Gusmu Imamku

Gusmu Imamku
(01)



Assalamualaikum, Gusku -Liana Al-Matin


\=\=\=


"Gus Albar Fatahillah." Lirih Liana sambil membaca nama yang tertulis dibalik foto laki-laki tampan berpakain ala santri yang 1 minggu lalu menghalalkannya.


"Mba Liana!!!!" Panggil Syarifah kepada Liana yang duduk sendirian di atas batu bara. "Mba Lii!" Syarifah berlari-larian setelah disuruh Ummi (bu kyai) untuk memanggil Liana yang posisinya lumayan jauh dari asrama putri.


Liana menoleh ke teman dekatnya dengan wajah biasa saja, "kenapa Syarifah?"


"I-itu, i-itu ...," suara Syarifah terputus-putus karena nafasnya berhembus tidak teratur.


"Itu apa, Sya?" Tanya Liana sambil menyimpan foto tadi dilipatan sajadahnya.


"Tarik nafas! Buang!" Monolog Syarifah untuk menstabilkan nafasnya kembali.


"Itu Mba! Suami Mba Liana ada di rumah abah kyai." Syarifah berbicara cepat pada Liana setelah nafasnya sudah lumyana normal kembali.


"Apa!?" Liana terperangah dengan wajah kaget.


"Huhuhu, romantis banget. Pulang mondok di jemput suami, huhuhu. Pingin." Syarifah melengkungkan bibirnya ke bawah, iri dengan cara menikah yang sohibnya lakukan.


"Apaan sih Sya, kamu ini?" Bingung Liana dengan ucapan sahabatnya.


"Sudahlah Mba, nggak usah banyak nanya. Ayo ikut aku!" Syarifah menarik tangan Liana untuk ia bawa menuju rumah abah kyai.


"Pelan-pelan, Syarifah!" Ucap Liana.


"Gak sabar aku Mba, liat suami Mba Liana." Ujar Syarifah sambil terkekeh yang membuat Liana mendengus kesal.


 


"Jadi, sampeyan to Kang, suaminya mba Liana?" Ummi Arafah menyodorkan teh hangat untuk tamunya.


"Enggeh, Ummi." Jawab Fatah sambil mendengakan sedikit kepalanya ke arah Ummi Arafah.


"Asmone sampeyan sinten, Kang?" Tanya Ummi Arafah lagi. \(Nama kamu siapa, Kang?\)


"Kulo Fatah, Ummi," jawab Fatah sambil tersenyum lembut. \(Nama saya Fatah, Ummi\)


"Tenggo rumiyen nggeh, kedap meleh mba Liana ne dugi," Ucap Ummi Arafah sambil bangkit dari duduknya menuju dapur karena harus memasak makanan untuk tamunya yang terlihat kelelahan setelah perjalanan dari luar pulau Jawa. \(Bentar lagi mba Liana datang, di tunggu ya\)


"Enggeh Ummi," Fatah mengangguk lalu menunduk dengan ta'dzim, karena dia ruangan ini masih ada Abah Kyai.


"Monggo diunjuk Kang." Suruh Abah Kyai sambil tersenyum. \(Silahkan diminum Kang\).


"Enggeh, Abah." Fatah lalu meminum minuman yang Ummi Arafah sajikan tadi untuknya.


 


"Ya Allah, sa' estu loh Mba Li. Suami Mba itu udah datang," Syarifah menyakinkan Liana yang tubuhnya bergetar hebat sebab grogi.


Liana grogi karena yang pria yang ia hadapi saat ini bukan lha penjual peralatan rumah tangga yang sering ia datangi sewaktu belanja keperluan asrama di pasar. Melainkan seorang pria yang tiba-tiba menjadi suaminya sejak 7 hari lalu. Dia tidak kenal siapa sebenarnya suami itu. Tapi yang pasti, suaminya itu anak seorang kyai di salah satu pondok yang ada di Jawa timur.


"Sya, aku malu." Liana memegang erat tangan Syarifah dengan keringat yang tiba-tiba keluar dari tangannya.


"Loh Liana?" Ummi Arafah berjalan mendekati Liana yang berdiri di depan pintu dapur.


"U-ummi," Lirih Liana yang spontan melepaskan genggamannya dari Syarifah lalu menunduk ta'dzim.


"Liana, buruan ke depan! Ada Fatah yang sudah menantimu sejak tadi, Nak!" Suruh Bu Kyai Arafah sambil berjalan mendekati Liana dan Syarifah.


"Ayo Mba, buruan." Ajak Syarifah dengan suara pelan.


"Malu Sya, malu." Balas Liana dengan suara pelan juga.


"Mpun sampeyan enggal dang meriko, temoni Fatah e!" Suruh Ummi Arafah. (Kamu buruan ke depan sana, jumpai Fatah).


"E-enggeh Ummi." Liana mengangguk kaku, lalu Syarifah segera menuntunnya menuju ruang tamu ndalem abah kyai setelah bersalaman dengan istri pengasuh pondok pesantrennya.


"Hehehe, enggeh Ning." Balas Liana dengan kekehan kaku.


"Ayo Mba!" Ajak Syarifah ketika mereka sudah berada di balik tembok ruang tamu.


"Sya, aku malu." Lirih Liana sambil meremas sarungnya.


"Azzah! Ndok Azzah!" Panggil Abah Kyai dari ruang tamu pada Ning Azzah.


Ning Azzah yang tadi sedang makan langsung berlari memenuhi panggilan abahnya, meninggalkan piring di dekat Ning Zahra yang senang melihatnya marah-marah karena makanannya di ambil tanpa persetujuannya.


"Dalem, Abah?"


"Mba Liana ne pundi?" Tanya Abah Kyai, karena Liana tak kunjung menampakan batang hidungnya. (Di mana Mba Liana?)


"Mba Liana?" Beo Azzah lalu menoleh ke arah pintu tempat Liana bersembunyi. "Mba Liana!" Panggil Ning Azzah dengan intonasi rendah.


"Dicariin abah, Mba," lirih Syarifah sambil menyenggol lengan Liana.


Perlahan Liana keluar dari persembunyiannya dan yang pertama kali ia lihat adalah Fatah yang sedang terdiam menunduk.


"Assalamualaikum!" Salamnya sambil berjalan menggunakan lutut ke arah abah kyai.


"Wa'alaikumussalam." Jawab semua orang yang ada di ruangan itu termasuk Fatah, walau pria itu menggunakan suara pelan.


"Sampeyan Liana?" Tanya Abah Kyai.


"Enggeh Abah," jawab Liana sambil tersenyum malu.


"Bojone kang Fatah?" Tanya Abah Kyai lagi sambil menunjuk Fatah yang betah menunduk dengan dagunya. (Istrinya kang Fatah?)


"Enggeh Abah," jawab Liana lagi sambil menoleh ke arah Fatah yang perlahan mendongakkan kepala untuk menatapnya.


Deg!


Mata mereka bertabrakan dan terkunci cukup lama sampai suara Abah Kyai menginterupsinya.


"Salaman rien meriko, engken meleh sawang-sawangane!" Suruh Abah Kyai dengan kekehan ringan. (Salaman dulu sana, tatap-tatapannya nanti dulu!)


"Enggal Mba Liana!" Suruh Ning Azzah sambil mengedipkan sebelah matanya pada Liana. (Mba Liana, buruan!)


Liana mengangguk kaku lalu berjalan mendekati Fatah dengan jantung yang berdetak cepat, sangat cepat.


Huh, Mba Liana! Kalo nggak disuruh Abah Kyai nggak bakalan mau dia salaman sama gus Fatah, hehehe. Batin Syarifah yang mengintip Liana dari pintu.


"A-assalamualaikum, Gu-gus." Salam Liana dengan suara pelan, lalu menyodorkan tangannya yang ia tangkup secara perlahan ke arah suaminya.


Fatah melihat tangannya yang ada di pangkuannya, dia malu dan tidak berani membalas jabatan tangan seorang perempuan di depannya. Selama ini, hanya ada 3 orang perempuan yang pernah ia salami, ibunya, mama mertuanya dan adik kandungnya yang masih berumur 10 tahun.


Saat akan membalas uluran tangan Liana, tiba-tiba tangannya gemetaran hebat, melebihi yang Liana rasakan saat ini.


Fatah memejamkan matanya, menghirup udara dalam-dalam, sambil terus memajukan tangannya ke arah Liana secara perlahan.


"Bismillah." Lirih Fatah sebelum tangannya benar-benar menyentuh kulit perempuan keempat yang saat ini sudah halal dan ia memiliki hak atas perempuan itu, begitupun sebaliknya.


"Wa'alaikumussalam, Ning."


***


***TBC


Lampung Tengah, 29-02-2020


Azzah Indah Irmiyana


Yang Cai_ 阳菜🌻***