
Seminggu berselang, semua bangunan dari desa sebelumnya sudah dirubuhkan. Puing-puing dari bangunan sudah disingkirkan ke pinggiran desa, jalan setapak baru hampir diselesaikan dan akan selesai dalam waktu singkat. Bersamaan dengan meluasnya lahan tanaman umbi jalar mereka.
Saat ini, Baha menghadapi masalah baru, dia menyadari bahwa mereka benar-benar kekurangan tenaga kerja dan uang untuk membeli peralatan baru yang lebih bagus. Pada akhirnya, uang memang penting. Meskipun mereka dapat bertukar barang dengan bandit dari Klan Lionfang, namun barang yang bisa dibarter sangat terbatas. Mengandalkan barter untuk mengembangkan desa ini sangat tidak efisien.
Baha memikirkan cara bagaimana mendapatkan uang dengan cepat, kepalanya panas sendiri karena tidak bisa menemukan jalan keluarnya. Akhirnya, Baha bertanya-tanya tentang masalah yang dihadapinya ini.
“Cara mendapatkan uang dengan cepat yah? Aku tidak tahu, coba tanya Max, karena dia cukup dekat dengan orang-orang dari Klan Lionfang. Siapa tahu dia punya informasi,” ujar Frank, dia tidak memiliki informasi yang Baha butuhkan.
Langsung saja, Baha bertanya kepada Max.
“Aku dengar dari para bandit, ada sebuah mansion tua di sebelah barat. Menurut desas-desus di sana menyimpan banyak harta, tetapi karena mansion itu berhantu, orang-orang sangat takut dan tidak berani untuk memasukinya,” kata Max. “Jangan bilang bahwa kau masih akan ke sana setelah apa yang barusan aku katakan?”
Baha berpikir sebentar, meskipun ini hanya desas-desus, apa salahnya berikhtiar dengan mencoba memastikan ke sana secara langsung?
“Tentu saja, bisa kau tunjukkan jalannya?”
Max bingung, dia tidak bisa mengambil keputusan ini sendirian. Dia memerlukan izin dari semua orang. Dia khawatir jika dia mengantar Baha ke mansion itu, dia tidak pernah akan bisa kembali lagi. Dia takut Baha akan diculik roh jahat dan dirasuki setan.
Pertemuan kali ini benar-benar cukup menegangkan, pasalnya mereka membahas mansion berhantu yang berdiri sejak zaman kuno. Tidak ada yang berani untuk menuju ke sana, kecuali Baha tentunya.
Semua orang tidak mau mengizinkan Baha untuk menyelidiki mansion tersebut, namun Baha sangat bersikeras untuk pergi. Setelah berdebat dan berdiskusi sekian lama, keputusan sudah bulat. Baha akan mendatangi mansion itu seorang diri, Max akan mengantarnya sampai depan mansion.
“Baha, kau yakin akan ke mansion berhantu itu?” Iarina khawatir, begitu pun anak-anak yang bersembunyi di belakangnya. Mereka semua sangat ketakutan membicarakan mansion tersebut, karena kisah legenda secara turun-temurun diwariskan mengenai kengerian mansion tersebut.
Baha adalah satu dari sepersedikit orang yang tidak percaya dengan cerita isapan jempol tersebut, walaupun sudah diperingatkan berkali-kali oleh penduduk desa untuk tidak pergi.
Mansion berhantu itu adalah satu-satunya jalan yang dia punya untuk mendapatkan banyak uang yang nantinya akan digunakan untuk pengembangan Desa Bahamud. Ia sendiri tidak punya cara lain, mudah-mudahan aksi nekatnya ini berbuah manis.
Besok adalah hari dimana dia akan pergi ke mansion berhantu tersebut untuk mencari harta peninggalan zaman kuno, semoga saja informasi samar ini memang benar adanya. Untuk saat ini, dia harus fokus membuat jalan setapak bersama penduduk desa.
* * * *
“Mansion berhantu tersebut berada dua kilometer dari sini,” kata Max sambil menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah yang dimaksud, “Maaf aku cuma bisa mengantarmu sampai titik ini.”
Tidak heran mengapa mansion tersebut memiliki nama berhantu di belakangnya, dari jarak dua kilometer, aura aneh dan menindas membuat bulu kuduk merinding. Pepohonan dan tumbuhan di sekitarnya pun mengeluarkan aura gelap, tumbuhan itu sebenarnya telah kering dan hanya menyisakan kayu yang kurus nan kering.
Baha sempat ragu pada awalnya, namun karena tekadnya sudah bulat. Mau tidak mau dia harus melanjutkan perjalanan ini, perjalanan mencari harta karun di mansion berhantu. Baha menyuruh Max untuk kembali ke desa, dan memintanya untuk menjemput pada sore harinya.
Max langsung mengiyakan karena dia sendiri sudah tidak nyaman berada di tempat ini berlama-lama, akhirnya tinggal Baha seorang diri yang berdiri di hutan menyeramkan ini.
“Haruskah aku masuk ke dalam sana?”
Apapun itu, dia sudah berada di depan mansion. Melihat Baha yang muncul dari hutan, kumpulan burung gagak yang bertengger di atap mansion beterbangan ke segala arah dengan suara memekik.
Selangkah dia menuju gerbang, pintu gerbang terbuka dengan sendirinya menimbulkan bunyi derit yang mengganggu pendengaran.
Bangunan dengan nuansa eropa abad pertengahan ini cukup misterius, suara aneh seolah-olah memanggil Baha. Dari dalam mansion, terdengar sayup-sayup bunyi piano. Seketika itu pula Baha semakin mendingin, lehernya tercekik dan peluhnya terus mengalir.
“Apa ini semua ilusi?” Yang dia lakukan pertama kali adalah menekan lengannya dengan kukunya, upaya ini dia lakukan untuk mengembalikan kesadarannya yang sempat hilang.
“Harus cepat mencari harta itu, dan segera pergi dari sini.”
Tanpa menunggu lama, Baha berlari menerobos pintu depan. Dia mencoba untuk mengacuhkan serangan mental yang datang, semakin dia melangkah masuk, semakin gelap ruangan di sekitarnya. Saat dia menoleh ke belakang, dia sudah benar-benar kehilangan cahaya, dia berada di antara kegelapan.
* * * * *
Iarina adalah gadis kebanggaan yang dimiliki Desa Bahamud, dengan paras yang anggun, lagi menawan. Membuatnya menjadi kembang desa itu saat usianya menginjak delapan tahun.
Desa yang sebentar lagi akan menjadi kota kecil di perbatasan Kerajaan Bethelia ini menjadi rumah bagi Iarina, dia adalah contoh dan idola gadis-gadis muda di desa tersebut. Selain memiliki penampilan yang enak dipandang, dia juga terkenal memiliki tata krama yang baik meski bukan seorang bangsawan
Bukan hanya itu, dia juga memiliki otak yang cerdas. Di usia yang masih muda, dia sudah menguasai ilmu tulis, ilmu baca, dan ilmu hitung, kemampuan memasaknya pun baik nan handal. Secara harfiah, dia adalah gadis multitalenta.
Menjadi gadis yang begitu bersinar membuatnya tidak bisa hidup tenang, dia selalu menjadi incaran banyak orang, mereka mengajukan lamaran pernikahan. Bahkan beberapa bangsawan dari kota-kota besar selalu menawarkannya untuk menjadi selir mereka saat usianya sudah cukup. Bukan hanya itu, banyak bandit yang berupaya untuk menculiknya supaya diganti dengan tebusan.
Iarina sudah tidak bisa hidup tenang seperti dahulu, kini dia sudah jarang keluar rumahnya dengan alasan keselamatan. Terlalu banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan membuatnya jenuh dan bosan, semakin lama dia semakin kesepian.
Suatu hari, datanglah seorang bangsawan, dia adalah Baron Ludic. Baron Ludic baru saja diangkat menjadi bangsawan, dia adalah pemilik Desa Bahamud yang baru, menggantikan Baron Brind yang telah meninggal karena penyakit yang dideritanya.
Baron Ludic tidak sengaja melihat Iarina yang tengah merenung di jendela rumahnya, saat itu pula dia terpesona dan menyukai Iarina. Baron Ludic menghampiri Iarina dan mengajaknya berkenalan.
“Oh, gadis manisku. Bolehkah aku mengenalmu lebih dekat lagi? Ke depannya kita akan membangun rumah kebahagiaan kita bersama.” Baron Ludic secara proaktif mendekati Iarina.
Meski masih berumur hampir sembilan tahun, pesonanya yang dewasa dan sangat memesona membuat Baron Ludic semakin gencar mendekati Iarina. Pria tiga puluh tahun itu sangat tertarik dengan gadis kecil macam Iarina.
Orang tua Iarina hanya bisa pasrah dengan kelakuan Baron Ludic yang semakin lama semakin aneh, sementara Iarina, dia hanya bisa menahan tangis, setiap kali Baron Ludic melakukan sesuatu yang tidak pantas dalam kamarnya.
Baron Ludic adalah contoh sempurna dari seorang bangsawan gendut, tidak senonoh, kotor, bejat, dan penyuka anak di bawah umur sejati. Dengan kulit lehernya yang terlipat berlapis-lapis, membuatnya menjadi contoh sempurna seorang babi yang memiliki wujud manusia.
Iarina harus diselamatkan dari bangsawan rusak ini.