Gusmu Imamku

Gusmu Imamku
(18)



Karena sabar disayang Tuhan.


\=\=\=


"Nda! Ayo bangun, salat!" Fatah yang baru selesai berpakaian setelah mandi langsung membangunkan istrinya yang sedang berkemul dibawah selimut.


"Euemm ...," Liana menggeliat menatap suaminya yang juga tengah menatapnya.


"Salat!" Suruh Fatah tanpa ekspresi. Tapi, bukan berarti menampakan wajah datar, cuek, nan dingin.


"Salat? Salat apa? Subuh? Hah!? Subuh!? Albee belum sahur dong!?" Liana yang begitu terkejut langsung berlari ke arah kamar mandi hanya dengan memakai sarung yang dipakai sampai atas dada.


Fatah tertawa pelan. "Histeris banget sih, biasa aja dong," ujarnya sambil berjalan menuju ujung kamar untuk menyiapkan sajadahnya dan juga istrinya untuk salat tajahud bersama.


Tak lama sejak Liana pergi ke kamar mandi, wanita itu kembali dengan baju yang sudah terpasang rapih di tubuhnya.


"Jam berapa sih ini?" Gumam Liana sambil menolehkan kepalanya ke arah pintu. "Jam 3?" Cengonya dengan wajah tak percaya, lalu menoleh dengan wajah di tekuk ke arah Fatah yang sedang menatapnya di pinggir kasur.


"Kenapa?"


"Kenapa!? Kenapa apa sih!? Kamu kenapa nggak bilang kalo mau salat tajahud, bukan subuh!?" Liana mencubit lengan kiri Fatah yang terlapisi kain setelah ia berada di samping pria itu.


Fatah melepaskan tangan Liana dari lengannya menggunakan tangan kanannya. "Di cubit tuh sakit lho, Nda." ucapnya sambil terkekeh lalu menuntun Liana ke tempat salat dengan dorongan pelan pada punggung istrinya.


"Albee nyebelin,"


"Nyebelin terus, ngangeninnya kapan?" Fatah mengambil mukena Liana untuk di pasangkan ke pemiliknya.


"Kapan-kapan." Ketus Liana.


"Hahaha. Kalo nggak lagi mau salat, udah ku cium tuh bibir moncong kamu," balas Fatah karena Liana memoncongkan bibirnya.


Kekesalan Liana menguap begitu saja diganti dengan kekehan ringan. "Cium terus! Salatnya kapan?"


"Ini juga mau salat." Jawab Fatah sambil berjalan ke tempat imam sebelum ia memulai tajahud bersama dengan sang istri.


Selesai salat bersama, Fatah dan Liana pergi ke dapur untuk membuat makanan sahur.


"Mau makan pake menu apa?" Tanya Liana saat mereka berdua telah berada di dapur.


"Pake iwak,"


"Iwak apa? Iwak ayam apa iwak ikan?" Tanya Liana sambil tertawa tanpa suara. Tertawa karena menu makanan yang Fatah katakan, tidak aneh memang. Hanya saja mereka kan mau puasa bilaruhi yang tidak boleh memakai bahan-bahan berhubungan dengan hewan di dalamnya.


"Iwak t-rex,"


"Hhhuh. Ada-ada aja kamu, Bee. Bilaruhi kok pake daging,"


"Yaudah, apa adanya aja," ucap Fatah sambil duduk di kursi.


"Eummm, akhir-akhir ini kayak aku lagi ngidam tahu penyet deh, buat itu aja ya?" Tanya Liana sambil berjalan ke arah kulkas untuk mengambil tahu, lombok sejenisnya, dan lalapan.


"Kamu ngidam, Nda? Hamil dong berarti?" Fatah menyusul istrinya dengan wajah berseri-seri yang tak pernah Liana liat sebelumnya.


"Ish, ya nggak lha eh, belum. Orang biasanya kalo orang mau mati juga ngidam sesuatu," ujar Liana.


"Ish, jangan ngomong kayak gitu dong, Nda." Wajah Fatah di tekuk kesal yang malah membentuk baby face.


"Yakan biasanya, Bee."


"Sotoy kamu lha, Dindaku tercinta tuh in syaa allah umur panjang,"


"Aamiin,"


Fatah tersenyum lebar, "jadi, kamu jadi hamil nggak?"


"Mana aku tahu, Albee monyong,"


"Kok Albee monyong sih!?"


"Hahaha, yakan udah ada Abhimanyu. Jadinya kamu Albee monyong aja,"


"Menyebalkan." Ucap Fatah sambil berjalan ke rak piring mengambil wadah untuk mereka nanti, sekalian untuk menghangatkan nasi dari magic-com sembari menunggu istrinya selesai masak tahu penyet.


"Mau pedas apa sedang, Bee?" Tanya Liana setelah wanita itu selesai menggoreng tahu dan lombok sejenisnya.


"Pedes dong,"


"Eh Bee, kamu kan suka pedas tuh, kok aku lihat, kamu jarang marah ya?"


"Yakan aku marahnya ingat tempat dan situasi, Nda."


"Maksudnya?"


"Ya yang kayak kamu ucapin kata-kata mati itu sebenarnya aku marah. Tapi, karena aku sayang kamu, nggak jadi marah deh, cuma kesel doang. Cuma sekarang udah enggak kok," jelas Fatah penuh kejujuran.


"Kenapa?"


"Suka-suka aku lha." Jawab Fatah sambil tertawa tanpa suara.


"MG, mak jelas." Cibir Liana lalu segera makan sahurnya bersama Fatah. Tidak di ruang tv, melainkan di meja makan yang mereka buat duduk senyaman mungkin. Karena sekarang tidak ada tontonan bagus di layar televisi.




Siang harinya, setelah Fatah dan Liana selesai salat dzuhur. Liana rebahan di samping Fatah sambil mendengarkan pria itu membaca kitab.



*Kruk ... kruk* ....



Perut Liana tiba\-tiba berbunyi yang menyebabkan Fatah terfokus pada dirinya.



"Lapar, Nda?"




"Jangan bohong. Mengatakan tidak lapar padahal lapar pada saat puasa itu juga dosa lho," ucap Fatah sambil mencubit pelan hidung istrinya.



"Hehehe, iya deh. Aku jujur, aku lapar," jawab Liana sambil terkekeh.



"Mau makan?"



"Ya nggak lha, orang masih puasa,"



"Ya kali." Balas Fatah sambil terkekeh pelan lalu menurut kitabnya di atas nakas.



"Bee!"



"Heum?"



"Tidur yuk!" Ajak Liana.



"Tidur tinggal tidur kenapa ajak\-ajak?"



"Ish,"



Fatah terkekeh sambil merebahkan tubuhnya juga ke ranjang.



"Albee mau ngapain?"



"Tidur,"



"Tadi katanya ...,"



"Apa?"



"Kenapa tadi nggak jawab 'yuk' kalo ujung\-ujungnya juga mau tidur!?" Kesal Liana.



"Serah aku lha,"



Liana menghela nafas sambil membelakangi suaminya.



"Ngambek," ucap Fatah yang memiringkan tubuhnya juga yang menjadi menghadap ke istrinya.



Liana kembali memiringkan tubuhnya ke posisi awal. "Enggak lha, aku kan sabar. Karena sabar disayang Tuhan, dan ...,"



"Dan?"



"Dan kamu, wleee."



"Pede."



\=\=\=



Udah baca HALAL DIUSIA DINI belum? Baca yuk kalo belum.



Lampung Tengah, 13 April 2020



Azzah Indah Irmiyana


Yang Cai