
Dear high heels, sebab kau, aku malu saat tertimpa kejadian indah yang malah membuatku terlihat agresif. -Albar Fatahillah
\=\=\=
Mobil yang Fatah kendari mulai memasuki wilayah pondok. Tapi, ada 1 hal yang tak pernah Liana bayangkan sebelumnya, jika ia akan disambut besar-besaran oleh keluarga besar pondok pesantren Al-Basyari milik abah suaminya.
"Gu-gus i-ini a-ada apa?" Tanya Liana sambil menatap suaminya bingung saat melihat rombongan hadrah sudah siap menyambut kedatangan mereka berdua.
Fatah tersenyum terlebih dahulu sambil menatap mata lentik istrinya. "Ini hanya sambutan ala kadarnya untuk kedatangan sampeyan, Ning."
Ala kadarnya? Peuh, ini mah luar biasa mewah, Gusku.
Liana terdiam sejenak karena tiba-tiba sekelebat ingatan menghampiri pikirannya.
Jadi, aku dibawa ke hotel tadi, buat sambutan mewah ini?
Ya. Liana dan Fatah tadi sempat mampir ke hotel untuk istirahat sejenak dan berdanda rapih, dibantu utusan dari pondok, pastinya.
"Ayo Ning, mandap!" Ajak Fatah membuyarakan lamunan Liana sambil memberhentikan mobilnya ditengah-tengah antara gerbang masuk pondok dan ndalem abah kyai. (Ayo Ning, turun!)
"Gu-gus, saya ma-malu." Liana menutupi setengah wajahnya menggunakan sorban putih milik Fatah yang suaminya titipkan padanya setelah keluar dari hotel tadi.
Tiba-tiba pintu kaca mobil diketuk sesorang yang membuat Fatah harus menurunkan kacanya.
"Ayo, Gos. Monggo!"
Fatah melihat sekelilingnya terlebih dahulu sebelum membalas ajakan ketua pengurus asrama yang bernama Muhaimin. "Niki sampun cekap sedoyo, Kang?" (Ini udah selesai semua, Kang?)
"Sampun Gos, monggo!" Muhaimin melihat istri gusnya sekilas sambil tersenyum tipis. (Udah Gus, silahkan!)
Fatah mengangguk lalu melihat Liana yang perlahan merendahkan posisi duduknya agar tidak terlihat orang lain dari balik kaca.
"Monggo, Ning!" Ajak Fatah sambil menahan senyumnya ketika melihat aksi Liana saat ini.
Liana menggeleng pelan tepat saat tepukan hadrah para santri dan lantunan marhaban dimulai.
Ceklek
Kaca mobil bagian kiri yang Liana duduki kursinya, tiba-tiba dibuka oleh seorang wanita yang tak ia kenali siapa nama dan orangnya.
"Assalamualaikum, Ning!" Sapa wanita tadi sambil menyodorkan tangannya pada Liana dengan senyuman hangat.
"Wa-wa'alaikumussalam," jawab Liana sambil menegakkan badannya kembali dan membalas uluran wanita tadi.
"Assalamualaikum, Mba!" Salam Fatah sambil menangkup kedua tangannya pada wanita tadi, lalu ia melihat istrinya yang terlihat sedang kebingungan itu. "Namanya mba Fatimah, istri mamas kedua saya."
Liana menoleh ke arah Fatah sambil menurunkan lengkungan bibirnya ke bawah lalu menoleh lagi ke arah Fatimah sambil tersenyum malu.
"Ayo, Ning!" Ajak Fatimah agar istri adik iparnya itu turun dari mobil.
Liana mengangguk, lalu ia turunkan pelan-pelan terlebih dahulu kaki kirinya yang beralaskan high heels ke tanah setelah ia melihat Fatah telah turun terlebih dahulu dan menunggunya di depan mobil sambil membenarkan peci.
Liana menghembuskan nafas panjangnya lalu mulai berjalan selangkah demi selangkah mendekati suaminya yang masih tetap membenarkan peci sambil melihatnya dengan langkah sangat berat, karena ia tidak pernah mengenakan high heels sebelumnya.
"Ning!" Panggil Fatah sambil berjalan mendekati istrinya.
"Gus, sa-saya nggak bisa pake sandal jinjit ini," Liana berusaha mengeraskan suaranya karena tepukan hadrah tak main-main kerasnya disaat Fatah sudah begitu dekat dengannya.
"Gimana Ning? Saya nggak dengar?" Fatah memajukan wajah sampai wajah mereka menjadi bersampingan.
"Saya gak bisa pakai sandal jinjit, Gus!" Intonasi suara Liana lebih ditinggikan lagi sampai Fatah benar-benar mendengar ucapannya.
"Sampeyan gak bisa pakai sandal jinjit, Ning?!" Tanya Fatah memeriksa pendengarannya.
Liana mengangguk.
Fatah tersenyum sekilas lalu segera berjalan kembali ke mobilnya untuk mengambilkan istrinya sandal jepitnya yang bermerek swallow.
Fatah membungkukkan badannya untuk menaruh sandal yang ia ambil tadi kepada Liana di depan santri dan tamu undangan
"Gu-gus." Spontan Liana memundurkan tubuhnya karena tak enak melihat posisi anak kyai besar dan mulai harus merendah di depannya.
"Hati-hati, Ning!"
Dengan sigap, Fatah langsung menahan punggung Liana agar tidak jatuh ke tanah menggunakan lengan kekarnya. Karena sandal jinjit milik istrinya itu menginjak kerikil, yang mungkin akan oleng jika belum terbiasa memakainya, dan benar, istri cantik dari Albar Fatahillah itu oleng dibuat kerikil luar biasa itu.
Mata mereka terkunci lama, sampai suara ricuh santri dan para tamu undangan menyadarkan posisi mereka berdua saat ini.
Liana langsung menegakan badannya dibantu lengan kekar Fatah yang berada di punggungnya. Tapi, lagi, karena bantuan Fatah terlalu spontan, pria berkepala 3 itu membuat Liana harus menanggung malu lagi, karena ia tak sengaja menarik Liana sampai dahi perempuan itu menyentuh dadanya.
"Jangan mundur lagi, Ning. Kalo kejadian tadi nggak mau terulangi," bisik Fatah sambil tersenyum kikuk.
Liana mengangguk pelan, mematuhi ucapan suaminya.
"Stay diposisi ya, Ning. Bentar aja." Sambung Fatah lalu melepas kaitan yang ada di high heels istrinya.
Sorakan terus menjadi-jadi sampai pada puncaknya, Fatah mengangkat tubuh Liana dari samping supaya kaki istrinya bisa sekaligus lepas dari high heels luar biasa itu.
Kenapa tiba-tiba aku jadi agresif gini sih?
Fatah lalu menurunkan tubuh Liana lagi sambil melihat istrinya itu memasang sandal jepit tadi ke kakinya sendiri.
"Monggo, Ning!" Ajak Fatah sambil mengulurkan tangan kirinya untuk istrinya gapai agar mereka bisa bergandengan menuju ndalem abah kyai.
Liana menggeleng, menunduk sambil menggapai ujung jas hitam Fatah, karena ia sangat malu jika harus bergandangan di depan umum terlebih karena kejadian saat ia hampir jatuh tadi.
Fatah terkekeh pelan sambil melihat tangannya yang tak mendapat balasan dari istrinya. Lalu mereka berdua segera berjalan bersama di tengah-tengah santri dan para tamu undangan menuju ndalem abah kyai.
Sesampainya di ndalem abah kyai Liana dibuat kaget lagi, karena kehadiran keluarga besarnya yang sangat ia rindukan setelah 2 tahun lamanya tak pernah bertatap muka secara langsung.
"Liana!" Panggil Ruhamah, mama kandung Liana saat menyambut putrinya di teras ndalem abah kyai.
"Mama? Mama! Liana kangen!" Liana berhambur kepelukan mama kandungnya yang terlihat meneteskan air mata haru, karena bisa melihat anaknya kembali.
"Mama juga kangen kamu, Sayang." Ruhamah memeluk putri ketiganya erat.
"Mama, abah, ibu, dan lain\-lain apa kabarnya, Ma?" Liana melepas pelukannya sambil mengusap air yang masih di pelukan mata.
"Baik, alhamdulilah baik semua. Kamu salaman dulu sana sama abah dan ibu!" Jawab dan suruh Ruhamah sekaligus sambil menujuk orang tua Liana lainnya yang sedang melihat ke arahnya dari ruang tamu ndalem besan.
"Assalamualaikum, Ma." Fatah menyalami Ruhamah setelah Liana menyingkir sedikit.
"Ayo Gus, enggal!" Liana menjadi excited setelah mendapat panggilan dari ibunya. \(Ayo Gus, buruan!\)
Fatah mengangguk sambil tersenyum malu, lalu mereka berdua masuk ke dalam ndalem untuk saling bersalaman dengan keluraga sendiri dan keluraga mertua.
\=\=\=
TO BE CONTINUE!
Masih ingat kan, kalo Liana punya 2 ibu?
Masihlah ya, hehehe.
Mama Ruhamah: Ibu Kandung Liana sekaligus istri kedua.
Ibu Maisaroh: Istri pertama abah Liana
follow instagramku ya
\(@\)azzindaah\_
Vote dan comment juga ya, hahaha!
Makasih💖
17 Maret 2020
\-Azzah Indah Irmiyana
\-YangCai \_ 阳菜🌻