
Nakalku hanya sebatas suka makan buah-buahan milik gus Fatah dan membuat ulah sana sini dari pagi sampai petang datang -Holif
\=\=\=
Liana terdiam sambil memfokuskan dirinya dengan apa yang bisa ia lihat saat mobil sudah memasuki gerbang pondok pesantren yang Fatah kelola.
"Nda!" Panggil Fatah sambil menyodorkan permen karet yang ia beli tadi kepada Liana.
"Dalem, Bee?" Liana menoleh ke Fatah sambil tersenyum tipis, tapi matanya langsung melihat tangan suaminya yang memegang permen karet dan disodorkan kepadanya. "Hehe, makasih." Sambungnya sambil mengambil permen tadi.
"Sama-sama." Balas Fatah sambil tersenyum lembut.
Liana mengarahkan matanya kembali ke arah kaca untuk melihat bangunan pondok yang besar dan menjulang tinggi dari dalam mobil.
"Eum Nda, bantuin aku ya," pinta Fatah.
"Bantuin apa, Bee?" Tanya Liana sambil menoleh ke suaminya lagi.
"Bantuin ngurus asrama putri, biar bisa lebih teratur kalo ada orang terpercaya yang menghandlenya." Jawab Fatah.
Liana hanya bisa mengangguk mengiyakan.
"Nda!" Panggil Fatah saat ia tak sengaja melihat santri putra yang paling josh di pondoknya sedang berdiri di pinggiran kolam ikan.
"Iya Bee, ada apa?"
Fatah menunjuk santri putra tadi. "Namanya Abdul Khaliq. Kerjaannya bantah pengurus, selalu telat waktu ngaji, kebiasannya menghilang kalo dicari. Tapi dia salah satu santri cerdas, sekali duduk bisa hafal 110 bait nadzhoman," jelas Fatah tentang santrinya yang bernama Khaliq itu.
"Maa syaa Allah, cerdas banget dia." Kagum Liana sambil terus memperhatikan gerak-gerik Khaliq.
"Santrinya Albar Fatahillah ya kudu cerdas dong." Gelak Fatah yang langsung mendapat cubitan pelan dari Liana di pinggangnya.
"Aww ...," rintih Fatah pura-pura sakit sambil mengusap-usap pinggangnya yang Liana serang tadi.
"Narsis banget."
"Ya emang iya." Balas Fatah dengan kekehan ringan sambil ia memelankan laju mobilnya ketika jaraknya sudah semakin dekat dengan ndalem yang akan ia tinggali bersama Liana mulai hari ini sampai maut memisahkan.
Malam harinya setelah salat isya, aktivitas pondok masih seperti biasanya, bedanya saat ini asrama putri sudah ada penghandle yang bisa dipercaya oleh pengasuhnya. Ya, siapa lagi kalo bukan istrinya gus Fatahillah, Liana Al\-Matin.
Liana berjalan pelan sembari melihat\-lihat sekitar asrama putri yang di sana ada 7 bangunan besar yang berdiri kokoh tak jauh darinya.
Saat ia sedang mengedarkan pandangannya di sekitar pepohonan rindang, mata Liana menangkap sosok perempuan bersarung hitam nangkring di dahan pohon rambutan sambil memakan buahnya dengan mulut yang mengunyah sembari malantukan salawat kepada kanjeng nabi Muhammad SAW.
"Ya nabi salam 'alaika, ya rasul salam 'alaika, ya habib salam 'alaika, salawat tullah 'alaika ."
Nyam ....
Nyam ....
Nyam ....
"Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad!" Serunya sambil menampilkan wajah ceria.
"Shallu'alaih." Lirih Liana sambil tersenyum tipis saat melihat gerak\-gerik santriwati suaminya itu.
"Shallu'alaih!!" Seru perempuan tadi yang mempunyai nama lengkap Umi Khalifah a.k.a Holif sambil mengambil rambutan yang bergelantungan di atas kepalanya.
"Payuh, dilutneh ngajine bubur iki. Balek lha, cangkemku wes lower nguyah rambutan ingu\-inguane gus Fatah, hahahhaha." \(Aduh, bentar lagi ngajinya selesai ini. Pulang ah, mulutku udah capek ngunyah rambutan milik gus Fatah, hahahhaha.\)
Holif loncat dari pohon sambil tersenyum bahagia. Tapi, luntur begitu saja di gantikan wajah kaget saat melihat seorang wanita memakai kerudung pink di depannya.
"Sampean kenapa duduk di atas pohon, Mba?" Tanya Liana sambil diam diri di tempat.
"Dih, ningnya SKSD. Sok akrab sok dekat." Balas Holif dengan nada jenaka agar tidak ada kecanggungan diantara mereka sambil ia melangkah mendekati Liana.
Padahal kalo canggung pun wajar, mereka itu baru ketemu. Emang dasarnya Holif aja orangnya yang SKSD.
"Emang sampean yakin kalo saya itu ning?" Tanya Liana dengan ekspresi pura\-pura bingung, padahal tak perlu dan tak ada yang harus dibingungi ketika berhadapan dengan santriwati nakal yang mempunyai masa depan misterius satu ini.
"Calon penduduk surga Firdaus ya jelas yakin dong Ningku yang cantik dan yang paling disayang gus Fatah yang sangat sok yes itu."
Liana terkekeh ringan. "Yakin banget sih kamu kalo bakal masuk surga,"
"Yakin dong, kan gusti Allah buwaiiik!" Holif menaik turunkan alisnya. "Ngomong\-ngomong ya Ning, yuk tak temeni jalan\-jalan mengelilingi asrama putri yang whar biyasah gede ini!" Ajaknya.
"Lho, pengurus itu bebas Ning," jawab Holif dengan wajah pura\-pura kaget.
"Pengurus?" Beo Liana.
"Masih calon, Ningku." Holif menyeringai watados.
"Emang ada yang mau ngangkat kamu jadi pengurus?" Tanya Liana dengan nada meremehkan.
"Ada dong, kan yang mau ngangkat aku Ning Liana Al\-Matin yang cuaaantek sejagad raya!"
Liana berdecak malas. "Udah\-udah, kamu balik ke asrama sana! Saya mau lanjut liat\-liat bangunan asrama putri."
"Salim dulu Ning, ngalap berokahe Ning cuantek." Holif menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Liana. Dan saat tangan mereka sudah bersentuhan, Holif mengecup punggung dan telapak tangan Liana berkali\-kali. "Assalamualaikum Ning!" Sambungnya lalu segera pergi menuju kamarnya, tapi belum sampai di langkah ke 10 tiba\-tiba ia berseru pada istri gusnya.
"Eh Ning, hati\-hati ya, diujung asrama C itu banyak kucing garongnya." Seru Holif lalu melanjutkan langkahnya dengan sangat ringan menuju kamarnya yang berada di asrama A.
Dia yang akan menggantikan posisiku.
Liana tersenyum tipis menatap kepergian Holif sebelum melanjutkan perjalanannya keliling asrama putri.
Oh ... itu kucing garong yang dimaksud mba tadi.
Liana melihat 4 mba santri yang tak ngaji dan malah sibuk ngerumpi sambil makan mie di ujung asrama C dengan tangan yang memegang benda terlarang di pondok, ponsel.
"Kenapa nggak pada masuk ngaji, Mba?" Tanya Liana sambil berjalan mendekati 4 santriwati tadi setelah ia mengucap salam dengan suara pelan.
"Sopo de'e? Enek seng kenal ogak?" Tanya mba santri yang bernama Manda. (Siapa dia? Ada yang kenal nggak?)
"Cha anyar paleng." Jawab temannya yang bernama Muti. (Anak baru mungkin.)
"Ck-ck, koe ana apalah ngelayap tekan kene? Balek neng kamar kono!" Usir mba santri lainnya yang bernama Fatma. (Ck-ck, kamu ada apalah main sampai sini? Pulang ke kamar sana!)
Liana mengangguk pelan. "Engken sampean kabeh kumpul teng asrama A nggeh. Tapi niku, sebelum e simpen rien hp e sampean timbang disita," Liana menujuk Fatma sambil tersenyum tipis. (Nanti kalian semua kumpul di asrama A ya. Tapi itu, sebelumnya simpan dulu hpnya kamu daripada disita,)
"Assalamualaikum." Pamitnya lalu segera pergi menuju asrama A.
"Dih, apaan sih dia, berani banget ngatur gue yang punya jabatan pengurus asrama A." Kesal Fatma sambil menyembunyikan ponselnya yang malah ketahuan orang lain selain temannya.
\=\=\=
Holif kok bisa tau tuh nama lengkap Liana, Liana anak kyai, dan istri gus Fatah? aneh gak?
Enggak!!!
Santri wajar kalo hebat dan bisa tau ini itu, karena dia dekat dengan gusti Allah.
Bandel² gitu, siapa tahu kan ya kalo sebenarnya dia itu wali Allah?
Sorry\-sorry jek ya guys, aku nggak tau cara meneranselt bahasa Jawa ke dalam bahasa Indo yang baik dan benar😂😂
Itu aja mungkin ada banyak kata yang salah aku artikan ke dalam bahasa Indonya.
Aku ini orang Lampung, dan aku menuliskan dialog menggunakan bahasa Jawa itu seperti yang biasa aku ucapkan, entah itu tulisannya benar atau enggak aku enggak tahu, muehehe.
Tapi kalo orang Jawa asli baca cerita ini mungkin paham lah, kalo nggak paham ya dipaham\-pahami aja lha, whahah.
HABIS PART INI BANYAK KATA KASARRRRR!!
Follow my instagram!!!!!!!!!!!!!
\(@\)azzindaah\_
23 Maret 2020
Azzah Indah Irmiyana
Yang Cai \_ 阳菜🌻