Gusmu Imamku

Gusmu Imamku
(03)



Akan kumulai kisah cinta yang takkan pernah kau lupakan, Ningku -Albar Fatahillah


\=\=\=


"Astagfirullah, ayo sih Mba Liana, cepetan!" Kesal Syarifah karena Liana begitu lelet melakukan apa-apa termasuk dalam melangkahkan kaki.


Liana menguap malas, "kamu apaan sih Sya, yang dijemput dan yang mau pulang kan aku, kenapa kamu yang terburu-buru sih!?" Liana melangkah malas menuju rumah abah kyai yang di sana sudah ada Fatah telah menunggunya cukup lama.


"Yakan, aku nggak sabar buat cuci mata liat ketampanan gus Fatah," ujar Syarifah sambil terkekeh pelan.


"Istighfar sana! Orang di sini ada istrinya, malah terang-terangan puji suaminya, huh." Liana menatap Syarifah malas sambil terus menyeret koper dan membawa kardus yang berisi kitab dan pakaian.


"Ish ayo loh, Mba! Sampeyan keburu di tinggal nanti!" Kesal Syarifah yang sudah sampai ubun-ubun.


"Biarin." Balas Liana cuek sambil mengubah langkahnya menjadi lebih lambat dari sebelumnya.


Dasar Syarifah, gimana mau ditinggal kalo yang dijemput aja istrinya sendiri.


"Mba Liana!" Luluk datang sambil membawa spatula di tangan kanannya.


"Dalem?" Liana menoleh ke Luluk yang baru saja lari-larian dari dapur rumah abah kyai.


"Ken ummi, sampeyan ken enggal meriko!" Ucap Luluk (disuruh ummi, kamu buruan datang ke sana!)


"Oh enggih, Mba. Enggih." Sekuat tenaga, Liana buru-buru ke rumah abah kyai dengan membawa beban di tangan kanan kirinya.


"Dasar, mba Liana." Desis Syarifah sambil mempercepat langkahnya menuju rumah abah kyai.


"Kamu nggak ada niatan bantu aku, Sya?" Tanya Liana sambil menoleh ke samping kirinya yang di sana ada Syarifah yang mengikuti langkah cepatnya.


"Engg- ...,"


Bruk!


"Awwshh ...," rintih Liana karena tubuhnya tiba-tiba di tabrak seseorang dengan sangaja dari samping kanannya.


"Maaf, Mba Li. Sengaja." Ucap si pelaku tadi sambil terkekeh ringan.


Liana menoleh ke samping, dan langsung terperangah kaget mendapati teman dekatnya yang sudah lumayan lama boyong (keluar) dari pondok.


"Fajriyah?" Cengo Liana.


Syarifah memutar malas kedua bola matanya. "Ning Liana! Tolong ya tolong! Sampeyan itu disuruh ke rumah abah kyai sama ummi, jadi jangan mandek-mandek terus!" Ujar Syarifah, karena Liana baru saja akan memulai bercakap-cakap dengan Fajriyah.


"Oh iya, aduh Fajriyah, aku ada urusan penting yang sangat mendadak nih, aku duluan ya," panik Liana.


Fajriyah mengangguk sambil menyalimi Liana yang di tangannya sudah ada amplop. "Selamat atas pernikahanmu, Mba." Ucapnya.


"Eh?" Kaget Liana karena teman nakalnya itu tiba-tiba memberinya amplop.


"Udah sana! Keburu ditunggu gus mas suami! Assalamualaikum!" Pamit Fajriyah lalu buru-buru pergi dari hadapan Liana.


"I-iya, wa'alaikumussalam." Jawab Liana.


"AYO MBA LIANA!!! MAA SYAA ALLAH!! NYEBUT-NYEBUT!!" Syarifah merebut kasar kardus Liana lalu berjalan duluan ke rumah abah kyai. "Huh, paringi kulo kesabaran seng ageng gusti-gusti." Lirihnya. (Huh, beri aku kesabaran yang besar gusti-gusti.)


Liana mengangguk cepat lalu segera berlari sekuat tenaga sambil tertawa melihat wajah Syarifah yang di tekuk kesal.



"Assalamualaikum!" Salam Liana sambil melangkah masuk ke rumah abah kyai setelah menaruh barang\-barangnya di dekat mobil Fatah.



"Wa'alaikumussalam." Jawab semua orang yang ada di ruang tamu.



Fatah melirik Liana sekilas sebelum melanjutkan mendengar dawuh abah kyai karena ia tadi meminta amalan puasa sunnah.



Liana duduk agak belakangan dari posisi Fatah setelah ia bersalaman dengan ummi.



"Fatah mboten disalimi, Mba?" Tanya Ummi. \(Fatah nggak disalami, Mba?\)




"Jadi niki engken, sewaktu sampeyan poso bilaruhi, diwaos 11 kali ba'da salat selama 7 dinten." Abah Kyai menaruh kertas yang ada tulisan arab ke lantai lalu ia dekatkan ke arah Fatah. \(Jadi nanti, sewaktu kamu puasa bilaruhi, dibaca 11 kali setelah salat selama 7 hari.\)



Fatah mengambil kertas tadi sembari ia perhatikan tulisan yang ada di atasnya.



"Yo mpun nek ngoten, kulo kaleh ning Liana wangsul rumiyen, Abah." Pamit Fatah setelah berbincang-bincang cukup lama dengan abah kyai dan ummi. (Yaudah kalo begitu, saya sama ning Liana pulang dulu, Abah.)


"Oh, enggih-enggih." Abah berdiri dari duduknya di ikuti Liana dan Ummi.


Fatah berjalan mendekati Abah Kyai, "matur suwon, Abah. Assalamualaikum." Salamnya sambil memberikan amplop sewaktu bersalaman.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Abah Kyai sembari memasukan amplop tadi ke saku jubahnya.


"Liana pamit rumiyen, Ummi." Liana mengulurkan tangganya untuk bersalaman sembari memberikan Ummi amplop.


"Assalamualaikum!" Salam Fatah lagi sembari keluar dari rumah abah kyai diikuti Liana di belakangnya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab Abah Kyai dan Ummi sembari berjalan ke arah pintu.


"Mba Liana!" Panggil Syarifah dari jarak yang cukup jauh.


Liana menoleh ke samping sambil melengkungkan bibirnya ke bawah dengan ekspresi menahan malu. "Deg-degan aku, Sya." Mulutnya komat-kamit tanpa mengeluarkan suara sambil ia memengang detak jantungnya yang berpacu cepat.


"HAHAHAHA! Semangat!" Syarifah mengepalkan tangannya ke atas sembari ikut komat-kamit tanpa suara.


Liana mengerucutkan bibirnya sembari mengangkat kardus dan koper bawaannya masih dengan melihat Syarifah.


"Ni-ning!" Panggil Fatah dengan senyum canggung sembari membuka pintu bagasi.


Segera Liana memutar tubuhnya ke belakang menghadap suaminya. "Da-dalem, Gus?"


Fatah menggeleng pelan masih dengan kondisi canggung sembari merebut bawaan Liana yang langsung ia masukan ke dalam bagasi.


"Na-namung ni-niki, Ning?" (Cu-cuma i-ini, Ning?)


"Enggih, Gus." Jawab Liana.


Fatah mengangguk pelan sambil menutup pintu bagasi. "Yo-yo mpun, Ning. Sa-sampeyan melebet teng mo-mobil rumiyen." (Ya-ya udah, Ning. ka-kamu masuk ke mobil dulu.)


Liana meringis kaku sambil ia melangkah ke arah pintu mobil.


"Mba Liana!" Syarifah berlari ke arah Liana lalu ia langsung memeluk sahabatnya erat. "Jangan lupain aku ya, hiks." Air mata Syarifah luruh begitu saja.


Liana terkekeh pelan. "In syaa Allah."


"Nanti jangan lupa buatin aku keponanakan ya." Syarifah nyengir kaku sambil mengusap pipinya.


"Apaan sih, kamu Sya?" Kesal Liana dengan wajah menggemaskan.


"Mo-monggo, Ning." Fatah membukan pintu untuk Liana karena istrinya itu tak kunjung masuk mobil. (Si-silahkan, Ning."


"Udah dulu ya, gus mas suami. Ngajak aku pulang." Lirih Liana sambil masuk ke dalam mobil di ikuti Fatah setelah pria itu menutup pintu.


"Monggo Abah, Ummi." Ucap Fatah sambil tersenyum saat ia mulai menjalankan mobilnya disaat abah kyai dan ummi masih berdiri di teras rumah.


Abah Kyai mengangkat kedua tangganya yang terbuka sambil tersenyum lebar. "Monggo." Balasnya.


\=\=\=


Maafkan jika ada kalimat yang diulang-ulang atau apalah, karena gaya bahasa cerita ini adalah yang sering aku alami di rumah, hehehe.


Maaf ya kalo gak nge-feel karena aku kurang bisa buat cerita tentang santri kalo nggak pake bahasa Jawa, hehehe.


Maaf juga kalo update nya nggak secepat HDUD :)


Help me 1k Followers


azzindaah_


13-maret-2020