From Abandoned Village to Powerful Kingdom

From Abandoned Village to Powerful Kingdom
3. Berburu



“Kau ikut dengan kami.” Max berdiri di depan Baha. Hari masih pagi, mentari bahkan belum tampak di ufuk timur, Baha jengkel sekali karena dia baru saja terbangun. Tanpa peduli dengan semua itu, dia menatapnya dengan wajah penuh curiga. Baha tidak mengindahkan tatapannya dan mengulurkan tangannya ke depan dengan lesu.


“Berikan aku senjata kalau begitu.” Baha tidak menolak, namun patuh dan setuju dengan ajakan Max.


Iarina yang menyaksikan kejadian itu mencoba menghentikan ayahnya, dan menyuruh Baha untuk tinggal saja karena Baha baru saja datang, dan membutuhkan istirahat yang banyak.


“Iarina, jangan campuri urusan ayah. Lagipula, jadi seorang laki-laki harus tahan banting.” Max menatap Baha, lalu mengulurkan sebuah belati sepanjang setengah lengan dari ranselnya.


“….” Baha tidak menanggapi Max, dia berlalu sembari mengambil belati itu.


Iarina hanya bisa menatap kepergian mereka dengan perasaan rumit.


* * * *


Baha, Max dan dua orang pemburu lainnya berkumpul untuk berdiskusi tentang hewan buruan mereka kali ini. Keputusan sudah bulat, masing-masing pemburu harus berhasil menangkap satu rusa, setelah berhasil menangkap rusa itu, buruan dikumpulkan di tempat mereka berdiri ini.


“Apa kau mengerti?” Max melirik Baha.


Baha mendengus dan berkata, “Aku mengerti itu, lagipula yang aku tanyakan disini adalah mengapa kita harus berburu rusa sebanyak itu? Sementara penduduk hanya berjumlah 28 orang. Daging-daging itu akan membusuk jika tidak segera dikonsumsi.”


Salah satu rekan pemburu berkata, “Kami tidak mengonsumsinya, melainkan memberikannya ke tempat para bandit untuk ditukarkan dengan barang lain.”


Mendengar hal itu, Baha mengernyitkan dahinya. Mengapa mereka menjual hewan buruan kepada bandit? Bukankah lebih baik dijual kepada para pedagang?


Pemburu menjelaskan mengenai hubungan mereka dengan bandit, dan beberapa informasi lainnya kepada Baha. Dari situ, Baha mendapatkan poin-poin penting dari informasi yang pemburu itu ceritakan.


Pertama, alasan mereka lebih memilih menjual hewan buruan kepada para bandit, transaksi menjadi lebih mudah dan menguntungkan. Sementara para pedagang karavan yang lewat di jalur seringkali menyulitkan


mereka, kebanyakan dari mereka tidak menerima pembayaran dengan cara tukar menukar, mereka lebih memilih bertransaksi dengan koin perak dan emas. Sementara mereka sama sekali tidak punya koin. Mereka lebih membutuhkan barang lain seperti garam, perkakas, senjata, dan berbagai barang lain yang lebih mereka butuhkan, ketimbang koin emas dan perak.


Kedua, markas bandit yang mereka datangi adalah kumpulan bandit yang memiliki hubungan baik dengan penduduk desa, terutama Max. Max adalah penyelamat anak pemimpin kamp bandit mereka, sehingga pemimpin bandit itu mengklaim bahwa desa itu menjadi wilayahnya, sehingga para kumpulan bandit yang lain tidak berani untuk menyerang desa ini.


Baha mengerti mengapa desa yang sudah pincang ini masih bisa bertahan meski tidak diserang oleh bandit, ternyata ada sekelompok bandit yang melindungi wilayah ini. Jika tidak ada perlindungan, dia yakin bahwa desa ini menjadi desa hantu yang sesungguhnya.


Apalagi dia menyadari bahwa meskipun penduduk-penduduk di desa miskin, namun mereka masihlah terpenuhi nutrisi dalam tubuhnya, meski ada sebagian orang yang sakit karena umur dan hal lain.


Ketiga adalah lanjutan dari poin sebelumnya, dengan bertukar barang dengan kumpulan bandit yang bernama Klan Lionfang. Mereka menambah erat tali pertemanan antara satu sama lain, sehingga Klan Lionfang bisa melindungi desa di masa yang akan datang.


Ini adalah simbiosis mutualisme yang bagus antara bandit dari Klan Lionfang dengan desa, Baha berharap penduduk desa juga ikut menjalin kerja sama untuk mengkokohkan dan membangun kembali desa ini di masa depan.


Mereka berpencar untuk mencari hewan buruan, dengan kemampuannya, Baha yakin bisa mendapatkan rusa dengan cepat di dalam hutan.


“Aku tidak menyangka bahwa ajaran dari kakek akan berguna, tidak rugi aku berlatih sangat giat waktu itu.” Baha berlari dan mencari tanda-tanda keberadaan hewan.


“Bingo!”


Tepat di depan visinya, sekelompok rusa tengah merumput di sebuah padang hijau yang terhampar luas. Ketinggian rumputnya mencapai setengah meter, itu sudah cukup tinggi untuk menyembunyikan diri, sehingga dia bisa melakukan rencana serangan tiba-tiba.


Dengan mengendap sehening mungkin, Baha memutari semua rusa, berniat untuk menyerang hewan itu dari titik buta. Belati di tangannya sudah siap untuk membunuh korban, menyadari ada sesuatu yang salah, pimpinan rusa menoleh ke belakang. Dia tidak menemukan ada hal yang aneh, diapun kembali mengunyah rumput dengan tenang.


Baha berada dalam posisi telungkup, dengan perlahan dan hati-hati dia mencoba mendekat menuju seekor rusa yang terpisah cukup jauh dari koloninya. Setelah tepat berada di belakang salah satu rusa yang dia incar, tanpa pikir panjang dia langsung menebas kaki rusa itu.


Rusa yang terluka kakinya melompat dan menjerit, kejadian itu membuat rusa-rusa lainnya berlari kocar-kacir ke berbagai arah. Setelah berhasil mengenai sang rusa, Baha mengejar rusa yang kakinya pincang tersebut.


Semakin lama berlari, semakin banyak darah yang hilang. Pada akhirnya, rusa itu tersungkur tak berdaya, kini dia terbaring lemah akibat kehilangan banyak darah. Dari belakang, Baha mengunuskan belatinya dan merobek batang tenggorokan rusa tersebut.


Dengan ini, dia berhasil mendapatkan hewan buruannya. Dia pun kembali ke tempat pengumpulan hasil buruan yang telah dijanjikan sebelumnya.


Di sana dia tidak menemukan siapapun, itu berarti dia adalah orang pertama yang berhasil medapatkan hewan buruan. Selagi menunggu rekan-rekan pemburu yang lain tiba, Baha mencoba untuk berjalan-jalan, melihat-lihat ada apa saja sih ragam flora di dunia ini. Siapa tahu, dia bisa mendapatkan suatu yang menarik.


“Begitu banyak tebu di sekitar sini!” Saat menyisiri hutan, dia menemukan ada daerah yang dipenuhi dengan batang tebu yang berukuran cukup besar. Sepertinya daerah itu belum terjamah sama sekali, dia pun menebas salah satu batang tebu, dia menguliti dan memotongnya menjadi bagian-bagian kecil. Kemudian dia menghisap batang tebu tersebut.


“Manis, sudah lama aku nggak makan tebu.”


Dia pun melanjutkan langkahnya, di perjalanan dia menemukan beberapa pohon yang berbuah dan memetiknya. Di antaranya ada pepaya, pisang, rambutan, dan apel.


“Ragam flora di daerah ini sama seperti bumi, tipikal flora beriklim tropis.”


Selepas menghabisi semua buah yang didapatkannya, Baha pun kembali menuju lokasi pertemuan


Di lokasi pertemuan terlihat Max, ketika Baha datang, Max seperti biasa, dia hanya menatapnya dengan wajah yang curiga dan penuh kehati-hatian. Seolah-olah tidak peduli dengan tatapan tersebut, Baha duduk berhadapan dengannya walaupun jarak mereka cukup jauh satu sama lain.


“Tidak bermaksud menyinggung, aku penasaran mengapa kau sangat berhati-hati kepadaku. Menurut pengamatanku, kau mungkin tidak hanya waspada terhadapku saja, namun lebih tepatnya kepada pendatang yang mendatangi desa itu. Aku tidak peduli kejadian seperti apa itu, tetapi bisakah kau hentikan pandanganmu itu? Itu sangat mengganggu!”


Max mendengus dan berkata, “Pengamatanmu bagus nak, aku tidak bisa tidak menaruh curiga terhadap setiap pendatang yang datang ke desa itu. Benar, ada kejadian yang tidak bisa aku lupakan di masa lalu yang membuatku tidak mempercayai setiap pendatang.”


Dia memejamkan matanya, dari intonasi dan raut wajah Max. Baha bisa memperkirakan bahwa kejadian itu bukanlah kejadian yang menyenangkan.


“Masa bodo dengan masa lalumu itu, tetapi yang ingin aku tekankan di sini adalah. Aku tidak akan menyakiti siapapun di desa ini, bagiku mereka adalah keluargaku. Rasa peduli dan kasih sayang mereka yang tulus telah sampai kepadaku, masuk ke dalam hatiku. Aku sangat menghargai setiap pertolongan orang-orang di sini, dan aku akan membalas mereka berlipat-lipat. Camkan itu!”


Max cukup terguncang dengan perkataan Baha, dia tidak menduga bahwa bocah di depannya ini bisa berkata dengan makna yang cukup dalam. Dilihat dari usianya, dia pasti tidak lebih dari dua belas tahun, dia sedikit lebih tua satu tahun dari anaknya.


“Sekarang aku jadi tambah curiga denganmu nak.”


Baha pun memiringkan kepalanya.