From Abandoned Village to Powerful Kingdom

From Abandoned Village to Powerful Kingdom
9. Shiro



Di dalam mansion berhantu, Baha melanjutkan perjalanannya menelusuri semua titik dan sudut mansion. Dia berusaha sepaya tidak ada celah yang terlewatkan, sebab semua benda yang berada di mansion ini sangat-sangat berharga.


Sebagian besar benda di mansion ini adalah buku, jurnal, dan arsip tentang segala hal. Dari buku sejarah, matematika, ilmu fisika, ilmu bahasa, dan masih banyak lagi. Dari semua ruangan yang dia telah masuki, Baha taksir bahwa jumlah buku-buku ini lebih dari lima ratus ribu buku.


Selain ruangan yang penuh dengan buku, ada ruangan seperti laboratorium, gudang senjata, bengkel, klinik, sampai gudang senjata. Namun sayang, barang-barang dan peralatan yang ada di ruangan itu sudah rusak dan hancur. Tidak ada yang utuh dari semuanya.


Jika saja ruangan itu tidak seperti ini kondisinya, berapa banyak hal yang akan bisa dia lakukan di dunia dimana era zaman pertengahan awal berlangsung.


Baha secara acak mengambil pecahan cermin dan melihat wajahnya, jadi seperti ini wajahnya di dunia ini.


“Eh tunggu!”


Menyadari ada sesuatu yang tidak asing, dia segera melihat wajahnya lagi. Ternyata, wajahnya di dunia ini sama persis dengan wajahnya di bumi sebelumnya.


“Ini benar-benar wajahku saat aku masih dua belas tahun, ini sangat mirip.”


Saat itu juga dia menyadari bahwa Mia yang merupakan teman masa kecil Baha, sangat mirip dengan Mary yang merupakan pacar Hary di bumi. Apa ini semua benar-benar kebetulan!?


“Untuk saat ini, tidak perlu memikirkan hal itu. Aku harus fokus menjelajah mansion ini.”


Setelah memastikan tidak ada ruangan yang terlewat, Baha memutuskan untuk memilih buku-buku yang akan dia bawa ke desa untuk dipelajari. Banyaknya jumlah buku inilah yang membuat pekerjaannya menjadi sangat lama.


“Untuk saat ini, aku butuh buku yang berisi tentang cara memaksimalkan penanaman tumbuhan.”


Butuh setengah hari baginya untuk menemukan buku yang cocok, dari ratusan buku yang dia lihat, hanya tiga buku yang berhasil dia peroleh. Tidak adanya sampul buku dan judul bacaan membuat pekerjaan menjadi lama, semua buku yang ada di mansion ini berwarna putih kusam.


Hari sudah petang, Baha membawa buku yang dia peroleh dan pulang. Dari mansion, dia berjalan dua kilometer, sampai titik dimana Max meninggalkannya. Mumpung Max belum tiba, Baha menyempatkan diri untuk membaca buku yang dia bawa.


“Bocah, bagus kau tidak memasuki mansion itu.” Dari kejauhan, Max tiba dengan kuda kesayangannya, di belakangnya dia menarik seekor bagal. Bagal sendiri adalah hewan hasil persilangan antara kuda janda. Eh!? Maksudnya, kuda betina dengan keledai jantan.


Max pikir Baha tidak memasuki mansion karena dia terlihat duduk dengan rileks dan tenang, seperti tidak dari mansion berhantu. Pemikiran Max akan ditepis, karena Baha sendiri sudah masuk ke dalam mansion tersebut.


“Apa maksudmu Paman Max? Apa kau lihat aku membawa buku dari desa? Tentu saja aku sudah memasuki mansion itu, ini buktinya,” katanya sambil memperlihatkan buku. “Aku mengambil buku ini dari dalam mansion.”


“Hah!? Bohong, mansion itu berhantu, tidak mungkin ada orang yang berani masuk ke dalam! Kau berbohong kan! Ya kan!”


“Terserah paman saja, daripada berdebat disini. Lebih baik kita pulang, hari mulai gelap.”


Baha dengan santai menaiki bagal yang dibawa Max, dia masih tidak percaya bahwa bocah itu memasuki mansion berhantu yang legendanya sudah tersohor sampai ibukota kerajaan.


“Buku itu pasti tipuan yang dia buat!”


* * * * *


Penduduk menyambut kedatangan Baha dan Max, mereka penasaran bagaimana wujud mansion berhantu yang legendaris itu. Penjelasan yang Max berikan sangat rancu dan tidak jelas.


“Baha, bagaimana bentuk mansion tersebut? Aku dengar mansion itu memiliki mulut yang bisa memakan setiap orang yang mengetuk gerbangnya.” Iarina yang memulai pertanyaan.


“Apa ketika kau datang ke mansion itu, kau merasakan hawa ada orang yang mengintaimu dari hutan, dan aura gelap yang pekat?”


“Yah, aku sedikit merasakan aura aneh. Namun, aku tidak merasakan ada hawa keberadaan orang yang mengikutiku.”


“Apa kau melihat penampakan wanita berambut hitam sampai kaki yang memakai gaun putih dan tiara merah darah?”


“Tentu saja tidak.”


Baha terus digempur pertanyaan, dia dengan sabar menjawab semuanya satu per satu. Meskipun hidangan sudah di atas piring, mereka masih menanyakan kepada Baha berbagai hal mengenai rumor yang mereka dengar mengenai mansion berhantu itu.


Sebagian kecil rumor benar adanya, tetapi sebagian besar rumor yang penduduk ketahui adalah omong kosong dan bualan yang berlebihan.


Mereka sangat penasaran ingin pergi ke mansion itu, tetapi semua orang takut untuk pergi ke sana. Bahkan, Max yang dikenal sebagai pria paling pemberani di antara mereka pun enggan untuk mendekat ke mansion.


Baha tidak menceritakan penemuan yang dia temukan di dalam mansion itu, lagipula mereka pasti tidak akan mengerti apa-apa mengenai hal tersebut. Lebih baik, dia menjaga semua buku-buku itu agar tetap disana.


Rumor mansion berhantu harus tetap dijaga, untuk menghindari orang-orang untuk datang ke sana. Jangan sampai, mereka merusak segala fasilitas dan buku-buku berharga yang terdapat di dalam mansion tersebut.


Paginya, semua penduduk desa melakukan aktivitas baru mereka. Sebagian mereka menyiram kebun umbi jalar, sebagian lainnya gotong royong membangun rumah baru. Untunglah di antara penduduk desa ada mantan pekerja bangunan, dan penebang kayu. Sehingga proyek pembangunan lancar-lancar saja.


Max dan kedua pemburu Baha perintahkan untuk mengumpulkan tanaman-tanaman di hutan, jika ada tumbuhan yang unik, mereka harus membawanya kepada Baha dan menunjukkan letak mereka menemukannya selagi berburu.


Permasalahan yang menurut Baha cukup berpengaruh terhadap semua rencananya adalah modal transportasi, kurangnya jumlah kuda menurunkan keefektifan mobilitas penduduk. Desa Bahamud sendiri hanya memiliki seekor kuda dan seekor bagal yang sudah tua.


Maka dari itu, Baha memutuskan untuk menjelajah wilayah padang rumput sebelah selatan desa. Harapannya untuk mencari dan menjinakkan kuda liar yang hidup di sana, rencananya bukan hanya menjinakkan kuda, tetapi sekalian juga mencari domba dan sapi liar untuk ditangkap.


Sebelum pergi, Baha memastikan untuk menyembunyikan buku-buku yang dia dapat dari mansion. Meskipun orang-orang sudah tahu tentang buku yang baha bawa, tetapi mereka masih belum melihat isi dan darimana buku ini Baha dapatkan.


Setelah semuanya aman, Baha pergi sendiri menuju padang rumput. Satu jam berjalan kaki, Baha sampai di pinggir padang rumput. Dari tempatnya berdiri, terlihat samar-samar dari kejauhan koloni kuda yang tengah merumput, dari arah lain tampak hewan lain seperti domba, sapi, kambing, dan antelope.


Dia berjalan menuju kelompok kuda, kehadiran Baha membuat banyak kuda-kuda yang melarikan diri karena merasa terancam. Sedikit sekali kuda yang tidak kabur, ada seekor kuda yang membuat Baha tidak bisa tidak terpesona.


Kuda itu memiliki rambut berwarna putih seperti sutra, surainya yang berwarna hitam membuatnya tampak sangat gagah. Kuda itu jelas lebih berotot dan sehat ketimbang kuda-kuda lainnya.


Baha mendekatinya dengan perlahan, mencoba untuk tidak mengusik makan siangnya. Sebelum datang kesini, Baha sudah menyiapkan sikat kuda milik Max untuk menjinakkan kuda. Selagi menunggu kuda makan, Baha membuat anyaman sederhana dari rumput.


Dia membuat mahkota dari rumput, kuda putih itu tertarik dengan mahkota yang Baha buat. Dia mendekat dan mengendus mahkota dari rumput, diapun memakannya.


“Ini bukan untuk dimakan, kau tahu.” Baha hanya tersenyum dan mengelus kepala kuda putih selembut mungkin, dia harus mendapatkan kepercayaan kuda putih tersebut.


Kesempatan untuk menambah poin kasing sayang tidak dia sia-siakan, diapun menyikat kuda putih dengan perlahan. Ringkikan pelan kuda putih tanda dia menikmati perlakuan Baha, dia merebahkan tubuhnya, meminta Baha terus menyikatnya.


“Hey, bisakah kita berteman?” Baha memeluk kuda putih sembari menyikat leher kuda dengan lembut. Kuda itupun meringkik pelan, sepertinya dia juga setuju dengan saran Baha.


“Baiklah, mulai saat ini, namamu adalah Shiro!”