampusnya suatu saat ketika Sehun sedang mengeluh tentang hidupnya yang terus terganggu oleh aturan ketat keluarga.


"Dimana itu?"


"Kalau kau berminat, akan kucarikan satu kamar kost untukmu di dekat kampus."


Sehun berpikir cukup lama, ia yang biasanya hidup di rumah luas dan serba ada, mampukah tinggal di sebuah kamar kecil yang seadanya? Masalahnya adalah, ia tidak terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri karena pelayan di rumah tentu saja akan memenuhi semua perintahnya. Tapi bayangan akan hidup bebas segera memenuhi kepalanya dan itu membuat satu sudut bibirnya terangkat samar-samar.


Sementara itu di tempat lain,


Irene yang berkeringat sepulang kuliah karena berjalan kaki, langsung melangkah gontai menaiki anak tangga menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua. Ia melempar tas selempangnya di atas sofa kecil, lantas membanting tubuhnya di tempat tidur. Hari ini udara cukup panas dan terik matahari seolah berhasil menyerap seluruh energinya sampai habis.


Kamar yang ia huni cukup luas. Selain ada tempat tidur dengan ukuran sedang, juga terdapat satu kamar mandi dan sepetak dapur kecil. Sementara di sisi lainnya terdapat satu buah tv, kulkas, serta sebuah lemari pakaian yang cukup besar. Lalu di sudut sebelah tempat tidurnya terdapat mesin jahit duduk lengkap dengan meja rias.


Irene ingin suatu saat nanti ia bisa menjadi seorang designer terkenal. Ia suka menggambar, ia suka menjahit dan ia suka berkhayal mengenai kisah hidupnya seperti dalam dongeng.


Baru saja gadis itu ingin memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya berdering dan panggilan itu datang dari Yeri yang merupakan salah seorang sahabat terdekatnya di kampus.


"Irene, kau dimana? Kau bilang ingin membeli bahan-bahan untuk praktek kuliah kita besok. Apa sebaiknya kita mencarinya sekarang saja?"


Irene melirik jam dindingnya yang menunjukkan pukul dua siang. Ia terkejut dengan ucapan Yeri tentang praktek kuliahnya yang akan dilaksanakan besok pagi.


"Ya ampun..aku hampir saja lupa. Kalau begitu, bisakah kau kemari menjemputku?"


"Baiklah. Aku akan meminjam mobil kakakku dan tunggu aku sekitar lima belas menit lagi,ok?"


Irene bergegas mencuci muka di wastafel. Ia lalu mengganti baju kuliahnya dengan pakaian yang lebih casual berupa celana jeans ketat dipadu dengan kaos hitam polos. Gadis itu menyisir rambutnya dan menjadikannya ikatan ekor kuda. Tidak lupa Irene juga mengaplikasikan sedikit bedak serta liptin berwarna cherry. Kemudian dengan seulas senyum tipis, ia melangkah keluar dari kamar untuk turun ke lantai bawah menunggu jemputan Yeri di depan teras tempat kostnya.


Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Yeri tiba. Jadi setengah berlari, Irene langsung masuk dan duduk disebelah sahabatnya itu.


"Kebetulan kakakku sedang ada di rumah," seru Yeri yang mulai melajukan mobilnya menyusuri jalanan kecil untuk menuju jalan utama.


"Akhir-akhir ini aku tidak melihatnya, apa kabarnya baik-baik saja?"


"Hemm, dia sangat baik."


Yeri memiliki kakak lelaki tampan bernama Park Chanyeol yang notabene adalah seorang dokter muda. Ia tinggi, pintar, tampan, dan sudah sejak dua tahun lalu Irene sangat mengidolakannya. Baginya, Park Chanyeol adalah lelali sempurna, senyumnya manis dan ia selalu berkata dengan sangat lembut kepada siapapun.


"Apa sebaiknya kita mampir ke cafe dulu, aku haus," celetuk Yeri yang langsung diangguki setuju oleh Irene.


Berburu kain dengan harga murah dilakukan Yeri dan Irene di sebuah pertokoan daerah Mapo-gu hampir sekitar empat jam, termasuk makan dan nongkrong sebentar di cafe. Yeri baru mengantar Irene kembali ke kost pada pukul setengah tujuh malam.


"Hati-hati di jalan, jangan lupa titip salamku untuk kakakmu!," Irene melambai dan ia segera masuk ke dalam ketika mobil Yeri sudah benar-benar menghilang dari pandangan matanya.


Tapi Irene sedikit terkejut sesaat setelah ia melihat sebuah mobil sport mewah berwarna putih terparkir di halaman depan rumah kostnya. Dengan kening berkerut, gadis itu lantas melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga untuk segera menuju ke lantai dua kamarnya. Dan lagi-lagi, ia dikejutkan dengan tumpukan beberapa kardus kosong yang terletak asal menghalangi pintu kamar. Lalu sambil bergumam tidak jelas, Irene menyingkirkan secara kasar kardus-kardus tersebut ke ruang kosong yang berada tidak jauh dari anakan tangga. Ia baru akan memutar knop pintu kamarnya, namun matanya kembali mendapati sebuah pemandangan asing. Dan itu tepat di sebelah pintu kamarnya persis. Irene rupanya melihat sepasang high heels berwarna hitam yang kira kira setinggi delapan centi.


Irene sempat berpikir apakah kini ia mendapat teman kost baru karena nyaris setahun lebih kamar itu dibiarkan kosong. Kemudian snyum gadis itu pun mulai mengembang. Setidaknya ia merasa cukup senang dan lega karena kemungkinan penghuni kamar di sebelahnya adalah seorang perempuan.


"Welcome home," setengah berbisik, Irene memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamarmya sendiri.


Hari ini cukup melelahkan, Irene berdiri di depan cermin sambil membenarkan letak kacamata minusnya. Samar-samar ia bisa mendengar suara seorang gadis tengah tertawa kecil. Namun tidak berapa lama suara itu lenyap dan berganti menjadi suara-suara aneh yang menurutnya terdengar sangat menggelikan.


"Jangan lakukan itu, sayang. Berhenti, ini geli!"