
Dua hari setelah acara makan malam yang memalukan seluruh keluarga, Tuan Oh memanggil Sehun dan Irene untuk datang ke rumah. Awalnya Irene menolak mentah-mentah ajakan Sehun karena tentu saja ia tahu akan ada sesuatu yang buruk terjadi disana, tapi Sehun terus memaksa.
Dengan penampilan seadanya, Irene datang ke rumah kediaman keluarga Oh yang luasnya nyaris sebesar istana. Mereka berdua mengikuti langkah sekretaris Tuan Oh menuju ke ruang keluarga dimana Tuan dan Nyonya Oh tengah duduk menunggu dengan wajah sangat tidak bersahabat disana.
Irene dan Sehun memberi salam hormat lalu duduk berdua menghadap keduanya denhan perasaan sedikit khawatir.
"Bae Irene, dari mana asalmu?" tanya Tuan Oh mulai menyelidiki.
"Busan."
"Lalu, apa pekerjaan orang tuamu?"
"Ayahku bekerja menjadi karyawan di salah satu Bank swasta, sementara ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa," Irene menjawab sambil sesekali menatap Sehun yang sepertinya sama sekali tidak membantu.
"Apa kau punya saudara kandung?"
"Ya, satu adik laki laki."
Selesai bertanya, Tuan Oh mengangguk-angguk kecil. Sekarang ia menatap putranya dengan ekpresi marah sekaligus malas.
"Hey, kau...apa kuliahmu sejauh ini berjalan dengan lancar? Kudengar kau mengoleksi banyak pacar di kampus. Kabur juga dari apartemen, apa maumu, eoh?"
"Aku hanya ingin menjadi orang yang bebas," jawab Sehun dengan nada tegas.
"Bebas untuk menggauli anak orang, begitu yang kau maksud?" kini Nyonya Oh yang ikit andil bersuara. "Kami sudah bersusah payah mengenalkanmu dengan wanita yang sederajat, berpendidikan dan cantik. Tapi apa yang sudah kau lakukan dengannya, apa?!" jari telunjuk wanita itu mengarah pada Irene yang hanya menunduk terdiam meski dalam hati ia merasa jengkel karena dirinya tidak tahu alasan apa yang membuatnya terlihat seperti gadis rendahan di mata mereka.
"Bu, aku tidak menyukai Tzuyu dan aku benci dengan perjodohan semacam ini. Aku bukan tipe orang seperti ibu yang mau saja dijodohkan dengan ayah sekalipun kalian tidak saling mengenal hanya karena masalah bisnis. Bahkan sampai detik ini kalian masih saja selalu bertengkar dan mementingkan diri sendiri. Aku tidak mau menjalani hidup seperti itu."
"Sehun!!!," Tuan Oh yang kesal lantas berdiri, kemudian pria itu menampar wajah Sehun dengan sangat keras hingga Irene bergemetar ketakutan sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Aku ingin menikah dengan wanita pilihanku, aku tidak mau menikah hanya untuk kepentingan bisnis kalian yang tidak masuk akal itu!"
"Jaga bicaramu!"
Tuan Oh mencengkeram bagian kerah baju Sehun, menarik putranya untuk berdiri dan memukulinya berulang kali hingga tubuh Sehun tersungkur di lantai dengan sudut bibir pecah dan berdarah. Tapi Sehun sedikitpun tidak melawan karena ia tahu amarah ayahnya tersulut akibat perbuatannya yang memang lancang.
Nyonya Oh sendiri hanya sesekali memekik berusaha untuk memisahkan keduanya. Di sisi lain, Irine yang tidak tahu harus bagaimana hanya berdiri di pojok ruangan dengan bibir dan tangan yang bergemetar ketakutan. Ia tidak pernah melihat seseorang dipukuli di depannya secara langsung dan memurutnya, tindakan Tuan Oh sangatlah berlebihan.
"Sehun...," Irene yang tidak tahan lagi melihatnya, memutuskan untuk mendekati Sehun dan membantunya berdiri. Ia memegang erat lengan Sehun sebelum akhirnya ia memilih berlindung di balik tubuh tinggi itu.
"Terserah saja jika kalian tidak mau merestui hubungan kami. Aku, dengan kesadaran penuh lebih memilih menikah dengan Irene daripada menikahi Tzuyu hanya karena kepentingan bisnis kalian. Kami pergi, selamat malam," Sehun menggandeng tangan Irene dan menarik gadis itu untuk segera keluar bersamanya.
*
Sehun dan Irene tidak memiliki tujuan lain dan langsung saja kembali ke tempat kost mereka. Keduanya menaiki anak tangga dalam diam kemudian sama-sama berhenti di depan pintu kamar masing-masing.
"Jika lukaku sudah sembuh nanti, akan kutemui kedua orang tuamu di Busan. Kau tidurlah, selamat malam," kata Sehun tanpa menatap pada lawan bicaranya. Beberapa kali dia menghempas nafas kasar, lalu segera membuka pintu dan masuk ke dalam.
Irene melakukan hal yang sama, ia masuk ke dalam kamar kostnya dan memilih duduk termenung di depan tv.
Apa yang ia lihat beberapa menit yang lalu sangatlah mengerikan. Sebuah pemandangan yang menyajikan pertikaian antara seorang ayah dan anak yang terjadi karena masalah ego masing-masing. Orang tua yang ingin hidup anaknya bahagia dengan memperkuat bisnisnya di pasaran, sementara ada anak yang berharap dirinya bisa hidup bebas sesuai dengan pilihannya sendiri. Irene bahkan tidak tahu siapa yang pantas untuk disalahkan dari keduanya.
Sekarang gadis itu bangkit dari sofa. Ia membuka laci meja belajar untuk mengambil sesuatu dari dalam sana, lalu berhambur keluar menuju kamar Sehun. Meskipun bagi Irene lelaki itu sangatlah menyebalkan, tapi tetap saja Irene tidak tega melihat kondisinya yang kini terluka.
Jadi tanpa harus mengetuk pintu kamar terlebih dahulu, Irene langsung membuka pintu itu dan masuk. Ia mendekat ke arah Sehun yang sedang duduk terdiam di tepian tempat tidur dalam lamunannya yang dalam.
"Kau tidak apa-apa?"
Sehun menoleh sebentar tanpa mengatakan apapun, hanya hempasan nafasnya yang berat yang dapat Irene rasakan sebagai jawaban bahwa ia memang tidak merasa baik-baik saja.
"Pakai ini untuk mengobati lukamu itu," Irene meletakan plester dan obat oles yang ia bawa di atas nakas.
"Tidak perlu."
"Tapi sudut bibirmu itu berdarah.
"Hanya luka kecil."
"Ya sudah, terserah kau saja. Dan tentang kedua orang tuaku, biar aku yang akan menjelaskannya pada mereka. Tapi apa kau serius kita berdua benar-benar akan menikah?"
"Ehm," Sehun mengangguk kecil,"...sebelum kedua orang tuaku menetapkan jadwal pernikahanku dengan Tzuyu. Karena aku jelas tahu mereka tidak akan membiarkanku begitu saja."
"Tapi bagaimana dengan perasaan kita? Maksudku, aku tidak bisa mencintaimu," kata Irene jujur, nada bicaranya pun terdengar menyedihkan.
Sehun lalu berkecap sekali itu.
"Sudah kubilang cinta itu bisa dipelajari, cinta bisa datang karena terbiasa. Toh aku ini juga sangat tampan kan, matamu saja yang nyaris tidak bisa melihatnya."
"Tampan itu tidak bisa menjadi jaminan kebahagiaan pasanganmu. Aku hanya akan menyukai lelaki yang tulus mencintaiku, bukan sekedar melampiaskan nafsu bejatnya saja dengan tubuhku! Kau juga sangat brengsek, bagaimana aku bisa menyukaimu?"
"Bentuk tubuhmu saja tidak bagus, sadari itu Ren."
"Sialan kau!!!" Irene melotot dan dibalas dengan senyuman meremehkan dari Sehun.''Aku malas berbicara denganmu, selamat malam!"
Irene keluar dengan membanting daun pintu keras. Ia menyesal, untuk apa juga dia bermurah hati memberi sedikit kebaikan pada Sehun. Cih!!!
*
"Ibu, apa kalian baik-baik saja di Busan?"
[Kami semua baik, kau bagaimana Ren? Kuliahmu lancar]
"Ya, semuanya beejalan dengan lancar," Irene tersenyum mendengar suara ibunya yang sudah hampir tiga bulan ini mereka tidak saling bertemu. Jujur saja ia sangat rindu dengan keluarganya di Busan, juga dengan ayah dan adik laki lakinya, Bae Joyeon.
Irene hanya menjadi pendengar baik saat ibunya tidak berhenti bicara, menasehatinya banyak hal dan mengharapkan Irene untuk segera lulus kuliah dengan nilai yang bagus dan meraih apa yang di cita-citakan. Ibunya juga memberitahu mengenai beberapa kejadian lucu di rumahnya yang membuat Irene jadi tertawa kecil.
Irene yang awalnya ingin memberitahu mengenai hubungan dan rencana pernikahannya dengan Oh Sehun, mendadak mengurungkan niatnya. Ibu dan ayahnya disana pasti akan sangat terkejut, marah, dan menanyakan kenapa putrinya harus menikah secepat itu.
Jawabannya sangat klise, karena ia sudah ternoda. Tapi Irene yakin jika mereka mendengar kalimat kotor semacam itu secara gamblang, keduanya pasti akan pingsan saat itu juga.
Sebenarnya Irene ragu, ia juga belum memiliki keinginan untuk menikah. Tapi bagaimana kalau ia hamil dan Sehun merubah pikirannya? Apakah anakmya nanti itu harus terlahir tanpa seorang ayah? Dan bagaimana dengan masa depan Irene beserta anaknya dalam memenuhi kebutuham hidup?
Menikah dengan Sehun bukanlah jalan yang terbaik, tapi hanya sebagai bentuk pertanggungjawabannya saja. Itulah hal yang dirasa perlu oleh Irene untuk mengikat hubungan antara dirinya dengan Sehun. Jadi seandainya terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya, lelaki itu tidak akan bisa kabur seenaknya dan Irene masih memiliki hak penuh untuk menuntut lelaki itu. Irene pun sebenarnya tidak begitu peduli dengan motif Sehun yang menikah hanya untuk menghindari acara perjodohan. Persetan dengan urusannya. Masalah mencintai itu urusan belakangan, Irene tidak mau ambil pusing dan membuat semuanya menjadi rumit.
"Baiklah bu, aku tutup dulu telponnya ya. Aku akan pulang ke rumah setelah ujian semester berakhir.."
Yeri yang sedari tadi mendengarkan di samping Irene hanya tersenyum ceria. Yeri mengenal baik keluarga Irene, dia juga pernah dua kali menginap di rumah sahabatnya itu saat liburan akhir semester.
"Yer, bisakah kau rahasiakan ini dari teman-teman? Ada sesuatu yang ingin kuberitahu padamu."
Yeri mengangguk dan mendekatkan telinganya di bibir Irene karena ia mengerti itu pasti sesuatu yang penting dan orang lain tidak boleh tahu, terkecuali dirinya.
"Aku akan menikah."
"Hah?" tanpa sadar Yeri memekik kaget karena yang ia tahu, Irene tidak pernah sekalipun memiliki seorang pacar. Jadi alasan apa yang membuatnya harus mengatakan jika dirinya akan menikah."Apa kau sedang bercanda? Itu tidak lucu, Ren."
Irene memasang ekspresi serius. Dia nyaris tidak ingin bercanda sedikitpun kali ini.
"Aku akan segera menikah. Datanglah menjadi saksi pernikahanku karena aku akan menikah diam-diam tanpa ada satu keluargakupun yang tahu."
"Kau gila ya?! Ada apa ini, kenapa mendadak sekali?"
Irene tidak lagi menyahut. Pernikahan seharusnya menjadi satu hal yang bahagia, tapi Irene justru merasa begitu sedih. Janji di acara pemberkatan pernikahan yang akan ia dan Sehun lakukan bukanlah janji suci, melainkan hanya sebuah janji tanpa arti. Janji kepada Tuhan yang mungkin akan menjadi sebuah dosa besar baginm keduanya.
"Apa ada sesuatu terjadi padamu? Hey Ren, apa-apaan ini? Jelaskan padaku!" Yeri mengguncang bahu Irene dengan keras. Namun sekalipun Yeri memaksa, Irene tetap diam saja. Ia bersikeras untuk tidak mau memberitahu alasan yang sebenarnya pada siapapun.
*
Sehun berdiri di depan kaca besar di ruangan sebuah salon. Ia mengenakan jas berwarna hitam dangan dasi yang senada. Sementara rambutnya yang ber gel tertata rapi ke belakang, menampilkan sosok dirinya yang tampak terlihat jauh lebih maskulin. Sehun terdiam sesaat menatap dirinya yang pada pantulan cermin, dalam hati dia masih beluma percaya bahwa hari ini ia akan mengakhiri masa lajangnya.
"Apakah kau cocok dengan bentuk yang seperti ini?" Kai datang menghampiri bersama Kristal. Keduanya baru saja kembali dari toko perhiasan dan menunjukkan sepasang cincin berlian kepada Sehun.
Sehun mengamati cincin berlian itu lalu mencobanya sebentar sebelum akhirnya ia mengangguk-angguk mengiyakan.
"Bagus," pujinya datar.
"Bagaimana dengan ukuran cincin calon istrimu itu?" tanya Kristal."Aku hanya mengukurnya dengan jari tanganku dan semoga itu cukup."
"Jarinya tidak jauh berbeda dengan ukuranmu kurasa."
Kai dan Kristal menatap Sehun dengan sedikit perasaan miris. Mereka bahkan seperti sedang bermimpi sambil bertanya-tanya dalam hati apakah lelaki yang sekarang ada di depan mereka itu benar-benar Sehun? Untuk alasan apa si playboy itu mendadak ingin menikah?
"Sehun...kenapa kau berubah aneh seperti ini sih?Apakah kau benar-benar harus menikah sekarang?" Kai menepuk pundak Sehun pelan dengan ekspresi ingin tahu. "Gadis yang akan kau nikahi itu, apakah kau mencintainya?"
"Tidak," jawab Sehun datar.
"Apa gadis itu juga tidak mencintaimu?" giliran Kle yang bertanya.
"Hmm," Sehun mengangguk.
Kai dan Kristal saling beradu pandang dalam sorot mata bingung sekaligus terkejut.
"Kau ini sudah gila ya? Dasar playboy sialan!" kesal dengan tingkah laku Sehun yang menurut Kle tidak jelas, gadis itu menjitak kepalanya cukup keras.
Sehun meringis kesakitan, kemudian merapikan kembali rambutnya yang sedikit berantakan.
"Apa...karena kau menghamilinya, begitu?" tebak Kristal masih merasa penasaran. Karena sejauh yang dia tahu, Sehun adalah tipe lelaki yang tidak pernah serius dalam menjalani hubungan dengan siapapun.
"Tidak"
"Ah sudahlah, kau benar-benar membingungkan!"
Sehun hanya tersenyum senyum tanpa menghiraukan kedua sahabatnya yang terua berbisik-bisik membicarakan keputusannya. Lelaki itu kemudian berjalan sedikit menjauh dari tempat yang sejak tadi didudukinya untuk membuat panggilan telepon.
[Hallo] terdengar suara lembut dari seberang sana.
"Kak, aku hanya ingin memberitahumu bahwa hari ini aku akan menikah."
Hening...Baru ketika Sehun mengulang kembali pernyataannya, suara diseberang sana langsung berteriak keras
[Jangan bercanda!!!]
* Hey, Playboy*
*