From Abandoned Village to Powerful Kingdom

From Abandoned Village to Powerful Kingdom
Side Story 1 : Iarina yang Jatuh Cinta



Sudah dua minggu Baha tinggal di desa ini, dalam waktu itu juga dia bisa membakar semangat penduduk desa. Dari yang awalnya hanya berdiam diri ketakutan dengan ancaman serangan bandit, menjadi lebih kuat dan percaya dengan kemampuan diri.


Aku sebagai salah satu orang yang selamat dari serangan bandit sangat bersyukur, kedatangan Baha menjadi cahaya pelita bagi kami. Aku sangat ingin membantunya dan menjadi pendukungnya bila dia membutuhkan.


Tidak pernah aku melihat orang yang seumuranku begitu cemerlang di mataku, dia benar-benar jenis laki-laki yang berbeda dengan kebanyakan orang yang aku tahu.


Seharusnya, anak-anak seumurannya bermain dan menjelajah, sekaligus bermanja-manja. Baha jelas berbeda, meski kami seumuran, dia jauh lebih dewasa dan matang kepribadiannya dan lebih bijaksana.


Aku sangat mengagumi Baha dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin sekali menjadi seperti dia. Aku ingin menjadi pengikutnya, aku ingin selalu berada di sisinya.


“B-berada … di sisinya?” Iarina terkejut apa yang baru saja dia pikirkan. “A-apa sih yang aku pikirkan!”


“Iarina, mengapa kau melamun?”


“Kyah!”


Tanpa aku sadari, Baha sudah berada di sampingku. Wajahnya dekat sekali dengan wajahku, apakah dia memperhatikanku?


“Apa disini sudah beres? Hmm, sepertinya belum. Bagaimana jika aku ikut membantu? Bolehkan Iarina?”


“T-tentu saja Baha, mari kita lakukan ini sama-sama.”


Aku dan Baha menanam umbi jalar bersama-sama, kami sangat dekat. Aku mencuri pandang sesekali, dilihat dari dekat, postur tubuh yang Baha miliki ternyata sangat proporsional, dan wajahnya itu.


“Iarina, apa ada yang salah dengan wajahku?”


“T-tidak!”


Apa sih yang aku lakukan! Bisa-bisanya aku tidak sadar saat Baha menatapku! Kalau begini, bisa-bisa Baha menganggapku orang aneh!


“Enaknya jadi muda ya?”


“Bisa mesra-mesraan di siang bolong, Baha dan Iarina tampak serasi dan cocok deh bund?”


“Iya bund.”


Mengapa ibu-ibu selalu berbicara begitu memalukan seperti itu, apa yang Baha pikirkan nantinya? Aku tidak tahu lagi, aku ingin segera menyembunyikan diri segera!


Tidak terduga, Baha hanya tersenyum. Apakah ini berarti Baha punya perasaan kepadaku?


Apa sih yang aku pikirkan!?


“Baha, bisakah kau kemari sebentar!”


Dari jauh, seorang paman memanggil Baha. Baha langsung bangkit dan segera menghampiri paman tersebut.


“Iarina, maaf aku ada urusan kesana sebentar.”


“Iya.”


Haah, sangat disayangkan Baha pergi. Padahal aku ingin dia lebih lama disini.


Wajah Iarina tidak bisa berhenti merona memikirkan hal yang macam-macam dengan Baha, mengapa dia menjadi begitu aneh. Pemikirannya terus menerus memikirkan tentang Baha.


“Kenapa sih dengan diriku?”


Sadar akan perubahan aneh yang terjadi, Iarina mencari penyebab dan pemicunya. Setelah dia pikirkan dengan teliti dan pelan-pelan. Dia menemukan jawabannya.


“Ini, perasaan aneh ini muncul saat Baha datang.”


Iarina kebingungan, perasaan seperti ini, baru pertama kali ia rasakan. Hatinya seperti penuh dengan bunga saat memikirkannya, jantungnya berdegup lebih cepat saat berada di dekatnya, mata ini tidak bisa berpaling dari wajahnya, pipinya merona tiap kali berbicara dengannya.


Ini dinamakan apa yah?


Iarina menggaruk-garuk kepalanya, dia merasa sangat pusing dengan perasaan aneh ini. Entah mengapa, tetapi dia menyukai perasaan aneh ini.


Sebaiknya, aku harus membereskan ladang ini secepatnya. Setelah itu, aku akan mencuci tangan dan membasuh wajah supaya segar.


Iarina melihat pantulan wajahnya di permukaan air, dia mencoba mendekati bayangan itu untuk melihat wajahnya lebih jelas.


“Apakah aku cantik? Aku dengar laki-laki menyukai perempuan yang wajahnya cantik, apakah itu benar?”


“Hey Iarina!”


“Kyaaa!”


Byuur!


Iarina terkejut dan langsung tercebur ke kali, melihat hal itu. Baha langsung berlari dan menolongnya, dengan posisi jatuh Iarina, wajahnya mungkin akan membentur bebatuan di dasar danau.


“Iarina, kau baik-baik saja?”


“Ugh! Kepalaku membentur batu.”


Baha mendekati Iarina yang tengah memegangi kepalanya, setelah memeriksa keningnya, ternyata ada sedikit goresan, darah mengalir pelan dari dahinya.


“Sini biar aku lihat, keningmu berdarah.”


“Biarin aja Baha, nanti juga sembuh.” Iarina menolak tawaran Baha.


“Sini, biar aku bersihkan lukanya supaya nggak infeksi.” Baha terus memaksa membiarkan dia melihat luka di keningnya. Pada akhirnya, Iarina mematuhi Baha.


Jantung Iarina hampir copot dengan apa yang Baha lakukan selanjutnya.


Baha menghisap luka itu, dia menyedot darah yang keluar dari sana dengan kedua bibir yang persis menempel di kening Iarina. Saat itu juga wajah Iarina benar-benar menjadi merona kemerahan seperti kepiting rebus, detakan jantungnya semakin di depan.


“Iarina, bagaimana? Apa masih sakit?”


Baha melihat Iarina, wajahnya hanya menunduk, dengan nafas yang memburu. Dari sudut pandang ini, dia bisa melihat lekuk tubuhnya dengan jelas. Meski telah tertutupi oleh baju yang terbuat dari serat bulu domba, dia bisa melihat ada yang menjulang dari sana.


Baha mengalihkan pandangannya, menahan matanya untuk tidak menatap bagian itu lebih lama lagi.


‘Mengapa gadis usia dua belas tahun sudah tumbuh begitu pesat? Apakah sistem pertumbuhan dan perkembangan orang-orang di dunia ini berlangsung lebih cepat!?’ Baha bertanya-tanya.


Baha melihat Iarina seperti gadis usia enam belas tahun di dunianya, lekuk tubuhnya sudah terbentuk, pinggulnya jelas sudah melebar, dan buah dadanya membesar sedemikian rupa.


Dia pun juga memperhatikan tubuhnya, dadanya sudah mulai membidang, jakunnya tumbuh dan rambut bermunculan di area tertentu.


Kali ini, Iarina menatap Baha dengan tatapan ingin menangis dan malu. Baha pun bingung, jawabannya pun terucap dari mulut Iarina, “Baha …. Kau telah menciumku ….”


Baha sontak terkejut, dia baru sadar bahwa dia mencium Iarina tanpa sadar. Kali ini, dia juga ikut merona dan malu.


“I-itu, aku bukan bermaksud untuk menciummu, aku hanya ingin membersihkan luka di keningmu.”


Baha dan Iarina tidak berbicara satu sama lain sampai petang tiba.


* * * * *


Malam tiba, suara serangga memenuhi hutan saling bersahutan. Seperti biasa, penduduk menyalakan api unggun, mereka makan malam sambil berkumpul dan bercerita.


Baha dan Iarina duduk terpisah, mereka masih malu untuk menatap wajah satu sama lain.


Iarina duduk melihat kobaran nyala api sambil melamun. Entah halusinasinya atau bukan, dia melihat api itu menari-nari dengan indah.


‘Ini, apakah perasaan ini yang dinamakan cinta?’ Pernyataan itu membuatnya yakin tidak yakin.


Iarina melirik Baha yang tengah mengobrol dengan Frank si kepala desa, dia menatap wajah Baha sembari menekuk lututnya.


‘Sepertinya aku suma sama dia.’


Iarina mengangguk-angguk, dia mulai yakin bahwa perasaan aneh ini adalah cinta. Dia mulai mengerti apa makna syair-syair yang tertulis di dalam buku yang pernah dia baca sebelumnya.


Iarina tersenyum, ‘Memang benar yah, cinta membuat dunia lebih berwarna.’