Hey, Playboy

Hey, Playboy
Bagian 26.



Sesampainya di apartemen, Irene menaruh minumannya di atas meja dan ia berjalan cepat masuk ke dalam kamar bermaksud ingin mengambil koper dan memasukan seluruh baju-bajunya disana.


Sebentar lagi ujian semester tiba, dan gadis itu ingin berkonsentrasi belajar dengan tinggal di tempat kostnya yang sudah lama ditinggalkan. Lagipula sudah tidak ada gunanya lagi ia tinggal serumah dengan Sehun. Toh sampai detik ini hubungan mereka seperti hanya berjalan di tempat saja.


Irene meresleting kopernya lalu keluar dari kamar saat Oh Sehun sudah berada di ruang tamu, berdiri dengan wajah penuh keheranan.


"Kau mau pergi?"


"Kembali ke tempat kost ku, kau akan merasa tidak nyaman jika aku terus ada disini bersamamu kan?" jawab Irene yang masih sibuk memasukan beberapa barang pribadinya yang terlewat.


Sehun diam, ia masih tidak bergerak dari tempatnya berdiri.


"Sebentar lagi ujian semester, tinggal di tempat kost akan lebih mudah untuk sampai di kampus," kata Irene melanjutkan. Ia hanya tidak ingin Sehun berpikiran macam-macam mengenai kepindahannya kali ini.


"Baiklah, kalau menurutmu itu jalan terbaik," Sehun mengangguk saja. "Tapi tentang Ha Young, maaf baru sempat memberitahumu. Dia dulu mantan kekasihku dan aku tidak menyangka dia akan mendekatimu dan bahkan sekarang kalian sudah saling mengenal."


Irene menghentikan aktifitasnya sebentar, kemudian menoleh untuk menatap wajah Sehun.


"Baguslah, kau dan dia bisa saling memperbaiki hubungan, aku senang mendengarnya. Ha Young juga sangat cantik dan baik."


"Ehm," Sehun mengangguk lagi. "Kau selesaikan dulu semuanya, aku akan mandi sebentar dan baru setelah itu aku akan mengantarmu kembali."


Irene lantas berdiri, ia meraih sehelai handuk putih di tempat jemuran yang ada di sudut dapur lalu menyerahkannya pada Sehun. Ia sengaja melingkarkannya di leher lelaki itu dengan memandangi wajahnya serius.


"Hiduplah dengan baik selama aku tidak ada, jangan sampai kau telat makan dan jangan terlalu sering minum-minum, itu sangat tidak baik untuk kesehatanmu. Kau mengerti?"


Sehun mengelus lengan kecil Irene, membalas tatapn itu dengan sama seriusnya, "Terima kasih."


Sehun memutuskan untuk segera mandi dan Irene hanya duduk terdiam sambil memandamgi seluruh penjuru ruangan apartemen sebelum ia benar-benar pergi.


*


Sehun menyempatkan diri masuk ke dalam kamar kost hanya untuk melihat keadaan di dalam sana. Kemudian ia beralih masuk ke dalam kamar kost milik Irene dan mulai membantu gadis itu memberesi semua barang bawaannya.


Sehun sempat melirik sekilas pada cincin pernikahan di jemari Irene yang masih bertengger cantik disana. Lelaki itu mengulas senyum tipis tapi segera menetralkan ekspresinya ketika Irene menoleh.


Selesai membereskan semua pekerjaannya, Irene merentangkan kedua tangan di udara untuk melemaskan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.


"Kubuatkan kau minuman dingin ya, sebentar," gadis itu lantas berjalan ke sisi dapur, mengambil satu gelas berukuran besar dan menuangkan air mineral yang dicampur dengan sirup.


"Sebenarnya aku tidak merasa haus," itu Sehun katakan sambil berjalan mendekat dan berhenti tepat di belakang Irene. Kedua tangannya bergerak untuk memeluk tubuh mungil itu dan bermanja-manja sebentar disana.


Irene tertegun, ia sampai tidak bisa mengaduk minuman dingin buatannya karena kini Sehun mengungkung tubuhnya dengan sangat erat.


"Lepaskan! Apa yang kau lakukan padaku?"


"Aku menginginkanmu Ren, sekarang...," bisik Sehun lirih.


"Kau...tidak boleh melakukannya lagi," Irene segera menurunkan kedua tangan Sehun dari tubuhnya lalu berbalik. "Kita berdua tahu perasaan kita masing-masing, tapi posisi kita sekarang ini...ah maksudku, kau dan aku tidak bisa lagi melakukannya sampai sejauh itu."


"Kenapa? Apa karena kau milik Park Chanyeol sekarang?" tanya Sehun dengan nada yang terdengar kecewa.


Irene menunduk dan tidak mau menjawab ataupun sekedar menatap balik sorot mata Sehun yang sendu.


"Tolong, lihat aku sebentar saja," Sehun memohon. "Aku tahu kau milik Park Chanyeol, tapi secara resmi kau masih menjadi istriku kan? Kau masih memiliki kewajiban untuk melayani suamimu," Sehun kembali melingkarkan kedua tangannya di pinggang Irene. "Banyak hal yang aku sesali selama mengenalmu, banyak hal yang bahkan aku tidak tahu selama aku menjadi suamimu. Aku ingin hubungan kita menjadi lebih dekat, tapi sepertinya kau semakin menjauh dariku. Jadi untuk sekali ini saja, tolong... jadikan aku orang yang spesial dihatimu."


Karena postur tubuh Sehun yang cukup tinggi, Irene lantas mendongak. Tapi tidak ada kata pembelaan apapun yang ia utarakan untuk menyangkal. Bibirnya sudah bergerak-gerak ingin bicara tapi ia tidak tahu harus bicara apa dan bagaimana.


Yang dapat Irene lakukan tidak lebih dari menutup matanya rapat-rapat ketika bibir Sehun mulai menyentuh bibirnya. Bibir yang sudah berkali-kali ia kecap itu terasa sangat lembut dan begitu menggairahkan. Sehun bahkan beberapa kali sampai harus memiringkan kepalanya ke kiri lalu ke kanan menikmati saat-saat lidah mereka saling bertautan.


Kemudian secara perlahan-lahan tangan Irene bergerak naik untuk melingkar kuat di tengkuk Sehun. Ia meluapkan segala kekesalannya mengenai Ha Young sampai tanpa sadar dirinya terus menggigit-gigit kecil bibir Sehun hingga nyaris terluka. Kali ini sikap yang ditunjukkan gadis itu justru jauh lebih mendominasi daripada yang biasa Sehun lakukan sebelum-sebelumnya. Itu adalah bibir suaminya, miliknya, dan bukan untuk disentuh oleh wanita manapun.


"Dan jika kau ingin kembali pada Ha Young, jangan pernah lag--," kalimat Irene belum selesai, tapi Sehun segera membungkam kembali bibir gadis itu dengan sebuah ciuman yang lebih dalam. Dia tidak peduli dengan berbagai pemikiran buruk Irene mengenai hubungannya di masa lalu bersama Ha Young. Ketika mereka berdua sedang saling berhadapan, Sehun ingin segala sesuatunya hanya menyangkut tentang Irene dan dirinya saja.


Irene pun sepertinya tidak menghiraukan lagi mengenai milik siapa ia sekarang. Yang ia rasakan adalah sentuhan lembut tangan Sehun yang mulai merambah ke bagian dadanya, meremasnya, kemudian bermain-main cukup lama disana. Hingga hal terakhir yang Irene ingat adalah saat Sehun mendudukan tubuhnya di atas meja dapur kemudian melucuti pakaiannya satu-persatu.


Untuk satu jam ke depan, baik Irene maupun Sehun merasa dunia mereka terasa begitu indah. Saling berbagi, saling menerima, saling menyatukan tubuh mereka dengan gerakan maju mundur yang seirama. Sehun pun berusaha memperlakukan Irene dengan begitu lembut serta hangat. Seperti ketika Irene terlihat sedikit tersakiti atau mengeluh dengan posisi mereka yang tidak nyaman, Sehun akan segera meminta maaf dan merubah posisinya. Atau Sehun akan membiarkan dirinya sendiri yang bergerak aktif selagi Irene hanya sebatas menerima perlakuannya saja. 


Sehun dan Irene kembali berciuman dengan nafas yang masih memburu, lalu dengan hati-hati lelaki itu menurunkan tubuh Irene dari atas meja lalu membawanya untuk terbaring di tempat tidur. Sehun masih melancarkan aksinya sambil menikmati suara desahan manja yang Irene gumamkan setiap kali inti kewanitaannya dipermainkan. Bagi Sehun, Irene memang berbeda. Ia tidak seperti gadis-gadis lain yang bercinta dengan liar atau lebih menyukai permainan yang kotor.  Baru ketika keduanya mendapatkan pelepasan di waktu yang hampir bersamaan, Sehun berbisik lirih di sisi telinga Irene.


"Beberapa hari aku berpikir, jika yang memiliki itu jauh lebih kuat. Tapi terkadang yang menguatkan adalah melepaskan..."


Mata lelaki itu sekarang menatap lurus pada bola mata Irene yang berkaca-kaca, sementara satu tangannya mendekap tubuh Irene yang terbaring lemah di sisinya.


Apa benar ini merupakan acara bercinta kami untuk yang terakhir kalinya, Tuhan? Sebodoh dan segila inikah aku harus melepaskan istriku kepada lelaki lain? Berbagai pertanyaan terus menghantui pikiran Sehun. Membuatnya resah dan terus-menerus menghempaskan nafas berat.


"Kau tidak tidur?" Irene membenamkan wajahnya di dada Sehun, kemudian memejamkan mata tanpa bermaksud benar-benar ingin tidur.


"Kau tidurlah, biar aku menikmati suasana yang mungkin tidak akan kudapatkan lagi bersamamu," Sehun mengelus-elus puncak kepala Irene lalu mengecupnya sekilas.


"Jangan bodoh! Bahkan kamar kost kita sampai akhir tahun ini masih bersebelahan. Kita masih bisa bertemu, kita masih bisa mengobrol sebagai teman."


Mendengar kata 'teman', Sehun tersenyum kecut.


"Aku mendadak jadi bodoh karenamu, Ren. Playboy tidak tahu diri yang merusak masa depan gadis baik-baik sepertimu. Dan aku...akan menghadapi semua hukuman itu sebentar lagi, tanpamu, tanpa ada lagi nama kita."


*


Yoona dan kedua orang tuanya dikejutkan dengan kedatangan Sehun yang datang ke rumah secara tiba-tiba. Penampilannya jauh dari kata rapi, rambut yang acak-acakan dan kancing baju yang terpasang tidak pada pasangannya. Hal itu disempurnakan dengan jaket lusuh yang ia kenakan dan semakin membuatnya seperti pecundang yang kalah dalam peperangan.


"Kau ini habis tersambar petir atau bagaimana? Kenapa dandananmu tidak karuan begini? Kau habis dikeroyok?" Yoona membenarkan letak kancing baju Sehun dan merapikan rambutnya dengan jari tangan seadanya.


Sehun tidak merespon, ia hanya membungkuk memberi salam hormat pada kedua orang tuanya sebelum akhirnya berdiri tegak kembali.


"Ayah, ibu...aku minta maaf atas semua perbuatanku yang telah membuat keluarga ini menjadi malu dan nama baik kalian tercemar. Aku benar-benar ingin meminta maaf kepada kalian. Aku akui bahwa aku bersalah...aku pun masih ingin menjadi bagian dari keluarga ini. Untuk itu, aku datang dengan harapan ayah dan ibu bersedia  memaafkanku...dan juga Irene."


Kedua bola mata Nyonya Oh tampak berkaca-kaca dan ia langsung memeluk tubuh Sehun sejenak untuk melepas kerinduan pada putra satu-satunya yang sudah lama tidak pernah ia lihat. Sementara Tuan Oh sendiri hanya mengangguk-angguk pelan tanpa berkomentar sepatah katapun.


"Akhir semester ini, aku akan bercerai dengan istriku dan aku ingin pergi dari Korea.  Mungkin disana aku bisa belajar bagaimana menghargai hidup dan bagaimana caraku memperbaiki semua kesalahan yang pernah kuperbuat."


"Apa kau bilang, bercerai?" Yoona yang terkejut bukan main mendengar penuturan adiknya lantas memukul lengan Sehun berkali-kali. "Biar aku bicara sebentar dengan si bodoh ini," Yoona kemudian menarik lengan Sehun lantas membawanya masuk ke dalam kamar yang ada di lantai dua.


"Bodoh, tolol, idiot, gila!" Yoona memukul-mukul kembali  bagian punggung serta lengan Sehun secara brutal. "Apa kau pikir pernikahan kalian itu hanya sebuah candaan saja, hah?! Pikirkan dulu matang-matang sebelum kau memutuskan sesuatu. Kau mau aku merobek mulutmu sampai sebatas telinga ya?!"


Sehun menggeleng frustasi, ia menatap wajah kakaknya dengan sorot mata yang nanar dan ekspresi penuh kesedihan.


"Kak, Irene sudah menjadi milik orang lain," ucap Sehun hampir terdengar menyerupai bisikan. Ia yang tidak kuasa lagi membendung air matanya, kini menangis membenamkan kepalanya di pundak Yoona. "Aku sangat mencintainya kak...aku tidak ingin berpisah dengannya."


Yoona hanya berdiri mematung, berpikir bahwa ini adalah sebuah karma yang Tuhan berikan untuk adiknya. Ketika Sehun hidup dengan dikelilingi banyak wanita, tidak satupun yang benar-benar bisa ia cintai. Namun ketika ia telah jatuh cinta pada satu wanita itu, Sehun bahkan tidak bisa mendapatkannya.


"Belajarlah menerima kenyataan hidup, kau hanya sedang menuai dari apa yang dulu sudah kau tanam...kau tahu?"


tbc....