
Semuanya dimulai dari sebuah percakapan ringan yang melahirkan perasaan tak diinginkan -Gusmu Imamku
\=\=\=
"Mba Liana?" Cengo Sahal sambil menegakan tubuhnya.
Entah dapat dorongan dari mana, Sahal berjalan mendekati Liana yang juga tengah menatapnya.
Senyum merekah terbit di bibir Sahal ketika perempuan yang ia lihat tadi benar Liana orangnya.
"Sahal?" Cengo Liana dengan wajah kaget tak percaya.
"Mba Liana! Niku sampean?" Tanya Sahla sambil tersenyum lebar sampai gigi taringnya bisa terlihat. (Kamu Mba Liana?)
Liana mengangguk. "Assalamualaikum Sahal! Peripun kabar e sampean?" Tanyanya excited. (Assalamualaikum Sahal! Gimana kabar kamu?)
"Wa'alaikumussalam. Sehat, buger, waras alhamdulillah, Mba. La sampean?" Tanya balik Sahal. (Wa'alaikumussalam. Sehat, bugar, waras alhamdulillah, Mba. kamu?)
Liana mengangguk lagi. "Alhamdulillah, sehat. La sampean kok saget dugi meriki?" (Alhamdulillah, sehat. kamu kok bisa sampai sini?)
"Anu Mba, kulo ngendangi rencang mawon. Sisan lha, mumpung tasek teng Jatim. La sampean kok juga sampe dugi meriki? Bukane mondok e teng Jateng nggeh?" (Aku jenguk teman aja, Mba. Mumpung lagi di Jatim. kamu sendiri kok bisa sampai di sini? Bukannya mondoknya di Jateng ya?)
"Kan kulo mpun simah," jawab Liana. (Aku kan udah nikah,)
"Oalah, lha suamine sampean ki gus Fatah to?" Pertanyaan yang lebih mirip pernyataan itu keluar dari bibir Sahal.
(Oalah, gus Fatah itu suami kamu?)
Liana mengangguk.
"Bene retos kulo," Sahal menggaruk tengkuknya yang tak gatal. (Baru tahu aku),
"Makakne waktu ijab e kulo sampean wangsul," cibir Liana. (Makanya waktu aku ijaban kamu pulang),
Sahal membalasnya dengan kekehan ringan. "Nggeh bar niki kulo ajeng wangsul teng Lampung, jeng tumut mboten?" Tanyanya tanpa ada keseriusan. ( habis ini aku mau pulang ke Lampung, mau ikut nggak?)
Liana mendengus walau sebenarnya tidak ada kekesalan pada dirinya.
"La gus Fatah e pundi, Mba?" Tanya Sahal karena tak mendapati suami wanita yang dulunya berpenampilan dekil yang saat ini telah menjelma menjadi wajah good looking. (Gus Fatahnya mana, Mba?)
"Eh la niku. Panjang umur tiange, bar di rasani langsung muncul jasad e." Jawab Liana sambil menujuk Fatah yang tiba-tiba datang menggunakan dagunya. (Eh panjang umur orangnya, baru di biarakan langsung muncul jasadnya).
Sahal tersenyum ramah pada saat saling tatap menatap dengan Fatah, dan Fatah pun membalas senyumannya tak kalah ramah.
Obrolan hangat antara Sahal dan Fatah pun terjadi, sampai akhirnya Liana dan Fatah mengajak Sahal untuk sarapan bareng di ndalem mereka.
Banyak sekali yang mereka bicara ketika sarapan, dari kenakalan Liana di masa lalu yang Sahal ceritakan, sampai asmara kandas sebelum jadian di masa lalu Sahal yang Liana ceritakan balik.
Setelah salat asar tiba, seperti apa yang Fatah ucapkan tadi pagi pada Khaliq, mereka berdua pergi ke kebun yang jaraknya agak jauh dari asrama putri. Tapi, lebih jauh lagi jika diukur dari asrama putra.
Dari kejauhan, Fatah dapat melihat seorang perempuan yang sedang makan di depan pohon cabe nya.
Terlihat tak asing di matanya, dan setelah jaraknya telah semakin dekat dengan perempuan tadi, bibirnya langsung mengambang membentuk senyuman bahagia.
Dunia memang sangatlah sempit.
"Mba!" Panggil Fatah pada perempuan tadi dari jarak agak jauhan.
Perempuan tadi langsung mendongak menatap empu yang memanggilnya barusan. "Gu\-gus Fatah?" Cengonya sambil menaruh piring makanan yang ia pangku ke tanah, lalu ia segera berdiri menunduk takzim.
"Mba Holif, kan?" Tanya Fatah sekedar basa\-basi pada perempuan yang tak lain Holif tadi.
Holif mendongak sedikit sambil mengangguk pelan.
"Lagi ngapain kamu duduk di situ tadi?" Fatah melirik piring yang berisi nasi banyak, ikan asin, dan sayur daun singkong yang berdampingan dengan asoka \(air soko kran / air dari kran\) yang diwadahi gayung mandi.
"Maem kaleh munduti lombok e njenengan, Gus." Jawab Holif sambil nyengir kaku. \(Makan sambil metik cabe Gus\).
Fatah terkekeh pelan. "Yompun nek ngoten, maem e sampean dilanjutke riyen. Bar rampung bantoni kulo manen lombok. Tak tenggo." Fatah lalu berjalan ke arah Khaliq yang sedang memetik cabenya yang siap panen. \(Yaudah kalo gitu, makannya dilanjut dulu. Setelah selesai bantuin saya manen cabe. Saya tunggu\).
Holif mengangguk cepat, lalu kembali duduk untuk memakan makanannya tadi. Oh ya, di pondoknya Fatah ini sistem salat asarnya mendekati magrib, jadi sebelum berangkat ke masjid menunaikan jamaah salat magrib, santri\-santrinya terlebih dahulu makan sore.
Makan di pondok Fatah ini, dilakukan 2 kali pagi dan sore. Pagi pukul 10, sore sehabis asar jam 04:30. Kalo mau makan selain 2 waktu tadi, mereka bisa makan di kantin pondok yang buka setiap hari di jam\-jam tertentu, walaupun pemilik kantin itu bukan santri yang memiliki aktivasi padat.
Setelah Holif selesai makan, ia bergegas minum dan mencuci tangan menggunakan asoka tadi. Lalu ia segera pergi menuju Fatah yang berada jauh darinya.
Fatah tersenyum hangat padanya, ketika wajah mereka bertemu.
"Mpun wareg?" Tanya Fatah, yang entah kenapa bisa perhatian pada Holif. Dirinya merasa sangat asing, ketika sudah berhadapan dengan makhluk hawa satu ini. \(Udah kenyang?\)
Holif mengangguk malu\-malu, "sampun, Gus." Jawabnya. \(Udah\).
"Yompun, niku cetenge di pundut. Gek enggal rampung, gak enggal wangsul." Fatah menujuk centing yang agak dekat dengannya. \(Yaudah, cetingnya buruan diambil. Biar cepat selesai lalu, cepat pulang.\)
Holif mematuhi ucapan gusnya lalu meraka pun mulai memetik cabe di barengi percakapan ringan lainnya bersama Khaliq juga. Hmm, diam\-diam pria berumur 21 tahun itu rada cerewet orangnya.
\=\=\=
**maaf guys kalo masih berantakan. Tapi, kalo kalian ingin baca rapih, bisa baca di wp**.