Gusmu Imamku

Gusmu Imamku
(11)



Aku tak kan pernah mencintainya dan selamanya akan mencintaimu!! -Gusmu Imamku


\=\=\=


Liana melangkah lesu dari kamar mandi menuju kasurnya. Saat ini hatinya dalam kondisi tidak baik, karena pasca 1 bulan jalannya pernikahannya dengan Fatah, entah kenapa suaminya itu malah menunjukan sikap berbeda setelah bertemu Holif minggu-minggu lalu yang membuatnya kepikiran terus menerus.


Bahkan saat malam-malam mereka berdua di dalam kamar, Fatah sudah tak lagi seperti awalan yang menagihnya untuk selesai haid.


Ya, sampai saat kontak fisik yang Fatah lakukan dengannya hanya sebatas apa yang dilakukan ketika awalan mereka masuk pesantren dan cium tangan sebelum Fatah pergi ke warung makan dan toko-toko yang pria itu punya, selebihnya itu, tidak. Bahkan Fatah pun terlihat tak begitu menginginkannya lagi.


"Ada apa dengannya, Ya Allah? Kenapa sikapnya itu membuatku tak nyaman?" Liana berdecak lemah sambil mengambil tasbih yang ada di atas nakas.


"Apakah dia telah jatuh hati dan pesona dengan Holif? Astagfirullah, kenapa aku berpikir yang tidak-tidak hanya karena dia berubah sikap,"


Liana menghembuskan nafas panjangnya sambil terduduk di tepi kasur. "Tapi, bisa jadi emang seperti itulah peringai asli dia yang tak terlalu tertarik dengan wanita, termasuk dengan aku, istrinya sendiri."


Liana memejamkan matanya sambil berdzikir dengan tangan yang memutar tasbih yang ia ambil tadi.


 


Malam ini setelah pulang mengajar, Fatah kembali ke ndalemnya untuk beristirahat. Setelah sampai ndalem, kakinya melangkah masuk ke kamarnya yang di dalamnya sudah ada istrinya yang mungkin masih terjaga.


"Assalamualaikum." Salam Fatah sembari membuka pintu kamar.


"Wa'alaikumussalam." Jawab istrinya dengan suara pelan.


"Belum ngantuk, Nda?" Tanya Fatah sambil berjalan ke arah lemari kitabnya yang berada di dekat tv.


"Belum."


Fatah menoleh ke belakang sebentar karena merasakan perubahan aneh istrinya malam ini. Fatah mengembuskan nafas panjangnya sambil menyalakan tv untuk mengetahui informasi terbaru apa yang bisa ia lihat dan ketahui saat ini.


"Kamu kenapa, heum?" Fatah berjalan mendekati Liana sekaligus agar ia bisa menikmati berita yang terpampang di tv dari kasur.


"Jawaban apa yang ingin Albee dengar dan ketahui?" Tanya balik Liana dengan wajah tanpa ekspresi.


"Jawaban yang berisi kejujuran tentang apa yang terjadi dengan dikau malam ini," Fatah tersenyum tipis sambil menempelkan punggungnya ke bantal yang ia letakan di kepala ranjang.


Liana menggeleng sambil melirik suaminya, "aku hanya sedang tidak mood saja untuk memberitahu apa yang sedang terjadi padaku saat ini."


"Baiklah. Tapi, setelah moodmu kembali, beritahu aku ya," balas Fatah lalu memfokuskan diri pada layar televisi yang menampilkan berita di depannya.


"Hem." Liana mulai memejamkan matanya, bukan untuk tidur. Melainkan ia sedang berpikir apa yang seharusnya tidak ia pikirkan.


"Euhm, Nda!" Panggil Fatah di sela\-sela fokusnya pada berita tv.


"Kenapa?" Tanya Liana tanpa membuka matanya.


Fatah melirik Liana yang berbaring di bawahnya. "Menurut kamu, Holif itu gimana orangnya?"


Deg!


Suatu pertanyaan yang tiba\-tiba menghantam sakit relung hati Liana. Tapi, sebisa mungkin ia menjawab pertanyaan suaminya dengan santai. "Baik, cantik, dan periang," jawabnya jujur.


"Baik, cantik, periang." Ulang Fatah sambil tersenyum membenarkan jawaban istrinya.


"Emang kenapa Bee dengan mba Holif?" Tanya Liana sambil membuka sedikit matanya untuk melirik Fatah.


"Gak papa sih, cuma tanya aja." Jawab Fatah sambil mengusap pelan kepala Liana yang terbungkus jilbab.


Malam\-malam biasanya, Liana selalu melepas jilbabnya, mungkin malam ini ia lupa kalo masih ada kain yang melilit kepalanya.


"Emm, Bee. Albee nggak ada niatan buat madu aku kan?" Tanya Liana dengan suara ragu.


Bagaimana aku akan memandu Dinda, jika malam pertama yang sesungguhnya saja belum kita lakukan karena aku masih belum berani melangkah ke sana.


Fatah menggeleng. "Kamu itu udah sangat manis Dinda, untuk apa aku harus memberimu madu. Jugaan nih ya, aku nggak terlalu menginginkan dan membutuhkan madu lagi, selama kau ada di sisiku."


Liana hanya mengangguk pelan lalu mulai memejamkan matanya lagi, ia tak begitu minat dengan kata\-kata manis yang keluar dari mulut suaminya.


Sungguh Liana benar\-benar tak bisa tidur karena memikirkan sesuatu yang tak harus ia pikirkan lebih dalam lagi, yaitu mengapa suaminya tadi menanyakan tentang Holif?


Apakah ia kurang menarik di mata Fatah? Jika benar, apa yang harus ia perbaiki dan rubah agar bisa menjadi satu\-satunya permaisuri sampai akhir hayat pria itu?


"Huh." Liana mendengus pelan, memikirkan hal itu saja sudah membuat kepalanya pusing. Wajar, kali ini yang ia pikirkan seorang pria, karena yang biasa ia tangani adalah masalah santri tempatnya mondok dulu.


"Kamu kenapa, Nda?" Tanya Fatah yang tadi mendengar dengusan pelan istrinya.


Liana membuka matanya melihat Fatah dengan posisi yang sudah berubah, ia mendudukan diri menatap mata suaminya intens.


"A\-ada apa?" Tanya Fatah yang malah salting sendiri.


"Albee!" Panggil Liana dengan kesal.


"I\-iya, Dinda?"


"I\-itu apa, Nda?" Fatah pura\-pura tak tahu.


"Itu lho, Bee." Liana tak mampu mengucapkan keinginannya secara blak\-blakan.


"Iya itu apa, Dinda?" Fatah menekankan suaranya dengan suara pelan.


"Kok nggak peka lho Albee ini," kesal Liana sambil membaringkan tubuhnya kembali lalu ia menarik selimut untuk menutupi semua tubuhnya.


"Kamu bilang dong, Nda. Apa yang sebenarnya ingin aku lakukan padamu."


"Lupakan saja lha. Aku ingin tidur, selamat malam. Assalamualaikum." Jawab Liana dengan suara masih rada ketus lalu ia memiringkan posisi menjadi membelakangi suaminya.


 


Fatah melirik jam dindingnya yang menunjukan pukul 1 dini hari. Sebelumnya ia hampir tak bisa tidur karena memikirkan ajakan Liana tadi, sungguh Fatah ingin tapi sikap jantannya entah menghilang ke mana, dia tak tahu.


Ia bangkit dari berbaringnya untuk melaksanakan salat malam sendirian. Tapi sebelum itu ia melakukan aktivitas yang rutin ia lakukan diam-diam sebelum pergi ke kamar mandi, yaitu mencium lama kening Liana yang sedang terlelap damai.


Ia bergegas ke kamar mandi, setelah menyudahi kecupan lamanya di kening istrinya.


Setelah selesai urusannya di dalam kamar mandi, ia bergegas salat sampai mulutnya menyuarakan salam.


Dzikir dan doa yang ia lantunkan masih sama indahnya seperti malam-malam lalu mendoakan diri sendiri, keluarga, guru, istri, dan keluarga pondok lainnya seperti santri dan wali santri.


"Aamiin." Lirihnya setelah melafalkan Al-fatihah di akhir doa.


Tanpa melepas sarung yang ia pakai, Fatah melangkah kembali ke kasurnya, menemani istrinya yang betah terlelap. Mungkin karena kelelahan mengurus santri putri yang cukup banyak hari ini, pikir Fatah.


Karena Fatah tak bisa memejamkan matanya, ia memilih pergi ke dapur membuat kopi sebelum bersantai di ruang tamu sembari merokok. Ya, dia adalah pria perokok.


"Hoam." Mulutnya menguap ketika rokok yang ia hempit mulai memendek.


Ia bergegas kembali ke kamar untuk mengistirahatkan diri setelah menenggakan kopi sampai menyisakan ampasnya.


Ia tertidur miring menghadap Liana yang tertidur terlentang sambil memikirkan apa yang sudah seharusnya ia lakukan dari malam-malam kemarin pada istri manisnya itu.


"Akan ku coba nanti pagi, Dinda." Lirih Fatah sambil memejamkan matanya menyusul Liana ke dalam mimpi indah wanita itu.


 


Setelah pulang dari jamaah subuh di masjid, Fatah bergegas pulang ke rumahnya, ia sudah sangat tak sabar menemui Liana setelah tadi malam berperang dengan pikirannya.


Dari kejauhan ia dapat melihat Liana yang berjalan menunduk membawa sajadah dari arah mushalla putri.


"Dinda!" Panggil Fatah sambil berjalan mendekati Liana.


Liana mendongak sambil tersenyum tipis, "ya Bee? Ada apa?"


"Ayo ikut aku." Fatah menarik tangan Liana untuk segera membawa wanitanya menuju kamar ndalemnya.


"A\-ada apa, Albee?" Tanya Liana bingung setelah mereka sudah sampai di kamar.


"Ayo kita lakukan itu, saat ini juga!" Ajak Fatah sambil tersenyum bahagia.


"Itu apa?" Kali ini Liana benar\-benar tak paham ke arah mana ajakan suaminya itu.


Fatah memajukan wajahnya sembari berbisik pada Liana. "Jadilah wanita luar biasaku pagi sampai tanpa batas waktu." Bisiknya sambil menjatuhkan Liana ke kasur.


"Aku tak tahu apa Albee katakan, ku mohon beritahulah maksud ucapanmu, Albee." Liana tak mengerti apa yang sebenarnya akan yang Fatah lakukan padanya.


"Akan ku beritahu dengan tindakan, Dinda. Cukup diam dan rasakan." Fatah tersenyum miring sebelum melakukan apa yang seharusnya ia dapatkan di awal pernikahan mereka.


\=\=\=\=


Jaga kesehatan ya Teman, jangan bandel kalo disuruh diam diri di rumah:\)


Kusayang kalian♡


Follow me


azzindaah\_


Lampung Tengah, 28 Maret 2020


Azzah Indah Irmiyana


Yang Cai\_阳菜🌻


kalo mau baca yang udah banyak partnya ada di ******* @azzindaah_