
Nyamanku adalah bukti atas kebersamaan yang saat kita jalani -Gusmu Imamku
\=\=\=
Sore ini, Liana tengah bersiap-siap pergi ke ndalem keluarga mertuanya bersama sang suami untuk bersilaturahmi.
Liana memakai gamis berjilbab lebar berwarna biru muda. Semantara Fatah, pria itu memakai sarung, peci hitam khas Indonesia, dan baju muslim berlengan panjang. Sungguh, Liana telah jatuh hati pada ketampanan yang suaminya miliki itu.
"Kamu kenapa liatin aku terus, Dinda?" Fatah tersenyum miring pada Liana yang malah mengalihkan perhatian dengan melihat objek lain.
"Albee yakin, ke sananya pakai pakaian ini?" Tanya Liana sambil menutup separuh wajahnya dengan jilbabnya.
"Iya kenapa? Ada masalah?" Fatah menunduk mencari kejanggalan yang mungkin bisa ia temukan di bajunya.
"Iya, ada. Albee terlalu tampan kalo pakai pakaian itu." Jawab Liana lalu segera ngacir pergi menuju depan rumah, yang di sana sudah ada mobil yang tengah di panaskan.
"Ahh, Ya Allah." Fatah memutar malas kedua bola matanya dengan tawa ringan di bibirnya.
Dengan semangat Fatah menyusul istrinya masuk ke dalam mobil. Dan di Perjalanan mereka berdua terlihat sangatlah asik, Liana asik berceloteh semantara Fatah menyangkal semua clotehan yang Liana bicarakan.
"Ah, gak percaya. Jelas-jelas Dinda permaisuriku, mana mungkin pernah bermimpi dinner romantis bareng pria lain," sangkal Fatah saat istrinya bercerita tentang mimpi yang pernah wanita itu alami.
"Ih, Albee mah gak percaya. Dinda tuh beneran pernah mimpi dinner romantis bareng pria tampan," kesal Liana karena Fatah tak mempercayai ucapannya.
"Gak percaya! Dan gak akan pernah percaya, sebelum Dinda dinner romantis bareng aku,"
"Ih gak mau lha, Albee jelek. Kan aku mimpi dinnernya bareng cogan."
"Yooooh, membohongi diri sendiri dengan tak mengakui ketampanan suamimu ini,"
Liana mendengus kesal. "Aku kesel, Albee nggak mau percaya sama istrinya sendiri. Kesel, kesel, kesel!! Pingin gigit orang!!" Seru Liana dengan wajah bete. "Tangan sini, mau aku gigit. Aku pingin gigit tangan oraaang!!." Sambungnya meminta Fatah agar memberikan tangannya yang masih menyetir.
"Eh-eh, gak bisa dong, Sayang. Aku kan bukan orang," ujar Fatah saat Liana mencoba melepaskan tangannya dari setang kemudi.
"Ihhh ..., Albee nyebelin banget lho." Liana merajuk dengan wajah nelangsa.
Fatah terkekeh kaku. "Albee kan separuh raga Dinda. Nanti kalo tubuh Albee Dinda sakiti, Albee nggak mau Dinda merasakan sakitanya juga,"
Liana menatap Fatah sinis, sebelum wajahnya berubah ceria kembali atas ucapan yang suaminya katakan tadi.
"Kenapa liat-liat?" Tanya Fatah pura-pura garang sambil memberhentikan mobilnya di salah satu rumah makan miliknya.
"Gak." Jawab Liana ketus.
Fatah tertawa sembari keluar dari mobil untuk mengambil makanan yang ia pesan tadi siang.
Jadi ini rumah makan Albee.
Dari balik kaca Liana dapat melihat sekitar rumah makan milik suaminya yang penuh pemuda-pemudi yang asik nongkrong sambil menguyah makanan pastinya.
"Mau ikut turun nggak, Nda?" Tanya Fatah saat ia kembali ke mobil untuk mengambil ponsel.
"Boleh?" Tanya balik Liana dengan ragu.
"Apasih yang nggak boleh buat kamu." Jawab Fatah sambil tersenyum mesum.
Liana berdecih sembari membuka pintu mobilnya untuk pergi ke rumah makan suaminya yang sedang dalam pembangunan penambah ruang.
"Ini dibangun kapan?" Tanya Liana sambil menujuk bangunan di depannya dengan dagu.
"Udah lama sih, sejak aku boyong mondok, terus 1 tahun kemudian merintis rumah makan ini bareng mamas," jawab Fatah sambil merangkul pundak Liana layaknya teman.
"Kapan-kapan aku ke sini ya," pinta Liana dengan senyuman penuh goda.
"It's ok, selama ke sininya bareng aku." Balas Fatah lalu mereka berdua segera masuk ke dalam dan langsung di sambut dengan karyawan yang sedang mondar-mandir sibuk melayani pembeli.
Fatah pergi ke dapur untuk melihat apa yang sedang di lakukan beberapa karwannya di sana sembari mengambil pesanannya.
"Mau ke mana?" Tanya Liana.
"Kepo kamu, kayak stalker." Jawab Fatah sembari menyipitkan mata dengan kepala mendongak .
Liana berdecak sebal sambil duduk di kursi yang paling dekat dengannya.
Salah satu karyawan yang baru kembali dari kamar mandi menghampiri Liana yang tengah melihat-lihat menu yang ada di rumah makan suaminya ini dengan membukai daftar menu.
"Mau pesan apa, Mba?" Tanya Karyawan tadi yang bernama Soin dengan sangat ramah.
Liana mendongak kaget, "a-anu, Kang. Saya cuma lagi nunggu suami aja," jawabnya kikuk.
"Oh ..., baiklah." Soin undur diri untuk melakukan pekerjaan selanjutnya yaitu bersih-bersih teras sesudah memberikan senyuman hangatnya pada Liana.
"Iya." Balas Liana dengan senyuman canggung.
"Ayo pulang!" Ajak Fatah setelah kembali dari dapur dengan tangan yang sudah menggenggam plastik berisi makanan.
"Udah?" Tanya Liana sembari berdiri.
"Udah apa?" Tanya balik Fatah, pasalnya ia tak memberi tahu tujuannya masuk ke rumah makannya ini.
Liana menggeleng sambil menggaruk kepalanya. "Enggak tauk, hehe."
Fatah mendengsui Liana. "BTW kamu mau eskrim enggak?"
"Kalo di beliin mau," Liana melirihkan suaranya.
"Ya udah ayo sana, kita ambil eskrim dulu." Fatah berjalan menuju kotak pendingin penyimpan eskrim yang terletak di teras rumah makannya.
"3 ya?"
"Tiga Buat siapa aja?" Heran Fatah.
"Buat aku lha, masa buat kamu." Jawab Liana sembari mengambil eskrim yang menurutnya enak, walaupun dia tahu, semuanya enak.
"Yayaya, seterah." Pasrah Fatah tanpa keberatan sama sekali jika jualannya di ambil 3 oleh istrinya.
"Jangan gitu dong balesnya," Liana merasa ucapan Fatah itu seperti memberinya tanpa keikhlasan.
"Terus gimana?" Bingung Fatah dengan menampilkan lipatan di dahinya.
"Kayak gini. 'Ya Dindaku tercinta, apapun yang kau minta pasti akan aku beri,' gitu!" Liana mengajari suaminya cara memberi dengan baik jika dimintai sang istri.
Fatah menatap Liana dengan mata menyipit malas, "seterah." Ujarnya lalu berjalan duluan ke mobil dengan senyum lebar setelah menaruh uang 25 ribu ke atas kaca lemari pendingin.
"Albee sungguh-sungguh gak asik." Lirih Liana ketus sembari melangkah pergi mengikuti suaminya.
"Kang, uangnya di sana." Ucap Fatah sambil menujuk tempat ia menaruh uang beliin es krim Liana tadi pada Soin yang tengah mengelap meja.
"Enggeh Gus." Soin mengangguk sembari menatap langkah Liana yang perlahan menjauh sebelum masuk ke dalam mobil bossnya.
Oalah, mba tadi itu suaminya gus Fatah tho. Hmm, pinter juga gus Fatah nek mades garuwo, cuatek poll wajahe, hehehe.
"Jangan cemberut dong, Dindaku sayang." Ucap Fatah saat Liana berekspresi no good looking.
"Biarin."
\=\=\=
A/N: guys kalo mau baca nyampe part 26 dan setiap partnya in syaa allah nyambung di wp ya, dengan judul yang sama. tq
Follow me!!
azzindaah_
Kebangetan kau orang guys, baca gak vote dan comment:v
😂
Lampung Tengah, 30 Maret 2020
Azzah Indah Irmiyana
Yang Cai_ 阳菜🌻