Gusmu Imamku

Gusmu Imamku
(15)



Dari awal aku memang sudah jatuh cinta padamu -Albar Fatahillah.


\=\=\=


"Nda, ikut aku yok!"


Pagi-pagi sekali, setelah Fatah selesai tadarus Al-quran bersama sang istri, ia berniat pergi ke kebun dengan gaya pakaian yang masih sama seperti hari-hari biasa.


"Ke mana?" Tanya Liana saat ia masih menanak nasi di magic-com untuk sarapan nanti.


"Ke landang, cari uang buat nafkahi kamu." Jawab Fatah sambil menuangkan air teko ke dalam gelas untuk ia minum.


"Iya nanti," jawab Liana sambil berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangan.


"Sekarang. Keburu ada yang lihat kalo aku nyulik kamu," ujar Fatah, karena saat ini pancaran sinar matahari masih belum menguasai permukaan bumi tempatnya tinggal.


"Emm, yaudah deh ayo," saat Liana akan berjalan duluan, Fatah menepuk pundaknya. "Kenapa lagi?" Tanya Liana sambil menolehkan kepalanya ke belakang.


"Gendong," jawab Fatah sambil merentangkan kedua tangannya setelah ia menenggak minumannya tadi.


Liana menahan tawanya sambil membalikan badan untuk memegang kedua pundak suaminya. "Berat, Bee. Di kedua pundak Albee itu banyak memikul dosa, aku enggak kuat kalo harus ngangkut 2 dosa orang sekaligus," ujarnya dengan nada canda.


"Ya makanya itu. Dinda gendong aku biar berguguran dosa-dosa kita," balas Fatah sambil tersenyum lebar.


Liana terdiam dengan mata yang menatap dalam penglihatan Fatah.


"Ya? Ya? Ya? Iya dong, aku capek nih," pinta Fatah dengan wajah memelas.


Liana tertawa pelan. "Capek kenapa kamu? Belum juga ngapa-ngapain," ujarnya sambil menggeleng heran akan kelakuan suaminya.


Fatah memutar lembut tubuh istrinya.


"Capek, habis buat dedek tadi malam." Jawabnya dengan cengiran bodoh sambil mengalungkan tangannya ke leher Liana dari belakang punggung wanitanya itu.


Liana mendengus tapi langsung berubah menjadi teriakan kaget saat kaki suaminya di lilitkan ke perutnya.


"Ayo Nda jalan!" Ajak Fatah sambil menaruh kepalanya di pundak kecil istrinya.


Sebenarnya Fatah termasuk tinggi jika di banding orang kebanyakan, tapi tinggi Liana juga bisa dibilang menyainginya.


"Le-leher a-aku sakit, A-Albee." Liana memukul-mukul lengan Fatah yang bertengger manis di lehernya.


"Hehehe, maap-maap." Fatah melonggarkan sedikit lilitan tangannya pada leher istrinya.


Liana mendengus lalu berusaha berjalan membawa tubuh berat sang suami di atas punggungnya.


"Eh-eh, kok di turunin?" Kaget Fatah karena Liana menurunkannya saat wanita itu baru melangkah 3 ayunan kaki ke arah pintu dapur.


Liana berusaha membalikan badannya untuk mengelus-elus pipi suaminya. "Besok-besok lagi ya Nak, punggung mama mu ini encok," ujarnya.


"Beneran?" Tanya Fatah dengan wajah khawatir.


Liana mengangguk pelan.


"Yaudah sini, gantian kamu yang naik ke punggung aku, biar aku yang gendong kamu," Fatah merendahkan tubuhnya dengan membelakangi Liana. "Ayo!"


Liana menggeleng saat kepala Fatah menoleh ke belakang. "Takut jatuh." Tolaknya.


"Kenapa harus takut? Kalo ujung-ujungnya palingan cuma nempel kasar ke tanah sama pantat kamu nyeri-nyeri gimanaa gitu," Fatah ingin tertawa melihat tanggapan kesal yang terpancar di wajah cantik Liana.


"Sakit tauk."


Fatah terkekeh pelan. "Udah ayo buruan naik! Enggak-nggak kalo jatuh, percaya deh sama aku. Aku kan sayang kamu, masa ya aku tega sih melihat kamu kesakitan,"


Fatah berbicara jujur jika ia menyayangi Liana, bahkan mungkin dia masih kurang jujur karena tak membarengi kata cinta yang sudah ia rasakan sejak kali pertama bertemu kekasih hatinya itu.


"Bener?"


"Enjeh Ndoro." Jawab Fatah atas keraguan istrinya.


Liana tersenyum lebar lalu mulai menempelkan badannya ke punggung suaminya sebelum mereka berdua pergi ke ladang.


Fatah ke landang hanya untuk melihat-lihat saja bagaimana perkembangan sayuran yang ia tanam.


"Nda!" Panggil Fatah di sela-sela perjalanan mereka.


"Kenapa?" Liana hanya bisa melirik Fatah dari ekor matanya karena kepalanya ia letakan di pundak sang suami.


"Bentar lagi kayaknya ziarah wali songo deh,"


"Terus?"


"Ya enggak terus-terus juga. Cuma ..., cuma kayaknya kamu bakalan ikut, kan aku nggak tega kalo ninggalin kamu sendirian di sini," balas Fatah sambil tertawa pelan.


"Kalo aku mah selagi kamu yang ngajak, ayo-ayo aja," balas Liana. "BTW mau bawa berapa buss?"


"9 kayaknya. 6 dari pondok abah, 3 dari pondok ini. Tapi kita nggak ikut naik buss, kita bawa mobil sendiri," ucap Fatah saat mengingat rencana keberangkatan yang pernah ia musyawarah dengan abahnya.


"Berdua?"


"Enggak. Abah, ummi, Butet sama Amru ikut mobil kita, biar aku bisa gantian gitu nyetirnya sama dia," jawab Fatah sambil mengingat saudara nya yang saat ini masih silaturahmi antar kyai satu ke kyai lainnya di daerah Lampung.


"Amru itu siapa? Sodara kamu?" Tanya Liana yang langsung Fatah angguki.


"Adik aku," jawab Fatah.


"Sodara kamu itu ada berapa sih, Bee?" Bingung Liana karena belum pernah diberi tahu Fatah, siapa saja saudara pria itu.


"5. Aku anak ketiga, mamasku ada 2. Mamas pertama panggilannya Labib, kedua Jae, ketiga Fatah tampan banget, keempat Amru, kelima Butet."


"Amru udah ada istri?" Tanya Liana sambil menggigit pelan ujung daun telinga Fatah.


"Belum, cuma kayaknya udah ada calonnya," Fatah sekuat tenaga menahan geli akan ulah istri nakalnya itu.


"Tapi cantik kan aku kan dari calonnya Amru?" Liana hanya berniat becanda dan menggoda suaminya, tak lebih dari itu.


"Kalo pun calonnya Amru lebih cantik, aku pun males nambah perempuan untuk di jadiin madu kamu,"


"Madu terozzz." Kesal Liana karena lagi-lagi suaminya mengatakan madu (mendua) padanya.


Fatah terkekeh pelan. "Eh, Nda. Kayaknya calonnya Amru ini janda muda deh,"


Seingat Fatah saat umminya membicarakan calon Amru itulah salah satu topiknya.


"Janda?"


"Iya, janda. Janda muda Jakarta,"


"Amru gimana kenalnya?"


"Si Janda muda itu mondok di pondok abah, makanya Amru kenal. Kenalnya nggak langsung sih tapi di kenalin sama mba iparku,"


"Gak usah panggil janda muda napa dah. Janda doang mang gak bisa apa?" Kesal Liana, karena ia pernah mendengar kalimat.


Perawan memang menarik, tapi janda lebih menggoda.


"Enjeh Ndoro." Balas Fatah dengan mata melirik Liana yang tengah menatap bawah ke arah tanah.


"Nama calonnya Amru siapa?"


"Nama? Emm, ntar aku inget-inget dulu," cukup lama Fatah terdiam sampai akhirnya ia membuka mulut mengatakan nama calonnya Amru. "Mba Sila kayaknya,"


"Sila?" Beo Liana


"Kayaknya lho ya."


\=\=\=


Lampung Tengah, 03 April 2020


Azzah Indah Irmiyana


YangCai_ 阳菜🌻