From Abandoned Village to Powerful Kingdom

From Abandoned Village to Powerful Kingdom
16. Pecahan Kaca Rasa Permata



“Tunggu sebentar tuan, kami buka petinya dulu.” Iarina sibuk membuka peti.


Baha mengangkat peti yang telah dibuka Iarina dan memperlihatkan isinya kepada penilai barang itu.


Mata penilai barang yang setengah terbuka itu melebar tatkala melihat pecahan kaca yang berkilauan di terpa sinar matahari. Di matanya, benda itu tampak seperti permata paling bersih dan transparan di seluruh dunia.


“I-Ini! Permata langka apa ini!?” Dia mengambil sekeping pecahan kaca dan dia arahkan ke langit-langit untuk menilai kualitasnya.


Dia mencoba untuk mencari cela yang ada di kaca tersebut, tetapi dia sendiri belum menemukan cacatnya. Matanya kini terpaku ke dalam peti, dimana permata kaca itu bertumpuk.


“Permata ini ….”


“Ehem! Berapa kira-kira harga semua permata yang ada di peti ini.” Iarina membersihkan kerongkongannya, dia melirik penilai barang itu.


“A-Aku tidak bisa menilai barang ini seorang diri …. Tunggu sebentar, aku harus memanggil kepala cabang untuk membantuku menilai permata-permata ini.”


Tanpa basa-basi, penilai barang itu berlari dengan sangat cepat. Kertas yang sebelumnya dia bawa telah terlempar dan berjatuhan, dia sama sekali tidak memedulikan semua itu. Menurutnya, yang paling penting adalah memberi tahu kepala cabang mengenai permata transparan itu.


“Baha, sepertinya barangnya akan bernilai sangat tinggi!” Iarina tidak bisa menyembunyikan antusiasmenya.


“Kupikir begitu.”


Baha menyunggingkan senyumnya, dia tidak menyangka bahwa pecahan-pecahan kaca yang dia temukan di mansion berhantu memiliki nilai yang tinggi di dunia ini! Apakah dia bisa menjadi kaya dalam hitungan waktu yang singkat?


Iarina dan Baha mengobrol bagaimana reaksi para penduduk Desa Bahamud ketika mereka pulang membawa setumpukan koin, mereka sangat tidak sabar menantikannya.


“Baha, kalau kau punya banyak uang, apa yang ingin kau lakukan?” Iarina entah mengapa menanyakan hal itu.


“Tentu saja, semuanya akan kuhabiskan untuk meningkatkan kemakmuran desa.”


“Maksudku, untuk kehidupan pribadimu. Apa yang ingin kau beli?”


“Hmm, mungkin aku akan membangun rumah yang besar. Entahlah, aku belum memikirkan hal seperti itu. Kalau kau sendiri Iarina? Apa yang kau inginkan jika memiliki banyak uang?”


“Aku tidak yakin bisa mendapatkan uang yang banyak.” Iarina mendesah pelan.


Meskipun Iarina memiliki kemampuan baca, tulis, hitung yang bagus. Namun, dia tidak memiliki kemampuan mengelola keuangan yang baik, dia tidak yakin bisa memegang begitu banyak uang.


“Kau akan mendapatkan gaji besar setelah kita kembali dari kota ini kau tahu.”


“B-Benarkah!? Bagaimana aku bisa mendapatkan gaji sedangkan aku sendiri tidak membantu dalam hal apapun?”


Iarina tidak menyangka bahwa Baha akan menawarkan gaji kepadanya, padahal dia hanya menunjukkan arah jalan, dan beberapa petunjuk yang sedikit.


“Tentu saja, kau telah memberi tahu banyak hal tentang kota ini, aku tidak keberatan membagi setengah dari keuntungan barang-barang ini.”


Iarina tersentak kaget, bukankah membagi setengah keuntungan adalah jumlah yang terlalu banyak!


“Itu terlalu banyak Baha, tidakkah kau lupa bahwa hasil dagangan ini akan kita gunakan untuk pembangunan desa?”


“Benar juga ya, hahahaha.”


Iarina dan Baha sama-sama tertawa, mendapatkan banyak koin dalam waktu singkat membuatnya lupa dengan tujuan asli mereka berdaganng di kota. Lain kali, mereka harus menahan dari dari tamak dan cinta harta.


“Dimana mereka Suwail? Orang-orang yang memiliki permata paling transparan?”


Di antara mereka, ada penilai barang yang sebelumnya berlari bak dikejar setan menunggangi keledai.


“Tuan! Nona! Aku membawa kepala cabang dan anak keduanya!”


Penilai barang bernama Suwail ini sangat antusias, dia segera turun dari keledainya dan menyapa Baha dan Iarina.


Iarina melihat seorang gadis yang tampak familiar menaiki kuda hitam, matanya melebar kemudian berkata, “Kaukah itu Mahayl?”


Gadis dengan pembawaan tenang itu melihat Iarina dengan tatapan tidak percaya, dia mengusap matanya dengan keras, mencoba menilai bahwa penglihatannya itu masih berfungsi dengan baik.


“K-Kau …. I-Iarina! Aku tidak percaya ini! Iarina, kau masih hidup!” Mahayl turun dari pelananya dan menerjang Iarina.


Mahayl memeluk Iarina dengan segenap tenaganya, menyebabkan tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.


“Ya Mahayl, aku masih hidup …. Tapi, bisakah kau lepaskan pelukanmu terlebih dahulu, dadaku sesak.”


Mahayl melepaskan Iarina, dia mencoba meraba-raba Iarina dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan saksama. Sekali lagi memastikan bahwa sosok sahabatnya ini benar-benar ada.


“Iarina! Syukurlah kau tidak mati! Mengapa kau tidak pernah memberi kabar selama beberapa tahun? Aku sangat mengkhawatirkanmu tahu!”


Mahayl melancarkan protes kepada sahabat dekatnya itu, dia kehilangan kontak dengan Iarina selama tiga tahun. Setelah dia mengetahui bahwa Desa Bahamud yang merupakan tempat tinggal Iarina diserang bandit, dia kehilangan kontak.


Yang Mahayl dengar, seluruh penduduk desa itu sudah dibunuh atau diculik bandit. Tidak dia sangka bahwa kabar itu adalah kabar yang tidak benar. Buktinya, Iarina masih hidup sekarang!


“Iarina, mari kita pergi ke rumahku, kita harus membicarakan banyak hal!” Mahayl menarik Iarina.


Iarina menatap Baha seperti meminta tolong supaya tidak dibawa oleh Mahayl, namun Baha tidak bisa berbuat banyak. Baha harus membiarkan Iarina bertemu dengan temannya, setelah sekian lama berpisah.


“Kepala cabang, dia adalah pemilik permata transparan ini!” Suwail tanpa izin memperlihatkan pecahan kaca kepada kepala cabang serikat pedagang.


Kepala cabang terkejut melihat tingkat transparan benda yang sangat tinggi dari benda ini, dia segera menyuruh Suwail untuk membawa orang ini ke kantornya.


Kepala cabang pamit untuk mempersiapkan kantornya terlebih dahulu sebelum kedatangan tamu yang penting ini, dia ingin membicarakan banyak hal terkait benda ini.


“Tuan, kita harus menuju kantor kepala cabang. Bawa kereta kuda anda, aku yang akan menunjukkan jalannya.”


Baha pun membawa kereta kudanya menuju kantor kepala cabang serikat pedagang, dipandu oleh Suwail si penilai barang yang menunggangi keledainya.


“Shiro, mari kita berangkat!”


Suwail mengarahkan jalannya menuju bagian dalam Kota Cihurup. Semakin tengah mereka berjalan, semakin besar bangunan-bangunan di kota. Mereka pun tiba di pos pemeriksaan menuju bagian dalam Kota Cihurup, dimana banyak tinggal para orang-orang penting dan bangsawan yang bermukim di sini.


Tembok yang dibangun sangat tinggi, penjagaannya pun sangat ketat. Tidak sembarangan orang yang bisa memasuki distrik elit ini, mereka harus mendapatkan kartu izin dari orang-orang yang sudah tinggal di dalam.


Berkat Suwail yang menunjukkan kartu identitas kepala cabang serikat pedagang bersamanya, mereka dengan mudah melewati penjaga gerbang.


Jalan-jalan di sekitar distrik elit tampak berbeda dengan jalan-jalan di distrik biasa, tidak ada orang yang berjalan kaki. Mereka senantiasa menunggangi kuda atau kereta kencana jika ingin bepergian.


Gaya hidup antara rakyat biasa dan kaum elit sangat kontras, keadaan sosial juga sangat berbeda.


Baha tidak terbiasa melihat gaya hidup orang-orang di distrik ini, mengingat latar belakang Baha adalah penduduk biasa, sementara Hary tinggal di lokasi pelatihan militer, yang sangat menjunjung tinggi kebersamaan. Orang-orang ini sangat asing di matanya dalam hal bersosialisasi.