From Abandoned Village to Powerful Kingdom

From Abandoned Village to Powerful Kingdom
13. Pertunjukan Trio Sirkus



Di perjalanan, tidak bosan-bosan Iarina memandangi wajahnya di cermin. Menurutnya, pantulan cermin ini sangat jernih dan jelas, tidak seperti dia melihat penampilannya di genangan air yang tidak jelas karena banyak gelombang, entah dari angin, serangga, atau ikan.


Melihat wajahnya begitu jelas, dia sendiri terpesona dengan kecantikannya. Dia tidak bosan bermain dengan cermin. Sesekali dia melihat Baha yang tengah menjadi kusir yang mengendarai kuda supaya baik jalannya. Dalam hati dia bertanya-tanya, apakah Baha tidak tertarik dengan kecantikannya? Padahal dahulu, banyak orang dari berbagai wilayah datang melamarnya.


Bukankah laki-kali umumnya menyukai seorang gadis yang cantik? Apakah aku kurang cantik di matanya?


Tebakan Iarina hanya membuatnya semakin gelisah sendiri, dia mencoba menghilangkan pemikiran negatifnya dengan memeriksa peti-peti baju dan pakaian.


“Baha, bolehkah aku melihat peti-peti pakaian ini?”


“Tentu saja.”


Iarina membuka peti pakaian, dia cukup terkejut karena banyak pakaian yang absurd, tetapi anehnya bahan-bahan pakaian ini sangatlah lembut.


“Baha, pakaian ini aneh-aneh. Aku tidak pernah melihat jenis pakaian yang seperti ini, bahkan aku belum pernah melihat pakaian ini dari para bangsawan.”


Baha melirik ke belakang, dia berkata, “Ah, pakaian itu dinamakan jas. Itu adalah pakaian formal untuk mengikuti suatu acara tertentu. Baiklah, mumpung sudah siang hari dan Shiro sepertinya kelihatan capek, mari kita istirahat sejenak, dan aku akan memakai pakaian itu.”


“Baiklah, mari kita berhenti di dekat danau itu Baha.”


“Ide bagus.”


Baha segera menepikan kereta kudanya di pinggiran danau yang kecil, di permukaan danau, tumbuh teratai, ditemani angsa-angsa yang berenang kesana-kemari.


Mereka sengaja berhenti di bawah naungan pohon agar tidak tersengat teriknya mentari, langit sangat cerah hari ini. Shiro pun merebahkan tubuhnya karena kelelahan membawa kereta kuda selama berjam-jam.


“Hahaha, sepertinya kita terlalu memaksakan Shiro. Dia belum terbiasa membawa beban kereta kuda.”


“Iya, dia sangat kelelahan.”


Iarina memanaskan daging kering yang mereka bawa untuk bekal perjalanan, selagi Iarina memanaskan makanan, Baha mencoba melihat-lihat di pepohonan sekitar, berharap dia bisa menemukan hewan-hewan untuk perbekalan di hari-hari berikutnya. Karena dia tahu bahwa perjalanan masih sangat panjang.


Baha berhasil mendapatkan seekor kelinci, dia mengulitinya dan mengasapnya supaya dagingnya bisa lebih awet dan tahan lama.


“Baha, aku penasaran dengan pakaian jas itu. Bisa kau kenakan baju itu?”


“Tentu saja.”


Baha langsung memakai jas hitam lengkap dengan kemeja putih, dia juga mengenakan dasi dan celana bahan hitam yang membuatnya tambah elegan dan maskulin.


“Wah, kau sangat tampan Baha!” Iarina spontan saja mengatakan hal itu, setelah menyadari apa yang baru saja dia katakan, dia malu sendiri.


“Bagus kan, sudah kukatakan padamu.”


Mereka pun makan siang bersama di pinggiran danau, sembari menikmati angin sepoi-sepoi yang membuat sejuk.


* * * * *


Hari berikutnya, perjalanan masih berlanjut. Mereka singgah ke sebuah desa untuk beristirahat, Shiro terlihat sangat letih, Baha tidak tega untuk memaksakan melanjutkan perjalanan menuju kota.


Sepertinya, waktu tempuh perjalanan mereka akan menjadi lebih panjang. Tetapi itu tidak masalah sama sekali, sesekali mengunjungi desa lain membuat pengetahuan Baha tentang bagaimana cara mengelola desa menjadi lebih luas.


Baha berjalan-jalan di sekitar desa, sampai di alun-alun desa, semua orang berkumpul melihat sebuah aksi pertunjukkan.


Iarina yang penasaran bergabung dengan massa yang berkumpul, mereka bersorak sorai dan memberikan tepuk tangan yang meriah terhadap pertunjukan yang sedang terjadi.


Semua orang tambah bersemangat dengan aksi pria gemuk tersebut, wajahnya yang kekanak-kanakan membuat semua orang terhibur dengan aksinya.


Di sampingnya ada penampilan seorang wanita yang seksi, baju yang dipakainya memperlihatkan perutnya yang berkulit sawo matang yang eksotis. Dia mempertunjukkan keahliannya berupa juggling dengan empat tongkat kayu.


Di sebelahnya, terlihat seorang wanita anggun dengan pakaian yang lebih terbuka tengah memainkan trik kartu kepada penduduk desa.


Iarina begitu tertarik dengan pertunjukan ini, baginya hal ini sangat aneh dan keren. Ekspresinya tidak berbeda dengan para penduduk desa.


“Baiklah, sekarang saatnya kami memperlihatkan pertunjukan selanjutnya. Kami akan memilih salah satu dari kalian untuk membantu kami dalam pertunjukan ini!” Pria gemuk tersebut berkata dengan suara lantang.


“Ellie akan memperlihatkan aksi--- Ggaah!”


Ellie menyikut perut gemuk pria itu, dia membalikan badannya dan berkata, “Bukan begitu cara memperkenalkannya, kan sudah aku bilang padamu!”


Pria itu menggaruk-garukan kepalanya, dan tersenyum kecil.


“Dia akan memperlihatkan kebolehannya, dia terkenal dengan lemparan pisaunya yang sangat akurat. Nama dewi ini adalah, Ellie!”


Gadis yang melakukan juggling berdiri di tengah-tengah mereka sembari menundukkan kepala, matanya mencari-cari sesuatu di antara kerumunan penonton. Baha bertemu dengan matanya, dia pun menyunggingkan senyum.


“Aku telah memutuskan siapa yang akan membantuku, yaitu anak laki-laki di sana!” katanya seraya menunjuk Baha, semua orang sontak melihat ke arahnya.


“Aku?”


Pemuda-pemuda yang sebaya dengan gadis bernama Ellie tampak tidak puas, mereka berharap terpilih untuk membantu pertunjukannya. Melihat seorang bocah yang ditunjuk, mereka tidak puas dan merasa kecewa.


Pundak Baha didorong oleh Ellie menuju batang pohon, pria gemuk dengan gadis yang satunya lagi mengikatkan kedua tangannya ke belakang pohon. Baha terkejut, karena dia saat ini benar-benar tidak bisa menggerakkan tubuhnya kecuali kepala dan kakinya.


“Tenang saja, kami sudah menyiapkan obat jika kamu terluka,” bisik gadis dengan rambut panjang sepunggung.


“Kau harus diam, jangan menggerak-gerakan kepalamu saat pertunjukan berlangsung, oke?” kata pria gemuk di sisi lain.


Ellie berdiri tepat di depan Baha, tetapi jarak mereka terpaut dua puluh meter jauhnya. Baha tahu pertunjukan macam apa yang dimaksud mereka, dia pun mencoba tenang.


“Pada pertunjukan ini, Nona Ellie akan melemparkan pisaunya mengenai sasaran yang diletakkan di kepala tuan muda ini. Semoga pertunjukan ini berjalan dengan lancar!”


Semua orang bersorak sorai, ini adalah pertunjukan yang menantang. Semua pemuda yang tadi kecewa karena tidak terpilih menjadi bersyukur karena tidak dipilih. Iarina yang melihat Baha dari tempat penonton panik bukan main.


“Pertama, Nona Ellie akan mengenai buah semangka ini! Apakah kalian siap!” Pria gemuk menaruh semangka di atas kepala Baha.


“Siap!”


“Kita hitung mundur, bersama-sama! Tiga … dua … satu … tembak!”


Pria gemuk dan para penonton bersamaan menghitung mundur, tepat setelah hitung mundur berakhir, Ellie melemparkan pisau lemparnya ke arah semangka itu.


Tepat sasaran! Ellie berhasil mengenai semangka yang ada di atas kepala Baha dengan sempurna, semua penonton bersorak sorai karenanya.


“Bagaimana lemparan Nona Ellie tadi, sangat akurat bukan? Selanjutnya, kita akan masuk ke babak kedua! Kali ini Nona Ellie harus mengenai buah nanas ini! Bisakah Nona Ellie mengenainya, mari kita lihat bersama-sama!”


Kali ini, buah yang di taruh di atas kepala Baha lebih kecil dari buah semangka. Dia tidak terlihat panik, dan hanya menutup matanya. Dia mencoba untuk tidak membuat banyak gerakan, ketika Ellie melemparkan pisau lemparnya.