
Ekspresi Rayma terlihat sangat lega, sementara ekspresi Mundhalir terlihat sangat lesu. Suwail dan Baha tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
Pasalnya, peti-peti penuh pakaian yang Baha bawa telah diborong oleh Nyonya Rayma. Sepertinya daya tarik pakaian-pakaian itu sangat besar sehingga membuat gadis menjadi tergoda untuk memilikinya.
“Ehem! Mari kita lanjutkan transaksi kita. Baha, tinggal satu peti yang tersisa. Bisakah kami mengetahui apa isi peti tersebut?”
“Tuan Mundhalir, peti terakhir ini sangat spesial. Aku tidak mau jika barang ini tidak dijual dengan harga tinggi. Aku tidak bisa menjelaskannya, kalian lihatlah ini. Namanya adalah cermin, sebuah benda yang bisa memantulkan cahaya dan bayangan.”
Baha mengambil salah satu cermin, dia memperlihatkannya kepada Mundhalir, Rayma, dan Suwail. Mereka mendekat dengan mata terbuka lebar, tidak percaya dengan penglihatan mereka saat ini.
“I-Ini …. Apakah ini aku?” Rayma melihat bayangannya dengan saksama.
“Sayang … kau ada di benda itu.”
“Tuan … wajah anda sangat mirip dengan yang ada di dalam benda ini.”
Saking penasaran dan terkejut, mereka harus mencerna dengan perlahan fungsi benda ini. Mereka menggerak-gerakan tubuh mereka, berharap benda ini tidak mengikuti mereka. Padahal, sejatinya proyeksi yang mereka lihat pada cermin adalah bayangan mereka sendiri.
“Cermin memiliki fungsi yang sama seperti genangan air, bukankah kalian pernah melihat pantulan diri kalian di atas permukaan air yang jernih?”
Mereka semua mengangguk serentak, tetapi mata mereka masih fokus melihat bayangan mereka masing-masing.
“Cermin ini memiliki cara kerja yang sama dengan pantulan air tersebut, tetapi cermin memiliki bayangan atau proyeksi yang jauh lebih jelas. Kalian bisa melihatnya sepanjang waktu, biasanya, cermin digunakan untuk melihat apakah riasan dan penampilan kita sudah bagus atau belum.”
Hening ….
“Hey! Apakah kalian mendengarku?”
* * * * *
Transaksi berjalan mulus, Baha berhasil menjual semua barang kepada kepala cabang serikat pedagang. Suwail menerka harga semua barang, dia selalu menanyakan Baha setiap kelebihan dan kekurangan benda agar bisa ditaksir dengan nilai yang adil.
Setelah diskusi panjang yang hampir memakan waktu tiga jam lamanya, keputusan bulat dan mereka semua sepakat.
Semua peti yang Baha bawa dihargai dengan sepuluh koin emas, dan sepuluh koin perak. Tetapi jumlah itu dibulatkan menjadi sepuluh koin emas saja, Baha sudah cukup puas dengan hasil dagangnya ini.
Sepuluh koin emas jika dikonversikan ke dalam rupiah, hasilnya adalah seratus juta rupiah! Angka ini tidak murah jika kalian hidup di dunia ini. Penduduk biasa bisa hidup dengan hanya dua puluh koin perunggu perharinya.
Mata uang di dunia ini umumnya mirip satu sama yang lain, mereka terdiri dari yang paling murah, keping perunggu, keping perak, keping emas, dan keping platinum.
Seratus koin perunggu sama nilainya dengan satu keping perak, seratus koin perak sama nilainya dengan satu keping emas, dan seratus koin emas sama nilainya dengan satu keping platinum.
Jika dikonversikan ke dalam rupiah, satu keping perunggu sama dengan seribu rupiah. Satu keping perak sama dengan seratus ribu rupiah, satu keping emas sama dengan sepuluh juta rupiah, dan satu keping platinum sama dengan satu miliar rupiah.
“Aku akan mengambil sepuluh koin emas dari brankas penyimpanan, kamu tunggu di sini Baha.”
Kepala Cabang Mundhalir pergi, sementara Nyonya Rayma sibuk memilah-milah pakaian barunya, sementara Suwail sibuk memperhatikan kaca dan cermin di dalam peti.
“Baha, pakaian apa ini?” Nyonya Rayma mengangkat sebuah celana dalam putih polos, Baha menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba gatal.
“Itu adalah celana dalam …. Biasanya mereka dikenakan di antara kedua paha ….” Baha memijit keningnya, sangat sulit menjelaskan pakaian tersebut di ruangan ramai seperti ini.
“Heehh …. Ada juga pakaian yang dikenakan di bagian itu ya.” Rayma melirik Baha dengan ekspresi nakal, “Baha, ajari aku cara memakai pakaian ini.”
Baha sudah mengetahui bahwa Nyonya Rayma sudah paham pakaian itu akan dipakai di bagian mana, dia hanya menggoda Baha dengan tubuh mantapnya itu.
Alhasil, Baha memilih untuk tidak memedulikan Rayma, dia hanya bungkam saja.
Di mansion berhantu, Baha cukup terkejut bahwa dia menemukan banyak sekali pakaian dan berbagai jenis aksesoris di lemari-lemari besar itu. Meski kondisi lemarinya sudah dipenuhi debu, isi di dalam lemari tidak rusak dan masih terawat dengan baik.
“Iarina, kau akan kembali ke desa? Mengapa tidak tinggal di kota ini saja denganku? Aku bisa membiayai keperluanmu sehari-hari, aku bisa memberikanmu tempat tinggal yang layak, dan keperluan sehari-hari akan aku cukupi,”
“Tidak bisa Mahayl, aku harus kembali ke desa. Penduduk di sana membutuhkanku, maaf sekali Mahayl, aku harus menolak tawaranmu.”
Samar-samar, obrolan Iarina dan Mahayl terdengar sampai kantor tempat Baha menunggu Mundhalir mengambil bayarannya.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk gadisku!”
Mahayl membuka pintu, terlihat dia tengah bersama Iarina. Rayma cukup terkejut melihat anaknya bersama dengan sahabat lamanya.
“Bukankah kau Iarina? Syukurah kau baik-baik saja …. Kau tahu? Saat mengetahui kabar bahwa desamu diserang para bandit, dan semua penduduk meninggal. Mahayl tidak bisa tidur ….”
“Ibu, cukup omong kosongnya!” Mahayl sontak membungkam mulut ibunya.
“Unnhhff …. Itu benar kok!”
“Ibu!”
Ibu dan anak itu pergi menuju ke belakang, melihat kelakuan mereka berdua, Iarina tertawa geli. Baha hanya menyaksikan mereka dengan terkekeh.
“Baha, maaf telah meninggalkanmu, Mahayl selalu begini, dia sangat antusias saat berbicara denganku, dia tidak punya teman akrab lain selain aku.”
“Tidak apa-apa, urusanku di sini juga sudah selesai. Malah bagus jika kau menjalin hubungan dengannya, aku tidak menyalahkanmu kok.”
“M-Makasih Baha, hehehehe ….”
Iarina duduk di kursi yang terletak di samping Baha, mereka berdua mengobrol tentang apa yang mereka alami saat berpisah sementara barusan.
Ketika mereka berdua bercakap-cakap, Mahayl dan Rayma kembali. Mahayl membeku melihat Iarina terlihat bahagia tatkala mengobrol berduaan dengan pria itu.
‘Siapa pria itu? Beraninya mengambil Iarina di depan mataku!’ Mahayl maju dengan langkah kasar nan galak.
“Berhenti! Iarina, jangan dekat-dekat dengan pria itu! Dia pasti ingin macam-macam dengan dirimu!”
Mahayl menarik paksa Iarina, dia tanpa sadar mencengkeram lengan Iarina terlalu erat, sehingga kukunya melukai kulit Iarina yang mulus dan bersih.
“Ouch! Itu sakit Mahayl …. Kamu terlalu kasar.” Iarina merintih kesakitan.
“M-Maafkan aku, aku akan ambilkan air hangat dan saputanganku, tunggu ya.”
Mahayl pergi keluar ruangan dengan rasa bersalah, dia kecewa dengan dirinya sendiri mengapa dia melakukan hal seperti itu kepada Iarina?
Semua orang yang berada di ruangan menatap kepergian Mahayl, mereka tidak tahu harus berbuat apa. Jelas suasana hari Mahayl buruk sekali.
“Iarina, kau ikuti dia.”
“T-Tapi Baha …. Bagaimana denganmu?” Iarina tampak khawatir.
“Sudahlah, yang di sini serahkan saja padaku.”
Iarina mengangguk, dia berlari mengejar Mahayl.
Dari belakang, datang Mundhalir dengan sepuluh keping koin emas di dalam sebuah kotak kayu khusus. Semua orang di ruangan ini memiliki ekspresi yang aneh.
“Ada apa dengan kalian semua?”