
Sudah tiga jam ini Irene tiduran di kamar Yeri sepulang mereka berkuliah. Ini hari pertama Irene kembali ke kampus setelah ia sembuh dari luka-luka akibat penyekapannya.
Kampus yang dulunya menyenangkan kini berubah seperti lokasi jatuhnya kecelakaan pesawat. Mendadak banyak mahasiswa menjadi reporter dan juga wartawan disana.
Setiap Irene melangkah, suara bisik-bisik dari mereka selalu terdengar. Sebagian memberanikan diri untuk bertanya langsung perihal hubungan Irene dengan model terkenal Oh Sehun yang berasal dari kampus seberang. Sebagian lagi cukup memandang Irene penuh dengan pertanyaan maupun komentar pedas.
Bagaimana bisa Oh Sehun si manusia super tampan menyukai gadis dekil seperti Irene?
Nasib apa yang membawa mereka berdua untuk bisa bertemu? Bahkan sampai pada tahap menikah.
Bukankah Bae Irene itu mahasiswi berkaca mata tebal yang penampilannya sangat culun kan?
Si pendek dan bodoh itukah dari jurusan fashion design?
Jadi dia gadis yang suka berkutat dengan kain lusuh, benang, ataupun jarum?
Memangnya tubuhnya seksi? Tinggi saja tidak.
Mungkin Irene memiliki kekuatan supranatural yang bisa membuat Oh Sehun tidak bisa lari darinya. Ya ampun, kasihan sekali ya lelaki itu, padahal yang cantik saja banyak. Kenapa Sehun harus berakhir dengan gadis dekil sepertinya?
Bahkan berita itu sudah menyebar di media sosial hingga seluruh mahasiswa di kampus membicarakannya. Sesiang ini Irene benar-benar harus membiarkan kedua telinganya berubah pengang karena mendengar berbagai macam kalimat cercaan yang khusus ditujukan untuknya. Nyaris tidak ada satu pun yang membicarakan keburukan Oh Sehun selain karena nasibnya yang dianggap begitu malang.
"Makan ini," Yeri masuk ke dalam kamarnya dengan membawa sepiring irisan buah melon segar. Ia meletakan piring itu di atas tempat tidur lalu menyantapnya bersama Irene.
"Kau tenang saja, berita itu pasti lambat laun akan segera mereda. Pada akhirnya mereka akan meluoakan itu dan menerima kenyataan bahwa sekarang kau memanglah istri dari Oh Sehun," Yeri memberi masukan positif bagi sahabatnya yang sejak tadi terlihat murung.
Belum saja Irene membalas ucapan Yeri, bunyi deru mobil dari luar mengalihkan perhatian mereka. Irene buru-buru merapikan rambutnya karena ia tahu itu pasti Chanyeol yang datang.
Benar tebakan Irene, tidak berselang lama Chanyeol muncul, kepalanya menyembul dari balik pintu kamar Yeri dengan senyuman manis andalannya.
"Irene ada disini rupanya. Waaah...kau sekarang tidak memakai kacamata lagi ya?" mata besar Chanyeol memandang penampilan baru Irene dengan penuh kekaguman.
"Tidak usah ikut campur urusan kami kak, pergi saa sana!" Yeri berusaha mengusir Chanyeol dengan mendorong tubuhnya dari pintu. Tapi lelaki tinggi itu tetap bertahan di posisinya.
"Tunggu, tunggu...apa itu yang sedang kalian makan?" bukannya pergi, Chanyeol justru masuk ke dalam dan duduk di tepian tempat tidur lalu mencomot seiris melon dan melahapnya. "Melonnya manis Ren, seperti wajahmu."
"Kak, jangan merayu sahabatku!"
"Irene memang manis, aku hanya sedang memujinya saja koq," Chanyeol membela diri begitu Yeri menatapnya galak. "Iya Yer, kau bahkan paling manis di dunia ini."
Irene tersipu malu sementara Yeri hanya berdecih lirih.
"Oh ya Yer, aku tadi sempat membeli beberapa makanan di mobil. Cepatlah kau ambil dan bawa kemari," perintah Chanyeol pada Yeri hingga adiknya itu menurut dan keluar dari dalam kamar meninggalkan Chanyeol dan Irene berdua saja.
Banyak objek di kamar Yeri yang bisa membuat Irene menyibukan diri. Sayangnya dia malah duduk terpaku dan salah tingkah. Entah kenapa ketika bola matanya bergulir menatap Chanyeol, lelaki itu juga melakukan hal yang sama dan sukses membuat keduanya berubah canggung.
"A-pa kau tidak bekerja hari ini Chan?"
"Aku baru saja pulang kan?"
Irene menyumpah serapah pada dirinya sendiri kenapa justru pertanyaan tidak bermutu semacam itu yang keluar dari mulutnya. Sudah jelas-jelas Chanyeol baru saja pulang bekerja.
"Ku-kupikir kau baru saja kembali dari suatu tempat."
"Kau benar, aku memang kembali dari Rumah Sakit. Ini makan," Chanyeol menyodorkan seiris melon ke depan mulut Irene, mengabaikan pertanyaan Irene yang lagi-lagi terdengar sangat lucu. "Banyak makan buah akan membuat kulitmu sehat dan terlihat bersinar. Ayo, buka mulutmu..."
Saat Irene sedang menerima suapan dari tangan Chanyeol, Yeri masuk dengan langkah riang dan senyum mengembang. Tapi senyuman itu mendadak sirna saat ia menatap keduanya dan merasa seperti ada sesuatu yang aneh.
*
Irene diam saja saat Sehun membawanya ke sebuah restoran mahal malam ini. Mereka duduk berhadapan di meja kecil yang dilapisi kain putih bersih beserta vas bunga kaca ditengahnya.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Sehun mengecek ponselnya, melihat banyak notifikasi dari akun sosial medianya.
"Kenapa tiba-tiba kau mengajakku kemari?" pertanyaan Irene memecah keheningan.
"Memenuhi janji."
"Aku bahkan sudah lupa," Irene memutar dua bola matanya malas. Ditambah dengan alunan musik biola di restoran yang ia kunjungi ini benar-benar membuatnya jadi mengantuk.
Sehun meletakan ponselnya di atas meja, kemudian ia mengambil dompetnya.
"Berapa biaya yang kau butuhkan dalam sebulan?"
"Eoh?" Irene melongo bingung
"Ini, untukmu," Sehun memberikan sebuah kartu kredit di telapak tangan Irene. "Belilah segala kebutuhanmu. Itu uang penghasilanku bekerja, bukan uang dari orang tuaku. Dan itu kartu kreditku yang baru karena yang lama sudah terblokir, jadi tolong kau simpanlah dengan hati-hati, jangan sampai hilang."
"Kau tidak harus melakukan ini padaku," Irene mendorong kembali kartu itu di hadapan Sehun. "Kekuargaku tidak sekaya keluargamu, tapi orang tuaku masih sanggup membiayai hidupku. Aku tidak terlalu membutuhkannya."
"Tapi sekarang aku suamimu. Aku yang bertanggung jawab penuh terhadap seluruh biaya kehidupanmu. Kau tabung saja uang dari orang tuamu agar mereka tidak curiga, " Sehun berdiri. la mengambil tas kecil Irene dan memasukan kartunya di sana.
"Apa kau sedang menyuapku?"tiba-tiba pertanyaan itu terlintas di pikiran Irene hingga merusak suasana hati Sehun yang sedang membaik akhir-akhir ini.
Sehun sudah bersiap-siap ingin berteriak begitu pesanan makanan mereka rupanya telah datang. Pelayan menaruh dua piring steak dan dua minuman dingin sebelum akhirnya berlalu.
"Anggap saja uang itu untuk membayar tubuhmu," Sehun yang geram akhirnya berbicara dengan nada marah.
"Jangan berani bicara sembarangan padaku. Kau ingin aku menyentil ginjalmu dengan jarum panas ya?!" Irene memekik tertahan saat mengatakannya. Ia lantas meraih garpu dari tangan Sehun dan mengacak-acak isi piring suaminya dengan kesal. Steak Sehun berceceran pada taplak meja sebelum lelaki itu sempat menikmatinya.
Masih dengan nafas yang memburu, Irene melempar kasar garpu itu di atas meja sambil menatap Sehun dengan tajam.
"Kita makan di tempat lain saja," Sehun berdiri, ekspresi wajahnya dingin tapi tidak ada keinginan dari darinya untuk membalas kemarahan Irene. "Ayo!"
Dua puluh menit kemudian mereka berdua duduk di sebuah kedai yang ada di pinggir jalan sambil menikmati perut babi pedas dan beberapa botol soju. Tidak ada lagi pembicaraan yang saling menonjolkan urat leher. Keduanya hanya terus terdiam menikmati makan malam mereka dengan seadanya. Bahkan jas semi formal dan dress cantik yang mereka kenakan hanya berakhir sia-sia.
"Makan yang banyak, apa kau mau menambah nasimu?" tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, Sehun sudah menaruh separuh nasinya di piring Irene.
"Ngomong-ngomong, darimana kau tahu tempat makan yang enak ini?" Irene bertanya dengan nada biasa dan mulut yang penuh dengan makanan. "Ambilkan aku yang itu juga, kimchi itu, jatahmu."
Tidak perlu makan di tempat mahal untuk menciptakan suasana harmonis dan romantis. Bagi Irene dan Sehun, makan di kedai pinggir jalan justru lebih terasa menarik tanpa harus ada pertengkaran.
"Makanmu seperti preman ya Ren, kau mau tambah nasi lagi tidak?"
"Mau, mau, perut babi pedasnya juga."
*
Sehun berjalan di belakang Irene menyusuri trotoar diantara suasana malam kota Seoul yang cukup dingin. Satu tangannya menenteng sepasang high heels milik Irene, sementara tangan yang lain ia masukan ke dalam saku celana. Irene sendiri memilih memakai sendal karet usang miliknya sambil berjalan dalam langkah ringan menghirup udara bebas.
"Kau sebenarnya mau mengajakku berjalan sampai mana sih?" tanya Sehun sedikit kesal karena kakinya mulai terasa pegal.
"Aku harus banyak berjalan untuk membakar kalori karena terlalu banyak makan malam ini. Kau lihat toko baju di sana," Irene menunjukan pafa sebuah toko dengan jari telunjuknya."Kita akan berjalan sampai disana dan kembali lagi ke mobil."
"Pijat kakiku begitu kita sampai di rumah ya?" Sehun merajuk.
"Jalan sebentar saja kau sudah kelelahan, dasar anak manja."
Sehun terkekeh kecil, kemudian ia sengaja mempercepat jalannya untuk bisa sejajar dengan langkah Irene yang sudah lebih dulu berada jauh di depan. Begitu sampai, lelaki itu langsung menautkan jemarinya pada jemari Irene. Mereka pun berjalan bergandengan tangan tidak peduli dengan beberapa orang yang melihatnya dengan risih, iri, atau apalah itu.
" Kapan aku bisa bertemu dengan orang tuamu? Aku ingin perg ke Busan."
"Jangan, jangan dalam waktu dekat ini. Mereka pasti akan sangat marah padamu. Orang tuaku memiliki pemikiran yang sedikit primitif mengenai sebuah pernikahan."
Sehun mengangguk mengerti, mungkin orang tua Irene akan semarah orang tuanya juga jika tau anak gadisnya telah dinikahi seseorang tanpa ijin.
"Kira-kira orang tuamu akan menyukaiku tidak?"
Irene memperlambat jalannya, ia menggigit bibir bawah bawah sambil menatap ke atas mencoba untuk berpikir.
"Sepertinya mereka akan menyukaimu, maksudku dengan visualmu. Tapi mungkin tidak dengan sifatmu. Kau kan playboy."
"Aku akan berubah."
Irene memasang wajah ingin muntah mendengarnya.
"Aku akan berubah jika ada wanita yang mencintaiku dengan tulus."
"Horlll...orang sepertimu membicarakan cinta yang tulus? Haha itu sangat lucu! Lagipula selama aku masih ada bersamamu, mana ada wanita yang mau mencintaimu dengan tulus?" Irene tertawa menghina, membuat Sehun berdecih lirih.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kau saja yang melakukan itu padaku?"
Irene menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Sehun.
"Kau ingin aku marah lagi padamu ya? Mau aku cakar wajahmu sampai tidak berbentuk?"
Sehun seharusnya kesal dengan kalimat Irene yang selalu saja merendahkannya. Anggapan playboy memang selalu melekat setiap kali orang menilai dirinya, tapi Sehun merasa sudah lelah dengan semua itu.
"Aku serius, aku memikirkan kata-kata Yoona waktu itu," wajah Sehun tidak sedikitpun memperlihatkan jika ia sedang bercanda. "Bagaimana kalau kita belajar untuk saling mencintai, apa kau mau?"
Hening...
Irene tidak mampu berkata-kata. Ia memiliki banyak alasan kenapa ia sulit untuk mempercayai suaminya sendiri. Berubah juga butuh proses dan itu tidak semudah saat seperti seseorang sedang membalik telapak tangan.
"Aku tidak akan memaksakan perasaanmu jika kau memang tidak mau. Aku tahu kau menyukai seseorang."
"Lalu jika kau tetap tidak bisa mencintaiku?" tanya Irene yang kini menatap Sehun lekat-lekat
"Mungkin aku akan berakhir menikah dengan pilihan orang tuaku."
"Tzuyu?" tebak Irene cepat.
"Kalau dia masih mau denganku."
"Aku tidak suka kau menikah dengannya," Irene berdecak dengan wajah kesal.
"Kenapa?"
"Pokoknya aku tidak suka."
"Beritahu aku alasannya."
Irene segera melepas tautan jemari mereka dan melangkah mendahului Sehun tanpa menjawabnya, membuat kening lelaki itu berkerut.
"Dia cemburu juga, "batin Sehun yang berusaha menyusul kembali langkah Irene. "Baiklah, baiklah, kalau kau tidak suka aku menikahi Tzuyu. Kau boleh memilihkanku seorang wanita yang memang pantas untuk kujadikan istri kedua. Apa kau punya kandidat itu di kelasmu? Aku suka yang berdada besar, memiliki pinggul yang kecil tapi pantatnya menonjol."
"Menikah saja dengan ayam!"
"Kalau ayam aku lebih suka bagian pahanya, dagingnya kenyal. Apa kau masih memiliki kandidat lain yang lebih baik?"
"Jangan tanyakan itu padaku!"
"Hey, kenapa bicaramu jadi sewot begitu? Ya sudahlah, aku terpaksa memilihmu saja ya? Ayolah, kau pasti senang kan memiliki suami tampan sepertiku."
"Kepercayaan dirimu benar-benar berada pada level tidak tertolong. Sadar sedikit bisa tidak?"
"Aku bahkan sangat hebat bermain di ranjang. Apa kau mau malam ini kita mengulanginya lagi? Aku pastikan kakakku tidak akan datang, Ren..."
Irene tertawa kecil mendengarnya, antara merasa malu sekaligus merinding saat mengingat kegiatan bercinta mereka yang gagal di tengah jalan. Ia lantas berhenti melangkah dan berbalik menunggu Sehun sampai di hadapannya. Setelah itu, mereka memilih bergandengan tangan kembali dan melanjutkan acara jalan kaki malam ini dengan penuh canda tawa.
Dan tanpa mereka ketahui, rupanya kehadiran seorang gadis yang berada di dalam sebuah mobil tengah memperhatikan aktifitas keduanya. Satu sudut bibirnya kemudian tertarik ke atas dengan sinis.
"Tangan yang kau pegang itu seharusnya tanganku, bukan dia."
* Hey, Playboy*
Suka banget kalo kalian aktif komen....