Gusmu Imamku

Gusmu Imamku
(09)



Semuanya telah tertulis indah di lauhul mahfudz, kita hanya harus percaya, jika semuanya akan baik-baik saja. -Gusmu Imamku


\=\=\=


Aktivitas Fatah mulai pagi ini sudah seperti biasanya, bedanya hari ini sampai hari-hari seterusnya akan lebih berwarna semenjak hadirnya Liana di hidupnya.


Fatah melangkah memasuki dapur untuk melihat apa yang sedang istrinya lakukan di sana.


Bibirnya ia sunggingkan, tatkala melihat Liana sedang menggoreng lele untuk sarapan mereka berdua nanti.


"Masak apa?" Suatu pertanyaan yang tak perlu Fatah katakan, terucap begitu saja hanya untuk sekedar basa-basi.


"Maunya masak apa?" Tanya balik Liana sambil pindah tempat untuk menumbuk bumbu sayuran yang nanti akan ia masak.


"Masak apa ajalah, yang penting kamu yang masak." Fatah terus mendekati Liana, sampai posisinya berada tepat di belakang istrinya.


"Jeroan dinosaurus mau?" Liana membalikan badannya ke arah Fatah yang tersenyum ke arahnya.


"Jangankan jeroan mas Dino, jeroan kamu aja aku mau kalo kamu kasih,"


"Apaan sih Albee ini, gak jelas banget." Liana menggeleng heran sambil membalikan badannya lagi untuk menumbuk bumbunya tadi supaya lebih halus.


Fatah terkekeh ringan sambil melingkarkan tangannya di perut Liana. "Aku mau keluar, liat kondisi warung makan sama toko-toko lainnya yang aku tinggal beberapa hari ini." Ucapnya.


"Mau sarapan dulu apa langsung berangkat?"


"Langsung aja, bentar banget kok aku di sananya. Gak sampai 1 jam." Jawab Fatah sambil mengecup belakang kepala Liana.


"Oh."


"Assalamualaikum, Ning. Ini toma- ...," Holif tiba-tiba muncul dari pintu dapur sambil membawa tomat di tangannya. Spontan mulutnya ia tutup dengan tangan, dan kepala sedikit menunduk melihat keberadaan Fatah yang sedang memeluk Liana mesra di depannya.


Fatah dan Liana menoleh ke sumber suara. Liana tersenyum canggung sambil berusaha melepaskan Fatah dari dirinya. Tapi, Fatah hanya menatap Holif cuek.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Liana dan Fatah.


"Lepas, Bee." Desis Liana yang tak Fatah hiraukan.


"Bawa sini, Mba. Tomatnya!" Suruh Liana setelah ia membuang nafas panjang.


Holif mengangguk lalu sedikit demi sedikit maju ke depan, untuk memberikan pesanan Liana tadi pagi buta-buta sekali, saat ia sedang di kebun Fatah, mengambil buah-buahan milik suami ningnya itu, tapi malah kepergok aksinya.


"Siapa nama kamu?" Pertanyaan itu lolos begitu saja tanpa di minta dari bibir Fatah setelah posisi Holif sudah begitu dekat dengannya.


Fatah melepaskan pelukannya sambil terus menyorot Holif.


Holif gantian menatap Fatah. "Holif, Gus." Jawabnya dengan suara pelan.


Seperkian detik mata mereka saling tatap, ada rasa aneh yang tiba-tiba menyerang hati Fatah, rasa aneh namun luar biasa menyenangkan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya kepada siapapun termasuk pada istrinya sendiri.


Holif memutus tatapan itu sambil tersenyum pada Liana. "Saya pamit ke asrama dulu, Ning Gus. Assalamualaikum." Pamitnya pada Liana dan Fatah, sembari buru-buru keluar dari dapur ndalem.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Fatah dengan suara lirih, sangat lirih.


Liana menatap Fatah dengan tatapan miris.


Aku tahu ini akan terjadi. Tapi, semoga Allah selalu melindungi dan menjaga keutuhan pernikahan kita, Bee.


"Albee!" Panggil Liana karena Fatah tiba-tiba terdiam lama.


"I-iya?" Fatah menoleh ke arah istrinya dengan wajah gugup.


"Udah, sana berangkat! Katanya tadi mau liat kondisi rumah makan."


Fatah mengangguk cepat, lalu segera pergi menuju garasi untuk mengambil motornya setelah ia mengucapkan salam pada Liana.


"Astagfirullah. Jangan jadikan hati hamba terjatuh pada perempuan selain istri hamba sendiri, Ya Allah." Fatah mengelus-elus dadanya sambil menaiki motornya dengan tubuh yang memakai kaos putih dengan bawahan sarung menuju 7 tempat makan dan 3 toko yang tak jauh dari posisi pondoknya menggunakan motor matic miliknya.


Tujuh tempat makan itu, semuanya miliknya. Ada 3 tempat makan yang di pegang beberapa santrinya. Tapi Fatah mengukir sistem kerjanya, karena santrinya juga butuh ilmu untuk di pelajari. Sementara itu, 3 tokonya mutlak di pegang karyawannya.


Saat melewati masjid, Fatah melihat Khaliq tengah bersih-bersih latarnya dengan mulut komat-kamit membaca salawat.


"Kang!" Panggil Fatah sambil memberhentikan motornya di tengah-tengah jalan.


Khaliq yang merasa dipanggil segera berlari menuju pelakunya. "Ada apa, Gus?"


"Nanti sore sehabis salat asar ikut saya ke ladang,"


"Siap Gus." Khaliq mengangguk mantap.


"Yaudah kalo gitu, saya lanjut dulu. Assalamualaikum." Fatah kembali menjalakan motornya.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Khaliq.



Di sepanjang jalan kenangan, pikiran Fatah tak bisa berhenti mengingat wajah babyface milik santrinya tadi yang bernama, Holif.



Bibirnya ia sunggingkan tipis. "Apakah Liana mau jika dia mempunyai teman baru?" Tanyanya pada diri sendiri. "Ah, bisa jadi Liana mau. Tapi, apakah aku benar\-benar akan menikahinya jika aku telah jatuh hati padanya?"



"Heum, kita lihat saja nanti bagaimana akhir kisah cintaku."



yang perlu di khawatirkan jika ketetapan takdir sudah tertulis dan terancang indah oleh sang Khaliq.



Setelah selesai memasak, Liana bergegas membersihkan depan ndalemnya setelah memutar mesin cuci untuk mencuci baju Fatah dan bajunya.


Terlihat banyak dedaunan kecil yang berjatuhan di sekitar pohon yang Fatah tanam 3 tahun lalu.


Saat Liana mendongak melihat pemandangan di depan ndalemnya, dari jauh ia dapat melihat seseorang yang mirip sepupunya tengah duduk bersantai di bawah pohon mangga.


Oh ya, ndalemnya dengan asrama putra E itu tidak terlalu jauh jaraknya. So, jika Liana mau ia bisa melihat apa yang kakang santri lakukan di depan asrama.


"Sahal bukan sih itu?" Tanya Liana pada diri sendiri.


Hubungannya dengan Sahal hanya sebatas sepupu dari jalur ayah. Tapi, kedekatan rumah mereka tidak sampai 30 langkah dari rumah masing-masing.


Sahal adalah anak dari ketua yayasan yang ayah Liana dirikan. Rumah pria itu pun dibangun di dalam pondok pesantren dekat rumah ayah Liana.


Saat Liana ingin melanjutkan bersih-bersihnya, dan mengabaikan apakah orang itu benar Sahal atau bukan. Mata pria itu tiba-tiba menyorot ke arahnya dengan ekspresi wajah kaget tak percaya.




"Ajeng teng pundi, Mas Sahal?" Sholihin bertanya kepada temannya yang sedang berkunjung ke asrama tempat ia mondok. \(Mau ke mana, Mas?\)



"Ngarep, rep jegongan." \(Duduk santai di depan\).



"Yompun nek ngoten, kulo tinggal riyen teng kamar mandi, ajeng nyuci baju." Sholihin lalu segera pergi menuju kamar mandi yang ada di belakang asramanya sambil membawa ember pakaian kotor dan hanger. \(Yaudah kalo gitu, saya tinggal dulu ke kamar mandi dulu, mau nyuci baju.\)



"Hmm." Sahal, nama teman sholihin tadi hanya mengangguk sambil berjalan ke kursi panjang yang di tempatkan di tempat yang cocok untuk bersantai. Yah, di bawah pohon mangga yang rindang.



Sahal menguap kantuk sambil mengangkat sebelah kakinya ke atas kursi, lalu ia mendongak menatap indahnya awan di hamparan langit cerah.



Ia merenggang tubuhnya yang pegal\-pegal, karena tidak merasakan nikmatnya tidur tadi malam.



Saat ia ingin mencari pemandangan luar biasa, matanya malah mengarah ke ndalem gus Fatah dan melihat wanita yang tak asing di penglihatannya.



"Mba Liana?"



\=\=\=



Kalo cerita ini buat jadi poligami series mau nggak? Kalo aku sih enggak:v tapi nggak tau nanti sama gue Fatah.



Follow aku kalo kalian sayang aku, kalo enggak ya, nggak usah. Hahahhaha



azzindaah\_



Instagram:



\(@\) azzindaah\_



VOTE DAN COMMENT KALIAN ITU MAKANAN BUAT AKU BISA SEMANGAT LANJUTIN CERITA INI. SO, VOTE DAN COMMENT LHA, WAHAI READERS BUDIMAH, HAHHAHAH.



Lampung Tengah, 25 Maret 2020



Azzah Indah Irmiyana


Yang Cai \_阳菜🌻