From Abandoned Village to Powerful Kingdom

From Abandoned Village to Powerful Kingdom
7. Sebelum Kehancuran Desa



“Ayah, aku dengar di Desa Bahamud ada gadis cerdas yang seumuran denganku? Apakah aku boleh mengunjunginya dan mengirimkan surat tunangan. Aku ingin menjadikannya sebagai istriku!”


Di dalam sebuah kamp bandit, seorang anak muda mengajukan permintaannya untuk mengunjungi Iarina. Rencananya, dia akan mengirimkan surat pertunangan kepadanya. Dia akan berusaha untuk menarik perhatiannya dan merayu dengan segala kemampuan yang dia punya.


“Hmm, gadis itu desas-desusnya memang sudah menyebar seperti angin. Dapatkan hatinya dengan cara apapun, kau akan pergi bersama saudara keduamu kesana.”


Saudara kedua datang dan setuju dengan misi yang diberikan ayahnya, mereka segera berangkat saat itu juga.


“Kalau begitu, kami pergi ayah.”


“Ya, hati-hati.”


Sesampainya di Desa Bahamud, yang mereka lakukan adalah menanyakan kediaman gadis pujaan hatinya. Karena Iarina adalah orang tersohor, sangat mudah untuk mengetahui kediamannya.


Di depan rumah gadis pujaannya, terdapat kereta kencana yang mewah. Kedua anak dari pemimpin bandit langsung mengetahui bahwa kereta kencana ini bukanlah milik orang biasa. Apakah kereta ini milik seorang bangsawan?


“Saudara kedua, mari kita pergi dahulu, dan menunggu bangsawan itu pulang.”


“Ide bagus, bagaimana kalau kita duduk di restoran di seberang sana sambil menunggu."


Mereka memutuskan untuk menunggu di dalam restoran sembari melihat keadaan sekitar, untuk membasahkan tenggorokan, mereka berdua memesan susu domba sebagai pereda dahaga.


Sedang enak-enaknya menikmati susu domba, mereka teralihkan oleh kerumunan di depan restoran. Penasaran ada hal apa yang sedang terjadi, kedua pemuda itu pun mencari tahu.


Kejadian itu sedang terjadi, mereka tidak melewatkannya. Iarina tengah dibawa oleh Baron Ludic masuk ke dalam kereta kencananya. Terlihat ekspresi enggan dan terpaksa Iarina, sementara Baron Ludic hanya memasang senyum palsunya ke hadapan warga sekitar.


Setelah naik ke dalam kereta kencana, kuda pun ditarik, kereta meluncur.


“Sial, bangsawan buruk itu melakukan sesuatu yang tercela. Kakak, kita harus menghentikannya, atau gadis itu tidak akan pernah keluar dari genggamannya seumur hidup.”


“Baik, ayo kejar mereka!”


Kedua pemuda tersebut berlari mengejar kereta kencana yang mengarah ke rumah singgah milik Baron Ludic.


“Tunggu di sana!”


Saat Baron Ludic dan Iarina hampir memasuki rumah singgah, seorang pemuda menghentikan mereka. Dia adalah salah satu anak pemimpin pemimpin bandit yang ingin mengirimkan surat pertunangannya kepada Iarina.


Penjaga Baron Ludic langsung bersiaga penuh, saat semua perhatian tertuju kepada adik. Dari belakang, sang kakak bergerak mengendap-endap dan menerjang ke arah Baron Ludic. Saudara kedua berhasil merebut Iarina dengan paksa, dia berhasil melukai salah satu tangan Baron Ludic hingga berdarah.


“Dasar orang udik, beraninya menyakiti tuan muda ini! Penjaga, penggal kepala mereka berdua!”


Tanpa memberikan penjaga Baron Ludic kesempatan menyerang, kedua orang tersebut langsung mengambil langkah seribu menjauhi lokasi.


“Mau lari kemana kau?” Di depan sang adik, terlihat seorang pria dengan pakaian ketat yang mengenakan penutup mulut. Dengan kedua belati di tangannya, dia mengarahkan kepadanya.


“S-siapa kau!?” Sang adik mundur selangkah demi selangkah.


Orang itu juga maju selangkah demi selangkah, mengecilkan jarak. “Aku adalah orang yang numpang lewat.”


Merasakan aura membunuh yang menekannya, sang adik langsung berbalik dan berlari dengan tenaganya yang tersisa. Pembunuh yang melihat pergerakannya spontan melemparkan belatinya, dan dengan akurasi tinggi berhasil mengenai punggung sang adik.


“Ggaah!” Meski punggungnya tertembus belati, dia melanjutkan pelariannya kembali menuju Baron Ludic.


“Meski aku mati disini, aku harus membawamu mati juga untuk keselamatan gadisku!”


Sang adik berhasil menembus kerumunan penjaga, di tangannya dia pegang erat-erat belatinya. Dengan ayunan penentuan, yang mengerahkan semua tenaga. Dia menyerang Baron Ludic.


“Ugh!”


Pergelangan Baron Ludic copot dari tempatnya, sementara kepala sang adik lepas dari batang lehernya. Semua warga yang menyaksikan kejadian tersebut berteriak histeris, mereka langsung berlarian menjauhi tempat kejadian perkara.


Terlihat Baron Ludic yang kehilangan pergelangan tangan kanannya, dibantu penjaga-penjaganya, dia memasuki rumah singgahnya untuk pemulihan luka. Sementara di jalanan, terdapat jenazah yang terkapar dengan kepala terpisah.


Di tempat lain, sehabis melepaskan Iarina untuk kembali ke rumahnya. Saudara kedua mencari adiknya, setelah mencari-cari kesana-kemari, dia tidak menemukan keberadaannya.


Dia pun mencoba untuk kembali ke rumah singgah Baron Ludric, di sana orang-orang berkumpul seperti mengerumuni sesuatu. Betapa terkejutnya ia melihat adiknya sudah menjadi mayat, melihat hal itu darahnya mendidih seketika. Dengan sembrono, dia memaksa masuk ke dalam rumah singgah Baron Ludic.


“Bangsawan hina, keluar kau! Ak-kkaaahh!” Saudara kedua menjadi kaku seketika, tubuhnya pun langsung jatuh menghujam tanah. Warga yang menyaksikan kematiannya langsung berlari pontang-panting menjauhi lokasi.


Mereka berpikir, jangan sampai selanjutnya merekalah yang terbunuh. Dalam waktu singkat tempat kejadian sudah hening dan kosong. Orang-orang tidak berani mendekat dalam radius lima puluh meter.


Dari gerbang rumah singgah Baron Ludic, tampak sesosok manusia memakai penutup mulut yang berdiri di depan kedua mayat yang terkapar itu. Wajahnya dipenuhi ekspresi rumit, dia pun memetik bunga dari salah satu pot di taman rumah itu, dan menaruhnya di samping kedua mayat tersebut.


“Semoga kalian tenang di alam sana.”


Sehabis mengucapkan kalimat belasungkawa itu, sosok tersebut menghilang seperti ditelan bayangan.


* * * * *


Berita tentang kematian dua anaknya sampai kepada sang pemimpin kamp bandit.


“Apa katamu, kedua anakku mati! Bagaimana hal ini bisa terjadi!”


Sang pembawa berita hanya bisa mematung menerima semua amarah dan cacian, dia sama sekali tidak berani melihat pemimpin, kepalanya benar-benar terpaku menunduk.


“Mezgah, kau coba periksa berita ini segera. Aku akan membereskan yang disini.”


Mezgah yang merupakan tangan kanan sekaligus otak dalam operasi kamp bandit ini segera meninggalkan kemah, dia sangat mengetahui hal apa yang akan terjadi bila pemimpin menyuruhnya keluar.


“Tidaaakkk!!!!! Ggaaahhh!!!!”


Pembawa berita itu, sudah pasti mati.


Mezgah memacu kudanya menuju Desa Bahamud, segera memeriksa apakah kabar yang pembawa berita itu benar-benar terjadi. Sebagai orang kepercayaan pemimpin, dia yang harus turun sendiri memeriksa informasi tersebut.


Jarak antara kamp dengan Desa Bahamud tidak begitu jauh, hanya terpaut delapan kilometer. Apalagi dia menunggangi kuda, menjadi waktu tempuh lebih cepat beberapa kali dibandingkan berjalan kaki.


Di depan desa, tergantung dua jasad yang sudah tidak berbentuk, semua kulitnya terlapisi cairan merah darah, ratusan lalat menghinggapi keduanya. Bau busuk yang menyengat sudah tercium dari jarak Mezgah saat ini.


Baron Ludic sengaja menggantung mayat tersebut sebagai peringatan kepada orang-orang, bahwa seorang yang berani menyerang dia yang seorang bangsawan, akan dibunuh dan mayatnya akan diperlakukan dengan tidak layak.


Mezgah tidak berekspresi apapun, dia menyadari bahwa kedua orang ini adalah anak dari pemimpin klan banditnya. Efisiensi waktu adalah yang terpenting baginya, dia tidak mau menunda waktu lagi, ia kembali menuju kamp-nya.


“Apa berita itu benar Mezgah!?”


“Benar tuan, tidak ada keraguan lagi. Jasad mereka digantung di depan desa dengan hina.”


Pemimpin klan mencengkeram erat kedua tangannya, otot lengan, bisep dan trisepnya seolah-olah ingin meledak saat itu juga.


“Desa Bahamud dan Baron Ludic, kalian mencari perkara dengan Klan Bandit Flameamber, akan kuhancurkan kalian semua!”