
Jangan jadikan kuda sebagai hewan tunggangan, tetapi jadikan ia sebagai partner seperjuangan.
Menjinakkan kuda memang bukanlah pekerjaan yang sulit, tetapi butuh waktu yang cukup lama untuk benar-benar mendapat kepercayaan si kuda. Kuda adalah hewan yang sensitif, mereka bisa merasakan emosi orang disekitarnya, untuk menjadikannya tunggangan yang patuh, kita harus bersikap lembut kepadanya.
Baha membutuhkan waktu satu pekan untuk menjinakkan kuda putih bersurai hitam itu. Setelah pelatihan dan pembiasaan, Baha mendapatkan kepercayaan kuda ini. Baha mulai memasang tali kekangan kuda, dan mencoba untuk mengendarainya menuju desa.
Selama proses penjinakkan kuda, Baha menyisihkan waktu yang dia punya untuk membuat istal sederhana. Kerena membuat istalnya sendiri, bangunan yang dibuat agak aneh dan asal jadi.
Pembangunan salah satu bangunan desa sudah setengah jalan, ke-28 orang saling gotong royong semampu mereka membangun sebuah rumah yang nantinya akan difungsikan sebagai ruang rapat. Setelah ruang rapat selesai, mereka akan ekspansi pembangunan ke lahan kosong di sekitarnya.
Ladang umbi jalar sudah lebih besar, selagi menunggu masa panen, mereka membuat kandang domba, kambing, dan sapi. Karena rencana Baha selanjutnya adalah menangkap hewan ternak yang berada di alam liar secepatnya.
Karena iklim Desa Bahamud adalah iklim tropis, dia tidak perlu khawatir dengan musim dingin. Para ternak bisa dibiarkan di luar ruangan tanpa perlu membangun kandang untuk permulaan. Apalagi kondisi rerumputan yang bagus dan hijau, meski beriklim tropis, karena Desa Bahamud berada di dataran tinggi, tidak akan terlalu banyak matahari menyinari permukaan tanahnya, tidak seperti dataran rendah.
Baha dan Frank si kepala desa berbincang sembari mengamati penduduk desa yang mulai kembali bersemangat, mereka saling bahu membahu menyiram ladang, dan membangun rumah.
“Baha, terima kasih karena sudah memberikan harapan dan semangat baru kepada kami. Aku sungguh berterima kasih.” Kepala desa tidak bisa bersyukur melihat penduduknya bersemangat.
“Kepala Desa Frank, kalian sudah menerimaku dengan baik. Aku merasa kita seperti keluarga, bukankah kau juga berpikir demikian?”
“Iya benar, kita adalah keluarga! Hahahaha!” Frank menitikkan airmata bahagia, dia merasa telah terlepas dari belenggu rasa bersalah yang menghantuinya beberapa tahun terakhir.
“Penduduk sekalian, aku ingin memberitahukan berita penting! Kemarilah!”
Frank berseru kepada seluruh penduduk desa, suaranya dengan cepat menjalar seantero lembah. Dalam hitungan menit, Seluruh penduduk desa telah berkumpul di sekitar Frank. Baha yang berdiri disampingnya bertanya-tanya.
“Ada apa Frank, sudah lama kami tidak mendengar teriakkanmu yang begitu gagah. Ini mengingatkanku saat kita masih muda,” kata seorang bibi dengan wajah yang menggoda.
“Kepala desa Frank, ada apa gerangan anda memanggil kita semua?”
Frank mendeham, “Aku ingin menobatkan Baha menjadi kepala desa yang baru, bagaimana menurut kalian?”
“A-apa yang barusan kau katakan kepala desa!?” Baha mencoba untuk meminta alasan dan penjelasan yang jelas, dia tidak merasa tidak cocok untuk menduduki kursi pemimpin desa. Mengapa kepala desa ingin menobatkannya menjadi kepala desa yang baru .
“Aku setuju dengan usul kepala desa!”
“Meski masih muda, Baha punya potensi yang besar. Kita harus membiasakannya menjadi pemimpin.”
“Yeay, Kak Baha jadi kepala desa!”
“Baha, kami mengandalkanmu!”
“Hey, aku tidak bilang sutuju mengenai perkara ini!” Baha benar-benar tersudutkan.
Semua penduduk desa menoleh ke arah Baha, mereka semua sepakat mengangkat Baha menjadi kepala desa. Jadi, pilihan sudah ada, dan keputusan sudah bulat.
“Tidak apa Baha, aku akan menjadi wakil pemimpin, sehingga aku bisa mengajarimu beberapa pengalaman.” Frank mencoba menghibur Baha dengan menawarkan diri sebagai wakil kepala desa.
Tetap saja, Baha tidak siap dengan posisi ini, dia masih terlalu muda untuk mengemban tanggung jawab. Meski umur mentalnya sudah lebih tinggi, bukankah kepala desa terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan?
Setelah semua desakan dan dukungan para penduduk desa. Pada akhirnya, Baha hanya bisa mendesah pelan, dan menerima semuanya. Meski dia masih belum berpengalaman, dia berjanji akan membangun desa ini dengan baik dan membawanya ke titik dimana mereka bisa hidup sejahtera bersama semua orang.
“Yeaaayyyy!”
Semua orang bersorak dan bertepuk tangan,
"….” Baha hanya melihat penduduk desa yang bersorak dengan tatapan kosong, dia masih terkejut mendapatkan gelar kepala desa.
Malamnya, semua penduduk berpesta merayakan penobatan kepala desa yang baru. Mereka memasak daging rusa yang ditangkap oleh para pemburu. Semua makan hidangan sampai mereka kenyang.
“Besok kita akan memiliki pemimpin baru kita, saya sebagai mantan kepala desa yang tidak kompeten ini sekali lagi meminta maaf kepada kalian semua. Aku tidak bisa menghentikan penyerangan para bandit di masa lalu, dan membuat desa menjadi bobrok seperti ini.”
“Kepala desa, kami sudah memaafkanmu!” celetuk seorang pria tua sambil menggigit kaki rusa.
“Maka dari itu, aku ingin memperbaiki kesalahanku dengan mengangkat orang yang lebih kompeten dan berbakat seperti Baha. Meskipun dia adalah orang baru, tetapi dia telah menunjukkan banyak perhatian dan kerja kerasnya kepada kita semua dalam beberapa hari terakhir. Melihat kinerjanya yang begitu bagus, aku segera melihat potensi besar dalam dirinya. Di masa depan, mungkin desa ini akan menjadi kota besar! Hahahaha!”
Kepala desa begitu bersemangat malam ini, dia begitu lepas. Sepertinya, tekanan dan rasa bersalah yang menghantuinya beberapa tahun terakhir menghilang ditiup angin.
“Mari kita sambut kepala desa yang baru bagi Desa Bahamud kita tercinta! Inilah Baha!”
Kali ini, Baha yang berdiri untuk meyampaikan pidatonya.
“Terima kasih atas kepercayaan Kepala Desa Frank yang telah mempercayakan kepemimpinan desa ini kepadaku, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki kondisi desa ini. Mungkin nantinya akan ada banyak masalah selama aku memimpin, maka aku akan meminta maaf atas segala hal yang aku lakukan di masa depan. Ah, apa lagi yah? Pokoknya, mari kita bersama-sama membangun desa ini menjadi tempat yang lebih baik untuk anak cucu kita! Silakan menikmati hidangannya!”
“Hidup kepala desa yang baru!”
“Hidup!”
‘Aku tidak terbiasa berbicara di depan umum! Jantungku hampir copot!’ serunya dalam hati.
Baha kembali, dia langsung dikerumuni banyak orang. Mereka menyemangati Baha, aksi konyol dan lucu semua orang membuat Baha terhibur. Sekali lagi, kehangatan dan ketulusan mereka membuat Baha ingin melakukan hal yang terbaik buat mereka.
‘Aku harus membuat hidup mereka menjadi lebih baik!’ Baha membulatkan tekadnya.
* * * * *
Rutinitas Iarina setiap pagi adalah mencuci pakaian, dia pergi pagi-pagi sekali. Dia menghindari orang-orang karena dia ingin mandi setelah mencuci pakaian.
“Tralalalala-“ Iarina bersenandung ria, suasana hatinya sedang baik pagi ini.
Setelah sampai pinggiran sungai, dia langsung mencuci pakaiannya dengan bantuan batu kali. Selepas mengucek baju dan membilasnya dengan air jernih yang mengalir, dia menanggalkan baju dan rok sepanjang lututnya, dia menuju tengah sungai untuk mandi.
“Segarnya, meski pagi-pagi air sungai dingin, entah mengapa aku menyukainya, hehehe.”
Iarina menggosok seluruh badannya dengan kain lembut, dengan hati-hati, dia mengusap kulit putih mulusnya itu. Sela-sela tubuh yang tanpa cela itu sangat indah, lekuk tubuhnya layak disandingkan dengan dewi-dewi.
Penampilannya saat ini persis seperti kisah bidadari yang turun dari kayangan dan berendam di air danau.
Dia melepas ikat rambut ponytail-nya, dengan sentuhan lembut, rambut sepanjang punggungnya itu terurai menjuntai bak kain sutra yang indah. Dia membilas dan mencuci setiap helai rambutnya dengan hati-hati, wajahnya riang gembira.
“Aku harap, desa ini kembali seperti sedia kala.”