Hey, Playboy

Hey, Playboy
Bagian 14.



Suhu udara pagi ini masih dingin, Irene memakai atasan berbahan knit lalu dipadu dengan coat coklat muda beserta syal senada yang melingkar sempurna di lehernya. Rambutnya ia gerai bebas ke belakang. Kemudian sambil mengapit sebuah buku dilengan kirinya, gadis itu melangkah keluar dari kamar. Ia lalu berjongkok sebentar di depan pintu untuk mengenakan sepatu flatnya.


Rupanya di depan pintu sebelah kamarnya, Sehun juga tengah melakukan hal yang tidak jauh berbeda. Kondisi lelaki itu kelihatannya sudah membaik dengan balutan jaket tebal dan masker yang menututpi sebagian wajahnya. Sehun menoleh sebentar ke arah Irene yang kini telah selesai mengenakan sepatu dan tengah mengunci pintu kamar kostnya.


"Pagi, Ren..." sapanya hangat.


Irene membalasnya dengan sebuah senyuman." Pagi juga. Apa kau yakin kondisimu sudah benar-benar pulih?"


Sehun mengangguk pasti, ia mulai mengikat sepatu putihnya sambil duduk di depan pintu.


"Jangan lupa, dokter bilang kau harus menghabiskan semua obat dan vitaminmu. Kau juga jangan terlalu sering berkencan dengan gadis-gadismu itu...oops, maksudku jangan terlalu lelah." Irene pura-pura salah bicara, padahal dia memang berniat menyindir.


Sehun mendongak, lalu menyipitkan kedua matanya ke arah Irene. Untungnya dia tidak terpancing emosi dengan kata-kata gadis itu. Ia hanya mengangkat sebelah sudut bibirnya ke atas memberi kesan bahwa ia sebenarnya kecewa mendengarnya. Kemudian Sehun menunduk lagi tanpa berkomentar apa-apa.


"Hanya bercanda," Irene mengedikan bahunya kecil setelah merasa sindiran yang barusan ia ucapkan tidak mendapatkan respon."Aku berangkat dulu ya, bye."


Irene menuruni tangga sambil melambai meninggalkan Sehun yang masih bersiap-siap di depan pintu. Beberapa menit ketika ia dan Yeri sedang berjalan beriringan dengan menikmati satu cup coklat panas, mobil Sehun melintas dengan membunyikan klakson beberapa kali


"Seharusnya kau berangkat bersamanya Ren," kata Yeri memandangi mobil Sehun yang sudah menjauh.


Irene tertawa kecil.


"Kau ingin aku menebas leherku sendiri? Apa kata anak-anak kampus jika melihatku pergi bersamanya?"


Yeri ikut tertawa kecil menyadarinya.


"Tapi apa hubunganmu dan dia baik-baik saja?Bagaimana kehidupan pernikahan kalian?"


"Tidak ada yang berubah. Semuanya baik dan kami melakukan aktifitas masih seperti manusia normal pada umumnya. Dia dengan urusannya dan aku dengan urusanku. Lebih nyaman begitu mungkin," Irene meneguk coklat hangatnya sampai habis lalu membuang cupnya di tong sampah yang  kebetulan mereka lewati.


"Wah..jam berapa sekarang?" Yeri melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 7 kurang lima menit." Kurasa kita harus lebih cepat, Ren."


Tidak mau terlambat sampai di kampus, Yeri dan Irene sengaja berlari cepat sekaligus berolahraga pagi sambil berharap perkuliahan mereka hari ini bisa berjalan dengan lancar.


"Hey, tunggu, sepatuku sangat licin."


*


Benar, perkuliahan sesiang ini berjalan dengan lancar. Irene yang mendapat nilai paling baik di mata kuliah praktek design tidak henti-hentinya mengulas senyum manis.


"Selamat ya...kau memang hebat," Yeri memberi selamat dan berjalan di samping Irene menuju gerbang kampus karena keduanya merasa sangat lapar dan berniat mencari makan siang terlebih dahulu sebelum kemudian pulang.


Tapi beberapa meter di depan mereka, seorang mahasiswi asing menghentikan langkah mereka.


"Bae Irene...bisakah kau ikut denganku, Nyonya Lee mencarimu dan ingin aku membawamu untuk menemuinya."


Irene dan Yeri saling menatap dengan heran.


"Dia bilang  akan membahas mengenai prestasimu," lanjut gadis itu dengan wajah serius.


Kau pulanglah dulu Yer, aku akan ikut bersamanya."


Yeri mengangguk-angguk setuju meski di dalam hatinya dia merasa ada sesuatu yang aneh. Tidak biasanya dosen itu ingin membahas sesuatu dengan Irene padahal tadi saja mereka baru bertemu di kelas. Tapi Yeri tidak mau berpikir negatif, jadi ia membiarkan Irene bersama mahasiswi lain kembali ke gedung kampus.


"Tapi kenapa dia ingin menemuiku di kampus seberang?" Irene bertanya selagi  terus mengikuti langkah mahasiswi di depannya. Sejauh yang ia tahu, ruangan Nyonya Park ada di gedung lain, bikan ke arah gedung yang sedang ia tuju.


"Dia akan mengajar di kampus itu katanya."


" Oh... salam kenal, siapa namamu?"


" Yura, Park Yura."


Yura menoleh ke arah Irene dengan senyuman tipis.


Sekitar lima menit mereka berjalan, Yura bukannya mengajak Irene ke ruangam dosen yang ia maksud, tapi justru membawa Irene masuk ke sebuah koridor sempit yang menuju ke sebuah gudang di belakang kampus.


"Yura, kau yakin Nyonya Lee ada di temoat seperti ini?" tanya Irene yang kemudian berhenti mengikuti langkah Yura saat gadis itu membuka pintu gudang yang sangat gelap.


Kemari dan kita perlu bicara, maksudku kami."


Pintu gudang terbuka dan Irene terkejut mendapati sekitar hampir delapan atau sembilan mahasiswi berdiri dengan bosan menunggu kedatangan Irene.


"Masuk!" Yura menarik lengan Irene paksa untuk masuk ke dalam gudang lalu menutup pintu itu kembali.


"A-ada apa ini? Aku bahkan tidak mengenal kalian," Irene mundur hingga  langkahnya terhenti ketika punggungnya berbenturan dengan dinding gudang yang sangat dingin.


"Apa kau juga tidak mengenalku?" Seohyun maju ke depan sambil menatap Irene dengan pandangan jijik."Aku yang waktu itu sedang berdua dengan Oh Sehun dan kau menggangu waktu bercumbu kami, kau ingat?"


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan kalian," Irene membantah, sekalipun ia ingat betul kejadian waktu itu hingga membawanya harus terjebak di dalam kehidupan Sehun.


"Tidak ada?" kali ini entah gadis siapa lagi yang melangkah maju lalu menarik kerah baju Irene dengan kuat." Kudengar Oh Sehun sudah menikahimu, eh? Serius dia menikahi gadis culun sepertimu?" gadis itu tertawa keras, membuat yang lain ikut menertawai Irene yang kini ketakutan." Atau jangan-jangan mata Oh Sehun sudah rabun sepertimu ya?" ia melepas kacamata Irene  dan setelah setelah itu melemparnya jauh hingga terdengar bunyi bingkai yang patah.


"Kembalikan kacamataku!" Irene meraba-raba dinding di sekitarnya. Tentu saja di dalam gudang yang gelap itu, pandangan matanyanya semakin tidak jelas.


Detik berikutnya ia merasa kepalanya di pukul dengan keras hingga tubuh Irene jatuh tersungkur di lantai. Entah siapa saja yang dengan sekuat tenaga menendangnya, memukulnya, menjambak rambutnya serta menarik-narik bajunya hingga sebagian lengan jaket beserta atasan blusnya terkoyak.


Irene tidak sanggup melawan. Ia pasrah dan terus melindungi kepalanya yang sakit agar terhindar lagi dari pukulan dan siksaan yang terus menghujami seluruh tubuhnya.


"Ikat dia dan kunci saja dia disini ," perintah salah satu dari mereka yang samar-samar terdengar sebelum Irene benar-benar seluruh pandangannya menggelap.


*


Kai yang barusaja masuk ke dalam mobil bersama Kristal, mengurungkan niat tersebut begitu melihat Sehun berjalan sendiri menuju ke tempat parkir di area kampusnya.


"Kalian berdua mau pergi kemana?" tanya Sehun disaat ia tengah membuka pintu mobil lalu  melemparkan tas gendongnya ke dalam.


"Entahlah, kami tidak memiliki rencana, kau sendiri?" Kai balas bertanya.


Sehun mengedikan bahunya.


"Menemui kakakku di apartemen sebentar karena beberapa hari lalu dia baru pulang dari Amerika."


"Dia tahu tentang pernikahan itu?," tanya Kristal dengan mimik wajah terkejut sekaligus ingin tahu.


"Dia orangnya santai dan  dia bisa diajak bekerja sama."


Sehun masuk ke dalam mobil sambil menggeleng lemah.


"Kenapa memangnya? Dia selalu pergi bersama sahabatnya."


Kai mengerutkan keningnya, lalu sedetik kemudian ia menggaruk kepalanya yang memang tidak gatal.  Antara merasa yakin dan tidak bahwa tadi ia sempat melihat Irene melewati kampus ini bersama seseorang.


"Ah mungkin saja aku salah lihat. Kupikir tadi Irene dan temannya yang melintas kemari."


"Baiklah, aku pergi dulu," Sehun tidak menggubris dan lantas menutup pintu mobilnya. Lagipula ia tidak ingin merecoki urusan istrinya atau dengan siapa saja gadis itu bergaul.


*


Yoona menatap baju pengantin yang tergeletak lusuh di dalam kamar apartemen Sehun. Gadis itu lalu menggantungnya di sebuah lemari, berjajar dengan baju-baju lamanya yang sudah tidaak terpakai.


"Kapan kau kemari?" tanya Sehun yang baru datang dan langsung masuk ke dalam kamar.


"Sejam yang lalu," jawab Yoona pendek." Oh ya, baju pernikahan istimu aku simpan di dalam lemari, siapa tahu dia mencarinya."


Sehun mengangguk acuh  sebelum akhirnya keluar dari kamar diikuti oleh langkah Yoona. Mereka berdua memutuskan untuk duduk di meja makan saling berhadapan.


"Aku sudah bertemu ayah dan ibu. Kami makan malam bersama kemarin," cerita Yoona dengan malas."Sebelum aku membahas soal pernikahanmu, mereka justru memberitahuku betapa mereka sangat kecewa terhadapmu. Mereka tidak mengenal Irene dan kau tiba tiba saja membawanya di hadapan mereka lalu menikahinya."


Sehun menghempas nafas berat.


"Aku takut mereka akan mencari tahu keluarga Irene dan melakukan sesuatu pada mereka. Apa kau tidak pernah berpikir akan hal itu?"


"Tidak mungkin mereka akan berbuat sejauh itu," kilah Sehun datar.


Yonna menatap adiknya dengan sorot mata iba, ia meraih telapak tangan Sehun kemudian menggenggamnya erat.


"Adikku ini sudah dewasa rupanya,  tapi kenapa masih tetap saja bodoh dan ceroboh. Kapan kau akan berubah, eoh? Berhentilah bermain-main dengan gadis-gadis itu, perhatikan perasaan istrimu saat ini. Dan ketika kau sakit, ada beberapa gadis yang mencarimu. Lalu karena aku kesal sekali,  kuberitahu saja bahwa kau sudah menikah dengan Irene."


"Kau sinting ya?" Sehun membelalakkan matanya tidak percaya. "Siapa yang memintamu untuk memberitahukan pernikahanku pada mereka? Kau membuatku mati pasaran, kau tahu?!"


"Kenapa memangnya?" Yoona terlihat tidak mau ambil pusing perihal perlakuannya itu. "Jika aku tidak mengatakannya, mereka pasti akan terus mencarimu, mengejarmu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya aku berada di posisi Irene. Bisa jadi aku sudah membunuhmu sejak kamarin."


Sehun berdiri dari duduknya lalu berjalan mondar mandir dengan kalang kabut.


"Pernikahan kami diadakan secara diam diam, kak. Tidak ada yang tahu selain Kai dan Kristal, tapi kau...arghh!! " Sehun merasa tubuhnya lemas, ia kemudia duduk kembali." Nama baikku akan benar-benar tercemar. Sialan!"


"Apanya yang salah jika kau sudah menikah? Itu berita yang membahagiakan kurasa," Yoona melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum.


Sehun gemas dan ingin sekali meremas wajah kakak. Tapi yang terjadi hanya satu tangannya saja menggepal kuat di atas meja.


"Belajarlah mencintai istrimu,  ucapan Yoona yang tiba-tiba itu membuat Sehun terdiam. "Lupakan tentang egomu dan terimalah kenyataan bahwa sekarang kau sudah berstatus sebagai seorang suami. Kau bukan hanya saja menikahinya, tapi kau harus bertanggung jawab sepenuhnya  terhadap hidup Irene. Kau harus memberinya nafkah lahir maupun batin, kau harus menjaganya, melindunginya."


"Aku tidak butuh nasehatmu," sergah Sehun malas.


"Apa kau tidak sadar ketika kau mengucapkan janji pernikahan kau sedang berjanji pada Tuhan?" nada suara Yoona mulai terdengar kesal." Jika kau tidak butuh nasehatku, aku akan pergi dan urusi saja masalahmu ini sendiri."


"Kak Yon...," Sehun memohon menatap wajah Yoona dengan memelas.


"Aku bersedia membantumu jika kau mau mendengar kata-kataku. Berhentilah mempermainkan banya wanita dan lihatlah Irene sebagai istrimu, belajarlah mengerti dirinya."


Sehun lagi-lagi terdiam tampak berpikir.


"Cepatlah pulang, ini sudah sore dan ajaklah istrimu makan malam," Yoona melempar kartu kreditnya ke arah Sehun. "Pakai ini selama milikmu masih terblokir."


*


Sehun menaiki tangga menuju kamar kostnya Sekali ini saja ia ingin mengikuti saran dari kakaknya untuk mengajak Irene makan malam. Selama mereka menikah, Sehun memang belum pernah sekalipun mengajak Irene makan berdua, terdengar sangat klise, kan?


Sehun mengetuk pintu kamar Irene berulang kali sambil memanggilnya, namun tidaak ada sahutan sama sekali. Bahkan lampu di dalam kamar itu masih terlihat padam belum dinyalakan. Ketika Sehun memutar knop pintu, pintunya pun masih terkunci.


Kemana perginya dia? Sehun membatin. Tidak biasanya sudah petang begini gadis itu tidak berada di dalam kamarnya. Lalu karena merasa ada yang aneh, Sehun mengambil ponsel di saku celana untuk menghubungi nomor Yeri. Keduanya memang pernah bertukar nomor telepon selepas acara pemberkatan di gereja.


"Apa Irene ada bersamamu, Yer?" tanya Sehun tanpa basa-basi.


"Tidak, kami berpisah saat pulang kuliah tadinsiang. Apa dia belum kembali ?"


"Kamarnya terkunci dan sepertinya dia tidak ada di dalam, apa kau tahu kemana dia pergi?"


"Pulang kuliah tadi ada mahasiswi dari kampusmu yang mengajaknya pergi  Dia bilang seorang dosen mencari Irene dan ingin berbicara dengannya. Lalu mereka berdua berjalan bersama ke arah kampusmu. Kupikir kalian sudah bertemu disana."


Kening Sehun mmberkerut dan ia teringat ucapan Kai yang sempat melihat Irene berjalan melintas di kampusnya. Mendadak perasaan Sehun menjadi gelisah.


"Kau yakin terakhir kali kau melihat Irene ada disana?"


"Iya," jawab Yeri cepat. " Apa ada sesuatu yang terjadi? Apa dia belum menghubungimu?"


"Ah baiklah, aku tutup dulu telponku," Sehun menggeser layar berwarna merah. Ia lalu mencoba menghubungi nomor Irene dan hanya jawaban dari mesin operator yang terdengar karena ponsel Irene ternyata tidak aktif. Berbagai pikiran buruk kini bergelayut di dalam kepala lelaki itu.


Sehun berlari kecil menuruni anak tangga dan masuk ke dalam mobil berniat untuk langsung menuju ke arah kampusnya.


-


Kai bahkan baru saja mengirimnya pesan setibanya Sehun di area kampus. Kai mengatakan jika dirinya melihat Irene berjalan bersama Yura ke arah gedung paling ujung di kampus itu. Jadi tanpa berpikir panjang lagi, Sehun segera melangkah ke tempat tujuan.


Semua ruangan di gedung itu sepi, hanya beberapa lampu saja yang menyala dengan temaram. Sehun tidak mendapati siapa-siapa disana. Ia sempat membodohi dirinya sendiri kenapa ia harus mencari Irene sampai sejauh ini. Ini sudah malam dan tentu saja kampus sudah tidak berpenghuni kecuali dua security yang menjaga pintu gerbang


Sehun berpikir, mungkin saja Irene sedang keluar mencari makan atau pergi ke suatu tempat, jadi Sehun berbalik arah. Tapi tidak berapa lama, langkah Sehun terhenti lagi begitu ia mengingat jika Yura adalah orang yang Kai lihat bersama Irene. Yura pasti sudah mendengar berita pernikahan mereka dari seseorang dan dia merupakan gadis yang sangat agresif sejauh Sehun mengenalnya. Bisa jadi kan Yura merasa kalah saing, marah, lalu melampiaskannya pada Irene. Setidaknya dugaan seperti itu yang terlintas di kepala Sehun saat ini.


Sehun kembali berbalik arah. Ia tidak yakin Yura akan berbuat macam-macam pada Irene. Anehnya,  kepala Sehun terus dipenuhi oleh pikiran buruk tentang istrinya itu.


Terlepas dari dugaannya yang belum tentu benar, Sehun memutuskan untuk berlari menuju gedung kampus yang berada paling ujung. Kedua matanya tertuju pada ruangan gudang yang terkunci dari luar. Dan entah kenapa hanya ruangan gudang itu yang tampak mencurigakan menurutnya.


Perlahan Sehun mendekat ke arah daun pintu. Anehnya lagi, kunci pintu gudang itu masih menggantung di tempatnya. Sehun kemudian memutar kuncinya secara perlahan-lahan sambil menarik nafas dalam. Dan begitu pintu terbuka, seketika itu Sehun merasa jantungnya seperti berhenti berdetak.


"Irene..!!!"


* Hey, Playboy*