
Nikmati waktu yang kau punya dengan orang-orang yang kau kasihi. -Gusmu Imamku.
\=\=\=
"Besok puasa amalan yuk, Nda!" Ajak Fatah pada Liana saat mereka berdua telah selesai melihat-lihat kondisi landang yang syukur Alhamdulillah dalam kondisi baik.
Liana mengangguk semangat sambil memeluk erat lengan kekar Fatah, saat mereka bergandengan tangan. "Puasa yang berapa hari, Bee?"
"Tujuh."
"Oke siap, laksanakan Imam,"
"Makmum pinter." Ucap Fatah sambil mengecup pelipis istrinya.
Liana terkekeh. "Aku sayang Albee," ucapnya tiba-tiba dengan senyum yang mengambang indah.
"Tauk." Balas Fatah dengan wajah yang sangat menyiratkan kebahagian tiada tara.
"Mari berjanji," Liana melepas tangannya dari memeluk lengan suaminya.
Dahi Fatah mengernyit, janji apa yang istrinya inginkan? Pikirnya sambil mengangkat kelingking tangan kanannya berbarengan dengan wajah bingung.
"Janji?"
Liana menyatukan jari kelingkingnya dengan milik suaminya. "Berjanji lha, kita akan selalu bersama di dunia dan akhirat. Tidak akan ada orang lain lagi setelah kamu ataupun aku yang terlebih dahulu pulang menghadap Tuhan kita," ucap Liana penuh keseriusan yang terpancar dari wajahnya.
Jantung Fatah berpacu sangat cepat dengan mata yang menatap kelingkingnya sebelum beralih ke wajah istrinya.
"Bismillah, dengan nama Tuhan mu, aku berjanji tidak akan ada perempuan lain lagi yang akan bertahta dan menjadi permaisuri hatiku selain dirimu selamanya." Balas Fatah tanpa ada sedikit keraguan di suaranya lalu ia tersenyum lebar.
"Dan aku juga berjanji tidak akan ada pria lain lagi setelahmu selamanya, suamiku." Liana mengulang ucapan Fatah dengan versinya sendiri.
Fatah dan Liana lalu saling berhadapan, mata mereka cukup lama bertatapan, sampai Fatah tiba-tiba memeluk wanita yang ia cintai yang saat ini berdiri di depannya.
Sudah dari lahir Fatah tak pernah merasakan jatuh cinta dan juga tak ingin jatuh cinta dengan wanita lain sebelum adanya ikatan pernikahan diantara mereka.
Pernikahannya dulu dilakukan tanpa sepengetahuannya, dalam arti lain dia tidak tahu siapa yang menjadi calonnya. Dia hanya disuruh abahnya pergi ke Lampung untuk melakukan ijab kabul dengan anak kyai yang sebelumnya dia juga tidak tahu, siapa kyai yang abahnya maksud.
Tapi berbekal yakin dan alamat yang abahnya berikan, akhirnya Fatah pergi ke Lampung di temani Husain, teman dekatnya sewaktu mondok dulu sampai sekarang yang saat ini orangnya tengah mengajar di salah satu universitas yang ada di Jawa Timur.
Mereka sempat pulang bersama menuju Jawa. Tapi karena Husein ingin berkunjung di rumah saudaranya, sampai di Semarang ia memilih turun dan berangkat sendiri. Meninggalkan Fatah yang akan menjemput sang istri.
"Nda." Panggil Fatah dengan suara lirih.
Liana merenggangkan pelukan yang Fatah lakukan tadi padanya. "Kenapa?"
"Kamu ... minta janji kayak gitu bukan mau pulang ninggalin aku sendirian, kan?" Suara Fatah terdengar ragu saat mempertanyakan pertanyaan itu pada istrinya.
Liana mengedikan bahu acuh sambil tersenyum sekilas, lalu berjalan terlebih dahulu ke arah ndalem untuk membuatkan suaminya sarapan sebelum pergi ke asrama putri, mengatur kegiatan asrama seperti hari-hari biasanya.
Fatah menelan salivanya susah payah, perasaanya tiba-tiba menjadi tidak enak dengan apa yang akan terjadi. Tapi, dia tidak tahu apa itu.
Jagalah keluarga dan orang-orang terdekatku, Ya Allah.
Fatah lalu berjalan menyusul istrinya, dia tidak ingin berjauhan dengan Liana. Tak mau, dan takkan pernah mau. Apalagi sampai harus berpisah, sampai kapan pun dia tak akan siap. Ia telah jatuh hati pada istrinya, ia telah mencintai Liana, cinta ia pada Liana adalah cinta sejati, cinta murni antara pria dan wanita. Ia tidak akan mencintai wanita lain selain Liana.
Perasaannya pada Holif hanya sebatas kagum akan keistimewaan yang terpancar dari dalam hati santriwatinya itu. Ia tidak pernah merasakan rasa kagum pada perempuan manapun selain Holif. Ia sangat jarang melihat wanita yang punya keistimewaan terpendam seperti yang di miliki Holif. Walaupun di akhir zaman wanita yang punya keistimewaan itu banyak, tapi ia rasa jauh lebih banyak lagi wanita yang tak mempunyai keistimewaan itu.
Holif mempunyai aura kebaikan yang membuat orang bahagia jika berada di dekatnya. Walau perempuan itu rada nakal, tapi hati perempuan itu terhubung dengan sang Khaliq. Holif wanita yang rajin berpuasa sunnah, melanggengkan salat-salat sunnah. Holif benar-benar berbudi pekerti baik, jika bersama orang-orang yang memiliki akhlak terpuji yang sudah sangat jarang di jumpai di akhir zaman ini.
Holif perempuan baik, Fatah kagum padanya.
Liana wanita hebat, Fatah jatuh cinta padanya.
Setelah selesai memasak Liana langsung menyiapkan sepiring nasi yang akan ia gunakan nanti saat sarapan bersama sang suami. Mereka sudah terbiasa akan itu, selain jika sedang makan bersama tamu atau makan di luar pondok.
"Kamu luar biasa Dindaku." Fatah keluar dari kamarnya setelah ia selesai salat dhuha, dan langsung duduk begitu saja di lantai depan tv ruang tamu. Mereka punya meja makan, tapi jarang gunakan karena tak nyaman duduk di kursi, mereka tak terbiasa akan itu.
Biasa alumni pondokan.
"Menu apa pagi ini?" Tanya Fatah sambil menuangkan air ke dalam gelas yang akan mereka gunakan nanti secara bergantian.
"Tempe, sampel, sama kulub." Jawab Liana sambil duduk di depan Fatah setelah ia menaruh piring di atas meja kecil.
"Mantab itu, bisa banget sih bikin suaminya nafsu makan." Ujar Fatah dengan wajah yang tak sabar menyantap makanan yang Liana buat.
Bahagia itu gampang, tinggal syukuri apa yang kita punya saat ini. Tapi kalo udah makan dengan menunya saat ini, Fatah benar\-benar akan bahagia tanpa menggunakan slogan itu.
Liana terkekeh sambil menaruh kobokan untuk cuci tangannya dab suaminya nanti, lagi\-lagi mereka berdua makan hanya menggunakan tangan. Hampir semua makanan mereka makan menggunakan tangan, yang berkuah pun sama saja.
Mereka tak nyaman dengan sendok. Hmmm, untung saja mereka masih nyaman menggunakan piring.
Sepasang suami istri itu mulai makan, makan yang di selangi tawa saat acara tv menyiarkan tontonan lucu. Jika boleh jujur, mereka berdua sebenarnya tak bisa makan tanpa diam. Mulut akan terus ngomong walau sudah di sumpali makanan, mereka nyaman dengan itu.
Banyak sekali yang mereka berdua bicarakan saat sedang makan. Banyak pembahasan asik selain membicarakan keburukan orang lain, pastinya. Saking banyaknya apa yang mereka bicarakan, mereka berdua tak sadar jika makanan telah habis tak tersisa.
"Masih laper nggak?" Tanya Liana sambil \*\*\*\*\*\*\* satu persatu jarinya sebelum ia mencuci tangan bersama Fatah.
"Kenyang." Jawab Fatah dengan kekehan ringan.
"Alhamdulillah." Balas Liana sambil meriah tangan kotor Fatah dengan tangan kanannya.
Tangan kiri Liana digunakan untuk menuangkan air sedikit demi sedikit ke tangan kanan mereka berdua yang di wadahi piring yang mereka gunakan tadi. Pelan\-pelan ia menggosok\-gosok tangan kanannya yang menyatu dengan milik Fatah.
Setelah sedikit bersih. Liana menyelupkan tangan kanannya dan milik suaminya ke kobokan tadi. Kegiatan itu Liana akhiri setelah kain lap mengerikan tangan basah Fatah terlebih dahulu sebelum tangannya.
\=\=\=
TBC
Lampung Tengah, 07 April 2020
Curhat dikit: Masa aku kaget banget waktu revisi cerita ini, banyak banget Typo nya Ya Allah.
Aku revisi dari awal biar lebih nyambung dengan part² berikutnya. So, kalo kalian mau, kalian bisa baca cerita ini dari awal sekalian kasih tahu aku letak Typo yang harus aku perbaiki, xiexie. \(**Ini curhatan di wp. bukan apk ini**\)
Konfik udah makin dekat tapi aku nggak suka konfik;\(
Gimana dong? :\(
NEXT?