
Aku cemburu dan juga marah padamu, Dinda. -Albar Fatahillah.
\=\=\=
Di perjalanan menuju ndalem, Liana fokus pada ponsel barunya yang sudah diisi paket data oleh suaminya dengan sesekali ia menimpali ucapan Fatah yang terus mengajaknya bicara.
Yang Liana lakukan hanya lah iya-iya saja saat membalas ucapan Fatah. Jadinya kelakuannya yang sama sekali tak Fatah sukai itu membuat pria itu menahan kesal dalam keadaan masih menyetir.
Sesampainya di area pondok, Fatah melihat ada mobil bagus yang terparkir di depan ndalemnya, mobil yang sudah sangat ia kenali siapa pemiliknya.
"Mau turun nggak?" Tanya Fatah dengan rada ketus tanpa menoleh ke arah istrinya.
Liana menoleh dengan wajah cengo ke kanan kirinya. "Udah sampai tha? Hmm ... ." Dengan tanpa dosanya, wanita itu turun begitu saja tanpa menoleh ke Fatah yang membuat pria itu bertambah kesal lagi.
"Menyebalkan kau, Dindaaaa ...," ucapnya geram lalu segera menjalankan mobilnya ke garasi untuk di kandangkan.
Liana yang baru menyadari jika ada yang bertamu di rumahnya langsung berjalan masuk berniat menyambutnya.
"Assalamualaikum." Salam Liana sambil tersenyum kepada 3 orang tamu yang mungkin masuk karena ada santri yang mengatahui jika ada yang bertamu di ndalem sang gus.
"Wa'alaikumussalam." Jawab 3 orang tadi yang diantara 3 orang tadi ada 1 santriwati pondok yang Liana kenal, siapa lagi kalo bukan Holif orangnya.
"Pak!" Sapa Liana sambil menangkup kedua tangannya pada pria yang mungkin berusia lebih muda sedikit dari suaminya. "Pak!" Sapanya lagi pada pria yang sudah berkepala 5 dengan gaya yang masih sama seperti ia menyapa pria pertama tadi.
"Iya." Balas kedua pria tadi dengan senyum hangat dengan sama-sama menangkup kedua tangan mereka saat menyapa balik wanita muda di depan mereka.
"Assalamualaikum Ning." Holif menyodorkan tangannya untuk bersalaman pada ningnya dengan sedikit kekehan ringan.
"Wa'alaikumussalam," balas Liana dengan senyuman hangat. "Bapak 2 niki ...?" (Bapak ini ...?)
"Saya orang tua Holif dan ini abangnya Holif." Bapak berkepala 5 yang bernama Lukman itu memperkenalkan diri sendiri dan anaknya.
"Oh ..., jenguk Holif nggeh?" Liana melirik Holif sekilas sebelum saat mempertanyakan pertanyaan itu.
Pak Lukman mengangguk. "Enggeh, lha sampeyan niki garuwone gus Fatah nggeh?" (Iya, kamu istrinya gus Fatah ya?)
"Enggeh Pak," jawab Liana sambil melirik ke arah pintu, karena suaminya itu tak kunjung masuk. "Yompun, Pak. Njenengan tenggo rumiyen gus Fatah e. Kulo tak teng wingking rumiyen." Sambungnya lalu beranjak dari duduknya menuju dapur untuk membuatkan suguhan bagi tamunya. (Yaudah, Pak. Ditunggu bentar gus Fatahnya. Saya mau ke belakang dulu).
"Yah, aku ke belakang dulu ya." Pamit Holif pada pak Lukman lalu berjalan mengikuti ningnya.
Pak Lukman mengangguk ringan.
"Ning!" Holif menyapa Liana saat ningnya itu sedang mengambil gelas dari etalase.
"Eh Mba, enten nopo?" (ada apa, Mba?)
Holif menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Kulo mawon seng ndamelke ayah kaleh abang unjukan," jawab Holif dengan cengiran watados. (Saya aja yang buatin ayah sama abang saya suguhannya).
Liana mengangguk lalu memeberikan 4 gelas yang ia pegang menggunakan jari di tangan kanan kirinya pada Holif.
4 gelas, 1 untuk suaminya dan 3 untuk tamunya.
"Keluargine njenengan dugine pon dangu?" (Keluarga kamu udah datang dari tadi?)
"Lumayanlah Ning, ket njenengan kaleh gus Fatah kesah." Jawab Holif sembari meracik kopi untuk ayah dan abangnya. (Lumayan Ning, sejak kamu sama gue Fatah pergi.)
"La kok niku dereng sampeyan paringi unjuk'an?" Tanya Liana dengan wajah heran karena Holif itu malah tak memberikan suguhan apapun pada keluarganya sendiri. (Kok belum kamu buatkan suguhan?)
Holif terkekeh malu. "Nunggu njenengan wangsul, Ning. Su'ul adab mlebet-mlebet dapur ndaleme gus Fatah." (Nunggu Ning pulang. Nggak sopan masuk-masuk dapur ndalemnya gus Fatah. )
Liana menghela nafas panjang. "Yompun nek ngoten, kulo tak teng kamar rumiyen." Pamit Liana lalu bergegas pergi ke kamarnya untuk mengecash ponsel barunya. (Yaudah kalo gitu, saya pergi ke kamar dulu.)
"Enggeh, Ning."
Tak lama menghilangnya Holif dan Liana dari ruang tamu tadi, Fatah datang dengan gaya yang sama seperti Liana tadi, bedanya saat menyapa tamu, tangannya bersentuhan langsung.
Fatah sudah tahu siapa orang yang bertamu di rumahnya itu, karena pria berkepala 5 tadi cukup sering silaturahmi ke pondoknya abahnya dulu, sebelum ia mempunyai pondok sendiri.
Namanya Ahmad Lukman dan anaknya yang mungkin berumur 26 tahun ini bernama Abdul Kahfi. Ia kenal Kahfi karena dulu pria itu alumni pondok pesantren abahnya. Tapi dia tak tahu, dan memang wajar jika tak tahu jika sebenarnya pak Lukman juga mempunyai anak perempuan yang lahir 7 tahun setelah kehadiran Kahfi di dunia ini.
Bahkan sampai saat ini, Fatah tak mengetahui kebenaran yang menurutnya ini juga tak begitu penting untuk di ketahui.
Tak lama kemudian, Fatah pamit ke belakang \(kamar\) untuk menyuruh istrinya membuatkan suguhan untuk tamunya itu. Tapi, saat ia melewati dapur, ia dapat melihat perempuan yang tak begitu asing menjajah dapurnya di dekat tempat pembuatan minuman.
"Mba!?" Fatah mencoba menyapa perempuan tadi yang kebetulan sudah menyelesaikan kegiatannya.
"Eh, Gus?!"
"Holif?" Fatah tercengo dengan wajah kaget, kaget yang bahagia. "Kamu kenapa ada di sini?" Tanya Fatah dengan bingung.
"Buat kopi untuk ayah sama abang saya, Gus." Jawab Holif tanpa menunduk, karena dia tahu. Sangat tidak sopan bagi seseorang jika di ajak bicara malah mengalihkan perhatiannya ke mana\-mana.
"Lho, pak Lukman itu orang tua kamu tha?" Tanya Fatah dengan wajah tak percaya lagi.
"Hehehe, iya Gus."
"Ning Liananya lagi kamar," jawab Holif.
"Oh." Fatah mengangguk paham lalu segera mempersilahkan Holif untuk mengantar minuman yang gadis itu bawa di atas nampan untuk di berikan pada tamunya.
Jam terus berjalan sampai jarum pendek mengarah ke angka 10, yang artinya keluarga pak Lukman yang bertamu ke rumahnya tadi telah pulang sejak ba'da isya tadi.
"Albeekuu ...!" Panggil Liana sambil memeluk lengan kekar Fatah saat pria itu tengah berada di ruang kidul, ruangan yang biasanya di gunakan untuk ngaji bulanan dengan masyarakat sekitar.
"Aku lagi marah sama kamu, jangan gangguin aku." Balas Fatah dengan nada datar.
"Jangan marah dong. Eh tapi ..., tapi Albee marah sama aku, aku ada salah apa?" Bingung Liana di mana letak kesalahannya.
"Salah kamu segunung uhud," jawab Fatah sambil berjalan ke arah kamarnya.
Liana terbahak. "Banyak banget." Ujarnya sambil berjalan mengikuti Fatah.
Fatah naik ke atas ranjang, tapi sebelum itu ia seperti biasa ia menghidupkan tv untuk melihat berita terbaru.
"Bee, ****. Eh Albee!" Liana menggoda suaminya dengan ucapan tak senonoh sambil mendekati Fatah seperti malam-malam biasanya juga.
"Gak sopan banget sih kamu sama suami sendiri." Geram Fatah sambil menjitak pelan, sangat pelan kepala Liana.
"Habisnya Albee pura-pura marah sih," Liana mengerucutkan bibirnya kesal.
"Siapa yang pura-pura!? aku tuh beneran marah sama kamu, Dindaaa." Geram Fatah.
"Ya lha, seterah Albee mau marah atau enggak sama aku. Yang penting aku dapat hp baru, hehehe." Liana merebahkan kepalanya di paha Fatah saat pria itu sedang menekuk wajah dengan sangat kesal. "Bee!" Panggil Liana dengan mata menatap ke arah layar ponselnya.
"Hmm?"
"Liat geh, banyak pria tampan follow aku di ig." Jika tak salah lihat, Liana seperti mengenal baju yang di kenakan para pria tampan yang memfollownya 2/3 minggu lalu, baju itu ...,
Baju itu, baju yang sama dengan baju santri di pondoknya dulu!!!
Fatah terdiam malas menanggapi ucapan istrinya itu.
"Bee, liat geh tampan banget ini. Tampaaaan banget nget nget."
Fatah terdiam terus sambil memperhatikan gambar hidup di layar tv nya sampai istrinya dibuat kesal karena mulutnya yang tak mau berbicara.
"Bee, Albee nggak cemburu aku muji cowok lain?" Tanya Liana sedih.
"Bee, Albee kenapa nggak cemburu?"
"Cemburu dong Bee, pwease!!"
"Albee. Albee cepet cemburu ish!"
"Tauk ah, Albee nggak asik. Aku kesal." Liana merajuk kesal sambil mendudukan diri dan sedikit menjaga jarak dari Fatah.
Fatah melirik Liana sekilas yang tiba-tiba terlihat asik membalas chat entah dari siapa, dia tak tahu.
"Wih Fajri ngajak VC." Liana terlihat sangat girang dengan langsung meloncat dari ranjang menuju tempat makeup untuk berdandan cantik, pastinya.
"Fajri, Fajri, I miss you." Ucap Liana dengan sangat bahagia sambil mengarahkan ponselnya ke arah yang pas dengan wajahnya saat akan menerima panggilan VC dari Fajriyah, setelah ia berdandan cukup cantik di mata Fatah.
"Siapa suruh video call sama pria lain?" Tiba-tiba Fatah merebut ponsel yang ada di tangan Liana dengan wajah yang sangat datar.
Liana menatap Fatah bingung dan akan menyampaikan protesnya, tapi sayangnya tepat di detik itu juga Fatah mematikan panggilan yang terhubung di ponselnya.
"Albee kenapa sih!?" Kesal Liana.
"Kenapa? Kenapa kau tak paham, Dinda!? Jika aku tak rela milikku memiliki hubungan dengan pria lain selain aku dan pria di keluargamu." Fatah menatap Liana frustasi.
"Tapi tadi katanya nggak cemburu," lirih Liana dengan wajah sangat menggemaskan.
"Kapan aku bilang kalo aku nggak cemburu, Dindaku sayang, hah!?"
Liana menggeleng dengan sangat polosnya sambil berjalan ke arah ranjang.
"Yaudah yok sini buat dedek, jangan marah-marah lagi, takut." Ajak Liana dengan suara ala anak kecil sambil membaringkan tubuhnya di kasur.
Fatah terdiam sejenak dengan sudut bibir yang tiba-tiba membentuk lengkungan tipis. Buru-buru ia membalikan badan dan mendekat ke arah istrinya yang tengah memaikan rambut sambil menatapnya dengan mata genit.
\=\=\=
MAU NYAMPE PART BERAPA?
YANG TAU KEPANJANGAN DARI
ALBEE
AKU FOLLOW, JANJI!!
Follow me
azzindaah_
VOTE AND COMMENT!!
Lampung Tengah, 03 April 2020
Azzah Indah Irmiyana
Yang Cai_ 阳菜 🌻