
Tragedi penyekapan Irene menjadi berita besar di kampus. Yura, Seohyun, dan kawan-kawannya mendapat hukuman dari pihak akademik yang menskors mereka selama satu semester penuh hingga mewajibkan mereka untuk mengikuti sederet kegiatan sosial.
Sejak kejadian itu, Sehun membawa Irene ke apartemennya. Kamar kost mereka sengaja tidak dihuni untuk menghindari banyaknya pertanyaan dari berbagai pihak. Semula Irene menolak, tapi ide Sehun akhirnya ia turuti karena tinggal di apartemen untuk saat ini bisa membuatnya tenang beristirahat.
Seharian penuh Irene terbaring di kamar Sehun. Luka-luka yang ia dapat masih terasa sangat sakit dan perih. Ia kesulitan untuk bergerak kemana-mana hingga terpaksa dua hari ini Sehun membolos kuliah demi merawat istrinya.
Kini Irene meringkuk di atas tempat tidur sambil mengerang dan terus mengeluh soal sudut bibirnya yang sakit untuk sekedar berbicara ataupun makan. Sehun yang baru masuk membawa semangkuk bubur, kemudian meletakkannya di atas meja dan duduk di tepi tempat tidur. Ditatapnya wajah Irene lekat-lekat.
"Irene!"
Sehun berteriak keras menyaksikan tubuh Irene diikat pada sebuah kursi kayu yang terlihat sudah usang. Sisi wajahnya penuh luka berdarah, begitu juga dengan sekujur tubuhnya. Bajunya lusuh dan kotor serta bagian atasan blusnya terkoyak hingga nyaris membuat bra-nya terlihat.
Sehun membuka ikatan tali yang melilit di tubuh Irene. Ia lalu menelepon Kai, Yeri atau siapa saja yang bisa dimintai bantuan.
"Irene, kau mendengarku?" Sehun menepuk-nepuk wajah Irene lalu mengguncang keras tubuh gadis itu.
Dalam kondisi setengah tersadar, Irene hanya mampu mengeluarkan suara erangan, matanya pun basah serta pandangannya buram. Entah sudah berapa lama ia menangis sendiri di antara gelap dan pengapnya ruangan di dalam gudang itu.
"Jangan takut, aku disini," Sehun lantas menarik tubuh tidak berdaya itu ke delam pelukan.
Irene mulai menangis sesenggukan di dada Sehun, ia tidak kuasa menahan rasa sakit dan sedih setelah diperlakukan dengan semena-mena oleh beberapa gadis yang pernah menjalin hubungan dengan Sehun. Irene benar-benar merasa sangat dilecehkan.
"Aku benci menjadi istrimu, aku benci menikah denganmu!" teriak Irene diantara isakan tangisnya yang dalam.
"Maaf...maafkan aku...," Sehun masih memeluk tubuh Irene sambil mengusap punggung yang bergetar itu secara perlahan."Ayo kita keluar dari sini."
Lelaki itu lantas membantu Irene untuk berdiri namun sepertinya kaki Irene terluka dan tidak sanggup untuk menopang seluruh tubuhnya. Jadi dengan sekuat tenaga Sehun mengangkat tubuh Irene dan berlari kecil membawanya masuk ke dalam mobil. Tepat pada saat itu Kai datang bersama Kristal dan juga Yeri. Security yang kebetulan ada disana pun ikut membantu lalu melaporkan masalah penyekapan ini kepada pihak akademik kampus.
Sehun dan yang lain kemudian membawa Irene menuju Rumah Sakit terdekat untuk segera ditangani.
Sehun tampak resah di luar ruangan mendengar Irene mengerang kesakitan saat dokter dan suster berusaha mengobati lukanya. Kekhawatiran di wajahnya baru bisa mereda begitu melihat Irene akhirnya dibawa masuk ke dalam ruang rawat inap.
Sehun terus menunggui Irene di sampingnya sepanjang malam tanpa memejamkan mata barang sebentar saja. Rasa gelisah dan bersalah terus mengusik perasaannya dengan semua hal yang sudah terjadi ini.
Setelah mengamati wajah Irene yang tertidur pulas, Sehun mengecup kening gadis itu selagi kedua tangan mereka saling bertautan. Irene masih merasakan takut luar biasa, trauma dengan kejadian naas yang dilakukan oleh Yura beserta sekutunya. Bahkan Irene terus mengigau sepanjang tidur hingga air matanya terus mengalir meski matanya tertutup rapat.
"Sekarang kau aman bersamaku, Ren...percayalah..Tidak akan ada siapapun yang bisa mengganggumu lagi," kali ini Sehun berkata lirih tepat di telinga Irene.
Malam itu waktu terasa berjalan dengan sangat lambat, Sehun menghitung setiap detikan jam di dinding dalam diam. Matanya pun tidak pernah terlepas dari wajah Irene yang penuh dengan luka.
Hingga pagi hari ketika Irene terbangun, Sehun baru keluar dari kamar mandi selesai membasuh muka untuk menghilangkan rasa kantuknya yang sejak semalam ia tahan.
"Kau sudah bangun rupanya, apa kau lapar? Ah ini, minum dulu susumu," Sehun menyodorkan segelas susu ke arah Irene namun gadis itu menggeleng tanpa menjawab satu patah katapuun.
Sehun lalu meletakan kembali gelas susu tersebut di atas nampan dan duduk menyebelahi Irene. Tangannya dengan lembut menyelipkan helaian rambut gadis itu di balik telinga, lalu mengusap perlahan wajahnya sambil menghela nafas berat.
"Kalau kau ingin marah, marahlah padaku. Aku yang menyebabkan semua ini terjadi, aku yang membawamu ke dalam kehidupanku yang sulit ini. Maaf...aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu."
Irene memang marah, tapi hanya hembusan nafas panjang yang bisa ia lakukan saat ini.
"Aku meminta Yeri untuk menaruh tasmu di tempat kost semalam, kacamatamu rusak lagi, dan ponselmu pecah. Aku janji akan membelikanmu lagi kacamata yang baru. Atau, biar nanti kusuruh kakakku saja yang membelikannya untukmu ," Sehun mencoba mengajak Irene berbicara setelah sekian lama suasana di ruangan itu hening. "Kalau saja sakit bisa ditransfer seperti uang, kau boleh memberikan semua rasa sakitmu itu padaku."
Ucapan Sehun membuat Irene menelan ludahnya dalam. Matanya mulai memanas, tapi ia tidak ingin menangis. Jadi gadis itu buru-buru mengusap kedua matanya sebelum air matanya benar-benar meleleh.
"Berhentilah mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Jangan bodoh!" Irene mengetuk-ngetuk kening Sehun dengan jari telunjuknya. Sehun kemudian tertawa, lalu menangkap jari gadis itu dan sengaja berakting seakan ingin menggigitnya kuat, padahal tidak jadi.
"Kau memang lucu kalau sedang marah," sekarang Sehun mengembungkan satu pipinya meniru wajah Irene yang saat ini membengkak. "Dan aku tidak menyangka bahwa rupa istriku bisa jadi sejelek ini."
"Istriku?" decihan itu disusul dengan lirikan sebal Irene ke arah lain.
"Kau memang istriku kan? Kapan coba kau memanggilku sebagai suamimu?"
"Kau kan punya nama."
"Namaku Oh Sehun, suami dari Bae Irene."
"Tidur sajalah, bicaramu ini mulai melantur..," Irene mendorong kepala Sehun untuk menyandarkan kepalanya di tepian tempat tidur dan membenamkan wajahnya disana.
"Kau benar, semalaman aku tidak tidur karena kau mengigau terus. Beri aku waktu setengah jam untuk beristirahat, lalu bangunkan aku jika kau butuh sesuatu."
Begitulah yang terjadi setelah Irene ditemukan di dalam gudang dan Sehun membawanya ke rumah sakit.
Irene menurut, ia kini duduk bersandar pada bantal sambil menatap buburnya dengan tidak berselera.
"Kau akan bisa makan yang enak-enak lagi setelah luka di bibirmu sembuh, aku sudah berjanji untuk mengajakmu makan malam berdua."
Irene dan Sehun saling beradu pandang cukup lama. Ia tidak bisa memungkiri bahwa Sehun semakin hati semakin perhatian padanya, tapi tetap saja Irene merasa aneh.
"Tidak mau," jawab Irene lalu meringis menahan sakitnya.
Sehun menaruh bubur itu kembali di atas meja makan, kemudian lelaki itu kembali lagi ke kamar dan menyodorkan Irene segelas minuman jelly.
"Sekedar untuk mengisi perutmu yang kosong, minumlah."
Irene menerima minuman itu dan menyeruputnya dalam-dalam melalui sedotan. Ia menghabiskan setengah isinya sebelim akhirnya menyerahkan kembali jelly tersebut ke tangan Sehun.
"Ngomong-ngomong, apa ada seseorang yang menyuruhmu untuk berbuat baik padaku? Tumben sekali."
"Tidak ada," Sehun menggeleng.
"Kenapa kau tiba tiba baik padaku?"
"Bukankah seharusnya kau senang."
"Kau aneh," untuk kesekian kalinya Irene berkata dan mendesis merasakan bibirnya sangat perih.
Sehun yang melihatnya langsung mendekat, ia mengamati luka di bibir Irene yang sebenarnya sudah mulai mengering tapi justru terasa kaku saat bicara.
"Terus dicium seperti ini sepertinya akan cepat sembuh," Sehun mengecup kecil bibir Irene berulang kali hingga akhirnya gadis itu hanya bisa diam membeku.
Sehun menghentikan aksinya begitu tahu Irene tidak bereaksi apa-apa terkecuali terlihat seperti orang-orangan sawah yang sangat kaku.
"Katakan dengan jujur kalau kau mulai menikmati statusmu sebagai istriku, bukan?" menangkupkan telapak tangannya di wajah Irene, Sehun lantas memiringkan wajahnya. Sesaat ia mengamati warna coklat terang bola mata Irene sebelum Sehun menutup mata dan mendaratkan kembali bibirnya di permukaan bibir Irene.
Kecupan itu biasa, tapi Irene merasakan ada getaran aneh ketika menilainya. Entah kenapa begitu bibir Sehun bergerak melumatnya, seolah ia membiarkan perasan lelaki itu tersampaikan padanya.
Irene yang tersadar segera mundur dari posisi duduknya. Pipinya sudah memanas, jadi Irene menutupinya dengan berpaling ke arah lain.
"Jangan berpaling dariku," Sehun menarik bahu Irene untuk lebih mendekat ke arah tubuhnya, kemudian memaksa Irene untuk kembali menatapnya."Lihat aku," katanya lagi." Berikan sedikit kewajibanmu sebagai istriku."
"Itu tidak ada dalam perjanjian kita."
"Selama itu menyangkut urusan kita berdua, bukankah itu sah-sah saja. Kau yang bilang begitu."
"Urusan kita bukan tentang perasaanmu maupun perasaanku."
Sehun menurunkan tatapan wajahnya ke arah jemari Irene, ia tidak melihat lagi cincin pernikahan mereka melingkar disana.
"Lalu?," tanya Sehun ingin tahu. Ia menunjukan cincinnya di depan wajah Irene." Aku bahkan tidak pernah melepaskan cincin ini dari jariku, dimana milikmu?Apa kau juga malu untuk sekedar memakainya ke kampus? Perasaan apa yang kau rasakan selama menikah denganku?"
Irene tidak bisa menjawab. Ia lantas teringat pada cincinnya yang sempat ia lempar di dalam kamar kost dan sudah lenyap entah dimana.
"Aku tidak pernah mengira kau akan memandang pernikahan kita serendah itu, Ren...," Sehun tampak kecewa.
"Apa kau lupa tujuanmu menikahiku?" Irene kembali mengingatkan."Bukan karena kita saling mencintai, tapi kau melakukannya untuk menghindari perjodohanmu dan aku menutut pertanggungjawab darimu, itu saja. Pada dasarnya kita hanyalah orang yang tidak saling mengenal. Jadi kupikir memang tidak perlu ada perasaan diantara kita. Akan terasa sangat sulit kurasa, tapi melihat sikapmu di masa lalu, hatiku benar-benar sakit."
Sehun melempar senyuman getir, ia menutup wajahnya dengan telapak tangan sebelum menghempas nafas panjang.
"Kau hanya tidak pernah merasakan bagaimana indahnya jatuh cinta, tapi kau akhirnya di abaikan. Orang yang kau cintai justru meninggalkanmu dan memilih orang lain sebagai kekasihnya," beritahu Sehun dengan nada sedih. "Kau benar, itulah sebabnya aku tidak pernah bisa mencintai seseorang, aku hanya ingin sekedar bermain-main saja dengan mereka."
"Kalau kau sudah tahu bagaimana rasanya sakit hati, tolong jangan lakukan itu padaku. Jangan berpura-pura kau mencintaiku tapi hatimu kau berikan untuk orang lain. Itu akan sangat melukaiku...dan aku tidak mau."
Sehun menelan ludahnya dalam-dalam. Ia tahu jatuh cinta memang menyakitkan, tapi siapa manusia di dunia ini yang bisa menghindarinya. Suatu saat, mungkin saja rasa itu akan datang lagi padanya secara tiba tiba.
"Bagaimana jika suatu saat nanti aku mencintaimu?" tanya Sehun pelan.
Irene menggelengkan kepalanya lemah.
"Tidak, jangan. Aku menyukai orang lain , jangan merubah perasaanku padanya."
* Hey, Playboy*