Gusmu Imamku

Gusmu Imamku
(13)



Terima hadiahmu dengan ongkir kecupan sayang, Dinda. -Albar Fatahillah


\=\=\=


"Mas Fatah!?" Seorang bocah berumur 10 yang sedang bermain barbie tercengo kaget mendapati mamas dan mba iparnya berkunjung ke rumahnya.


"Assalamualaikum, Butet!" Sapa Fatah sambil menghampiri adiknya yang bernama asli Hanna Nafisah.


"Wa'alaikumussalam, Mas Patah-Patah! Napa Mas Patah malah pulang ke sini? Balik sana!" Usir Nafis karena kesal dipanggil Butet.


"Suka-suka Mas Fatah lha mau pulang ke mana." Balas Fatah sambil membawa plastik berisi makanan dari rumah makannya tadi.


"Assalamualaikum, Mba Liana!" Salam Nafis saat ia lebih memilih berbicara dengan mba iparnya dari pada melanjutkan obrolan unfaedah dengan mamasnya yang super duper nyebelin itu.


"Wa'alaikumussalam, emm ...," Liana menggantung ucapannya lantaran bingung dan tak tahu harus membalas adik iparnya dengan nama apa, karena dia belum tahu siapa nama sebenarnya anak kecil di depannya itu.


"Kenalin aku Hanna Nafisah." Nafis memperkenalkan dirinya.


"Hanna?"


"Nafis." Nafis meralat ucapan mba iparnya.


"Oh, hai Nafis! Aku - ...," saat Liana akan memperkenalkan balik dirinya, Nafis langsung memotong ucapannya.


"Mba Liana. Hai Mba Liana!" Sapa Nafis sembari mengulurkan tangannya kepada Liana. "Semoga mba Liana bisa melajutkan wasiat ku setalah mas Patah sudah jarang ke sini lagi, yaitu membuat mas patah-patah kesal terus." Sambungnya dengan senyuman simpul.


Liana melirik Fatah yang tengah menatap Nafis kesal.


"Oke. Itu gampang bagiku." Jawab Liana dengan sumringah.


"Oke, itu juga gampang bagiku buat memadumu." Sahut Fatah dengan senyuman puas lalu ia segera masuk ke dalam ndalem dengan wajah sumringah.


*Madu?


Berdua?


Terikat luka*?


Liana mengingat jika mamanya yang juga dipoligami abahnya menjadi sedih, sungguh Liana tidak suka di duakan. Apapun alasannya itu jika suaminya nanti akan menduakannya Liana berjanji akan menyelesaikan masalah itu dengan percerian.


Fatah yang merasa Liana tidak ada di belakangnya langsung kembali ke teras rumah.


"Mba Li!?" Panggil Nafis kebingungan dengan apa yang terjadi pada wanita cantik di depannya itu. "Mba Li, woy! Sampean kenapa, Mba?" Sambungnya dengan lebih bingung lagi.


Dinda kenapa?


Fatah mengernyit bingung sembari terus melangkah mendekati istrinya.


"Tet! Kamu pergi dulu gih!" Usir Fatah agar adiknya segera menjauhi keberadaannya yang tengah bersama Liana.


Nafis langsung pergi setelah mendengusi mamasnya.


"Nda! Kamu kenapa, Sayang?" Fatah memegang kedua pundak Liana untuk di tegakan, karena posisi wanitanya itu tiba-tiba layu tanpa tenaga.


"Jangan!" Ucap Liana dengan meredupkan ekspresi wajahnya menjadi sedih.


"Jangan apa?" Tanya Fatah tak mengerti ke arah mana larangan istrinya itu.


"Jangan madu aku," jawab Liana dengan mata berkaca-kaca.


"Madu? Madu kamu sama wanita lain?" Tanya Fatah tak mengerti namun langsung di angguki Liana. "Bukannya kalo aku madu kamu nggak papa ya?" Sambungnya hanya untuk menggoda.


"Bee, ja-jangan dong." Air mata Liana tumpah begitu saja saat mendengar ucap suaminya yang menyentil ulu hatinya.


"Eh-eh, Nda. Ja-jangan nangis dong. Aku kan cuma becanda, sungguh. Aku takkan mungkin tega menduakan wanita cengeng seperti kamu." Fatah mencoba menenangakan Liana dengan memeluk pundak kecilnya.


Hiks ..., hiks ..., hiks ....


"Kenapa menyakitkan sekali kalimat terakhirmu itu, Bee." Liana melepas pelukan suaminya dengan wajah kesal.


Fatah terkekeh kaku sambil menghapus air mata Liana yang tersisa di pipi. "Wanita menggemaskan sepertimu, maksudnya." Ralatnya sambil memeluk Liana kembali.


"Albee menyebalkan!"


"Iya aku tau aku tampan, tapi muji-mujinya kapan-kapan lagi ya. Sekarang kita masuk dulu temui abah sama ummi aku." Balas Fatah sembari melepaskan pelukannya dan berjalan sembari bergandengan tangan dengan Liana.


Kedatangan Liana disambut hangat oleh keluarga mertuanya. Mereka bercakap-cakap panjang sampai tiba waktunya salat magrib.


Fatah dan abah berniat pergi ke masjid untuk jamaah, tapi sebelum itu Liana diantar pria itu ke dalam kamarnya sembari menunggu kepulangannya.


Ibunda Fatah yang biasa dipanggil Juwariyah, pergi ke mushala asrama putri yang terletak sedikit jauh dari ndalem.


Tapi sebelum Fatah berangkat ke masjid, pria itu sekalian ambil wudu di kamarnya.


Liana duduk di tepi kasur sembari menunggu Fatah menyelesaikan ritual bersesuci di kamar mandi.


"Nda!" Panggil Fatah saat telah keluar.


"Kenapa?" Liana menoleh ke arah Fatah.


"Gak papa," jawab Fatah sambil berjalan ke arah lemarinya untuk mengambil sorban lamanya.


"Selalu gak jelas." Cibir Liana.


Fatah menjulurkan lidahnya pada Liana sembari membuka pintu lemarinya, dan apa yang ia lihat pertama kali adalah sesuatu yang sudah sangat ingin ia berikan kepada Liana sejak dulu namun ia sempat lupa pernah menaruhnya di mana.


"Aku wudu dulu, Bee. Jangan kesurupan karena kangen!" Liana gantian pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual wajib sebelum salat seperti yang Fatah lakukan tadi.


"Apaan kesurupan!?" Fatah menoleh ke belakang sembari menutupi barang tadi menggunakan sorban putihnya.


Liana bergidik cuek sambil masuk ke dalam kamar mandi.


"Nda! Aku ada barang buat kamu." Ucap Fatah setelah Liana keluar dari kamar mandi.


"Apa!? Gak usah ajak aku becanda, lago gak mood," Liana berdiam diri di depan pintu kamar mandi sambil mengucir rambutnya yang sedikit basah.


"Tapi barang ini 45% bisa buat mood kamu baik," balas Fatah sambil berjalan mendekati Liana.


"Kok cuma 45%? 55% nya lagi kemana?" Bingung Liana.


"Nih depan kamu. Suami tampan dan penyayang yang selalu bikin moodboster kamu balik,"


Liana memutar malas kedua bola matanya. "Emang barang apaan sih? Kepo aku," ujar Liana dengan kaki yang diusap-usapkan ke keset.


"Kecup kening dulu dong, biar afdzol." Fatah mendekatkan wajahnya dengan wajah Liana.


"Mana bisa? Batal nanti aku nyentuh kamu," tolak Liana.


"Ya kalo batal wudu lagi lha, Dinda. Ribet banget sih kamu itu,"


"Males lha, dingin."


"Kejam kau Dindaku sayang," ujar Fatah sambil geleng-geleng.


"Jadi ngasih aku barang enggak?" Tanya Liana sambil berjalan menjauhi Fatah.


"Kamu tutup mata dulu dong, biar jadi surprise," suruh Fatah saat Liana sedang memasang mukena.


"Yaudah mana?" Tanya Liana setelah ia menutup mata dengan tangan yang menengadah.


Cup!


"Ponsel baru buat kamu, hadiah dariku." Ucap Fatah sambil berlari secepat mungkin menghindari amukan Liana yang baru saja ia kecup bibirnya.


Liana yang mendapat serangan mendadak dari Fatah langsung membuka mata dengan perasaan kesal, marah, campur bahagia. "Kau menyebalkan Albeeeee!!!!" Serunya, yang untungnya kamar suaminya ini terletak jauh dari tempat-tempat yang selalu ramai orang.





Rutinitas setelah salat fardu di masjid di laksanakan seperti hari\-hari biasanya. Membaca wirid, doa, lalu salat sunah bagi santri yang ingin melakukannya setelah itu mereka boleh langsung buyar pergi ke kelas masing\-masing untuk ngaji mencari ilmu menghilangkan kebodohan dan mengharapkan keridhaan Tuhan yang maha esa.



Fatah juga pulang ke ndalem bersama abahnya sekalian berpamitan untuk pulang karena ia juga harus mengajar santri di pondoknya.



\=\=\=



Lagi dalam kondisi tidak baik\-baik saja, walau sebenarnya semuanya dalam keadaan stabil, tidak ada yang berubah.



🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰


🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰


🥰🥰🥰🥰🥰🥰


🥰🥰🥰🥰🥰


🥰🥰🥰🥰


🥰🥰🥰


🥰🥰


🥰



🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛


🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛


🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛


🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛


🐛🐛🐛🐛🐛🐛


🐛🐛🐛🐛


🐛🐛🐛


🐛🐛


🐛



🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋


🦋🦋🦋🦋🦋🦋


🦋🦋🦋🦋🦋


🦋🦋🦋🦋


🦋🦋🦋


🦋🦋


🦋



🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


🌻🌻🌻🌻🌻


🌻🌻🌻🌻


🌻🌻🌻


🌻🌻


🌻



🦚🦚🦚🦚🦚🦚🦚



🦜🦜🦜🦜🦜🦜



🕊🕊🕊🕊🕊🕊



🐳🐳🐳🐳🐳🐳🐳



Follow me azzindaah\_



Jangan jadi sider kawan.



Vote dan comment


Jangan lupa ya!!!!



Lampung Tengah, 01 April 2020



Azzah Indah Irmiyana


Yang Cai\_阳菜🌻