Gusmu Imamku

Gusmu Imamku
(08)



Hinaan dan caci maki, takkan mengurangi derajat seorang manusia yang kau hina dimata Tuhan -Gusmu Imamku


\=\=\=


"Niki ketua lan pengurus asrama wonten sedanten kan nggeh?" Tanya Liana kepada semua santriwati setelah ia kumpulkan di salah satu ruangan asrama yang paling besar dan lebar diantara asrama putri lainnya. (Ini ketua dan pengurus asrama ada semua kan ya?)


Ya, asrama mana lagi kalo bukan asrama A.


"Namung mba Fatma, pengurus asrama niki mawon, Ning. Seng mboten wonten." Jawab Laili, ketua pengurus asrama putri. (Hanya mba Fatma, pengurus asrama ini saja, Ning. Yang nggak ada.)


"La teng pundi tiange?" Tanya Liana sambil menoleh ke arah Laili. (La di mana orangnya?)


"Kirangan, Ning. Cobi kulo padesi rumiyen." Jawab Laili ketua pengurus asrama putri, lalu ia mengajak temannya yang bernama Maya untuk mencari juga keberadaan pengurus asrama A. (Nggak tahu, Ning. Coba saya cari terlebih dahulu.)


Liana mengangguk lalu ia duduk di kursi yang biasanya di gunakan khitobahan penghuni asrama A.


Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang, dan setelah menemukan yang ia cari, Liana langsung menunjuknya.


Sesorang tadi adalah santriwati yang saat ini sedang tidur sambil menunduk, karena kemungkinan kelelahan setelah melakukan banyak ulah dihampir setiap harinya. "Sampeyan!"


"Mba Lip, bangun Mba." Salah satu mba santri yang bernama Ria berusaha membangunkan temannya yang bernama Holif dengan suara pelan.


Hoaamm ....


"Ada apa Ri? Udah waktunya pulang, iya?" Tanya Holif sambil menggeliat kurang nyaman, karena ia berada di lingkungan orang duduk yang jaraknya mepet.


"Dipanggil ning Liana, istrinya gus Fatah." Jawab Ria sambil mengarahkan matanya ke arah Liana.


"Biarin, lha. Palingan aku mau diangkat jadi pengurus asrama A." Balas Holif cuek.


"Iya, Mba. Mulai saat ini sampeyan jadi pengurus asrama A." Sahut Liana.


Holif yang mendengar itu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya mencari sebagaian kesadarannya yang masih kelayapan.


"Oh, Ning. Mboten usah Ning, mboten usah, maturnuwon banyak." Tolak Holif sambil nyengir kaku.


Liana malah membalasnya dengan tatapan santai penuh arti.


Holif menghela nafas panjang. "Yompun lha, Ning. Sendiko dawuh." Akhirnya Holif menyanggupi perintah Liana yang begitu membosankan untuk ia jalankan.


Santriwati lainnya yang mendengar perintah Liana yang terbilang sepihak itu tak terima begitu saja.


Ingin protes, tapi istri gus. Tak protes kok menyebalkan sekali keputusan ningnya satu ini.


Ning Liana ini belum tahu sih, seberapa blangsak dan bandelnya Holip sama peraturan pondok.


Yah, mungkin seperti itulah kalimat kekesalan santriwati lainnya yang hanya bisa terucap dalam batin masing-masing.


"Ini ngajinya belum selesaikan?" Tanya Liana pada santriwati yang duduk di barisan depan.


"Dereng, Ning." (Belum, Ning.)


"Ya sudah kalo begitu silahkan di selesaikan dulu ngajinya. ***- ...," saat Liana akan menutup pertemuan ini dengan salam, tiba-tiba seseorang datang dan langsung memotongnya begitu saja.


"Woy, lo santri baru apaan sih!? Hah!? Mentang-mentang masih sodara gus Fatah bukan berarti buat keputusan sepihak kayak gitu, kan!?" Fatma datang membawa keributan karena kesal dengan perintah semena-mena 'santri baru' di depannya itu.


Ya, sayangnya Fatma tak percaya saat Maya memanggilnya atas nama 'istri gus' karena dia pikir, tak mungkin seorang ning mengatur tatanan asrama putri secepat ini setelah melakukan pernikahannya. Pasti itu saudaranya gus Fatah, pikir Fatma.


Laili yang tadi tak berhasil menemukan keberadaan Fatma, langsung kembali ke asrama. Tapi setelah ia sampai, pemandangan kurang ajar lha yang ia saksikan pertama kali.


Saat ia akan maju mendekati Fatma untuk memberi pelajaran pada gadis itu. Tangan Liana tiba-tiba terangkat yang berarti menyuruh Laili diam di tempat tak perlu melakukan apapun.


"Peuh, lo kayak setan beneranlah sumpah. Gus Fatah aja kalo mau apa-apa kudu rembukan dulu, lah elo. Ck-ck, peuh pingin gue gampar beneran ya wajah lo tuh!" Geramnya sambil menyiapkan ancang-ancang akan menampar istri tersayang gusnya itu.


Liana hanya terdiam sambil menatap mata Fatma dengan tatapan santai tak peduli.


"Lo tuh anjing tauk nggak, hah! A-n-j-i-ng, anjing lo! Kalo nggak tau anjing asu lo!"


Laili yang hanya berdiri atas perintah Liana hanya bisa menahan kemarahannya dengan nafas tak teratur dan tangan yang mengepal kuat.


"Udah?" Tanya Liana dengan sangat santai setelah Fatma tak mengeluarkan kata-kata kasar lagi.


"Anjing lo lha!" Hardik Fatma.


Sebelum ia pergi dari asrama, Liana tersenyum sekilas kepada Holif yang menatapnya malas. "Assalamualaikum." Pamitnya lalu melangkah pergi menuju ndalemnya untuk gantian mengurus suaminya.


"Wa'alaikumussalam." Jawab seluruh santriwati yang ada di sana sambil menahan tangisnya karena benar-benar merasa tersakiti saat istri gus yang sangat mulia itu di hardik dan hanya membalasnya tanpa perlawanan.


Saat Laili akan menghampiri Fatma untuk memberikan pelajaran bagi gadis kurang ajar itu, Holif langsung angkat bicara.


Hoamm ....


"Aja dibantai, Mba. si MANTAN PENGURUS itu! Di suruh salawat sama istighfar 21.000 kali aja." Ucap Holif sambil bangkit dari duduk untuk pergi ke kamarnya agar bisa leluasa mengistirahatkan badannya yang pegal-pegal.


"Ba-baiklah," Laili mengangguk begitu saja setelah mendengar ucapan Holif.


Tanpa Laili sadari, ia yang biasanya mengatur santriwati lainnya menjadi patuh begitu saja saat Holif menyuruhnya.


"Kamu pergi ke depan mushalla terus istighfar sama salawat 21.000 kali! Saya ada urusan dengan ning Liana yang baru saja kau caci maki!" Suruh Laili kepada Fatma. "Mba Adel! Awasi mereka!" Sambungnya menyuruh agar pengurus asrama B mengawasi takziran Fatma .


Fatma mendengus kesal. Tapi ia mengikuti perintah Laili.




"Iya, Mba. Gak papa." Liana tersenyum kepada Laili yang mewakili permintaan maaf atas kelancangan Fatma tadi.



"Yaudah Ning kalo begitu, saya pamit ke asrama dulu ya. Assalamualaikum." Pamit Laili sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.



"Wa'alaikumussalam." Jawab Liana sambil membalas uluran tangan Laili.



Setelah itu, Liana melanjutkan jalannya menuju ndalem dengan tangan yang ia lipat di dada karena kedinginan sebab terpaan angin malam menusuk pori\-pori kulitnya yang terbungkus baju.



Sesampainya di ndalem, Liana segera masuk dan berjalan menuju kamarnya.



"Assalamualaikum." Salam Liana sambil membuka pintu kamarnya.



"Wa'alaikumussalam." Fatah menjawabnya tanpa mengalihkan fokus matanya pada kitab yang tengah ia pegang.



"Ya Allah, Bee. Masa udara di luar dingin banget." Keluh Liana sambil menggoskan\-gosokan telapak tangannya dengan kaki yang mulai naik ke atas ranjang untuk mendekati suaminya.



"Eits, batal nanti." Ucap Fatah sambil menjauhkan tangannya ketika Liana akan meraihnya.




Fatah terkekeh ringan, lalu meletakan kitab yang tadi ia pegang di atas nakas. Yah memang, memegang kitab tak wajib wudu. Tapi, karena dia tadi ingin mengisengi istrinya, Fatah harus melakukan itu.



Fatah menepuk\-nepuk kasur yang ada di sampingnya, setelah ia memasang posisi tidur miring menghadap Liana. "Sini peluk, kalo dingin." Ucapnya sambil tersenyum geli melihat ekspresi kesal Liana.



"Gak mau! Nanti aku malah batal!" Tolak Liana tanpa menatap suaminya.



"Sini nggak!?"



"Nggak mau!"



"Sini eng ... gak!?"



"Eng ... gak!"



"Mau enggak mau harus mau." Fatah bangkit dari tidurnya untuk meraih tubuh Liana agar bisa di tidurkan di sampingnya.



"Ish jangan peluk! Aku nggak mau, kalo kulit Albee nyentuh aku, terus nanti aku jadi batal." Liana berusaha memberontak saat Fatah memeluknya dari belakang dengan sangat erat, tapi tetap tidak ada hasil pastinya.



"Biarain." Fatah mengangkat kaki kirinya untuk menindihi paha Liana.



Liana mendengus kesal. Tapi, sejujurnya ia sangat menyukai prilaku manis suaminya seperti saat ini.



"Haid nya kurang berapa hari lagi sih, Nda?" Tanya Fatah di sela\-sela tangannya bergerilya di sekitar leher Liana untuk melepas jarum pentul yang mengaitkan jilbab istrinya.



"Nggak mau jawab." Jawab Liana sambil menutup mulutnya.



"Kalo nggak mau jawab, malah aku perkosa kamu malam ini." Ucap Fatah sambil mengecup dahi Liana.



"Dih apaan, masa gitu,"



"Makanya jawab, daripada Albee nggak tahan yakan?"



"2 hari lagi in syaa allah selesai."



"Lamanyaaa ...," keluh Fatah dengan wajah sedih.



Liana terkekeh, "itu aja masih in syaa allah,"



Fatah mendengus, "aku pikir besok pagi udah selesai,"



"Sabar ya, suamiku." Liana terkekeh sambil membalikan badannya menjadi berhadapan dengan wajah Fatah.



"Kenapa? Ganteng? Iya makasih." Ucap Fatah dengan kepedean yang sangat akut ketika Liana menatapnya intens.



Liana membalasnya dengan gaya seakan ia ingin muntah.



\=\=\=\=



Fatah jadi agresif :v



Jangan bingung kenapa Holif diangkat jadi pengurus dengan sangat mendadak, karena jawaban sudah ada di narasi.



Follow!!! Gak Follow gak cintahhh



azzindaah\_



Gak pada vote dan comment, gak cintaaaaaaaaaa!



23 Maret 2020



Azzah Indah Irmiyana


Yang Cai\_阳菜🌻