From Abandoned Village to Powerful Kingdom

From Abandoned Village to Powerful Kingdom
15. Serikat Pedagang



“Baha, bisakah aku mencoba mengendarai kereta ini? Aku lihat kau begitu lelah, aku sedikit khawatir.” Iarina duduk di samping Baha, dia melihat tali kekang kuda di tangan Baha.


Baha berpikir sejenak, kemudian mengangguk pelan. “Boleh saja, aku akan mengajarimu.”


Di bawah embusan angin ringan, Iarina diajari membawa kereta kuda dibawah arahan Baha. Hari ini terik sekali, karena angin yang berembus membuat panasnya berkurang.


Pepohonan yang rindang dan teduh menutupi jalan yang mereka lalui, dedaunan kering berjatuhan dengan tenang nan perlahan.


Dari arah depan, terlihat karavan pedagang yang besar lewat di samping mereka. Kira-kira, ada seratus gerbong kereta yang penuh dengan muatan. Banyak sekali pedagang dan prajurit penjaga yang berjalan di setiap sisi untuk menahan dari segala ancaman.


“Baru kali ini aku melihat karavan dagang sebesar ini.” Baha berkata spontan.


“Ini termasuk kecil, ada lagi karavan yang lebih dari seribu kereta. Mereka bisa memenuhi jalan-jalan dan membentang sangat panjang.” Iarina menambahkan.


Iarina sudah mulai terbiasa mengendarai kereta, Shiro adalah kuda yang cukup mudah ditangani, jadi sangat mudah bagi Iarina untuk menguasainya.


Baha melihat kereta-kereta karavan yang berlalu, dia melihat banyak sekali karung-karung makanan, pakainan, tembikar, dan perlengkapan lainnya.


Iarina tiba-tiba menarik lengan Baha, secara tidak sadar kuku-kukunya menancap di kulit Baha. Dia bingung, dan menoleh untuk melihat Iarina.


Iarina tampak menundukkan kepalanya, dan mencoba untuk menyembunyikan wajahnya di balik bajunya. Baha yang menyadari ada sesuatu yang salah langsung mengambil alih kusir.


Saat tali kekangan kuda berada di tangan Baha, Iarina langsung masuk ke dalam karavan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hal ini sangat membuat Baha kebingungan.


Saat kelompok karavan berlalu, Iarina kembali dan menjelaskan maksud dia berperilaku seperti itu tiba-tiba.


“Ada apa Iarina?” tanya Baha dengan nada khawatir.


“A-Aku … aku melihat seseorang yang hampir mencelakaiku dulu. Dia ada di antara karavan-karavan itu, untung dia tidak melihatku.”


Iarina berkeringat dingin dengan napas terengah-engah, baru kali ini Baha melihta Iarina setakut ini terhadap


sesuatu.


“Aku dengar kau memang terkenal, sebaiknya mulai saat ini kau tutupi wajahmu dengan tudung penutup kepala.”


Pendapat Baha diterima oleh Iarina, dia segera mencari kain yang cocok untuk menutupi wajahnya supaya tidak mudah dikenali.


“Baha, terima kasih.”


* * * * *


Keluar dari hutan, mereka menemukan hamparan persawahan hijau membentang sejauh mata memandang. Hamparan hijau itu sebenarnya adalah padi, di antara sawah itu, tampak boneka jerami untuk mengusir burung-burung yang kerap kali menjadi hama para petani.


Mereka melewati jembatan kayu, dimana dibawahnya mengalir sungai yang jernih dan bening. Batuan di tepinya, diduduki oleh anak-anak yang bermain dengan asyik bersama teman-temannya.


Iarina menyapa dari kereta, sapaannya dijawab ramah oleh semua anak-anak.


Di depan, terlihat bangunan-bangunan yang bertumpuk dengan padat. Itulah tempat tujuan mereka, sebuah kota besar bernama Kota Cihurup.


Kota Cihurup terkenal sebagai produsen beras terbesar di seluruh Kerajaan Bethelia, selain terkenal dengan produk berasnya, kota ini juga sangat terkenal dengan kulinernya yang sangat enak dan beragam di antara semua kota besar lainnya.


Di sekitar Kota Cihurup, dibangun tembok setinggi setengah meter. Tembok ini mencegah warga-warga merusak sawah para petani. Di tengah-tengah Kota Cihurup, ada juga sebuah benteng besar berdiri dengan kokoh nan perkasa, di sekitar benteng, tembok-tembok setinggi empat meter mengelilinginya.


Baha bisa masuk dengan bebas ke kota ini, tidak ada penjaga yang khusus bertugas untuk mengurusi pintu keluar masuk kota. Ini cukup aneh mengingat desa ini adalah produsen beras terbesar di kerajaan.


“Beras-beras itu ditumpuk di dalam benteng yang berada di tengah kota, benteng di kota ini dijaga dengan penjagaan super ketat. Meskipun di daerah pemukiman kita bisa berbuat sesukanya, tetapi di dalam tembok besar di sana,” kata Iarina sambil menunjuk ke arah tembok. “Penjagaannya ketat sekali.”


Baha mencari tanah lapang untuk memarkirkan kereta kudanya, Iarina menunjukkan dimana Baha bisa menaruh kereta kudanya dengan aman.


“Kami biasanya memarkirkan kereta kami di tanah ini, meski sewa hariannya satu koin perunggu, tempat parkir ini cukup aman dan memiliki penjaga.”


Baha menyetujui pendapat Iarina, dan memarkirkan kereta kudanya beserta kudanya di lahan itu. Meskipun mereka belum memiliki sekeping koin pun, mereka yakin bisa mendapatkannya segera. Sebelum berjualan, mereka pergi ke pasar untuk mencari tahu harga dan sistem perdagangan di kota ini.


“Iarina, menurutmu kita harus menjual barang-barang ini kepada siapa?”


“Melihat barang-barang yang kita bawa tidak biasa dan langka, tidak patut kita menjualnya kepada kalangan biasa. Kita harus mencoba menjualnya kepada bangsawan atau serikat pedagang.”


Baha berpikir sejenak, sembari menimbang-nimbang permasalahan ini. Dia pribadi tidak ingin menjualnya kepada para bangsawan, dia tidak ingin terlibat dengan masalah politik nantinya.


Mengingat tujuannya adalah memakmurkan Desa Bahamud, dia harus cepat mencari dukungan dari para pedagang supaya mereka bisa menjual barang mereka ke desa dan bekerja sama dengannya. Mungkin serikat pedagang bisa membantunya meski sedikit.


“Aku sudah memutuskannya, mari kita jual barang-barang kita ke serikat pedagang.” Keputusan Baha sudah bulat.


“Baiklah, aku akan tunjukan jalannya.”


Baha dan Iarina tanpa pikir panjang langsung menuju gedung serikat pedagang di Kota Cihurup. Bangunan serikat pedagang adalah salah satu bangunan terbesar di kota ini, selain bangunan serikat pemburu dan serikat pelajar.


Di pintu masuknya, banyak orang yang keluar masuk bangunan. Serikat pedagang adalah serikat paling sibuk di antara yang lainnya, selain bertanggung jawab mendistribusikan produk ke berbagai tempat dan daerah, mereka juga harus menyuplai bahan baku dari petani, peternak, dan pengrajin.


“Baha, cepat kita mengantri di barisan ini, kita akan ketinggalan jika berlama-lama diam disini.”


“Baiklah.”


Mereka menunggu untuk mengantri, cukup banyak orang yang ingin menjual barang-barang mereka secara khusus. Kebanyakan dari mereka membawa peti-peti mereka sendiri ke meja resepsionis untuk dinilai. Sementara karena barang bawaan Baha dan Iarina yang cukup banyak, mereka tidak bisa membawanya langsung.


Akhirnya, mereka sampai di depan meja resepsionis. Mereka pun segera mengatakan apa saja barang-barang mereka kepada resepsionis. Karena kebanyakan nama-nama barang mereka aneh, pihak serikat pedagang segera mengirim orang untuk memeriksa barang-barang yang dimaksud untuk segera dinilai.


“Karena barang-barang yang kalian katakan aneh, kami mengirim penilai barang andalan kami ke kereta kalian. Tunggu di luar, aku akan mengirim dia kesana.”


“Baiklah.”


Mereka berdua menunggu di depan serikat pedagang seperti yang diperintahkan. Tak lama kemudian, datanglah seorang pria dengan mata setengah terbuka bergaris hitam di bawah matanya. Dia membawa beberapa lembaran-lembaran kertas kusam di tangannya.


“Aku adalah penilai barang di serikat pedagang cabang Kota Cihurup, bisakah kalian menunjukkan dimana barang-barang yang akan dinilai itu?”


Setiap kali orang ini berkata, kepalanya selalu menjorok ke depan, sembari mengedip-ngedipkan matanya berulang-ulang. Baha bisa langsung mengetahui bahwa orang ini memiliki masalah pada matanya.


“Lewat sini.” Baha segera melangkah menuju kereta kudanya terparkir.