
Irene dan Chanyeol tidak sengaja bertemu di taman kota sore ini. Irene yang akan pergi membeli kain untuk bahan praktek di kelasnya, sementara Chanyeol yang baru akan menuju ke Rumah Sakit untuk bekerja, kebetulan melintas disana.
"Dimana Yeri? Kau tidak bersamanya?"
"Yeri pulang duluan, lagipula aku sekarang sedang tidak tinggal di tempat kost, jadi arah kami memang berbeda," Irene tersenyum tipis mendapati Chanyeol mengenakan kemeja biru muda dan celana kain hitam yang semakin menunjukan bahwa dirinya sangat tampan. Arghttt...gadis itu berteriak kegirangan dalam hati.
"Mau kutemani?" tawar Chanyeol yang membuat Irene seketika itu membeku.
"Ah ti-dak usah, kau pasti sangat sibuk," tangan Irene berkibas bermaksud ingin menolak, tapi Chanyeol menarik pergelangan gadis itu dengan paksa untuk mau masuk ke mobilnya.
"Toko mana yang ingin kau kunjungi, Ren?" Chanyeol mulai melajukan mobilnya perlahan, matanya menelusuri setiap toko yang mereka lalui di sepanjang jalan.
"Chan, bukankah kau harus segera berangkat bekerja?"
"Tidak apa-apa, aku masih ada waktu untuk menemanimu berbelanja," Chanyeol melempar senyuman tipis. "Mmm..bagaimana kalau kita mampir untuk sekedar makan dulu, apa kau mau?"
Irene *** jemari tangannya pada tas kain putih yang ia taruh di atas pangkuan. Karena tidak memiliki alasan untuk menolak, ia pun menurut saja kemana mobil Chanyeol bergerak.
Rupanya Chanyeol membawa Irene masuk ke sebuah cafe dan memesan dua pasta beserta dua cup bubble tea untuk mereka. Jujur, saat ini Irene sebenarnya tidak sedang merasa lapar, tapi ia tetap memakan apa saja yang disajikan seolah-olah dirinya memang belum makan siang.
"Chan, apa menjadi dokter itu sangat sibuk sampai aku tidak pernah melihatmu pergi bersama seorang wanita?" Irene membuka suara, memecah keheningan yang sedari tadi tercipta diantara keduanya.
Chanyeol menelan makanan di mulutnya, kemudian mendongak.
"Bukankah sekarang aku sedang pergi bersama wanita?"
"Yah..,maksudku pacar. Yeri bilang kau hampir tidak pernah membawa satu wanita pun ke rumah."
"Tanpa membawanya, wanita itu sudah sering datang ke rumahku."
"Eung??" mata Irene berkedip-kedip bingung.
Chanyeol menaruh sendok dan garpunya dengan rapi di atas piring, lantas ia menyentil hidung Irene dengan senyuman jahil.
"Bagaimana kalau wanita itu adalah kau, Bae Irene?"
Kalimat yang tadi saja belum bisa Irene cerna, muncul kalimat lain yang membuat Irene harus menelan pastanya bulat-bulat tanpa sempat mengunyahnya terlebih dahulu. Lalu dengan tegugup Irene mengambil segelas minumnya dan menyeruputnya sampai tandas.
"Hey, kau tidak apa-apa kan? Apa rasa pastamu begitu pedas?" satu telapak tangan Chanyeol menyentuh pipi Irene, membuat gadis itu seakan meleleh menjadi karamel. "Kau minum sangat banyak, apa ada makanan yang menyangkut di tenggorokanmu atau bagaimana? Cobalah tarik nafas panjang, lalu hempaskan perlahan-lahan."
Irene menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan sesuai dengan perintah Chanyeol. Kemudian ia meringis dengan gelengan kepala menandakan bahwa ia sebenarnya tidak masalah dengan pasta yang baru saja ia telan. Sedetik kemudian wajah yang sudah terlihat normal itu mendadak berubah konyol saat jamari Chanyeol bergerak menghapus sisa jejak bubble tea yang ada di sudut-sudut bibirnya.
"Sebenarnya...diam-diam aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Kupikir akan aneh rasanya jika aku menyukai teman adikku. Tapi...," Chanyeol menggantung kalimatnya disana. Ia salah tingkah dengan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal."...perasaanku tidak bisa berbohong, bagaimana ya...," Chanyeol merasa wajahnya sendiri kini berubah memanas karena malu. "Aku...tidak pandai mengungkapkan perasaanku, begitulah...kau tahu maksudku kan?"
Irene mendengarnya dengan sangat jelas, dia sangat paham maksud dari ucapan Chanyeol barusan. Dan anehnya, daripada mengangguk, dia justru menggelengkan kepala tidak tahu. Mungkin itu terjadi karena ia terlalu gugup, terlalu bahagia dan selebihnya merasa sangat tidak percaya. Berapa lama dia mengidolakan Chanyeol, berapa lama dia berharap rasa itu akan berbalas. Chanyeol memang terlihat acuh meski sikapnya selalu hangat. Dan sangat tidak mungkin lelaki seperti dirinya akan melirik gadis ingusan semacam Irene. Setidaknya itu yang Irene pikirkan sejak dulu, tidak seperti sekarang.
"Sepertinya...aku memang harus mulai memikirkan mengenai seorang wanita, dan maaf mengatakan hal ini secara mendadak. Aku...menyukaimu, Ren."
*
Irene berteriak kegirangan di dalam kamar mandi. Masih dengan berbalut handuk tebal, kepalanya menyembul dari balik pintu untuk melihat Sehun yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan memangku laptopnya.
Hari ini ia begitu senang karena dua hal. Pertama karena Park Chanyeol, lelaki yang sangat ia impikan akhirnya menyatakan rada cintanya. Dan yang kedua adalah;
"Sehun, aku baru saja mendapat menstruasi," suara Irene setengah berbisik.
Sehun mendongak dan menatap Irene dengan sedikit memincingkan satu matanya.
"Harus ya kau memberitahu hal itu padaku?"
"Tentu saja, itu artinya aku tidak hamil kan?" Irene kembali berjingkrak-jingkrak senang sampai-sampai ia tidak menyadari handuknya terlepas. Lalu secepat kilat ia menutup pintu kamar mandi sebelum Sehun sempat melihatnya.
Sehun sendiri hanya mendengus dan kembali mengarahkan matanya pada layar laptop. Padahal dalam hati ia sempat berharap Irene bisa hamil olehnya. Sehingga pernikahan yang sudah terjadi diantara mereka tidak akan berakhir dengan sia-sia seperti sekarang. Mungkin lucu jika ia punya anak dan kedua orang tua mereka pada akhirnya menyetujui. Tnpa sadar Sehun justru tersenyum-senyum sendiri dalam khayalannya itu.
Lima menit berlalu dan Irene keluar dari kamar mandi dengan memakai kaos milik Sehun yang kebesaran dan ripped jins. Gadis itu berjalan lambat menyeberangi ruang kamar untuk mengambil ponselnya dia atas sebuah meja kecil.
[Sudah sampai di rumah?]
Irene membaca pesan yang Chanyeol kirimkan lantqs sedikit melirik ke arah Sehun dengan perasaan takut.
"Sudah, aku baru saja selesai mandi. Kalau begitu selamat bekerja Chan."
[Oke, sampai jumpa]
Irene tersenyum setelah membalasnya hanya dengan sebuah emoticon kiss.
"Irene..,"
Irene yang terkejut hampir menjatuhkan ponselnya begitu melihat Sehun sudah berdiri di depannya dengan posisi yang sangat dekat.
"Kau ini mengagetkanku saja sih?!" mengelus dadanya dengan ekspresi takut, Irene lalu menyeliokan ponselnya di saku celana sebelum Sehun sampai mencurigainya.
"Besok aku ada syuting di luar kota, mungkin dua hari ke depan aku tidak pulang. Apa perlu kuminta kakakku untuk datang menemanimu disini?" Sehun melingkarkan tangannya di pinggang Irene, membuat ekspresi seoalah ia menyesal melakukan itu. "Ingat, kau tidak boleh pergi dengan orang asing yang baru kau kenal ya?"
"Iya, aku mengerti," Irene mengangguk kecil dan membiarkan Sehun membelai wajahnya dengan gerakan lembut. Sudah berapa kali Irene diperlakukan secara manis oleh Sehun seperti ini. Sekalipun ia merasa sedikit risih, tapi bagaimana caranya ia bisa menghindar kan.
"Sebenarnya aku ingin sekali menjahit baju. Bisa tidak kau ijinkan aku kembali ke tempat kost selama kau tidak ada? Mesin jahitku juga ada di sana dan kakakmu ingin aku membuatkan beberapa rancangan baju untuk mengisi butiqnya. Ayolah...."
Sehun tampak berpikir sesaat.
"Hmm...aku mengkhawatirkanmu, Ren, " kata Sehun pada akhirnya. "Tapi apa boleh buat, itu kan keahlianmu dan jika kau menginginkannya, kau bisa tidur disana selama aku tidak ada. Hanya selama aku tidak ada, oke?"
Irene melempar senyum manis dan dalam hitungan detik itu, ia merasa ada sesuatu yang aneh yang menggelenyar di dalam dadanya saat Sehun mencium bibirnya sekilas. Pun begitu saat Sehun menatapnya dengan begitu hangat.
"Kau wangi."
*
Beginilah repotnya jika ia tinggal di apartemen milik Sehun seorang diri. Jarak yang harus ia tempuh menuju kampus semakin jauh dan Irene harus naik bus ataupun naij taxi untuk sampai disana tepat waktu.
"Hai, kita akhirnya bertemu kembali," pintu cafe terbuka dan Ha Young masuk dengan lambaian tangannya. "Sendiri?"
Irene mengangguk sambil menyeruput minumannya.
"Aku harus segera pergi kuliah, maaf aku duluan ya," Irene berlalu tapi Ha Young langsung saja mengejarnya.
"Tunggu Ren, aku bisa mengnatarmu kesana," Ha Young menunjukan kunci mobilnya tepat di depan wajah Irene saat gadis itu menoleh." Ah sebentar, aku ambil dulu pesananku."
Irene berdiri di depan pintu cafe menunggu sebentar Ha Young yang memesan minumannya. Lalu setelah Ha Young muncul, mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam mobil.
"Ngomong-ngomong kalau kau memang sedang santai, bagaimana jika kau ikut saja berkuliah di kampusku?" ide itu muncul seketika di kepala Irene. "Hanya dua jam, tidak akan lama."
"Wah..itu ide bagus, aku setuju."
Sesampainya di kampus, Irene mengenalkan Ha Young pada Yeri. Mereka bertiga pun masuk ke dalam kelas praktek menjahit.
"Ren, kau kenal gadis itu dimana?" bisik Yeri saat Ha Young sedang sibuk dengan ponselnya, sementara Irene dan Yeri sedang membuat pola pada selembar kain milik mereka
"Di cafe Masami dekat apartemen Sehun, dia orang yang baik dan ceria. Beberapa kaki kami bertemu secara tidak sengaja."
Yeri mengalihkan matanya ke arah Ha Young dengan tatapan menyelidik.
"Memang sudah berapa lama kau mengenalnya?"
"Ehm...empat hari mungkin."
"Entahlah, kurasa aku tidak begitu menyukainya Ren," bibir Yeri mengerucut tanpa alasan.
"Tenang saja Yer, menurutku kau itu tetap akan menjadi sahabat terbaikku, jangan cemburu begitu."
"Aku tidak cemburu, hanya saja sepertinya kau tidak seharusnya berteman dengannya, tapi aku tidak punya hak untuk melarang itu. Aku memiliki perasaan tidak enak tentangnya."
"Kenapa kau dan Sehun memiliki sifat yang sama saja sih? Sadar tidak kalau kalian berdua itu terlalu protected terhadapku."
"Apa kau lupa dengan kejadian penyekapanmu waktu iru? Kau hampir mati di dalam gudang kalau kami tidak segera menemukanmu. Bisa jadi kan dia mata-mata Yura yang ingin kembali mencelakaimu."
"Baiklah, baiklah... aku akan berhati-hati. Percaya saja padaku."
Selesai berbicara, Ha Young ikut bergabung dan mengamati Irene serta Yeri yang berkutat dengan tugas mereka di kelas.
"Ada yang bisa aku bantu?"
*
Yeri memilih pulang kuliah bersama teman-teman yang lain karena ia tidak mau ikut dalam mobil Ha Young dan juga arah jalan pulang mereka kebetulan berlawanan.
"Aku terkejut begitu tahu pacarmu adalah seorang model terkenal. Bahkan kudengar dari berita, Oh Sehun akan mulai syuting film perdananya," Ha Young berkata dengan nada antusias sambil menyetir.
"Aku sebenarnya tidak begitu tahu seluruh kegiatannya, dia hanya mengatakan jika hari ini dia akan melakukan syuting, apa kau memang salah satu penggemar Oh Sehun?"
Ha Young mengangguk mengiyakan.
"Akan kupastikan kau mendapatkan tanda tangan dan fotonya," kata Irene meyakinkan.
Padahal selama ini Irene tidak pernah menganggap atau memperlakukan Sehun sebagai publik figure. Irene juga tidak tahu alasan apa yang membuat Sehun sangat digilai oleh banyak gadis di kampusnya, selain karena ia tampan dan kaya raya. Untung saja Sehun hanya berprofesi sebagai model yang lebih banyak wara-wiri di catwalk. Akan lain ceritanya jika lelaki itu adalah seorang Idol ternama yang bahkan untuk sekedar pergi ke mini market saja tidak bisa.
Mobil mereka kini melaju melewati jalan utama yang tampak ramai. Dan ponsel Irene berdering hingga ia bisa melihat nama Chanyeol muncul di layarnya.
[Ren, apa malam ini kau ada waktu?]
"Mmm....kau ingin mengajakku kemana?"
[Membuatmu gemuk kurasa," yang dimaksud Chanyeol adalah makan malam, lantas lelaki itu tertawa kecil.
"Tapi bisakah kau merahasiakan pertemuan kita ini dari Yeri?"
"Tentu saja. Untuk sementara ini aku tidak akan mengatakan apapun pada adikku. Bagaimana jika kujemput kau di tempat kost jam tujuh malam?"
Setelah menyetujui ajakan pertemuan itu, Irene menaruh kembali ponselnya ke dalam tas dan tersenyum-senyum sendiri pada udara kosong.
"Siapa yang meneleponmu barusan? Oh Sehun?" tanya Ha Young penasaran begitu melihat ekspresi Irene yang seperri sedang berbunga-bunga.
"Dia, seseorang yang sedang dekat denganku."
"Eoh? Maksudmu ada pacar lain lagi begitu?" Ha Young membulatkan matanya kaget.
"Lain kali akan kuceritakan padamu mengenai perasaanku yang sangat rumit. Ada dua lelaki dalam hidupku sekarang ini. Yang satu mungkin hanya nafsu terhadapku dan satunya mungkin mencintaiku dengan tulus," Irene mendadak sedih, kenapa ia tidak bisa menceritakan pada Yeri yang sudah bertahun-tahun menjalin persahabatan dengannya dan justru menceritakan hal semacam ini pada Ha Young yang baru hitungan hari saja ia kenal. Tapi menceritakan soal hubungannya dengan Chanyeol kepada Yeri, sama saja Irene ingin bunuh diri kan.
"Apa itu berarti kau tidak mencintai Oh Sehun?"
Irene bungkam setiap kali pertanyaan itu sering muncul dalam benaknya. Ada saat dimana ia mencintai Sehun, tapi ia takut perasaannya akan terluka. Sehun milik banyak simpana gadis-gadis cantik diluaran sana dan Irene tahu betul akan sangat sulit untuk bisa mendapatkan hatinya. Irene hanya ingin dicintai dengan tulus oleh orang yang juga mencintainya. Dan Chanyeol muncul di saat yang tidak tepat. Tapi Irene terlalu naif jika ia sampai berani menolak cinta dari dokter muda itu. Bukankah lelaki seperti Chanyeol yang memang ia inginkan sejak dulu?
"Irene, apa kau rela jika Oh Sehun menjadi milik orang lain?"
Irene menoleh ke arah Ha Young, hatinya mendadak berdesir aneh.
"Banyak sekali gadis yang mengharapakan cinta Oh Sehun, jangan bodoh!"
Ha Young kemudian tersenyum miring, menoleh ke arah Irene dengan sudut matanya yang tajam.
* Hey, Playboy*