
“Mungkin, aku akan mencoba untuk membuat desa itu menjadi lebih baik. Setindaknya sampai mereka bisa hidup lebih sejahtera.”
Itulah yang Baha pikirkan, dengan keterbatasan kemampuannya, dia yakin bisa membuat desa itu lebih baik meskipun sedikit.
“Rencana yang tidak buruk, aku juga sangat menyayangkan jika desa itu tidak dikelola dengan baik. Masalahnya, disana tidak ada yang mau memimpin desa itu untuk memperbaikinya, para bangsawan sama sekali tidak membantu, sementara kepala desa sebelumnya sudah trauma. Aku harap kau bisa memperbaiki desa itu secepatnya. Dalam pengembangan desa nantinya, Klan Lionfang tidak bisa turun membantu, tetapi kami akan mencegah klan bandit lain mengganggu.”
Baha mengangguk, “Kalau begitu baiklah, tetapi aku masih perlu banyak waktu untuk memikirkannya, aku butuh lebih banyak keberanian.”
“Jangan ditunda, sebaiknya kau ambil alih kepemimpinan itu segera… Sudah ya, aku harap kita bisa bekerja sama ke depan nantinya, bocah.”
Sehabis mereka berbincang, Max dan pemburu berhasil menukarkan barang dengan Sekarung padi, dan berbagai macam bumbu dapur. Mereka pun pamit dan kembali menuju desa, Baha sendiri mempersiapkan diri untuk berdiskusi dengan seluruh warga desa nantinya terkait rencananya untuk mengembangkan desa.
Kepalanya sendiri menjadi berat tatkala memikirkan semua itu, perkara ini tidak bisa diambil terlalu cepat dan buru-buru. Sepertinya dia memang harus memikirkan ini dengan lebih matang sekali lagi.
Kepulangan para pemburu disambut gembira dengan anak-anak, mereka langsung mengerumuni seperti semut yang mengerumuni gula. Mereka mengambil beberapa barang bawaan yang ringan, untuk diberi kepada Iarina.
“Kakak Iarina, Paman Max dan Kak Baha sudah kembali!”
Iarina langsung menghentikan kegiatan memasaknya di tungku api, dan segera menyambut pulang pemburu itu. Max mengacuhkan Iarina, Max bisa mengetahui bahwa anaknya ini ingin minta jawaban terhadap perkataannya sebelumnya.
“Baha, apa ayah sudah mempercayaimu?” Iarina berkata dengan khawatir.
“Aku tidak tahu, dia orang yang sulit ditebak.”
Iarina mengangguk, karena dia merasa bahwa Max sudah sedikit percaya dengan Baha. Setindaknya Baha memang tidak memiliki niat jahat, alasannya murni untuk berteman dengan penduduk desa.
Mereka pun menikmati hidangan yang dibuat oleh Iarina bersama-sama.
Keesokan harinya, Baha sekali lagi berkeliling desa ini. Dia mencari informasi terkait medan geografis keadaan sekitar desa, diapun mendapatkan gambarannya dengan jelas.
Sebelah utara desa berbatasan dengan deretan pegunungan yang tinggi, sebelah timur desa berbatasan dengan hutan, sebelah barat bersebelahan dengan danau, dan sebelah selatan berbatasan dengan padang rumput berbukit, agak jauh dari padang rumput akan terdapat hamparan laut yang luas.
Karena letak desa berada di tengah lembah yang dikelilingi oleh bukit, secara geografis hal ini sangat diuntungkan untuk mencegah peperangan dengan membuat dinding pertahanan. Terlebih lagi adanya aliran sungai di lembah tersebut, hal yang sangat menguntungkan untuk sumber kehidupan, seperti kegiatan pertanian dan kegiatan sehari-hari.
Dekatnya sumber air, dan banyaknya tanah lapang di sekitar desa membuat rencana Baha menjadi lebih mudah untuk membangun pemukiman, dan menjadikan lahan kosong tersebut menjadi lahan pertanian.
Adanya pegunungan di sebelah utara juga menambah nilai plus, mereka bisa menambang sumber daya alam seperti material yang berguna untuk pembangunan, dan perkembangan teknologi ke depannya. Sayang sekali Baha tidak terlalu fokus dalam mempelajari barang-barang dan penemuan-penemuan penting yang mengubah dunia sewaktu di bumi.
Dia bahkan tidak tahu mengolah besi, dia tidak tahu mana logam besi, mana logam biasa.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Baha memikirkan semua variabel untuk direncanakan, malam ini dia berencana untuk menyampaikan ide dan aspirasinya kepada semua orang.
Malam telah tiba, sehabis makan malam. Baha berdiri di tengah para penduduk desa, dia menyampaikan semua ide dan pikirannya mengenai keinginannya untuk membangun desa ini menjadi lebih baik. Semua penduduk mendengarkan dengan saksama, tidak ada yang menganggu Baha berpidato.
“Itulah rencanaku untuk mengubah kondisi desa ini, maukah kalian semua membantuku? Ini untuk kebaikan kalian sendiri dan anak keturunan kalian, kalaupun kalian tidak mau membantuku, aku yang akan melakukan semuanya seorang diri.”
Tidak ada yang angkat bicara, mereka semua masih mencerna isi pidato yang Baha sampaikan. Mereka terkejut bahwa anak muda ini memiliki pemikiran yang luas dan bijaksana. Kepala desa sebelumnya mengangkat tangannya tinggi-tinggi, kemudian berkata, “Aku setuju, sebagai kepala desa yang gagal dalam mengurus desa ini, aku punya tanggung jawab untuk membangun desa ini kembali.”
Pernyataan setuju dari kepala desa membuat orang tua yang sudah berumur angkat tangan dan menyetujui rencana Baha, hal tersebut menjadi pemicu untuk orang-orang yang lain untuk setuju dengan rencana Baha. Semua dari mereka angkat tangan, kecuali Max dan dua pemburu.
“Rencanamu bagus, tetapi aku masih meragukanmu, apa sebenarnya tujuanmu itu?”
Segaris urat muncul di kening Baha, dari semua hal yang terjadi, rupanya Max masih meragukannya. Seberapa hati-hati dia dalam menilai seseorang.
“Baiklah, aku akan katakan kepadamu. Tujuanku ingin membangun desa ini karena kebaikan orang-orang di desa ini berhasil menyentuh hatiku. Aku menganggap penduduk di desa ini sebagai keluargaku, dan aku ingin mereka hidup dengan layak, sehingga tidak perlu hidup di desa terbuang ini. Aku juga memutuskan untuk tinggal di desa ini setelah mencari teman masa kecilku yang diculik, aku harap kalian tidak keberatan.”
Max mengangguk, kemudian mengangkat tangannya. “Baiklah, aku akan membantumu, maafkan aku sempat meragukanmu sebelumnya.”
Kedua pemburu yang lainnya juga ikut mengangkat tangannya dan setuju, mereka pun saling berbincang sembari ditemani cahaya api unggun yang berkobar.
* * * * *
Pagi-pagi sekali, Baha mengumpulkan penduduk untuk mulai membangun proyek pertanian. Hal pertama yang mereka lakukan adalah membajak tanah untuk ditanami umbi jalar, selain masa tanam yang relatif cepat yakni sekitar tiga setengah sampai empat bulan, cara menanamnya dan perawatannya pun mudah, saat panen juga bisa langsung diambil, selain itu juga cara penyajiannya pun mudah, bisa dibakar atau direbus.
Dari 28 penduduk, yang masih memiliki stamina untuk bekerja hanya dua puluh orang. Ketiga pemburu tidak ikut membantu karena mereka harus berburu untuk bisa bertukar bahan pokok dengan Klan Lionfang.
Berkat kerja sama semua pihak, lahan sudah rampung, tepat saat matahari berada di atas kepala mereka. Mereka mulai membagi jadwal untuk merawat lahan, dan menyiram tiap pagi dan sore.
“Semuanya, kita istirahat dulu. Hari ini adalah hari pertama kita mulai bekerja lagi, kita harus membiasakan otot-otot kita bekerja dengan baik. Besok akan kita lanjutkan pembuatan lahannya berdasarkan apa yang Baha rencanakan.” Kepala desa Frank bertitah.
Sehabis membajak lahan, mereka semua istirahat sambil bersantap siang. Santap siang hari ini sederhana, mereka memakan ikan hasil tangkapan anak-anak. Meski sedikit dan sederhana, tetapi mereka bahagia dan gembira.
Anak-anak yang kelelahan tertidur di bawah naungan pohon, sementara Baha mengumpulkan warga-warga yang masih memiliki stamina untuk membongkar rumah-rumah yang terbengkalai. Baha berencana untuk membangun ulang desa ini dari awal.
Mereka merubuhkan bangunan, membersihkan puing-puing, mengumpulkan benda dan barang yang masih bisa dipakai, dan merapikan rumput dan batu untuk membangun jalan setapak yang baru.
Ini akan menjadi pekerjaan yang panjang.