
Balas dendam hanya akan membuatmu menyesal dihari pembalasan.
\=\=\=
Di tengah kegelapan malam yang hanya mendapatkan sedikit pencahayaan dari lampu bermerek lama, seorang wanita tengah tersenyum miring, ia sudah menyiapkan rencana, rencana yang sangat gila menurut kawannya.
"Udah ah Mbak, kamu ikhlasin aja. Nggak baik menyimpan dendam. Mana mau belas dendam lagi kamu. Sadar Mbak, dia itu wanita mulia dari keluarga mulia, dan in syaa allah akan melahirkan keturunan mulia juga," ucap kawannya yang tengah bersendar di dinding.
"Mulia-mulia gak peduli! Dia wanita jahat! Dia udah rebut gus Fatah! Dia gila! Gila karena tiba-tiba copot jabatan aku hanya untuk diberikan sama santri pemalas kayak Holip," balas wanita yang mempunyai niat jahat tadi.
"Udah ah mbak Fatma, dia kan yang di percaya gus Fatah menghandle asrama putri. Jadi, wajar kalo tiba-tiba buat keputusan kayak gitu," terang Muti sambil memeluk sajadahnya, karena dia mulai kedinginan sebab terpaan angin malam.
"Kamu kalo nggak mau bantuin aku it's okay, Mut. Tapi jangan halang-halangi dengan cara ceramah sampah yang nggak ada gunanya buat aku. Keputusanku bulat dan mutlak. Kalo aku harus misahin gus Fatah sama Liana. Aku benci Liana," balas Fatma dengan mata menyorotkan dendam.
"Emang kamu yakin, gus Fatah mau sama kamu? Dia kenal kamu aja enggak. Eits, jangan kan kenal, tau kalo ada kamu di pondok ini aja enggak." Ujar Muti sambil tersenyum kecut.
"Bacot koe, Mut! Niatku cuma misahin gus Fatah sama rubah sialan itu. Kalo nanti dia suka sama aku, itu bonus akan usahaku." Fatma menunduk sambil tersenyum miring.
"Istighfar, Mbak ... Mbak. Mondok biar punya ilmu dan adab. Malah kesurupan jin ******. Berani-beraninya mau misahin sejoli yang terikat cinta sejati dalam ikatan halal. Ngimpi Mbak ... Mbak! Gusti Allah pasti bakal jogo hubungan gus e dewe karo garuwone." Ketus Muti lalu melenggang pergi meninggalkan Fatma untuk kembali ke asrama.
"Liat aja nanti, gusti Allah akan berpihak pada siapa, hahaha." Fatma tertawa hambar dengan wajah yang distel penuh niat jahat.
"Cha edan. ****** e kok ngeluwihi aku." Gumam Muti saat mendengar temannya itu sepertinya memang sudah gila.
Semantara itu, dibawah atap yang sama sepasang suami istri tengah makan kolak di depan tv yang ada di dalam kamar mereka.
"Bee!" Panggil Liana di sela-sela mulutnya menguyah makanan.
"Kenapa?"
"Capek nggak?"
Fatah menggeleng. "Memang kenapa? Mau itu?"
"Hih, itu apa sih?!"
Fatah menggeleng lagi sambil tersenyum.
"Albee capek enggak?" Liana mengulang pertanyaan yang sama.
"Enggak. Emang kenapa?"
Liana cemberut sambil memajukan badannya mendekati Fatah.
"Kenapa?" Tanya Fatah.
"Capek ya, nanti aku pijitin deh. Terus entar Albee gantian mijitin aku," Liana menyentuh kaki Fatah yang terbalut sarung untuk ia pijit. "Enak?" Tanya Liana tentang rasa pijatan yang ia berikan pada suaminya sambil terus memijat kaki panjang Fatah.
Fatah berdecak sambil tersenyum yang membuat giginya terlihat sedikit. Ia mengambil tangan Istrinya yang sedang memanjakan kakinya. "Bilang, kalo mau di pijit," ujarnya sambil menarik salah satu kaki Liana yang wanitanya itu tekuk untuk di taruh di atas pahanya.
"Aku emang peka," ujar Fatah
"Enggak. Nyatanya tadi kamu jawab nggak capek, terus nggak langsung pijitin aku," bantah Liana.
"Aku jawab enggak karena aku jujur, aku nggak mau berbohong sedikit pun tentang apapun pada kamu, Dindaku. Soal aku nggak langsung pijitin kamu, karena pertanyaanmu tentang capek tadi padaku itu, mengandung banyak arti yang harus aku pahami dalam-dalam, salah satunya aku kira kamu ngajak sunah rasul. Taunya pingin aku pijitin," Fatah mengusap kepala Liana yang tak ada kain yang menghalangi sentuhannya langsung.
Liana terkekeh manja sambil menyuapi Fatah dengan kolaknya. Semantara itu Fatah melirik istrinya sambil menyunggingkan setengah bibirnya karena mulutnya menguyah makanan yang Liana berikan.
"Nanti mau sahur pake apa?" Tanya Liana.
Fatah mengedikan bahu sambil menatap kaki istrinya yang sedang ia pijat. "Eh Nda, kamu pernah gudiken tha?" Tanyanya, karena ia melihat beberapa baut di kaki jenjang Liana.
Liana mengangguk. "Emang kamu nggak pernah?"
"Pernah lha, mana dulu banyak banget di tubuhku. Peuh, banyak banget!" Jawab Fatah.
"Jorok pasti kamu!"
Fatah mengangguk. "Ya, ku akui dulu aku emang jorok, hahaha. Kamu juga jorok kan, nyampe ada bekas baut di kaki kamu?"
"Rada jorok sedikit sih, sedikit." Liana mengangguk sambil menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk love kecil, sangat kecil. "Eh tapi kan santri wajar kalo gudiken, itu kan tandanya Allah menjaganya dari kemaksiatan dalam mengumbar aurat di masa depan," sambungnya dengan sangat semangat.
"Maksudnya?"
"Yakan, bisa jadi. Si santri itu mau khilaf buka aurat. Tapi, gak jadi karena ada bekas gudik yang menghalanginya. Ck, ah maksudnya gini lho. Allah kan maha baik, Allah nggak mau kita (santriwati) buka aurat di masa datang. Maka dari itu diberikan baut di kaki atau di mana gitu. Biar malu gitu lho waktu mau buka-buka,"
"Istri Fatahillah emang pinter," balas Fatah sambil tersenyum.
"Tauk."
Fatah berdecak malas. "Eh Nda, kayaknya ziarah walisongo nya 1 minggu lagi,"
"Terus?"
"Ngasih tau doang."
"Oh." Liana menurunkan kakinya untuk berbaring. "Aku tidur dulu ya." Ucapnya dengan tersenyum penuh arti sambil melirik gelas yang tadi mereka gunakan untuk makan kolak.
Fatah tersenyum sinis, paham dengan maksud Liana yang menyuruhnya mencuci gelas tadi.
\=\=\=
Lampung Tengah, 17 April 2020
Azzah Indah Irmiyana
Yang Cai_ 阳菜🌻