From Abandoned Village to Powerful Kingdom

From Abandoned Village to Powerful Kingdom
19. Distrik Kumuh



“Kau mau pergi Baha?” Rayma bertanya, dia tampak sedikit enggan untuk membiarkan Baha pergi begitu saja.


“Aku punya rencana lain yang harus dilakukan Nyonya Rayma, tolong jaga kudaku. Aku akan kembali saat hari mulai gelap.”


“Jangan lama-lama yah.”


Siang menjelang sore, terik panas matahari beberapa saat yang lalu sudah berkurang cukup signifikan. Burung-burung terbang berkelompok di udara, menembus terpaan angin yang menghadang jalan mereka.


Baha tidak punya rencana khusus untuk pergi keluar, dia mencoba membuat kondisi di distrik elit ini familiar baginya. Dia melihat banyak sekali pakaian-pakaian mencolok ala film barbie yang dia lihat di televisi.


Melewati jalan berbatu, dia mencoba untuk mencari dimana kalangan kumuh tinggal. Dia berencana untuk merekrut potensi-potensi para pengangguran dan gelandangan di kota ini.


“Sekarang aku sudah punya modal, mungkin inilah saatnya untuk membangun bisnis di kota ini.”


Selagi mencari lokasi pemukiman kumuh, Baha menyususn bisnis apa yang akan dia tekuni di kota ini. Dia cukup bingung dengan banyaknya bisnis bagus yang bisa dia coba.


Baha berpikir lebih dalam kali ini, coba ingat-ingat.


Kota Cihurup terkenal dengan kuliner yang beragam dibandingkan dengan kota yang lain, karena mereka memiliki sawah yang ditanami padi. Sehingga tercipta beraneka ragam kuliner yang berbeda-beda.


Aha!


“Bisnis kuliner seharusnya tidak begitu buruk, dengan pengetahuanku dengan masakan dari duniaku berasal, aku bisa membuat beberapa kuliner yang enak, lebih enak dari masakan dunia ini.”


Baha tersenyum girang, dia sangat ingin membuat masakan ini. Masakan yang dia paling suka sepanjang hidupnya.


“Aku harus membuat restoran nasi goreng!”


Tiba-tiba Baha terdiam selama beberapa saat, dia memikirkan bahan-bahan untuk nasi goreng yang masih belum ada.


“Pertama-tama, aku harus membuat kecap. Tanpa kecap, nasi goreng hanyalah nasi berbumbu biasa.” Baha termenung, “Sudahlah, aku harus menuju distrik kumuh terlebih dahulu untuk mendapatkan dukungan.”


Kini, Baha berada di depan distrik kumuh. Lokasinya berada di luar Kota Cihurup itu sendiri yang sangat dekat dengan area persawahan, mereka biasanya bertugas untuk menjaga persawahan dari burung-burung dan pekerja serabutan, terutama saat padi mulai memasuki masa panen.


Mereka membantu petani panen, dengan bantuannya petani dapat dengan cepat menjual beras yang telah dipanen selama beberapa hari saja. Mereka akan diberi upah berupa sekilogram beras saja perharinya.


Saat memasuki area lingkungan kumuh, Baha langsung disuguhi aroma menyengat dari kotoran yang sangat pekat. Baha langsung menutup hidungnya dengan kain lembut yang dia bubuhi aroma bunga yang dia temukan di pinggir jalan.


“Bau ini … sistem pembuangan limbah manusia di dunia ini masih sangat prematur, mereka bahkan membuang kotoran mereka di pinggir jalan.”


Untung Baha memiliki resistansi tinggi terhadap hal-hal yang kotor dan jorok, jika tidak, maka dapat dipastikan dia akan muntah-muntah dan tidak nafsu makan selama beberapa hari melihat pemandangan di depannya ini.


Setelah berkeliling dan mencari informasi, Baha menemukan bahwa lingkungan kumuh ini juga memiliki strata kepemimpimannya sendiri.


Lingkungan kumuh ini lebih mirip dengan desa yang terbuang, mereka benar-benar tidak dihiraukan oleh pemerintahan.


Setelah menemukan pemimpin lingkungan kumuh ini, Baha mengobrol mengenai beberapa hal. Dia lebih penasaran mengapa penduduk di wilayah kumuh ini tidak pergi saja dari kota ini, mereka malah bertahan hidup dalam kemiskinan.


Pria dengan tubuh kurus kering dan berdebu itu mendengarkan pertanyaan Baha dengan saksama, sekaligus menjawab pertanyaan Baha apa adanya.


Kepala desa menceritakan mengapa mereka bisa tersisihkan separah ini, awalnya pendatang-pendatang itu hanya berdagang dengan mereka. Pedagang berdagang barang tekstil, dan mereka menjual padi-padi mereka.


Desa itu lama-lama berkembang menjadi kota, dan semakin membesar setiap tahunnya. Mereka hidup rukun dan membangun pemukiman dan pertokoan di daerah mereka masing-masing.


Para pendatang membangun wilayah mereka di tempat distrik elit, sementara pribumi asli membangun wilayah mereka di distrik biasa.


Semenjak perang berkecamuk, banyak tentara kerajaan yang datang ke kota ini. Mereka bertindak semena-mena kepada pribumi, sementara para pendatang memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil alih persawahan dengan membayar para tentara itu untuk menyerang para pribumi.


Mereka diusir dari rumah-rumah mereka, dan tinggal terlantar di luar desa. Sejak saat itulah mereka membangun kawasan pemukiman mereka sendiri, yang saat ini menjelma menjadi pemukiman kumuh.


Baha mengerti garis besar ceritanya, jadi mereka hanya ingin merebut kembali apa yang seharusnya menjadi hak dan milik mereka, yakni persawahan ini. Kepala desa bilang, dia hanya ingin menguasai wilayah persawahan yang menjadi milik nenek moyang mereka.


Kalau bisa, mereka ingin hidup seperti dulu. Ketika para pribumi dan pendatang saling bekerja sama membangun desa, ketika mereka menjual produk berupa beras kepada pendatang.


“Semakin lama, kami semakin terhimpit oleh kebutuhan ekonomi. Kami bertahan hidup dengan mencari makan di hutan di sekitar persawahan.”


Ironi sekali, mereka yang dulunya pemilik tanah ini malah menjadi budak di tanah mereka sendiri.


Dia sebenarnya ingin membantu keadaan orang-orang di wilayah kumuh ini, tetapi dia sudah punya sesuatu di tangannya. Dia tidak bisa menambah tanggung jawab lagi, sementara dia sendiri memiliki Desa Bahamud untuk diurusi.


“Kepala desa, bagaimana jika kalian pindah dari kota ini dan pergi ke desaku? Kami akan memastikan bahwa kalian bisa hidup lebih layak.”


Kepala desa menggeleng, dia tidak mau menyerah terhadap tanah nenek moyang mereka.


“Sayang sekali kalau begitu …. Kepala desa, senang berbicara dengan anda. Aku permisi.”


Baha keluar dari rumah kepala desa, dia menyayangkan pilihan kepala desa. Jika saja dia mau untuk mengikutinya ke Desa Bahamud, maka semua penduduk desa pasti akan mengikutinya. Baha mencari cara lain untuk merekrut penduduk di distrik kumuh ini, dia harus mendapatkan pekerja-pekerja yang nantinya akan bertugas di Desa Bahamud.


Selagi Baha melamun, seorang wanita muda menghampirinya dengan napas tersengal-sengal. Dahinya penuh peluh dan debu, matanya bergaris hitam tanda bahwa dia kurang tidur, badannya sangat kurus dan kering.


Meskipun keadaannya sangat buruk, tetapi Baha bisa mengetahui bahwa wanita muda ini sangat cantik. Walau kulitnya kotor, dia bisa melihat kecermelangan yang memancar, bibirnya yang kering pun terlihat sangat manis, matanya sendiri seperti permata di kubangan lumpur.


“Tuan muda, tolong anak saya tuan muda!”


Baha hanya menggaruk-garukan kepalanya yang tidak gatal itu.


Wanita itu terus memohon kepadanya untuk memberikan beberapa keping koin untuk mengobati anaknya yang sakit. Dia terlihat tidak berdaya dengan ekspresi penuh kesedihan.


“Baiklah, tetapi bisa kulihat kondisi anakmu?”


Wanita muda itu menunjukkan arah rumahnya, Baha secara sukarela mengikutinya dari belakang.


‘Dia seharusnya seumuran denganku sewaktu di bumi, jika dia sudah punya anak, berarti pernikahan dini sudah lumrah di dunia ini.’


Baha sedikit terpincut dengan wanita itu, berdasarkan seleranya. Mungkin wanita ini berada di urutan keempat gadis tercantik yang pernah dia temui secara langsung.