
Semenjak Iarina berhasil melarikan diri dari Baron Ludic, Max dan istrinya menyembunyikan Iarina di dalam ruang bawah tanah untuk keamanan anak semata wayangnya itu. Mereka tidak mau permata mereka dirusak oleh bangsawan itu.
“Iarina, bisakah kau bertahan di basement ini?” Ibu Iarina berkata dengan penuh khawatir.
“I-ibu, aku … sedikit takut.”
“Oh sayang …. Baiklah, kami akan tinggal di sini bergantian. Kamu tidak usah khawatir yah.”
Keluarga itu sangat bersyukur dengan berita mengenai luka yang dialami Baron Ludic, mereka bahkan berdoa agar Baron Ludic segera hengkang dari desa mereka.
Mendengar kabar bahwa anaknya, Ludic kehilangan pergelangan tangannya, ayahnya yang juga seorang bangsawan bernama Viscount Carni mengunjungi Baron Ludic di Desa Bahamud. Untuk berjaga-jaga agar dia tidak mengalami kejadian serupa, Viscount Carni membawa prajurit andalannya, dia membawa tiga puluh personel pasukan pribadinya.
Setelah tiga hari tiga malam perjalanan mengendarai kuda, sampailah Viscount Carni di desa, ia langsung pergi menemui putranya tersebut.
“Ayah, tanganku putus! Tanganku putus!” Baron Ludic melompat dari kasurnya dan memeluk kaki ayahnya itu.
“Minggir kau anak bodoh!” Viscount Carni menendang anaknya hingga tersungkur kesakitan. “Siapa dari kalian yang tahu siapa orang yang melukai anakku!?”
Semua prajurit Baron Ludic tidak ada yang menjawab, karena mereka memang tidak tahu siapa yang melukai tuannya itu.
“Kubilang siapa!” Viscount Carni murka, wajahnya mirip kelelawar saking jelek ekspresinya.
“Orang yang melukai Ludic adalah anak dari pemimpin klan bandit yang berada di sekitar pegunungan ini.” Bersuara tetapi tidak berwujud, Viscount Carni menjadi waspada, begitu pula pelayan dan pengawalnya.
“Siapa kau? Keluarlah!”
Seorang yang mengenakan penutup wajah muncul dari tirai jendela, kemunculannya tidak disadari oleh semua orang di ruangan itu. Viscount Carni yang sedang marah pun akhirnya mereda dan memasang wajah ramahnya.
“Ah, apa yang dilakukan tuan di tempat terpencil seperti ini? Mari kita minum terlebih dahulu untuk mencairkan suasana, selagi kita memikirkan cara untuk membalas orang yang berani melukai anakku.” Viscount Carni memberi kode kepada pelayannya untuk mempersiapkan jamuan.
“Mereka cuma sekelompok bandit, tidak layak bagiku untuk mencampuri urusanmu. Lagipula, kita memiliki agenda yang lebih penting daripada mengurusi luka peliharaanmu ini.” Sosok itu menatap dingin Ludic.
“Kalau begitu, kau pergi ke lokasi pertemuan duluan. Aku harus memberi mereka pelajaran dulu,” Viscount Carni menatap dingin sosok tersebut. “Dan juga, meski dia adalah orang bodoh sejak embrio, dia masih anakku. Apa hakmu untuk merendahkannya?”
“Tidak perlu terlibat dengan urusan peliharaanmu Carni, kita harus segera berangkat dari desa ini dan menuju kediaman Duke Harris.” Sosok misterius itu menghilang dari pandangan. “Keterlambatan tidak ditoleransi.”
Viscount Carni mendengus, “Seorang junior berani memerintahku, jikalau saja tidak ada perjanjian aliansi, aku akan membunuhmu!”
Baron Ludic mendengarkan percakapan mereka sedari tadi, setelah kepergian sosok misterius itu, dia kembali merengek kepada ayahnya.
“Ayah, kau harus membalaskan dendamku, kalau ti---”
“Diam anak bodoh!” Viscount Carni melayangkan pukulannya ke arah Baron Ludic, kekuatannya sanggup melempar pria gemuk tersebut sampai jarak lima meter. Baron Ludic mengerang kesakitan memegangi tangannya yang buntung, luka tersebut masih sangat menyiksanya.
“Kalian seret orang itu ke kereta, cepat! Kita akan meninggalkan wilayah ini secepatnya setelah mengisi uang perbekalan.”
Prajurit bawahan Viscount Carni mengangguk, dan langsung membawa Baron Ludic yang tidak sadarkan diri ke dalam kereta.
* * * * *
“Bagaimana Mezgah, siapa yang telah membunuh putra-putraku!?”
Pimpinan Klan Flameamber mengangguk setelah mendengar berita dari Mezgah, dia langsung membentuk pasukan untuk menyerang bangsawan itu. Dia juga mengirim surat kepada klan bandit di sekitarnya untuk membantu penyerangan.
Empat jam berselang, pasukan aliansi dari beberapa kamp bandit berkumpul di markas Klan Flameamber. Pasukan aliansi terdiri dari enam puluh personel Klan Flameamber, lima belas Klan Honeybee, dan dua puluh Klan Ballads.
Setelah semua pasukan berkumpul, mereka pun mulai mengagresi Desa Bahamud.
Kebetulan, pada saat itu Baron Ludic beserta pasukannya sudah ditarik mundur dari desa. Bersama dengan Viscount Carni, mereka pergi dari desa tersebut. Yang menjadikan, tidak ada pasukan penjaga yang mempertahankan Desa Bahamud.
“Mezgah, bagaimana situasi di desa?”
“Baron Ludic telah meninggalkan desa sambil membawa pasukannya, desa ini benar-benar tanpa penjagaan tuan. Apa perintahmu tuan?”
Pemimpin Klan Flameamber menyunggingkan senyum aneh, tatapan matanya yang penuh nafsu itu membuat Mezgah bergidik. Meskipun dia sudah sering melihat ekspresi pemimpinnya itu, ekspresi inilah yang paling dia tidak sukai.
Pasalnya, senyuman itu menandakan bahwa dia akan melakukan sesuatu yang menjijikan dan tercela.
“Jarah semua rumah! Culik semua perempuan! Bunuh semua pria! Jangan sampai ada yang lolos!”
“Ooohhhhh!”
Para bandit pun menyerang dari arah pintu masuk desa seperti orang gila, sementara Mezgah hanya memandangi pasukan tersebut berlari menyerang.
* * * * *
“Tempat ini dingin sekali.”
Giginya gemeletuk dan tubuhnya menggigil, secepat mungkin ia mencari baju tebal di sekitar mansion. Baha memasuki kamar yang ada secara acak dengan memilih pintu terdekat, setelah masuk, dia memeriksa lemari kamar, siapa tahu masih ada sweater atau baju yang tebal supaya bisa menghangatkan tubuhnya dari hawa dingin ini.
“Aha, aku beruntung!”
Setelah menemukan apa yang dia cari, sweater, celana panjang, syal, dan topi hangat dia kenakan untuk mengurangi suhu dingin. Dia mencoba untuk berkeliling tempat ini, siapa tahu ada banyak barang yang berguna.
“Kira-kira, apa yang membuat mansion ini begitu dingin ya?” Baha kebingunan, mengapa mansion ini begitu dingin sementara cuaca di luar lumayan hangat.
Baha langsung memasuki kamar sebelah, betapa terkejutnya dia menemukan ada ribuan buku yang berserakkan di lantai. Keadaan ruangan benar-benar seperti kapal pecah, tumpukan buku yang berantakan, sarang laba-laba yang memenuhi langit-langit, dan puluhan tikus yang berlarian.
Baha secara acak mengambil satu buku yang berada di bawah kakinya, setelah dia membuka lembaran kertas satu per satu. Matanya membelalak dan tangannya kaku, sesuatu seperti ini seharusnya tidak mungkin ada di dunia ini.
“Mengapa ada blueprint senjata api di mansion ini!?”
Kali ini dia benar-benar merinding, bukan karena takut ada hantu yang akan muncul di hadapan wajahnya, melainkan merinding karena dunia kuno ini sebenarnya memiliki cetak biru sebuah senjata api bertipe Ak-47.
Baha sekali lagi membalik lembaran demi lembaran buku tersebut untuk memastikan bahwa gambar itu mungkin cuma kebetulan ada, dan terpikirkan oleh orang di dunia ini. Tetapi, apa yang ada dibaliknya membuatnya tambah merinding.
“I-ini, sesuatu seperti ini seharusnya tidak ada di sini.”
Yang barusan dia lihat adalah gambar cetak biru bom nuklir.