Gusmu Imamku

Gusmu Imamku
(02)



Pilihan ayah adalah yang terbaik untukku- Liana


\=\=\=


Malam hari setelah salat isya, Liana kembali ke asramanya untuk mengemasi barang-barang yang akan ia bawa pulang besok.


"Mba Li, jangan lupain aku ya kalo dah pulang nanti," ucap Syarifah sambil melipat baju Liana.


"Yang ada aku bosan Sya, kalo mengingat kamu terus," balas Liana sambil terkekeh pelan.


"Eh Mba Li, gue Fatah umurnya berapa tahun dah?" Tanya Syarifah sambil memasukan baju yang ia lihat tadi ke dalam koper Liana.


"Kata mama sih, 31 tahun," jawab Liana sambil mengingat obrolannya dengan mamanya 1 bulan lalu.


Flashback On


Sore ini, Liana dan Syarifah sedang bersih-bersih rumah abah kyai, mengingat hari ini adalah jadwal piket mereka berdua.


"Mba Li, tebak-tebakan yok! Yang besok nikah dulu sama siapa?" Syarifah melontarkan tebak-tebakan sambil menyapu lantai yang kotor.


"Sampeyan, mungkin," jawab Liana sambil tersenyum saat menoleh ke arah Syarifah.


Syarifah Zainab Al-husna, nama gadis cantik berumur 20 tahun ini berperawakan tinggi besar dan memiliki darah ulama di tubuhnya.


Sementara itu, teman sekaligus saudaranya yang bernama lengkap Liana Al-Matin itu bertubuh kecil dan juga bernasab mulia, ayah Liana adalah seorang alim ulama yang memiliki pondok pesantren di Lampung.


"Mba Liana! Ibu sampeyan nelpon." Luluk menyodorkan telpon asrama putri A kepada kakak kelasnya di Diniyah.


"Matur thank you, Mba Luluk." Liana tersenyum simpul sambil menerima telepon yang Kikuk sodorkan tadi.


"Sami-sami, Mba Liana." Luluk undur diri untuk melanjutkan kembali aktivitasnya membersihkan asramanya, sebelum disuruh mba pengurus untuk memberikan telepon pada Liana, karena ada panggilan masuk dari mama gadis itu.


๐Ÿ“žLiana: Assalamualaikum, Mama.


๐Ÿ“ž: Wa'alaikumussalam, Liana. Bagaimana kabarmu?


๐Ÿ“žLiana: Alhamdulilah, Ma. Liana sehat. Mama, abah, dan ibu bagimana kabarnya?


Ayah Liana memiliki 2 orang istri, yang istri pertama ia panggil ibu, semantara wanita yang mengandung dan membesarkannya ia panggil mama.


๐Ÿ“ž: Alhamdulilah, keluarga besar sehat semua.


๐Ÿ“žLiana: Alhamdulilah.


Terjadi keheningan sejenak, setelah mama Liana mengeluarkan suara lagi.


๐Ÿ“ž: Liana Sayang!


๐Ÿ“žLiana: Dalem, Ma?


๐Ÿ“ž: Kemarin ada yang melamar kamu


๐Ÿ“žLiana: Apa!? Lamar?


๐Ÿ“ž: Iya.


๐Ÿ“žLiana: Yang melamar Liana siapa? Anak siapa? Orang mana?


๐Ÿ“ž: Yang melamar kamu itu Albar Fatahillah, umurnya 31 tahun kayaknya. Dia gus tampan yang rendah hati putra kyai pondok pesantren yang alamatnya terletak di Jawa Timur.


๐Ÿ“žLiana: Jawa Timur? Terus kenal Liana dari mana?


๐Ÿ“ž: Mama kurang tahu kalo itu, tapi waktu dia melamar kamu kemarin, langsung abah iya kan.


๐Ÿ“žLiana: Kok bisa?


๐Ÿ“ž: Abahnya gus Fatah itu teman dekat abah kamu waktu mondok dulu.


๐Ÿ“žLiana: Terus mau nikahnya tanggal, bulan, dan tahun apa?


๐Ÿ“ž: Bulan ini tanggal 28.


๐Ÿ“žLiana: Hah? Berarti Liana bentar lagi pulang nggih Ma?


๐Ÿ“ž: Enggih, cuma yang jemput sampeyan nanti gus Fatah.


๐Ÿ“žLiana: Loh, kok bisa?


๐Ÿ“ž: Sampeyan pulangnya setelah 3 hari melaksanakan akad nikah.


Liana menghela nafas panjang.


๐Ÿ“žLiana: Ya udah deh Ma, kalo abah udah setuju. Mau gimana lagi, ya kan?


๐Ÿ“ž: Enggih, manut saja. Ya udah ya, Mama mau ngajar anak-anak lagi. Soal foto, mahar, dan lain-lain di bicarakan belakangan aja. Assalamualaikum.


๐Ÿ“žLiana: Enggih Ma, wa'alaikumussalam.


Flashback Off


\=\=\=


Hai teman, kapan-kapan next lagi ya.


Btw, cerita ini aku buat karena impian nikah aku besok kayak gini. Jadi jangan berharap ada banyak konfik tapi mungkin ada lah ...., walau cuma kecil-kecilan. Wkwkwk