
Memberi dan menerima akan membuat hati kedua belah pihak bahagia, kalau ikhlas -Gusmu Imamku
\=\=\=
Selesai melayani sang suami, Liana melangkahkan kakinya menuju asrama putri untuk mengatur sekaligus melihat apa yang terjadi di sana, dan apa yang ia lihat ternyata masih sama seperti hari-hari biasanya, di mana ada saja santriwati yang bersih-bersih. Ia tersenyum simpul menyapa santrinya yang sedang mencabuti rumput di bawah pohon coklat sendirian.
Dahinya mengernyit, di sekitar santrinya itu benar-benar tak ada orang, sepi. Ia menunduk untuk menatap santri tadi.
"Yang lain pada ke mana, Mba?" Tanya Liana sambil menoleh ke kanan kirinya sebelum terfokus kembali pada mba santri tadi yang bernama Julia.
"Wau sami podo kumpul teng ngajeng asrama C, ken mba Holip, Ning." Jawab Julia sambil berdiri. "Mba Holip tadi nyuruh orang-orang buat kumpul di depan asrama C, Ning."
"La enten acara nopo?" Dahi Liana mengernyit, tak biasanya santriwatinya itu mengumpulkan santriwati lainnya di pagi hari. "Ada kegiatan apa?"
"Hehe anu, Ning. Mba-mba seng konangan mbeto hp ajeng diremok teng mba pengurus." Jawab Julia dengan kekehan ringan. "Mba-mba yang ketahuan bawa hp mau di hancurkan sama mba pengurus, Ning."
Liana menggelengkan kepala sambil tertawa pelan. "Kamu nggak ikut liat?"
Julia menggeleng. "Mboten kiat kulo Ning." Jawabnya sambil terkekeh pelan. "Nggak kuat saya, Ning."
"Nggak kuat kenapa?"
"Mboten kiat ningali mba-mba guyu, keranten salah 1 hp seng ajeng di ajurke, gadae kulo, Ning. Hehehe." Jawab Julia dengan wajah nelangsa. "Nggak kuat liat mba-mba pada tertawa, karena salah 1 hp yang mau dihancurkan punya saya, Ning. hehehe."
"Huh nakal sampeyan, mondok kok malah mbentoni hp." Balas Liana dengan nada canda lalu segera pergi menuju tempat di laksanakannya penghancuran benda yang sangat dilarang dibawa santri saat mondok.
Dari jauh, Liana dapat melihat para mba santri berdiri melingkar lebar untuk melihat acara yang sedang Holif adakan. Dari jauh juga, Liana dapat melihat Holif duduk di kursi sambil tertawa terbahak dibawah penderitaan mba santri yang ketahuan membawa hp.
Liana terus berjalan mendekat sampai ia sudah berada di samping Holif, tanpa pengurus baru itu ketahui.
"Mba!" Panggil Liana sambil menyentuh pundak Holif.
Holif langsung menoleh karena ia merasa dipanggil, matanya melotot ketika mendapati istri sang gus muncul tiba-tiba di sampingnya.
Saat menonton takziran ini, Holif duduk di luar lingkaran mba santri. Tapi ia masih bisa melihat karena ada sedikit celah diantara mereka yang berdiri di dekatnya.
"Eh Ning, assalamualaikum." Sapa Holif sambil berdiri dan bersalaman dengan Liana, dengan gaya salam yang pernah ia lakukan pada istri gusnya itu ketika kali pertama mereka bertemu.
"Wa'alaikumussalam." Balas Liana sambil simpul tersenyum saat Holif menyalaminya.
"Monggo Ning, lenggah kaleh nonton pertunjukan," Holif mempersilahkan Liana duduk di kursinya tadi. Tapi, Liana menolaknya dengan gelengan. "Silahkan duduk sambil nonton pertunjukan, Ning."
"La sampean kok mboten tumut ngancurke hp sitaan, Mba?" Tanya Liana sambil meletakan tangannya di atas punggung kursi. "Kamu kok nggak ikut hancurin hp sitaan, Mba?"
Holif menggeleng. "Karma is real, Ning. Kulo males nek tumut-tumutan. Engken moro-moro kulo khilaf, malah mbeto hp juga teng pondok, kan repot plus sedih nek ningali hp ne kyambak dihancurke," terangnya.
"Karma is real, Ning. Saya malas kalo harus ikut-ikutan, nanti malah tiba-tiba khilaf bawa hp ke pondok. Terus kena sita pengurus kan repot plus sedih kalo hp saya juga hancur."
Liana terkekeh sambil menoleh ke arah kerumunan yang mulai membubarkan diri karena acara yang para pengurus asrama terutama Holif adakan telah selesai.
"Bar niki acara ne nopo?" Tanya Liana pada Holif. "Setelah ini ada kegiatan apa?"
"Kulo kaleh mba Laili ajeng teng peken tumbas perabotan pondok putri seng kirangan teng pundi batange, hehehe.
Padahal dereng dangu tumbase," Jawab Holif sambil tersenyum, tersenyum berisyarat minta izin keluar. "Saya sama mba Laili mau ke pasar, beli perabotan pondok, soalnya barang yang belum lama kita beli entah di mana posisinya sekarang,"
"Oh yo mpun, ati-ati nggeh bidal kaleh wangsule." Balas Liana sebelum pergi kembali ke ndalemnya untuk melakukan aktivitas lain di sana, karena sepanjang matanya tadi berjalan ke sini, kondisi pondok putri sudah lumayan bersih. "Oh yaudah, hati-hati ya berangkat pulangnya."
"Enggeh, Ning."
"Mba Lay!" Panggil Holif pada ketua pengurus yang tengah mengemudikan motor matic di jalan raya. Motor yang di pinjam dari saudara Laili yang rumahnya hampir mepet pondok.
"Kenapa Mba?!" Tanya Laili dengan suara rada tinggi karena kecepatan motor yang bertabrakan kencang dengan angin akan membuat suaranya tak terdengar jika berkata pelan.
"Kulo pingin tumbas bakso loh!"
"Iya Mba, santai!"
"Bakso nopo nggeh seng enak!?"
"Iya Mba, santai!"
"Ah kirangan, kulo mboten mireng sampeyan sanjang nopo, berisik!" "**Nggak tahu ah, saya nggak denger kamu ngomong apa, berisik**!"
"Heum pantesan." Lirih Holif karena jawaban Laili saat ia tanya tadi cukup tidak nyambung.
Sesampainya di pasar, Holif dan Laili segera pergi mencari perabotan pondok yang benar\-benar mereka butuhkan.
Sapu ijuk, sapu lidi, cikrak, kain pel, dan lain\-lain telah dibeli 2 orang santriwati itu dalam 1 toko dalam waktu kurang dari 20 menit.
Setelah semua keperluan pondok telah dibeli, mereka juga langsung cap\-cuss pergi ke warung bakso untuk memakan daging olahan yang telah lama tak mereka santap di tempatnya langsung.
Pulang ke pondok, Holif dan Laili tidak hanya membawa apa yang harus mereka beli. Melainkan banyak jajan berat maupun ringan pesanan mba pondok lainnya. Memang nggak banyak sih, cuma ya kalo harus dibawa dengan barang\-barang rumah tangga kan susah, apa lagi saat ini yang hanya naik motor.
Oh ya, Holif juga membelikan ningnya bakso karena, ia lagi ingin saja membelikannya tak ada maksud lebih, dalam tanda kutip bukan maksud untuk caper pada gusnya.
Tanpa menunggu lama lagi, setelah Holif sampai pondok, ia langsung pergi menuju ndalem untuk memberikan bakso yang ia beli tadi. Langkahnya sangat ringan saat melangkah, seperti akan ada kejutan yang menantinya di tempat yang akan ia tuju.
Sesampainya di ndalem, Ia lihat pintu dapur terbuka lebar dan di dekat pintu ada gusnya yang sedang memarut kelapa entah untuk apa.
"Assalamualaikum," salam Holif dengan suara agak lirih.
"Wa'alaikumussalam," jawab Fatah sembari menoleh ke arah suara tadi. "Mba Holif?" Cengo Fatah dengan tatapan terkejut. "Ada apa Mba?"
"Saya mau cari ning Liana, Gus." Jawab Holif kikuk.
"Oh ning Liana?"
"Iya Gus," jawab Holif.
"Nda! Dindaaa! Keluar lha wahai Dinda Maharani!" Panggil Fatah dengan sedikit berteriak.
"Iya, ada apa, Bee?" Liana yang tadi berada di depan rumah memetik jambu biji langsung berlari begitu saja menuju dapur.
"Di cariin mba Holif." Ucap Fatah yang membuat Liana menolehkan kepalanya ke arah pintu.
"Ning!" Sapa Holif.
"Oh, Mba. Ada apa ya?" Tanya Liana sambil berjalan mendekati Holif.
"Niki Ning, enten bakso sekedik. Ndamel njenengan." Jawab Holif sambil menyodorkan baksonya. "Ini Ning, saya ada sedikit bakso buat kamu."
"Oh makasih banget ya." Balas Liana sambil menerima pemberian santrinya dengan bahagia.
"Sami-sami Ning. Nek ngoten kulo tak wangsul teng asrama rumiyen." Pamit Holif. "Sama-sama. Kalo begitu saya pulang dulu ya ke asrama."
"Eh kedap Mba. Kulo tasek ecak-ecakan ndamel cendol. Sampeyan cicipi nggeh." Liana mengambil segelas cendol yang ada di atas meja untuk di berikan pada Holif. "Tunggu Mba. Saya lagi coba-coba buat cendol, kamu cicipi ya."
"Eh matur suwon, Ning." Balas Holif sambil menerima pemberian ningnya dengan cengengesan. Ternyata ini kejutan yang tiba-tiba membuat perasaanku bahagia.
"Nggeh sami-sami."
"Yompun, Ning Gus. Assalmualaikum." Pamit Holif lalu ngacir pergi setelah mendapatkan balasan dari gus dan ningnya.
\=\=\=
Vote dan comment!!!!
Ada yang kangen Liana dan Fatah?
Nggak ya? Hahahahah, yaudah gpp.
Lampung Tengah, 12 April 2020
Azzah Indah Irmiyana
丫ang Cai _阳菜