Hey, Playboy

Hey, Playboy
Bagian 25.



Chanyeol tidak kunjung bangun dari tidurnya hingga siang hari. Yeri yang masuk ke dalam kamar untuk membangunkan langsung menjerit mendapati kakaknya tergeletak di lantai dengan kondisi tubuh yang sangat lemah.


"Ibu!!"


Nyonya Park bergegas naik ke lantai atas begitu mendengar teriakan putrinya dan ia sangat terkejut melihat suasana kamar Chanyeol yang berantakan serta melihat tubuh putranya seperti orang yang sedang sekarat. Sementara disampingnya puluhan obat tidur berserakan dimana-mana.


"Kak, bangun kak, ayo bangun!!!" Yeri menepuk-nepuk wajah Chanyeol cukup keras, namun lelaki itu tidak memberi respon apapun sekalipun ia masih terlihat bernafas.


"Aku akan menelepon ambulan," dengan derai air mata Nyonya Park berlari turun ke lantai bawah.


*


Irene terbangun karena mendengar ponselnya terus berdering sejak bebetapa menit yang lalu.Ia mengucek matanya perlahan dan meraih benda tersebut di atas nakas.


"Yeri? Ada apa?"


"Kakakku masuk Rumah Sakit."


Hanya kalimat pendek itu yang Yeri ucapakan dan ia memutuskan sambungan tanpa memberi kesempatan Irene untuk bicara.


Jadi secepat kilat Irene turun dari tempat tidur. Ia membasuh wajahnya di wastafel dan menyikat gigi dengan cepat. Kemudian ia kesana-kemari dengan ekpresi cemas untuk berganti pakaian dan sedikit merapikan rambutnya yang berantakan.


"Kau mau pergi kemana Ren?" Sehun heran melihat Irene seperti orang kebakaran jenggot.


"Chan masuk Rumah Sa..," Irene tidak jadi menyeleseikan kalimatnya. "Aku harus pergi.''


"Biar kuantar," Sehun meraih kunci mobilnya dan berjalan cepat mengikuti langkah Irene keluar dari apartemen.


Keduanya tidak saling bicara selama dalam perjalanan menuju Rumah Sakit dimana Chanyeol dirawat. Irene merasa tidak enak kenapa Sehun dengan sukarela mau mengantarnya kesana. Bukankah tindakannya itu sama saja seperti ia sedang ingin melukai hatinya sendiri?


Yeri kini berdiri di depan pintu kamar Chanyeol di rawat, matanya memerah karena terlalu banyak menangis. Ia hanya menatap kedatangan Irene dan Sehun dengan ekspresi datar.


"Kakakku sangat terluka, dia mungkin sengaja menelan pil tidurnya terlalu banyak," beritahu Yeri setelah Irene dan Sehun sampai di hadapannya. "Masuklah dan ajak dia bicara."


Irene menatap Sehun cukup lama, ia bingung antara ingin menemui Chanyeol di dalam ruanganz namun di sisi lain hal tersebur pasti akan sangat menyakitkan bagi Sehun.


"Masuklah dan temui dia, aku akan menunggu di luar," Sehun mengangguk pelan dan ia duduk di deretan bangku tunggu yang ada disana bersama Yeri.


Sekali lagi Irene menatap Sehun dengan seksama sebelum akhirnya dia memutar knop pintu lalu masuk.


Chanyeol sudah tersadar dan ia tengah terbaring dengan wajah pucat pasi. Ketika Irene berjalan mendekat, matanya menelusuri guratan kesedihan yang terpancar di wajah lelaki itu.


"Apa yang sebenarnya kau lakukan, apa itu karena aku?" tanya Irene yang merasa janggal dengan kejadian ini.


Chanyeol tidak menjawab, ia tidak membenci Irene tapi ia terlalu sedih untuk mengungkapkan seluruh isi hatinya.


"Maaf..," Irene memilih untuk mendekat. "Aku yang memulainya, aku yang membawamu ke dalam kehidupanku yang berantakan ini, dan aku....," bibir Irene bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. "...tidak seharusnya kau dan aku bertemu dan saling menyukai, tidak seharusnya seperti ini..."


Chanyeol menelan ludahnya dalam- dalam, ia berusaha keras untuk mengontrol emosinya agar tidak menangis lagi.


"Tidak ada yang salah denganmu, Ren. Dan maaf telah membuatmu khawatir," tangan Chanyeol bergerak untuk menghapus air mata Irene yang mulai meleleh lambat di pipi. "Aku hanya dokter bodoh yang tidak tahu bagaimana caranya meminum obat. Bahkan sepertinya aku terlalu bodoh untuk tidak bisa menerima semua ini. Jangan salahkan dirimu, aku tidak sedikitpun membencimu, sungguh."


Irene sudah menduga, cepat atau lambat Yeri akan tahu dan mengatakan hal yang sebenarnya pada Chanyeol hingga kejadian ini harus terjadi.


"Kumohon jangan menyakiti dirimu lagi, Chan. Jangan melukai dirimu hanya karena aku."


Chan tidak menjawab, tapi kemudian kepqlanya mengangguk lemah dan menarik tubuh Irene ke dalam dekapannya.


Sementara di luar sana, Sehun dan Yeri duduk bersebelahan dalam suasana yang begitu kaku. Keduanya terlalu sibuk dengan pikiran masing masing hingga orang-orang yang berseliweran melintas di depan mereka terlihat seperti angin lalu saja. Yeri baru menarik nafas dalam setelah menyadari bahwa ia harus mengatakn sesuatu pada Sehun mengenai masalah ini.


"Kenapa...kau datang kemari?"


"Mengantar Irene tentunya," jawab Sehun datar.


"Memangnya kau pikir hatimu terbuat dari apa? Irene menemui kakakku, kau tahu kan?"


Sehun membersitkan hidungnya dan mencoba tersenyum meski senyuman itu terlihat palsu.


"Akan lebih menyakitkan jika melihat orang yang kita sayangi menderita dan menangis, biarlah seperti ini saja. Aku bisa bertahan," sekali lagi Sehun tersenyum, menunjukkan bahwa ia masih bisa bersabar dan bertahan.


Yeri sendiri tidak habis pikir dengan jalan pikiran Sehun. Gadis itu terus menatap Sehun dengan rasa iba dan selebihnya merasa kagum. Suami mana yang senang jika melihat istrinya menemui lelaki lain, kan? Tapi Sehun...ah entahlah, Yeri benar-benar tidak bisa mengerti sedikitpun tentang pria itu.


"Sehun..."


"Hmm?"


"Berjanjilah padaku," kata Yeri memohon." Jangan membenci kakakku, jangan membenci Irene sahabatku, jangan membenci mereka karena keduanya adalah orang-orang yang paling aku sayangi," Yeri meneteskan kembali air matanya. "Aku tahu kau mungkin jauh lebih terluka, tapi tolong jangan membenci mereka..."


Sehun menatap kosong ke depan dengan nanar dan akhirnya ia mengangguk pelan.


"Tidak, tidak ada yang kubenci selain diriku sendiri."


"Aku pulang dulu Yer, kau jagalah kakakmu baik-baik dan sampaikan salamku untuk ibumu,"  Irene berkata tanpa berani menatap bola mata Yeri yang seperti ingin menerkamnya hidup-hidup.


"Baiklah, kalian juga hati-hati dijalan."


Sehun bangkit dari duduknya dan berjalan di belakang Irene menyusuri koridor Rumah Sakit. Lelaki itu terus memperhatikan gerakan naik turun bahu Irene yang menandakan bahwa gadis itu sedang menangis meski suara isakannya sama sekali tidak terdengar.


"Ren, berhenti," Sehun lantas menarik pergelangan tangan Irene dan memutar tubuh gadis itu secara paksa untuk menghadap ke arahnya. "Kau tidak sendiri, menangislah di hadapanku, jangan malu..," Sehun mendekap tubuh Irene erat dan membiarkan gadis itu menangis tersedu di bahunya. "Dia tidak apa-apa bukan, jangan khawatir."


*


Ha Young menyeruput ice bubble nya lalu melambai ketika melihat sosok Sehun yang mengenakan jaket kulit serta penutup wajahnya tengah berdiri mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan cafe Masami.


Sehun lantas berjalan mendekat ke arah meja gadis itu da terduduk dengan lemas. Wajahnya pun sama sekali tidak bersemangat.


"Kau mau pesan minum apa? Apa kau sudah makan?"


Sehun menggeleng cepat, ia melepas penutup wajahnya kemudian menghempas nafas kasar.


"Kenapa memanggilku kemari?" tanya Sehun tampak tidak antusias.


"Well...aku akan kembali ke London lusa mendatang," beritahu Ha Young dengan nada  sedih. "Pastikan sekali lagi mengenai perasaanmu padaku, kemudian susulah aku kesana jika kau berubah pikiran. Kau dan aku masih bisa memperbaiki hubungan kita kurasa."


Sehun tidak bereaksi apa apa.


"Memangnya apalagi yang kau pertahankan disini? Istrimu sudah memilih orang lain dan kau merana sendiri. It's not the end dude, just move on."


Sehun menggigit-gigit kuku ibu jarinyaseperti sedang berpikir dan mempertimbangkan ucapan Ha Young padanya.


"Ceraikan istrimu dan kembalilah padaku, kita satu sama dan tidak ada lagi hal yang perlu kita ributkan."


Musik di cafe iru mulai mengalun dengan lembut. Sebuah lagu mellow beeisi tentang harapan cinta yang diputar semakin membuat suasana hati Sehun berubah sendu. Ha Young melingkarkan satu lengannya di atas bahu Sehun dan tersenyum menatap wajah mantan kekasihnya itu dengan seksama.


"Kau masih tampan sama seperti saat kau duduk di bangku sekolah, Oh Sehun. Kau yang paling tampan  dan beruntung aku bisa mendapatkanmu. Apa kau juga masih ingat ciuman pertama kita di ruang perpustakaan itu?"


Ha Young bergerak semakin dekat ke arah Sehun dan menempelkan bibirnya di bibir tipis lelaki itu. Ia ingin ciuman itu berlangsung lebih dalam namun sepertinya Sehun tidak banyak merespon.


"Menyingkirlah dariku, aku sedang tidak ingin melakukan hal-hal aneh dengan siapapun. Aku hanya ingin diam dan duduj tenang," Sehun menggeser duduknya sedikit menjauh dari Ha Young yang tampak kecewa dengan reaksi penolakan itu.


Tanpa ia sadari, Irene sudah berdiri di depan pintu kaca cafe. Ia yang kebetulan mampir dan ingin membeli minuman dingin serta menenangkan diri di cafe ini justru harus melihat pemandangan yang mengejutkan.


Irene meraba dadanya. Ia tidak tahu rasa apa yang kini menderanya dan kenapa tiba- tiba ia merasa muak setelah melihat Sehun duduk berdekatan dengan Ha Young. Kecurigaan Irene saat itu memang terbukti benar bahwa keduanya memang pernah memiliki hubungan di masa lalu. Tapi Irene tidak pernah mencoba bertanya karena ia pikir itu hanya akan menjadikan dirinya dan Sehun bertengkar hebat.


Setelah memantapkan hatinya, Irene mendorong pintu masuk dan berjalan ke arah meja kasir. Ia bertingkah seolah-olah tidak melihat kehadiran Sehun dan Ha Young disana. Ia terus berbicara pada kasir bahwa ia memesan dua cup coffelatte panas.


Sambil menunggu, Irene sengaja berdiri sambil melempar pandangannya ke seluruh isi cafe. Ia pun hanya melirik sekilas ke arah Sehun dan Ha Young yang duduk di meja paling ujung.


" Ini pesanan anda," si kasir memberikan dua cup coffelatte panas ke arah Irene, namun gadis itu hanya meraihnya satu saja.


"Tolong antarkan satu cup minuman ini untuk lelaki yang duduk di meja ujung sana. Katakan saja ini dari Irene."


Kasir itu mengangguk, ia sedikit membungkuk membiarkan Irene keluar dari cafe setelah membayar semua biayanya. Lalu kasir itu berjalan dan menaruh coffelatte pemberian Irene tepat di hadapan Sehun hingga membuat ekspresi lelaki itu bingung bercampur heran


"Hey tunggu, aku sama sekali tidak memesannya."


"Gadis bernama Irene membelikan ini untuk anda, selamat menikmati."


Sehun tertegun hebat, ia segera bangkit dari duduknya lalu setengah berlari keluar dari ruangan. Lelaki itu melihat punggung Irene tengah berjalan dengan cepat menjauh dari cafe sembil menenteng satu cup minuman di tangan kirinya.


"Ren, Irene, tunggu!" Sehun memanggil keras dan berusaha untuk mengejarnya. "Tunggu!"


Irene yang merasa namanya dipanggil lantas menghentikan langkahnya, tapi ia sama sekali tidak sudi untuk menoleh ke belakang.


"Terima kasih atas minumannya," Sehun berujar sambil mengatur nafasnya yang masih memburu. "Ha Young teman sekolahku...kami-"


"Aku tidak ingin tahu siapa dia dan ada hubungan apa kau dengannya. Aku memiliki kehidupanku sendiri begitu juga denganmu. Hubungan kita terikat karena pernikahan bukan karena perasaan, jadi kau tidak perlu menjelaskannya padaku. Tapi ciuman kalian tadi...lumayan."


Irene menyeleseikan kalimatnya dan kembali berjalan meninggalkan Sehun.


"Irene!"


Irene berusaha tidak mau mendengar suara apapun dari mulut Sehun, ia semakin cepat melangkah. Ia sebenarnya tidak ingin marah atau bagaimana, tapi pada kenyataannya dadanya terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk sebuah benda tajam.


Apa aku sedang cemburu? Irene bertanya pada dirinya sendiri. Aku memiliki Park Chanyeol, bukan Sehun. Tapi tolong, perasaan sakit macam apa yang sekarang mendera hatiku ini, Tuhan...???


* Hey, Playboy*


jangan lupa like dan komen ya guys...