Gusmu Imamku

Gusmu Imamku
(19)



Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.


\=\=\=


Siang menjelang sore hari di asrama putri, Liana duduk membelakangi 10 santriwati masukan tahun ajaran baru yang belum bisa baca tulis pegon dan masih kesusahan menulis bahasa arab.


Dengan telaten ia menuliskan soal jawab dari bahasa arab lalu diberi ma'na pegon yang di tulis miring sama persis dengan apa yang ada di dalam kitab Mabadi Fiqih juz 1 di papan tulis putih.


"Eh, Ni. Itu bacanya apa?" Seorang santriwati bernama Dwi berbisik pada Ani karena tak bisa membaca pegon yang ningnya tulis.


"Nggak tau gue, coba tanya ning Liana gih!" Suruh Ani yang sepertinya mereka berdua dari Jakarta, karena nada suara mereka saat berbicara bahasa nasional tidak lha medhok seperti orang yang ngomong kesehariannya memakai bahasa Jawa.


"Kamu berdua apaan sih bisik-bisik? Lagi ngaji juga." Sahut Mara yang duduk di samping Dwi.


"Itu bacanya apa, Mar?" Tanya Dwi pada teman sebayanya yang berasal dari Mesuji-Lampung sambil menujuk tulisan arab pada baris pertama.


"Itu?" Tanya Mara sambil menujuk yang tadi Dwi tunjuk.


Dwi mengangguk, dan langsung saja Mara membuka lembaran pelajaran kemarin yang di sebalah ma'nanya ia tulis dengan gedrex (bahasa Indonesia).


"Oh itu bacanya maa: iku opo aku bisanya cuma itu doang, tulisan sampingnya beda lagi sama pembahasannya kemarin," Mara nyengir kaku.


"Maa: Iku opo Indonesianya apa kan ya?"


Mara mengangguk. Bisa dikatakan Mara mampu mengucapkan dan memahami 2 bahasa. Bahasa Indonesia dan bahasa Jawa kasar, karena ia tinggal di lingkungan orang yang berbicara memakai bahasa Jawa. Ya, kebanyakan warga Lampung berdialog sehari-hari memakai bahasa Jawa. Bahkan jarang orang yang tinggal di Lampung bisa berbicara menggunakan bahasa daerahnya sendiri.


"Sttt." Diana yang duduk paling ujung memberi isyarat agar mereka menghentikan sesi dialog saat sedang mengaji.


"Diam-diam." Lirih Ani penuh penekanan pada 2 teman barunya.


"Sampun Mba?" Tanya Liana yang telah menyelesaikan tulisannya lalu duduk anteng di tempatnya. "Nulisnya udah selesai, Mba?"


"Dereng, Ning." Jawab Mba-mba santri kompak, karena kebetulan mereka semua, sedikit demi sedikit sudah tahu bahasa Jawa halus. "Belum, Ning."


"Nek sampun rampung, diwaos bareng-bareng nggeh?" Titah Liana sambil tersenyum simpul. "Kalo udah selesai semua, kita baca bersama-sama ya?"


"Enggeh, Ning." Balas semua mba santri baru, lalu mereka semua segera mempercepat menulis apa yang tadi ningnya tulis.


Untuk sementara ini, mereka semua masih menggunakan buku tulis biasa, karena hampir diantara mereka masih memaknai tulisan dari garis pertama buku sampai ujung bawah buku jika ada kalimah bermakna panjang.


"Teng kelas niki enten pelajaran khot, kan?" Tanya Liana di sela-sela mereka menulis. "Di kelas ini ada pelajaran khot, kan?"


"Wonten Ning, mbak Fatma gurune" Jawab Aish orang asli Jawa Timur yang mengingatkan Liana tentang kejadian tak berakhlak yang Fatma lakukan padanya dulu. "Ada Ning, mbak Fatma gurunya."


"Teng pundi sak niki tiange?" Tanya Liana karena sejak hari itu, baru sekali ia melihat Fatma lagi, itu pun di mushala saat ia berangkat jamaah maghrib paling akhir dan menyadari ada Fatma yang duduk di shaf yang tak jauh darinya. "Sekarang dia ada di mana?"


Aish menggeleng sambil terkekeh ringan. "Tiange sak niki teng asrama B Ning. Isin ketemu kaleh njenengan." Jawabnya yang memang kebetulan tahu karena dia sekamar dengan Fatma. "Sekarang ada di asrama B, Ning. Malu katanya kalo ketemu Ning Liana,"


Liana tersenyum manis sambil menatap Aish lembut. "Nanti, kalo udah selesai ngajinya suruh dia temui saya ya,"


"Enggeh, Ning." Balas Aish cepat.


Liana menarik nafas. "Sampun sami cekap sedoyo, kan?" Tanyanya. "Udah pada selesia semua, kan?"


"Yompun, di tenggo kedap meleh." Balas Liana yang membuat Dwi benar-benar melajukan cara menulisnya. "Yaudah, ditunggu sebentar lagi aja."


 


Pulang ngaji Liana di ikuti 2 santrinya. Ada Holif yang agak dekat dengannya walau perempuan itu masih berjalan di belakangnya ada juga Fatma yang posisinya agak jauh darinya. Holif terus menerus bertanya tentang Nahwu yang sebenarnya Liana tahu jika Holif juga sudah tahu jawaban apa yang perempuan itu tanyakan.


"Ning, و menjadi alamat i'rob rofa' kan bertempat pada 2 tempat, nah tempat e niku teng pundi mawon?" Tanya Holif.


Liana menggeleng. "Kepo." Jawabnya lalu terkekeh ringan yang di ikuti Fatma diam\-diam. Liana tahu, kerena wanita itu baru saja melirik santrinya yang berjalan sambil menunduk agak jauh di belakangnya itu.


"Kok kepo sih, Ning? Kulo kan tangklet e saestu," Holif memajukan bibirnya yang wajahnya benar\-benar membentuk baby face. "**Kok kepo sih, Ning. Aku kan tanya sungguh\-sungguh**,"


"Tanya sama mba Fatma aja sana!" Saat Liana melemparkan pertanyaan Holif pada Fatma, wajah perempuan berhuruf nama awalannya F itu langsung berdehem menghentikan kekehannya.


"Mboten ah, Ning. Kapan\-kapan mawon. Eum, kulo tak wangsul rumiyen nggeh, kedap meleh salat asar. Assalamualaikum." Pamit Holif sambil menyalami tangan ningnya sebelum ia pergi ke asrama. "**Nggak ah, Ning. Kapan\-kapan aja, sekarang aku pulang dulu ke asrama, bentar lagi mau salat asar. Assalamualaikum**."


"Wa'alaikumsalam." Jawab Liana dan Fatma atas salam Holif tadi.


Liana diam diri di tempat sambil memutar tubuhnya menghadap Fatma. "Peripun wartose, Mba?" Tanyanya sambil tersenyum. "**Gimana kabarnya, Mba**?"


"Alhamdulillah, sehat Ning." Jawab Fatma dengan suara pelan.


"Alhamdulillah." Lirih Liana lalu menolehkan kepalanya ke belakang karena mendengar suara benda jatuh dari arah dapurnya.


Mungkin kucing. Pikirnya.


"Sampeyan tasek udzur?" Lanjutnya bertanya. "**Kamu lagi halangan**?"


Fatma menggeleng. "Mboten, Ning."


"Yompun, enggal siap\-siap jamaah!" Suruh Liana. "**Yaudah, cepat siap\-siap buat jamaah**!"


"Enggeh, Ning." Fatma berjalan perlahan ke arah ningnya untuk bersalaman. Tangannya panas dingin ketika telah bersentuhan dengan wanita cantik di depannya itu. Ia tersenyum tipis. "Maaf, Ning. Assalamualaikum." Pamitnya lalu buru\-buru pergi setelah Liana menjawab salam dan berbalik arah darinya. Fatma buru\-buru pergi namun masih dengan gaya sopan, ia berjalan mundur terlebih dahulu beberapa langkah sebelum benar\-benar ngacir kembali ke asrama putri.


 


Saat sudah berada di ndalem, Liana tak mendapati suaminya ada di bawah atap yang sama dengannya, karena kemungkinan besar Fatah telah pergi ke masjid untuk menunaikan salat asar. Liana pun akan melakuakan hal yang sama, ia langsung menyambar mukena begitu saja setelah wudu untuk menunaikan salat asar di mushala asrama putri.


Selesai salat, Liana langsung bergegas pulang kembali karena harus memasak makanan untuk bukanya dan suaminya nanti.


▪︎▪︎▪︎


Khot: tulisan tangan indah (kaligrafi)


Lampung Tengah, 15 April 2020


Azzah Indah Irmiyana


Yang Cai_ 阳菜🌻


Bagi konflik yang anti-mainstream dong! 👉👈