Gusmu Imamku

Gusmu Imamku
06



Jangan terus menggoda, Bee. Aku enggak kuat :( -Liana


\=\=\=


Liana berjalan pelan mengikuti langkah Fatah yang membawanya ke kamar yang akan mereka tinggali sesaat sebelum pindah ke pesantren yang Fatah kelola di daerah yang tak jauh dari pesantren abahnya.


"Saya ke kamar mandi dulu, Ning." Ucap Fatah lalu masuk ke dalam bilik kecil yang ada di kamar itu.


Liana hanya mengangguk lalu duduk di tepi kasur yang sangat indah penampakannya. Ia menghembuskan nafas panjang sambil menjelajahkan matanya ke penjuru kamar.


Nggak pernah kebayang kalo suamiku itu seorang gus dari salah satu pondok pesantren terbesar di Jawa Timur.


Liana menundukkan kepala tepat saat suaminya baru saja keluar dari kamar mandi memakai kaos putih.


"Monggo Ning, kita salat sunah dulu!" Fatah berjalan menuju lemari yang ada di kamarnya dulu untuk mengambil sajadah.


"Maaf Gus, saya lagi udzur." Liana mengingatkan suaminya atas halangan yang sedang ia alami.


Fatah menepuk dahinya pelan. "Astagfirullah, Ning. Maaf ya, saya lupa, hehehe." Ujarnya sambil nyengir kaku.


Liana mengangguk pelan. "Gak papa Gus."


"Yaudah Ning, kalo gitu saya salat dulu," saat Fatah akan memulai takbirnya, ia menundanya sejenak karena ada pertanyaan yang harus ia lontaran kepada istrinya. "Eum, Ning. Ning Liana mau minta di doain apa?"


Tanpa berpikir panjang Liana langsung menjawab pertanyaan suaminya dengan wajah malu-malu. "Doain aja agar kita selalu bersama-sama dalam ikatan halal yang mengatasnamakan cinta dalam ridha-Nya tanpa batas waktu, Gus."


Fatah terperangah kaget dengan jawaban istrinya, karena dia sempat tak percaya jika ningnya itu akan menerimanya dalam status suami secepat ini. Tapi, Fatah mengangguk mengiyakan jawaban istrinya.


"I-itu sih ..., itu sih doa wajib Ningku sayang." Balasnya lalu secepat kilat ia memasang gaya akan salat setelah mendapat ekspresi tak percaya dari Liana setelah ia mengucapkan kata paling akhir itu.


Malu-malumu terlalu manis Gus.


Liana memperhatikan setiap garakan yang suaminya lakukan pada saat sedang melakukan salat.




Setelah selesai salat dan berdoa cukup lama. Fatah tiba\-tiba langsung menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat Liana dan ia malah mendapati istrinya itu tengah memalingkan wajah darinya, karena katahuan sedang memandangnya terang\-terangan dengan tatapan kagum.



Fatah terkekeh pelan sambil bangkit dari duduknya untuk menuju Liana yang masih stay memalingkan wajah darinya.



"Ning!" Panggil Fatah sambil duduk di tepi kasur yang sangat dekat posisinya dengan Liana.



"Da\-dalem?" Liana membalasnya hanya dengan suara, karena perempuan itu masih malu untuk menatap suaminya.



"Eum, Ning!" Panggil Fatah lagi sambil menyentuh paha Liana.



"Eh Gus!?" Liana yang kaget, spontan menjauhkan diri dari suaminya yang mulai nakal dalam tanda kutip berani menyentuhnya.



Oh ayolah, Fatah ini sudah berumur 31 tahun, tak mungkin dia tak berani menyentuh pasangan halalnya, walaupun pria itu terkadang masih bersifat malu\-malu.



"Ma\-maaf, Ning." Ucap Fatah penuh sesal.



"Eng\-enggak papa kok, Gus." Jawab Liana sambil memalingkan wajah untuk menyentuh dadanya yang berpacu sangat cepat.



Udah saatnya aku bersikap layaknya suami pada istrinya.



"Ning!" Panggil Fatah dengan perasaan campur aduk.



"Dalem, Gus?" Liana mulai memperlihatkan wajahnya kepada suaminya.



Fatah tersenyum dahulu sebelum mengucapkan kalimat yang mengganjal di hatinya sejak kali pertama mereka berbicara di pondok pesantren tempat istrinya mondok dulu.



"Mulai malam ini sampai seterusnya, Ning Liana jangan panggil saya gus lagi ya. Mau di mana posisinya dan kondisinya, saya udah jadi suami Ning Liana. Jadi jangan panggil saya gus lagi ya? Saya merasa kurang bebas untuk melakukan aktifitas suami istri jika Ning Liana memanggil saya dengan panggilan itu."



Fatah mengatakan sejujurnya, jika ia kurang nyaman saat istrinya sendiri memanggilnya dengan panggilan yang biasanya ada pada anak kyai.



"Tap\-tapi, panggilan apa yang akan saya ucapkan saat memanggil namamu, Gus?" Tanya Liana setelah ia terdiam cukup lama sehabis mendengarkan ucapan suaminya tadi.



"Ning Liana bebas mau memanggil nama saya apa aja, selagi panggilan itu membuat saya layaknya pria yang selalu sampeyan sayang."



Astaga Gus, kenapa masih sempet ngomong kayak gitu sih!?



Liana memalingkan wajahnya lagi, masih sama alasannya dengan yang tadi, yah sebab apa lagi kalau bukan malu\-malu.



"Ning!?" Panggil Fatah sambil menyentuh lembut pundak Liana yang membuatnya mengigit dalam bibirnya, karena kelakuan Fatah itu tanpa sengaja, membuatnya ingin terbang keluar angkasa.



"Aa\-akan saya pikiran se\-sebentar, Gus." Ucap Liana sambil mengusahakan pikirannya bekerja untuk memberi nama panggilan untuk pria yang tangannya masih bertengger di pundaknya.



Pake panggilan apa ya? Eumm, eh tapi kalo pake panggilan ini, Gus Fatah marah nggak ya?



"Eum Gus!" Panggil Liana setelah ia berhasil menemukan panggilan yang cocok untuk suaminya.



"Iya, Ning?"



Liana menggeleng pelan. "Saya udah ada panggilan yang pas. Tapi eum Gus, emang Gus Fatah juga akan terus menerus memanggil saya ning?"



Fatah menggeleng cepat. "Saya sudah menyiapkan panggilan sayang sejak kali pertama bertemu sampeyan, Ning."



Huh! Gus Fatah mulai lagi ah, suka ah!!



"A\-apa Gus?"



"Nda," jawab Fatah sambil menatap lurus ke arah mata indah istrinya.




"Dinda." Jawab Fatah atas kecengoan istrinya.



Liana tersenyum malu sambil memalingkan wajahnya lagi guna menutupi rona merah di wajahnya.



"Jadi, panggilan sayang untuk saya apa?" Tanya Fatah sambil menyingkirkan tangannya dari pundak Liana.



Liana kembali menatap suaminya sambil tersenyum lembut. "Albee,"



Albee



Albee



Albee



"Eumm Gus maafkan saya kalo panggilan itu terkesan tidak sopan." Ucapnya karena Fatah sama sekali tak memberikan reaksi apapun selain terdiam.



Albee



Albee



Albee



Panggilan itu terus terngiang\-ngiang di kepalanya sampai suara istrinya itu menyadarkannya ke duniannya saat ini.



"Ah, kenapa harus minta maaf? Itu panggilan yang sangat indah dan manis saat terucap di bibirmu, Ndaku."



"Ah Gus Fat\- ...," saat Liana akan menyampaikan sebuah protes tiba\-tiba langsung di sela suaminya.



"Eumm Gus?"



"Ah Albee mah nggak asik, beneran deh. Kenapa bikin saya melambung terus sih!?" Protesnya sambil merengut kesal.



Entah dapat keberanian dari mana, tangan Fatah menangkup lembut wajah istrinya. "Maaf, tapi aku senang melihat wajah dan tingkahmu saat tersipu malu sebab aku." Lirihnya sambil tersenyum menggoda.



Jantung Liana tolong di kondisikan, please.



Demi Allah, Fatah ingin sekali tertawa saat melihat pipi Liana memerah tanpa bisa di halang\-halangi lagi.



"Ndaku, manis sekali dirimu." Lirih Fatah sambil melepaskan tangannya dari samping wajah Liana.



Huh ya Allah, aku seperti sedang naik roller coaster saat bersama Albee.



"Nda!" Panggil Fatah.



"Da\-dalem, Bee?"



"Izinkan aku mengambil hak sebagai suami pada malam ini ya!?" Pinta Fatah dengan ragu, malu, dan excited bercampur menjadi satu.



"Ma\-maksud A\-Albee apa?" Tanya Liana pura\-pura tak paham ke arah mana pertanyaan suaminya tadi.



"Hak suami kepada istri di atas ranjang."



Liana menelan saliva susah payah. Takkan mungkin secepat ini aku menampakan aurat kepada orang lain selain mahram, kan?



"Gak papa kan, Nda?" Tanya Fatah dengan suara sangat ragu.



Liana terdiam cukup lama, memejamkan mata sambil menghirup nafas dalam\-dalam sebelum menyanggupi permintaan sekaligus pertanyaan suaminya dengan anggukan kepala.



Fatah sangat excited saat mendapatkan jawaban tadi. Ia langsung memulai doa\-doa yang sangat ia hafal dari pertama kali belajar Qurrotul'Uyun sampai saat ini sebelum tangan dan wajahnya menyentuh bagian\-bagian sensitif Liana selain kemaluannya, pastinya.



Jangan kalian pikir, Fatah akan melakukan persetubuhan disaat istrinya masih dalam keadaan udzur. Fatah dan Liana itu termasuk ahli fiqih, tak mungkin mereka melakukan sesuatu yang sangat di larangan demi memuaskan syahwat.



\=\=\=



Apasih kalian ini!? baca kok nggak vote dan comment. Asli, nggak lucu banget hahahaha. Masa ya mau kayak HDUD yang minim vote hiks 😭



Oh ya, aku pernah bilang kalo cerita ini impian wedding aku, heumm kayaknya setelah part ini bukan impian cerita wedding ku lagi deh, karena MUNGKIN akan ada sedikit konflik untuk pemanis cerita.



Follow me in instagram:


\(@\) azzindaah\_



21 Maret 2020



Azzah Indah Irmiyana


Yang Cai\_ 阳菜🌼