
Sehun mendorong paksa Irene untuk masuk ke dalam sebuah salon mahal. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa Sehun langsung membawanya kesana.
"Kau pikir aku akan mengajakmu makan malam dengan pakaian konyolmu itu?" Sehun menunjukan celana training yang Irene pakai dengan kedodoran. Warnanya saja sudah beladus dan kainnya sudah benar-benar terasa kasar.
"Aku sebenarnya bisa memakai dress milikku, tapi kau malah buru-buru menarikku keluar. Ini salahmu, jadi jangan merendahkanku seperti itu!" Irene membela diri.
Malas mendengar ocehan Irene yang menurutnya tidak berguna, Sehun menyuruh salah satu karyawan salon untuk segera merubah penampilan Irene dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.
Sehun sendiri disibukan dengan memilih pakaian apa yang akan ia kenakan nanti dan pilihannya tersebut jatuh pada sebuah tuxedo hitam yang membuatnya sangat terlihat semakin tampan dan maskulin. Lelaki itu kemudian duduk dengan bosan sambil membuka-buka majalah yang sebetulnya sama sekali tidak ia minati. Beberapa kali ia melirik jam tangannya yang masih menunjukan pukul enam sore. Dan itu artinya, mereka masih memiliki waktu satu jam lagi untuk pergi ke perjamuan makan malam bersama keluarga Chou.
Terlalu kama menunggu di dalam ruangan yang ber AC, Sehun bahkan sampai ketiduran di sofa dan baru dibangunkan oleh salah satu karyawan salon yang mengatakan bahwa Irene sudah selesai berdandan.
Tirai berwarna merah marun pun terbuka. Menyambut kemunculan Irene dalam balutan dress berwarna kuning gading dengan sepatu berhak tinggi yang menunjang bentuk tubuhnya menjadi lebih proporsional. Rambutnya ia gerai dengan pita berbentuk kupu-kupu kecil di bagian atas telinga kirinya.
Tidak ada ekspresi kekaguman yang Sehun tunjukan mesti sebenarnya ia sempat tertegun melihat perubahan Irene. Lelaki itu memutuskan untuk mendekat dan menyuruh Irene untuk berputar beberapa kali di hadapannya.
"Apa?"
Sehun menutup mulutnya dengan satu telapak tangan, menahan diri untuk tidak tertawa dan itu benar-benar membuat Irene ingin sekali mencakar wajah lelaki aampai hancur.
"Demi Tuhan, Irene... kenapa aku baru menyadarinya sih. Apa kau ini benar benar seorang wanita? Kenapa dari arah depan, samping maupun bagian belakang tidak ada dari tubuhmu yang terlihat menonjol sedikitpun?" lagi-lagi Sehun tertawa, mengabaikan tatapan tajam yang sejak tadi Irene arahkan padanya.
"Apa kau lupa bagaimana kau menikmati tubuhku malam itu? Brengsek!"
"Kau juga menikmatinya."
"Tapi kau memaksaku, perbuatanmu sangatlah tidak berperikemanusia--,"
Sehun dan Irene saling menatap dalam diam selang beberapa detik. Kemudian keduanya menoleh dan menyadari jika pembicaraan mereka rupanya terdengar jelas oleh beberapa karyawan salon yang ada disana.
"Oh..ma-maaf," Irene meringis sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara Oh Sehun hanya berdecak kesal.
Irene tidak lagi banyak bicara ketika Sehun berjalan ke arah kasir. Mengeluarkan kartu kreditnya sekaligus memberi tips pada karyawan yang telah berjasa merubah seekor itik buruk rupa menjadi secantik Cinderella.
"Sehun, tunggu...!" Irene berusaha mensejajari langkah Sehun dengan cara berjalan yang aneh. Ia tidak terbiasa memakai sepatu berhak tinggi. Dan ia merasa setiap kali kakinya melangkah, tubuhnya oleng ke kanan dan kiri seakan ingin terjatuh.
Benar saja, saat Irene berlari kecil mengejar Sehun yang hendak masuk ke dalam mobil, satu hak sepatunya terlepas akibat tersandung. Tubuh mungil itupun sukses membentur punggung Sehun sebelum akhirnya mendarat sempurna pada jalan beraspal.
Irene secara reflek mengerang kesakitan memegangi lututnya yang berdarah.
"Apa tanpa kacamata kau benar-benar tidak bisa melihat dengan baik, yaaa!!!"
Sehun yang kesal sekaligus panik segera membantu Irene untuk berdiri lalu terkejut melihat luka berdarah di bagian kedua lutut gadis itu.
"Ini sakit tidak?" ingin menyentuh luka itu, tapi Sehun kemudian membatalkannya karena Irene sudah melotot galak padanya.
"Kau pikir kedua lututku ini terbuat dari baja, tentu saja sakit!"
"Wah...kalau memang kakimu teebuat dari baja, itu sih kedengarannya keren."
Tidak mau lagi meladeni gumamam Sehun, Irene membuka tas kecil miliknya dan segera memakai kaca mata minusnya lagi. Ia kemudian berjalan tertatih masuk ke dalam mobil sementara Sehun sendiri mengambil sepatu Irene yang tergolek di jalanan dan kembali masuk ke dalam mobil dengan ekspresi sedikit kecewa.
"Ya sudah, kita obati dulu lukamu dan setelah itu, kita cari sepatu lain yang lebih nyaman."
*
Setibanya di rumah keluarga Oh, Irene terkejut bukan main karena ternyata acara makan malam itu diadakan nyaris seperti sebuah pesta perayaan besar. Banyak sekali tamu yang datang dan jika dilihat dari penampilan mereka satu-persatu, sepertinya pesta ini hanya khusus dihadiri oleh orang-orang dari kalangan atas saja.
Sehun membawa Irene menuju sebuah meja makan dimana ayah, ibu dan keluarga Chou sudah duduk saling bercengkrama disana. Keduanya pun langsung saja memberi salam hormat pada mereka.
"Selamat malam, ayah, ibu."
"Kau datang juga rupanya," ayahnya berbicara pada Sehun, tapi matanya terus menatap pada seorang gadis yang berdiri gugup di sebelahnya.
Semua yang ada di meja makan lantas ikut berdiri dengan tatapan mata yang sama, membuat Irene seperti ingin lenyap dari dunia seketika. Dan yang Sehun lakukan tidak lebih dari sekedar menunduk sambil menahan senyum dengan menggigit-gigit kuku ibu jarinya. Begitu juga dengan Irene yang tidak tahu harus bersikap bagaimana saat semua perhatian tertuju padanya.
Irene mungkin akan mendapatkan nilai sempurna untuk rambut lurus hitam yang berhias pita kupu-kupu lucu. Apalagi Irene memang dianugerahi wajah yang terbilang cukup cantik dengan polesan make up yang terkesan sangat natural. Kemudian gaun berwarna kuning gading yang Irene kenakan sekarang semakin menambah nilai plus pada bentuk tubuhnya yang terbilang cukup mungil. Sayang sekali sendal jepit flip-flop karet yang berhias kepala doraemon yang sekarang dipakainya merusak semua penilaian tentang itu.
Irene mencubit kecil lengan Sehun untuk meminta penjelasan darinya kepada semua orang dengan apa yang telah terjadi sebelum mereka sampai disini. Tapi lelaki itu sepertinya tidak begitu peduli.
"Ayo sayang, sekarang kalian berdua duduk bergabung bersama kami," perintah Nyonya Oh mengakhiri suasana kaku diantara mereka.
Sehun dan Irene kemudian mengambil tempat duduk saling bersebelahan. Sebenarnya Irene merasa tidak nyaman dengan orang-orang disekitarnya yang tidak satupun ia kenal. Terlebih saat gadis cantik yang kebetulan duduk tepat di depannya terus melihat Irene dengan tatapan tajam seolah merendahkan. Dialah Tzuyu, putri bungsu dari keluarga Chou yang kabarnya akan diperkenalkan dengan Oh Sehun.
Beberapa menit berikutnya semua terdiam menikmati berbagai macam hidangan di piring mereka masing-masing. Irene hanya mengiris-iris steak miliknya, menahan diri untuk tidak mengeluh karena ia bosan dengan acara pesta yang menurutnya sangat berlebihan.
"Oh Sehun, kau sudah mengenal Chou Tzuyu, bukan?" suara Tuan Oh berhasil memecah keheningan.
Sehun mendongak, kemudian sekilas matanya beradu dengan Tzuyu.
Tzuyu hanya membalasnya dengan tersenyum tipis.
"Sebenarnya kami datang jauh-jauh kemari hanya untuk bertemu denganmu, Tuan muda Oh," sederet kalimat yang diucapkan Nyonya Chou terdengar sangat jelas dengan maksud kedatangannya.
Sehun hanya mengangguk-angguk kecil sementara Irene yang duduk disampingnya tampak acuh dan sama sekali tidak berminat untuk terlibat dalam obrolan tersebut. Ia sebenarnya merasa dibohongi karena ia pikir acara makan malam ini hanya akan dihadiri oleh sebagian dari keluarga Sehun saja.
"Bagaimana dengan pendidikanmu, apa kuliahmu berjalan dengan baik?" kali ini Tuan Chou yang bertanya.
"Sangat baik, semuanya oke."
"Putri kami juga masih berada di bangku kuliah sama sepertimu. Hanya saja dia mengambil jurusan Hukum sesuai dengan keinginannya."
"Wah..itu bagus, dia bisa melakukan apa saja yanh dia mau."
" Ehm...Sehunn...ngomong ngomong siapa gadis yang duduk di sebelahmu itu? Kau bekum memperkenalkannya pada kami," Tuan Oh menatap Sehun dan Irene secara bergantian.
Irene baru akan membuka mulutnya ketika Sehun dengan kepercayaan diri penuh menjawabnya terlebih dahulu.
"Dia kekasihku, calon istriku."
Irene langsung mengalihkan pandangannya ke arah Sehun dengan mata melotot lebar, ia menginjak keras sepatu lelaki itu selagi giginya bergemeletuk hebat. Sandiwara macam apa ini?
Tentu saja semua orang yang ada di hadapan mereka tertegun mendengar pernyataan itu. Terutama Nyonya Oh, dia adalah orang yang paling kentara sekali mengekspresikan rasa kagetnya dengan menaruh telapak tangannya di dada.
"Sehun...a-apa maksudmu?" suara Nyonya Oh tergagap, gurat wajahnya terlihat begitu bingung sekaligus terkejut. Beliau bahkan mengadakan acara makan malam seperti ini bertujuan untuk mendekatkan putranya dengan seorang putri dari rekan bisnisnya. Bukan untuk mendengar pengakuan semacam itu yang hampir membuat semua orang nyaris tidak percaya.
Irene memutar dua bola matanya bosan, ia sudah lelah dengan semua permainan Sehun yang keterlaluan ini. Kenapa ia harus berada di tengah -tengah acara perjodohan keluarga Chaebol yang menurutnya sangat mendramatisir? Kehadirannya disana ia pikir hanya akan memperburuk susana saja. Jadi saat gadis itu berencana untuk menyingkir, Sehun justru cepat-cepat menyusulnya dan mengutaran satu pernyataan lagi yang sangat menjengkelkan.
"Ayah, ibu, maaf...tapi aku akan menikah dengan Bae Irene."
"Sehun!"
"Aku akan tetap menikahinya. Jadi aku harap ayah dan ibu bisa merestui hubungan kami," Sehun bergegas menarik lengan Irene hingga keduanya kembali membungkuk memberi salam hormat sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkan orang-orang yang masih dalam keadaan menganga tidak percaya.
*
"Aku memang meminta pertanggungjawaban darimu, tapi bukan seperti ini caranya! Kau itu gila atau apa sih?!" Irene menepis tangan Sehun saat lelaki itu menariknya masuk ke dalam mobil." Aku bisa pulang sendiri!"
"Ini sudah malam dan tidak ada bus atau taxi lagi yang akan lewat. Haltenya bahkan sejauh 200 meter, apa kau akan berjalan kaki dengan gaun dan keadaanmu yang terluka seperti itu? Masuklah," Sehun menarik paksa Irene untuk masuk dan duduk bersebelahan dengannya di dalam mobil.
Irene membesengut marah, kedua alisnya bahkan menyatu. Berkaki-kali dia memprotes dengan tindakan gila Sehun yang sangat tidak disukainya, tapi Sehun tetap acuh mengendarai mobilnya tanpa mempedulikan apapun ricuhan gadis itu.
"Aku tidak mau terlibat apapun dengan permasalahan keluargamu. Yang kita bahas adalah antara kau dan aku."
"Bukankah kau memintaku untuk bertanggung jawab? Inilah tanggung jawabku, aku akan menikahimu."
Irene menggeleng cepat.
"Kau melakukannya bukan karena kau merasa bersalah telah memper...maksudku bercinta denganku, tapi kau melakukannya karena kau tidak mau dijodohkan dengan gadis cantik itu bukan? Jangan jadikan aku sebagai senjata untuk menghindar dari permintaan kedua orang tuamu, jangan bodoh!"
"Hanya itu jalan satu-satunya yang terpikirkan olehku" sahut Sehun cepat. "Lagipula kalau kau sampai hamil, apa kau mau menjadi istri keduaku?"
Irene mendesis, merinding membayangkan jika itu benar-benar terjadi padanya.
"Tapi menikah harus didasari atas rasa cinta, kau tahu?"
"Cinta bisa dipelajari karena terbiasa."
"Memangnya apa arti cinta untukmu, hah? Ayolah... jangan melucu," Irene tertawa getir." Selama ini kau bisa meniduri siapa saja tanpa ada rasa cinta kan?"
"Semua gadis yang pernah aku ditiduri hanya orang-orang bodoh yang haus akan bercinta. Mereka ingin mendompleng popularitasku, mengejar kekayaanku dan selebihnya hanya bermain-main saja. Aku tidak akan mempermasalahkannya selama kami tidak ada yang saling merugi."
"Itu artinya kau tidak jauh berbeda dengan gadis-gadis bodoh itu kan?"
Sehun mengerem mobilnya dengan mendadak hingga tubuh Irene meringsek ke depan dengan kepala nyaris membentur dashboard mobil.
"Tidak ada yang menyuruhmu untuk menghakimiku. Bukankah waktu itu kau juga ingin aku menikahimu dan aku akan menikahimu, dimana letak kesalahnnya?"
"Kubilang untuk tidak menjadikanku bahan pelarianmu!"
"Memangnya kau ingin aku bersikap bagaimana lagi sih?!"
Irene kemudian terdiam dengan pandangan mata menerawang jauh ke depan. Ada sebersit ketakutan yang menghinggapi dirinya sekarang. Bagaimana jika ia benar-benar hamil? Bagaimana jika nanti Sehun berubah pikiran dan tidak mau bertanggungjawab atas perbuatannya? Haruskah ia menikah dengan laki laki sebrengsek Oh Sehun?
* Hey, Playboy*