From Abandoned Village to Powerful Kingdom

From Abandoned Village to Powerful Kingdom
11. Proyek Suiko



Hari ini adalah hari pertama Baha menjabat sebagai kepala desa.


Yang dia lakukan pertama kali adalah membuat rencana, apa saja proyek yang akan dia lakukan? Proyek mana yang lebih diprioritaskan? Kapan proyek akan dilakukan.


Seharian penuh Baha membuat berbagai rancangan proyek untuk direalisasikan sesegera mungkin, proyek-proyek ini sebagian besar adalah proyek yang sederhana untuk membangun pondasi desa ini ke depannya.


Dengan menjadi kepala desa, keluwesan dan kebebasannya akan sedikit berkurang. Dia tidak bisa lagi mengunjungi mansion berhantu untuk mencari buku baru yang harus dipelajari. Saat ini, dia hanya memakai ingatannya untuk membangun beberapa hal.


Kumpulan proyek-proyek yang telah dia susun dan rencanakan untuk membangun dasar pondasi Desa Bahamud bernama Proyek Suiko.


Proyek Suiko terdiri dari perluasan pemukiman, perluasan pertanian, membangun sistem irigasi, sanitasi, membangun sekolah, membangun peternakan, membuat gerabah, pencarian sumber daya, dan pencarian bahan tambang.


Ini adalah garis besar Proyek Suiko, sebagian besar proyek berfokus kepada pembangunan desa dan atribut penunjang kehidupan penduduk.


Proyek yang akan dikerjakan lebih dahulu tentu saja proyek perluasan pertanian dan pemukiman. Hal itu adalah dasar dari segalanya, dengan makanan, para pekerja bisa tenang dengan perutnya. Dengan pemukiman layak, para pekerja akan lebih semangat bekerja.


Besok harinya, Baha melakukan evaluasi dan kekurangan dalam Proyek Suiko yang sudah rampung ini. Ternyata ada begitu banyak kekurangan yang cukup fatal.


Baha nyatanya membutuhkan banyak tenaga kerja untuk merealisasikan Proyek Suiko, menyimpan fakta bahwa penduduk Desa Bahamud hanya berjumlah 28 orang, jumlah itu sangatlah sedikit.


Kekurangan lainnya tidak lebih parah dari kurangnya tenaga kerja, dengan menutupi kekurangan akan tenaga kerga, Baha yakin bahwa kekurangan lainnya dapat tertutupi dengan mudah.


Langkah awal yang dia lakukan adalah memasang penanda jalan, Baha segera mengirim beberapa orang untuk memasang penanda bahwa Desa Bahamud telah dibangun ulang di jalan utama, rencananya, Baha akan membangun posko di tepi jalan utama untuk memberikan tanda tersirat bahwa ada desa yang berada di balik bukit itu.


Mengingat Desa Bahamud sudah mati selama tiga tahun, hal ini harus dia lakukan demi menarik orang-orang untuk berkunjung. Siapa tahu mereka bisa merekrut orang-orang yang datang.


Tanpa menunggu langkah pertama berhasil atau tidak, dia langsung melakukan rencana selanjutnya. Langkah ini, Baha mengirim utusan menuju desa-desa sekitar untuk bergabung dan bekerja sama dalam Proyek Suiko Desa Bahamud.


Tujuan utusan ini adalah memberi kabar bahwa Desa Bahamud sudah dibangun ulang, sekaligus mengajak para penduduk di desa sekitar untuk turut membantu.


Baha tahu bahwa tingkat keberhasilan langkah ini sangat kecil, maka dari itu, dia menyuruh para utusan lebih fokus merekrut para gelandangan dan orang miskin. Kondisi ekonomi orang yang buruk, akan lebih mudah dipengaruhi, karena mereka akan melakukan apa saja untuk memperbaiki kondisi mereka.


Dengan rencana perluasan pertanian berupa ladang dan kebun. Para orang miskin dan gelandangan akan tergiur dengan ajakan ini. Baha optimis bahwa rencana ini pasti mendapatkan hasil yang baik meskipun mungkin hanya sedikit penduduk yang akan pindah ke Desa Bahamud.


Masih ada satu langkah lagi, dan ini adalah langkah yang bisa mendapatkan berbagai keuntungan jika dilakukan, namun syarat untuk melakukan langkah ini adalah, Baha harus turun langsung untuk melakukannya.


Rencananya cukup simpel, Baha akan pergi menuju kota besar dan berdagang di sana, hasil dagangannya akan dia belikan alat-alat sehari-hari. Di kota itu, nanti Baha akan mengajak beberapa gelandangan dan orang miskin untuk bergabung membangun desa. Mereka akan mendapatkan kompensasi yang senilai dengan hasil kerja mereka.


“Kepala Desa Frank, bagaimana menurutmu tentang rencanaku?” Baha meminta saran dari Frank.


“Ide yang bagus, terkait dengan rencana ketigamu, bukankah kau harus berdagang disana? Memang barang apa yang ingin kau jual disana?”


“Aku sudah punya ide tentang hal tersebut.”


“Baiklah, kalau begitu kau harus membawa seorang pendamping untuk memberi tahu jalan menuju kota terdekat, apa kau sudah tahu akan membawa siapa?”


“Aku akan mengajak Iarina, aku dengar dia sering bepergian di masa lalu kan?”


Pada hari yang sama, Frank mengutus beberapa orang untuk mengunjungi desa-desa tetangga dan mengajak warga terutama para gelandangan dan orang miskin untuk bergabung membangun Desa Bahamud.


Beberapa orang membuat papan nama desa di jalan utama, mereka harap ada orang yang tertarik dan melihat-lihat desa. Walaupun keadaan desa sangat tidak bagus untuk menerima tamu, namun rencananya bukan itu. Mereka harap para pelancong dan pedagang akan mengabarkan kepada orang lain, bahwa Desa Bahamud yang sudah hancur itu sedang dibangun kembali.


Dengan menyebarnya kabar dibangunnya desa, orang-orang diharapkan akan datang berkunjung di masa depan.


Baha sebagai kepala desa belum memiliki gedung pemerintahan. Pusat kepemimpinannya masih berada di dalam rumah penduduk desa.


Petangnya, utusan yang Frank kirim untuk merekrut orang-orang dari desa tetangga, kembali dari misinya. Dari enam orang yang dikirim, mereka berhasil mendapatkan tujuh orang tambahan, dan mereka semua adalah anak-anak yatim terlantar di setiap desa.


Usia mereka berkisar dari enam sampai sepuluh tahun. Baha langsung memberi makan mereka makanan kecil, Iarina dan anak kecil dari desa, mengajak mereka bermain.


“Sepertinya rencana kedua berhasil mendapatkan orang, tetapi kita belum membutuhkan anak kecil dalam situasi sekarang.”


“Kau benar, kita membutuhkan orang dewasa yang ahli dalam bidangnya, kita harus merekrut orang-orang itu."


Baha memikirkan cara untuk mendapatkan tenaga ahli dalam pembangunan desanya, sepertinya dia memang harus mempercepat rencana ketiganya.


“Pak Frank, sebaiknya aku mempercepat rencana ketigaku berjalan. Aku memutuskan untuk pergi lusa dengan Iarina.”


“Baiklah kalau begitu, selagi kau pergi ke kota, kau bisa menyerahkan desa ini kepadaku.”


“Terima kasih Pak Frank.”


Malam harinya, Baha menceritakan dongeng kepada anak-anak yatim itu. Mereka kelihatannya terhibur dengan kisah tentang pahlawan yang membasmi para naga yang menyerang dunia. Para anak-anak sangat menyukai aksi-aksi pertarungan, terutama ketika sang pahlawan menghadapi sang raja segala naga.


“Baiklah, cerita berakhir sampai disini. Sebaiknya kalian tidur sekarang.”


“Baik Kak Kepala Desa!”


Semua anak-anak yatim masuk ke dalam rumah untuk tidur, Iarina dan Baha juga menemani mereka. Ketika semua anak tertidur, Iarina berbincang dengan Baha.


“Iarina, lusa aku akan menuju kota, rencananya aku ingin mengajakku sebagai penunjuk jalan ke sana. Apa kamu mau?”


Iarina mengangguk seraya berkata, “Tentu saja, serahkan tugas ini kepadaku. Aku cukup hafal jalan-jalan di kerajaan ini. Aku harus memberi tahu ayah tentang hal ini.”


Baha menghentikan Iarina. “Tetapi, perjalanan ini hanya diikuti kita berdua. Ayahmu tidak bisa ikut.”


Iarina terdiam, wajahnya terasa disiram air hangat. “A-Apa maksudmu? H-Hanya kita berdua katamu?”


“Ya! Tentu saja! Apa tidak boleh?”


“B-Boleh! Sangat boleh!” Iarina bersemangat.