
"Maaf, aku sudah ada janji dengan seseorang. Maaf sekali ya aku buru-buru harus pergi. Ini kartu namaku, kita bisa bicara lain kali saja," ucap Chanyeol dengan nada sopan. Ia lantas memberikan selembar kartu namanya pada Sehun dan menutup jendela kaca mobilnya kembali.
Sehun baru akan membuka mulutnya ketika mobil Chanyeol perlahan pergi meninggalkan area parkir Rumah Sakit.
Sehun menghela nafas berat, tapi sepertinya ia memiliki rencana lain. Ia pun berjalan kembali masuk ke mobilnya sendiri dan mengikuti kemana arah mobil Chanyeol menuju.
Menurut penilaian Sehun, Park Chanyeol merupakan seorang dokter muda yang cukup tampan. Penampilannya sangat rapi dan caranya berbicara terlihat seperti lelaki yang sangat baik. Beberapa kali Sehun tersenyum getir mengakuinya dalam hati. Pantas saja Irene jadi tergila-gila pada dokter itu. Sudah tampan, mapan, dan mendekati sempurna.
Sehun menginjak rem mobilnya secara mendadak begitu melihat mobil Chanyeol berhenti di salah satu tempat makan di daerah Gangnam. Lebih terkejut lagi saat matanya menangkap sosok Irene yang tersenyum hangat menyambut kedatangan Chanyeol. Mereka berpelukan sesaat kemudian duduk saling berhadapan di salah satu meja yang berada di teras cafe.
Sehun terus mengamati pergerakan keduanya meski kini hatinya serasa di iris-iris perih. Sementara di tempat lain Irene tampak begitu bahagia berbicara ke arah Chanyeol sambil sesekali ia mengelus lengan lelaki itu dengan lembut. Keduanya seperti sedang berbicara secara intens, sebentar-sebentar mereka bahkan tertawa seolah sedang membahas sesuatu yang sangat lucu.
Sehun menutup matanya dalam. Rasa-rasanya ia tidak sanggup lagi melihat kemesraan yang diciptakan oleh keduanya. Oh ayolah, Irene memang istrinya, tapi Sehun sama sekali tidak bisa memiliki hatinya. Kemungkinan besar Irene merasa jauh lebih bahagia bersama Chanyeol daripada dengan dirinya. Sakit memang, tapi itulah kenyataan yang ada sekarang.
Sehun memutar kontak kunci mobilnya dan mulai menyalakan mesin. Ia muak, ia marah dan ingin pergi ke suatu tempat untuk melenyapkan kesedihannya saat ini. Lelaki itu kemudian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, dengan amarah yang membuncah, dengan segala kesakitan di hatinya. Setelah itu, ia menepikan mobilnya di depan sebuah taman kota dimana beberapa hari lalu ia dan Irene menikmati es krim berdua disana.
Momen manis itu ternyata hanyalah tinggal kenangan. Karena seberapa keras usaha Sehun untuk membuat Irene jatuh cinta padanya, semua itu hanya akan berakhir dengan sia-sia. Pernikahan mereka bahkan tidak menjamin Sehun bisa memiliki Irene seutuhnya.
*
Sehun duduk di sebuah klub malam , ia mabuk dan tidak peduli pada Oh Hayoung yang terus bersandar di bahunya. Sudah terhitung satu jam yang lalu ia menemani Sehun untuk minum-minum sampai mereka berdua mabuk berat.
"Ternyata kau masih mau menemuiku. Kau tidak bisa terus-menerus membohongi dirimu sendiri kalau kau masih menginginkanku, kan?"
Sehun tersenyum kecut dan perlahan tangannya terangkat untum membelai lembut wajah Ha Young. Keduanya saling menatap cukup lama hingga sebuah ciuman singkat terjadi diantara mereka.
"Ck...dia benar-benar sudah gila!" Krystal dan Kai yang duduk tidak jauh dari meja Sehun, menatap pemandangan mesra itu dengan bergidik jijik. "Jadi dia gadis yang membuat Sehun begitu?" Krystal bangkit dari duduknya, lalu dengan sengaja memisahkan posisi duduk Sehun dengan Ha Young.
"Sehun, kau tahu ini sudah jam berapa kan? Irene mungkin sedang mencarimu, apa tidak sebaiknya kita pulang saja sekarang?" ajak Krystal dengan suara berteriak mengingat alunan musik di dalam ruangan itu menggema cukup keras.
"Irene." Sehun tertawa kecil. " Dia tidak akan mencariku, dia sedang bersama kekasihnya."
"Kau ini bicara apa sih? Ayo berdiri dan kita pulang," kini Kai menarik lengan Sehun, menyeretnya keluar dari ruangan klub meski Sehun sempat menolaknya mentah-mentah.
Krystal mengambil topi dan kunci mobil Sehun yang tergeletak di atas meja. Sesaat iamelirik sengit ke arah Ha Young kemudian berlalu meninggalkan gadis itu duduk sendirian menghabiskan minumannya.
Susah payah Kai memapah Sehun masuk ke dalam mobil dan mendudukkan Sehun di kursi belakang. Sementara Kai dan Krystal duduk bersebelahan di depan.
"Kembalikan milikku," dengan gerakan cepat Sehun merebut topi dari tangan Krystal dan memakainya. Ia bersenandung lirih entah sedang melantunkan lagu entah apa.
"Heh playboy! Berhentilab menemui gadis itu lagi," nasehat Krystal saat mobil mereka sudah melaju membelah jalanan Seoul yang sepi. "Tidakkah kau bisa sedikit memikirkan perasaan Irene di rumah? Dia istrimu, dia yang seharusnya kau cintai dan berhenti bermain-main dengan gadis lain. Aku ini memang hanya sebatas sahabatz tapi melihatmu mencium gadis lain, aku sendiri yang justru merasa sakit hati, apa kau tahu?"
Hening...
"Habiskan sisa hidupmu dengan Irene, hiduplah berdampingan dengan baik. Kalian berdua kan sudah berkeluarga, jangan sekali-kali mempermainkan sebuah janji suci pada Tuhan. Bagaimanapunz kalian harus bisa menjaga perasaan masing-masing. Jadikan dia prioritas utama di hidupmu" Krystal melanjutkan lagi ceramahnya.
"Aku sudah berhenti bermain-main dengan mereka. Aku sedang belajar untuk mencintai Irene, tapi dia mencintai orang lain. Aku bahkan melihatnya tertawa bahagia bersama lelaki lain dengan mata kepalaku sendiri. Jadi siapa yang harus memikirkan siapa? Dan mempermainkan pernikahan bagaimana yang kau maksud?" Sehun menjejak bagian belakang kursi yang diduduki Krystal cukup keras. "Aku sangat terluka...apa Irene memikirkan perasaanku?! Orang yang dia cintai bukan aku, tapi lelaki itu!"
Krystal dan Kai terkejut dengan pengakuan yang Sehun lontarkan barusan. Detik berikutnya ketika Krystal menoleh, Sehun sudah menurunkan topinya untuk menutupi wajahnya. Rupanya lelaki itu diam-diam menangis. Tangisan pilu yang Kai dan Krystal baru pernah melihatnya selama mereka bersahabat.
Kai lantas menyalakan musik di dalam mobil dengan keras agar suara tangisan Sehun tidak lagi terdengar.
"Sehun...kau tidak apa-apa kan?" Krystal menyesal dengan apa yang ia dengar dari penjelasan Sehun bahwa Irene telah mengkhianatinya.
"Biarkan dia tenang, jangan ajak dia bicara," ucap Kai memberi saran.
*
Irene duduk melamun di kamar dengan kondisi matanya sembab. Gadis itu sudah menangis selama hampir satu jam penuh mengingat pembicaraannya dengan Park Chanyeol di sebuah tempat makan tadi sore.
"Maaf, aku terlambat," Chanyeol melingkarkan dua lengannya yang panjang di bahu Irene, kemudian memeluk tubuh kekasihnya itu sesaat.
Mereka lantas duduk berhadapan. Chanyeol mengelus lembut pipi Irene sambil memandangi wajah gadis itu yang terlihat malu-malu. Entah kenapa meskipun hanya dengan memandangnya saja, Chanyeol merasa hatinya cukup tenang.
"Kau tahu, kau gadis pertama yang membuatku merasa sangat bahagia," Chanyeol tertawa kecil setelah menyelesaikan kalimatnya. "Ach...aku mulai menggombal lagi padamu," wajahnya mendadak memerah karena malu yang lantas menutupinya dengan kedua telapak tangan.
"Tidak apa-apa...," Irene menurunkan tangan Chanyeol dari wajahnya. "Bahkan ada lelaki yang tukang menggombal jauh lebih parah darimu."
"Wah...apa dia sainganku?"
"Kurasa memang dia sainganmu."
Irene dan Chanyeol lantas beradu pandang dan sedetik kemudian mereka sama-sama tertawa.
Setelah obrolan singkat itu, mereka lalu memesan dua cangkir coklat panas dan setangkup roti bakar keju. Chanyeol memotong roti itu menjadi beberapa bagian dan mulai menyuapi Irene.
"Kenapa kau tidak ikut makan?" tanya Irene dengan mulut penuh.
Chanyeol menggeleng lemah.
"Kau saja yang makan, aku sudah kenyang."
Chanyeol lalu menunduk cukup lama, berpikir kalimat apalagi yang harus ia katakan. Dan itu justru membuat dua mata Irene jadi menyipit curiga.
"Irene...," Chanyeol meletakan garpu di atas piring dengan mendesah berat. "Aku terpaksa harus mengatakan ini padamu."
Irene yang sejak tadi memasang ekspresi ceria, mendadak berubah serius. Wajahnya pun mulai menegang.
Irene bungkam, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya selain rasa terkejut.
"Apa kau mau kita tetap berhubungan seperti ini sementara kita berjauhan?"
"Chan..."
"Aku tahu kau akan sulit menerimanya, tapi aku harus tetap menjalankan kewajiban dan tugasku disana. Maaf, sudah membuatmu kecewa."
Irene masih tidak bisa berkata apa apa. Melihat wajah sedih yang Chanyeol tunjukan saja semakin membuat dadanya terasa nyeri.
"Aku ingin setiap hari melihatmu, aku ingin setiap kali menghabiskan waktu bersamamu. Kau pasti memiliki perasaan yang sama sepertiku kan?" Chanyeol terlihat frustasi, ekspresi yang baru pertama kali Irene lihat dari lelaki itu.
"Sudahlah Chan, kita berdua akan menghadapinya bersama-sama."
"Belum lama ini aku menemukan kabahagiaan baru bersamamu, Ren. Sedih rasanya membayangkanmu makan sendiri dan tidak ada lagi yang mengantarmu membeli kain untuk kelas praktek, atau mengajakmu jalan-jalan seperti ini. Ach....," Chanyeol mendongak menahan air matanya agar tidak terjatuh. "Aku sangat emosional hari ini, maafkan aku...."
Irene mengelus punggung Chanyeol dengan lembut meskipun ia sendiri juga tidak menyangka bahwa perpisahan mereka akan segera terjadi.
Pertemuan yang Irene kira akan membahagiakan seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, justru membawa luka di hati mereka masing-masing
Baiklah, Suwon memang masih ada di Korea, mereka tidak terpisah oleh luasnya benua. Tapi tetap saja menjalani hubungan jarak jauh itu akan terasa sulit dan berbeda. Irene mungkin akan kehilangan sikap hangat yang selalu Chanyeol tunjukan kepadanya. Ia akan merindukan masa-masa indah itu dalam kurun waktu yang cukup lama.
Air mata Irene telah mengering. Gadis itu membasuh wajahnya di wastafel kamar kemudian mendongak untuk melihat jam dinding yang tergantung cantik di atas sana. Sudah hampir pukul satu pagi dan Sehun belum juga kembali ke apartemen.
Irene baru selangkah keluar dari kamar, ketika tiba-tiba pintu apartemen terbuka. Kai dan Krystal memapah Sehun yang mabuk berat dan mendudukannya di salah satu sofa.
Benci, Irene sangat benci dengan situasi semacam ini.
"Dia minum-minum bersama kami," kata Kai memberitahu. "Permisi," Kai menarik tangan Krystal untuk segera keluar dari pintu apartemen namun mendadak Krystal berbalik dan mendekat ke arah Irene.
"Krystal, No! It's not your business, don't do that honey..." Kai yang tahu gelagat kekasihnya, bermaksud ingin melarang apa yang akan Krystal katakan.
"She has to know what happen."
Krystal yang keras kepala tidak mau mendengarkan ucapan Kai. Dengan ekspresi sengit, ia pun menatap wajah Irene lekat-lekat.
"Sebenarnya apa sih yang menurutmu kurang dari diri Sehun untukmu, eoh? Oh come-on Irene, kau bukan wanita secantik dewi-dewi Surga. Kau bahkan tidak terlihat istimewa di mataku, tapi kenapa kau berani sekali membuat sahabatku terluka, hah?"
"A- aku tidak mengerti...," Irene menggeleng lemah. Jujur, ia memang tidak tahu kemana arah pembicaraan Kristal.
"Sehun tidak pernah terlihat sesedih sekarang, tapi hari ini kau membuatnya begitu. Pikirkan apa kesalahanmu dan minta maaflah padanya. Pikirkan juga tentang janji pernikahan kalian di hadapan Tuhan!" selesai berbicara, Krystal berbalik dan berjalan keluar dari apartemen dengan nafas memburu mensejajari langkah Kai.
"I told you before, that wasn't your business," Kai melirik sebal ke arah Krystal. Don't you hear me?"
"You shut-up!"
Sementara di dalam apartemen, Irene dan Sehun kini duduk bersebelahan dengan saling terdiam. Kedua mata mereka sembab, tidak saling bicara ataupun sekedar menyapa.
Sehun kembali menurunkan letak topinya untuk menutupi matanya yang masih memerah dan kembali mulai basah.

"Kenapa kau hanya mengajak sahabat dekatmu untuk pergi minum-minum? Ajaklah aku sesekali dan beritahu aku bagaimana caranya agar aku bisa mabuk sepertimu," Irene membuka suara, kemudian tersenyum getir. "Bukankah suami istri sebaiknya pergi kemanapun bersama-sama?"
"Jangan hiraukan ucapan Krystal," kata Sehun lirih. "Jangan minum, jangan mabuk, kau gadis baik-baik tidak pantas untuk melakukan itu. Hidup yang kau jalani juga harus lebih bahagia daripada hidupku."
Mata Irene mulai berkaca-kaca, bibirnya pun bergetar hebat.
"Maaf...karena aku menerima perasaan orang lain sebelum kau mengatakannya padaku."
Sehun menutup matanya dalam. Lambat laun, mau tidak mau, ia sendiri akan mendengar pengakuan menyakitkan itu dari mulut Irene.
"Maafkan aku...aku terlambat menyadarinya, aku terlambat untuk memahami bagaimana perasaanmu padaku," Irene meletakan satu tangannya di atas punggung tangan Sehun.
Hening untuk beberapa saat. Hanya suara detikan jam dinding yang menemani kesunyian di dalam ruangan itu bersama dengan suara isak tangis yang kini tidak bisa lagi Irene tahan lebih lama.
Sehun perlahan meraih telapak tangan gadis itu dan menautkan jemarinya disana. Ia kemudian memalingkan wajah Irene untuk bersedia membalas tatapan kekecewanya yang paling dalam.
"Cintai dia jika itu pilihanmu, biar aku saja yang mengalah."
*
Chanyeol duduk dengan memeluk kedua lututnya. Ia membenamkan kepalanya disana, menangis seorang diri di pojok balkon kamar setelah Yeri memberitahu bahwa gadis yang sedang berkencan dengannya, yang sangat ia cintai, dan yang mengisi hatinya akhir-akhir ini ternyata telah menikah dan menjadi istri dari seseorang karena suatu kejadian buruk.
"Berhenti mencintai sahabatku, kak. Berhenti menjadi pengganggu rumah tangga mereka. Bae Irene bukan milikmu, dia milik Oh Sehun. Cinta macam apa sih yang sedang kau jalin dengannya? Kau hanya akan mengotori dirimu sendiri, menyiksa batinnya dan melukai perasaan semua orang. Kumohon hentikan!"
Cinta yang sudah lama Chanyeol ingin raih, yang baru saja ia rasakan, ia dapatkan, ia nikmati, kini seperti serpihan abu beterbangan di langit luas. Semakin tinggi dan menghilang, semakin matanya mencari dimana serpihan kecil itu pergi dan ingin ia dapatkan kembali.
Tidak mudah untuk bisa melepasnya begitu saja. Chanyeol merasa sakit, tapi sisi lain dirinya ingin mempertahankan cintanya bersama Irene selama ia masih bisa memberikan rasa itu dengan tulus.
Chanyeol berdiri, ia mengusap air matanya dengan kasar, lalu masuk ke dalam kamar. Kemudian ia meraih obat tidurnya beberapa butir, menenggaknya, dan memukul-mukul dinding kamar hingga meninggalkan bekas membiru dan luka di ruas tulang punggung kedua tangannya. Setelah itu Chanyeol hanya membiarkan tubuhnya tergeletak di lantai menatap langit-langit kamar dan kembali merenung meratapi keadaan.
Haruskah ia mengakhirinya?